Sumber: https://www.wallpaperbetter.com/id/search?q=tumpukan+buku+hardbound+coklat

HMPKELAMAS.COMSering kali kita dengar banyak yang mengatakan bahwa belajar sejarah adalah hal yang sia-sia, tidak berguna dan membuang-buang waktu karena mempelajari masa lalu. Tak hanya itu sebagian anak-anak disekolah baik dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi banyak yang mengatakan belajar sejarah adalah hal yang membosankan untuk dipelajari. Warto (2019) dalam penelitiannya juga mengatakan sebagian orang menganggap sejarah adalah sesuatu hal yang tidak berguna, mereka berasumsi bahwa sejarah hanya sekadar peristiwa masa lalu yang tidak penting untuk dibahas dan memilih untuk melupakan cerita-cerita tersebut.  Pada dasarnya orang-orang yang memiliki pemikiran seperti itu oleh para ahli lebih dikenal dengan nama ahistory (tuna-sejarah), di mana kelompok masyarakat tersebut memiliki pandangan yang sinis terhadap masa lalu dan lebih memilih untuk melupakan adanya sebuah sejarah. Terciptanya kelompok ahistory sendiri salah satunya bisa diakibatkan dari rendahnya minat generasi muda terhadap kesejarahan


Rendahnya minat belajar sejarah di kalangan pelajar atau bahkan masyarakat sendiri bisa disebabkan dari ketidaktahuan mereka akan manfaat yang bisa didapat dari adanya belajar sejarah.  Padahal jika mereka tahu, banyak sekali loh manfaat yang bisa kita dapatkan dari belajar sejarah, apalagi kita yang notabene merupakan penduduk bangsa Indonesia maka sudah tentu kehidupan yang kita jalani saat ini sangat berkaitan erat dengan adanya cerita-cerita kesejarahan yang terjadi dimasa lampau. Maka dari itu yuk simak 3 fakta di bawah ini, sehingga kamu tahu menariknya belajar sejarah :


  • Sejarah Guru Kehidupan
Fakta yang pertama adalah sejarah sebagai guru kehidupan atau dalam pandangan filsuf zaman klasik Cicero (106-43 SM) serta para negarawan juga menyebut bahwa sejarah adalah “historia magistra vitae” yang berarti sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah dalam hal ini dapat menjadi suatu komponen yang penting dalam memberikan pelajaran bagi kehidupan kita, sebagai contoh kita yang merupakan masyarakat Indonesia di mana jika dilihat dari perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan sudah pasti dalam prosesnya memiliki kisah-kisah peristiwa bersejarah yang melatar belakangi berdirinya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia memberikan kita banyak pembelajaran seperti adanya rasa nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa (Warto, 2019. p.3).

Dengan kata lain juga dapat diartikan bahwa sejarah memiliki manfaat sebagai guru yang memberikan kita pelajaran dari adanya kisah-kisah peristiwa  yang terjadi dimasa lalu. Menurut Kartodirdjo (1993) dalam bukunya yang berjudul pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah juga menjelaskan bahwa sejarah juga memiliki fungsi sebagai pendidikan nasional karena sifatnya yang amat strategis sebagai pembelajaran peserta didik yakni berupa pelajaran sejarah. Hal ini didasarkan pada adanya sejarah nasional yang memang juga memiliki fungsi fundamental untuk menciptakan kesadaran nasional sehingga mampu memperkuat solidaritas nasional dengan fondasi sejarah sebagai dasarnya.

  • Sejarah Pembentuk Karakter Bangsa
Berbicara mengenai karakter yang biasanya dianggap orang-orang sebagai hal yang didapatkan secara turun temurun melalui gen keluarga pada dasarnya hal ini kuranglah benar. Adanya sebuah karakter dapat dibangun, dibentuk, dan ditumbuhkan secara berkesinambungan dengan berdasarkan pemikiran dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Pembentukan sebuah karakter seseorang bisa dilalui dari adanya pemikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, dan tindakan demi tindakan yang telah mereka lakukan. Salah satu cara pembentukan karakter bisa diwujudkan dengan berpikir dan belajar tentang kesejarahan (Sukardi, S., & Sepriady, J. 2020.  p.118).

Belajar sejarah dapat membentuk karakter bangsa dapat berarti bahwa peristiwa sejarah dimasa lampau mampu memberikan pembelajaran bagi para generasi muda. Hampir sama dengan fakta pertama yang mengatakan sejarah sebagai guru dalam fakta kedua ini sejarah juga mampu menciptakan para pelajar dan masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah hingga berujung pada pembentukan karakter kebangsaan dalam diri masing-masing individu. Menurut Kartodirjo (1993) juga berpendapat bahwasanya kesadaran sejarah dapat menciptakan dan mewujudkan adanya character building serta memperkokoh eksistensi dan identitas bangsa berdasarkan adanya rasa bangga akan sejarah bangsanya. Adanya kesadaran sejarah juga dapat menjadikan kebudayaan bangsa Indonesia serta nilai-nilai luhur budaya bangsa tetap lestari, sehingga dalam hal ini dapat  dikatakan bahwa adanya pembelajaran sejarah nasional bisa memunculkan identitas kolektif yang merujuk pada kepribadian nasional.

  • Sejarah Memiliki Corak atau Ragam Jenis
Tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah memiliki beberapa corak dalam jenis-jenisnya, banyak orang-orang yang mengira bahwa sejarah hanyalah sekumpulan cerita masa lalu. Sebagian masyarakat hanya menganggap bahwa kejadian yang terjadi dimasa lalu adalah sejarah, pada dasarnya asumsi tersebut tidaklah sepenuhnya salah akan tetapi jika kita pahami lebih lanjut sebenarnya sejarah memiliki jenisnya masing-masing sesuai dengan  coraknya. Menurut Taufik Abddullah (2001. p.275) pada buku yang berjudul Nasionalisme dan Sejarah menyebutkan bahwa terdapat 3 kategori corak sejarah yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Tiga corak tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Sejarah yang diingat (remembered history), pada bagian pertama ini menjelaskan corak sejarah sebagai salah satu warisan bangsa. Sejarah yang diingat merupakan adanya kisah peristiwa yang dipelihara oleh para literati yang kemudian secara perlahan menjadi the past yang dibaluti dengan hasrat dan asumsi kultural. Tanda mudahnya memahami corak sejarah yang diingat adalah peristiwanya selalu diperingati menjadi hari-hari besar nasional, peristiwa sejarahnya lebih banyak diglorifikasi atau dilebih-lebihkan sebagai bentuk meluhurkan ataupun memuliakan apa yang telah terjadi dan sejarah yang diingat lebih sering didisosialisasikan secara sistematis dan massif.
    2. Sejarah yang dibuat (invented history), pada bagian kedua menjelaskan corak sejarah yang dibentuk berdasarkan adanya keinginan politik dan budaya ke dalam bentuk narasi sejarah. Terdapat unsur kesengajaan dalam sejarah jenis ini, di mana terdapat kesadaran adanya proses pembentukan sejarah yang bersifat budaya atau cultural dan politik atau ideolog yang kemudian semuanya itu dipelihara oleh pemelihara pembendaharaan yang pada akhirnya dirumuskan pada orientasi kultural bangsa.
    3. Sejarah yang ditemukan kembali (recovered history), pada bagian ketiga menjelaskan corak sejarah yang bertolak belakang dari keinginan untuk menemukan peristiwa masa lampu yang telah hilang dan kemudian ditemukan. Corak yang ketiga ini memang sangat  berbeda dari sejarah yang diingat dan sejarah yang dibuat, di mana kedua corak tersebut memiliki proses pengungkapan kebenaran yang berbeda satu sama lain.

Sudah paham beberapa fakta di atas? Setidaknya sekarang kalian tahu bahwa sejarah memiliki beberapa fakta yang menarik, dan pada kesimpulannya melalui ilmu sejarah yang kita pelajari dapat  menggunakan pemikiran kita yang sehat dalam memahami peristiwa dimasa lalu, kita mampu menggunakan logika dan imajinasi, serta dengan belajar sejarah juga mampu memberikan kecermatan pada pemikiran kita untuk dapat menggunakan sumber-sumber sejarah kedepannya.

Penulis:
Maya Dwi Maulidya (210210302066)

Referensi:
Warto. (2019). Menumbuhkan Kesadaran Sejarah Generasi Muda. Jurnal Pendidikan Sejarah, 2(4), 2–6.

Sartono Kartodirdjo. (1993). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sukardi, S., & Sepriady, J. (2020). Peran Pendidikan Sejarah Dalam Membentuk Karakter Bangsa. Kalpataru: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah, 6(2), 114–117. https://doi.org/10.31851/kalpataru.v6i2.5256

Taufik Abdullah, 2001. Nasionalisme & Sejarah. Bandung: Satya Historika.