HMPKELAMAS.COM - K.A Non-Aktif Stasiun Balung menjadi saksi bagaimana dari bagian di wilayah Balung, Jember tersebut menjadi akses perputaran perekonomian di masa kolonial. Sejumlah ruas rel kereta api juga beberapa utuh di sana. Meski juga tidak sedikit yang hilang dan ditumbuhi rumah-rumah.
Gambar 1. Bangunan Stasiun Balung (Tampak dari Depan)
Ke sisi utara stasiun, terhubung hingga ke Stasiun Rambipuji. Sementara ke selatan, terhubung hingga ke daerah Puger, sampai ke barat arah Kencong. Di mana jalur kereta api Stasiun Balung sendiri yang dibangun pada 3 Mei 1913 di era kolonial dilengkapi dengan kode stasiun yakni BUG-5822.
Stasiun Balung didirikan pada 3 Mei 1913 oleh Staatspoorwegen (perusahaan Kereta Api milik Hindia Belanda) yang dibangun pada ketinggian +23 meter. Stasiun ini beroperasi dari Lumajang-Rambipuji yang merupakan wilayah Daop 9 Jember (wilayah Daerah Operasi 9 Jember). Kereta yang digunakan oleh Stasiun Balung merupakan kereta api berjenis uap dengan bahan bakar yaitu arang stengkol dan kayu bakar.
Gambar 2. Stasiun Balung (Tampak dari Samping)
Gambar 3. Balung+23
Menurut keterangan dari narasumber (Ibu Sugiarti) dan juga sumber referensi lainnya yang penulis pakai, keunikan dari Stasiun Balung ini terdapat 2 terminal stasiun, yaitu : Stasiun Balung Besar yang menghubungkan lintas Lumajang dengan Rambipuji, dan Stasiun Balung Kecil yang terletak di samping Stasiun Besar menghubungkan transportasi Balung-Ambulu. Pada Stasiun Balung Besar (Lumajang-Rambipuji) didominasi oleh penumpang yang merupakan para pedagang baik sayuran maupun buah buahan. Stasiun ini dibangun agar para rakyat-rakyat kecil juga dapat merasakan dan menggunakan transportasi Kereta Api dan juga untuk mempermudah dalam mencari nafkah. Sedangkan untuk Stasiun Balung Kecil (Balung-Ambulu) didominasi oleh penumpang umum (campuran). Bangunan-bangunan yang dimiliki oleh Stasiun Balung, antara lain bengkel kereta, perkantoran & gudang alat pemeriksaan, mesin diesel yang digunakan untuk penerangan listrik, tower (tandon air) yang terletak di perumahan milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), tandon air ini digunakan untuk mengisi air pada kereta api yang akan diberangkatkan.
Adapun tidak jauh dari tempat Stasiun Balung tersebut berdiri, terdapat Kantor Penjagaan Aset Wilayah 9.3 Balung, di mana kantor tersebut dijadikan sebagai tempat pusat penjagaan yang akan memantau kinerja Stasiun Balung itu sendiri dengan beberapa pegawai yang bekerja. Di dalam kantornya tersebut juga terdapat peta yang ditempel pada sebuah papan untuk mengetahui jalur perlintasan dari stasiunnya tesebut serta terdapat catatan untuk pendapatan yang diterima setiap bulannya.
Gambar 4. Kantor Stasiun Balung
Gambar 5. Peta dan Catatan Pendapatan Stasiun Balung
Selain itu juga terdapat aset berupa perumahan milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang berlokasi di barat stasiun dengan nama perumahan Soerabayan. Dinamakan Soerabayan karena seluruh genteng pada perumahan Soerabayan ini tertulis "Soerabayan". Genteng-genteng yang digunakan pada perumahan Soerabayan tersebut berbeda dengan genteng-genteng yang digunakan pada zaman sekarang, dimana genteng tersebut sangatlah kuat & tidak mudah pecah. Selain pada gentengnya, kayu-kayu yang digunakan pada perumahan tersebut juga tidak mudah rapuh karena menggunakan kayu jati dengan kualitas tinggi, oleh karena itu desain-desain rumah masih bertahan hingga saat ini. Perumahan milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) ini dibangun pada zaman Belanda pada tahun 1918-sekarang.
Kemudian, berdasarkan wawancara dengan Ibu Sugiarti sebagai anak dari mantan pegawai stasiun balung waktu masih berfungsi sebagaimana dijelaskan di atas mengenai aset perumahan, aset tersebut yang dulunya menjadi rumah untuk pegawai Stasiun Balung yang dimana dalam 1 kopel ada 4 pintu, besar kemungkinan kopel atau rumah tersebut dijadikan sebagai tempat penginapan bagi pegawai yang tidak berdomisili di Balung tetapi dinas sebagai pegawai Stasiun Balung. Pihak Belanda sendiri dapat dikatakan strategis dan mapan dalam membangun rumah untuk pegawainya, dapat dibuktikan di setiap kopelnya itu ada jalan kecil menuju ke Stasiun Balung dengan tujuan mempermudah pegawai dalam menempuh jarak agar lebih dekat dengan Stasiun Balung tempat bekerjanya para pegawai tersebut. Di tiap 1 pintu dalam 1 kopel itu dulunya ada pagar, kemudian juga terdapat sumur di setiap gang dalam 1 kopel tersebut untuk para pegawai yang hingga saat ini ada beberapa sumur yang masih digunakan oleh masyarakat di sana yang menghuni rumah para pegawai tersebut.
Sekitar kurang lebih tahun 1969 ke atas, Kereta Api pun sudah mulai semakin modern. Kereta Api yang awalnya menggunakan mesin uap, telah berubah menjadi Kereta Api bermesin diesel. Hingga pada tahun 1970-an, transportasi Kereta Api baik yang menghubungkan wilayah Lumajang-Rambipuji maupun yang menghubungkan wilayah Balung-Ambulu diberhentikan untuk sementara yang disebabkan oleh 2 hal, yaitu semakin berkembangnya perubahan zaman khususnya pada transportasi, dimana mobil sudah mulai banyak digunakan sehingga perusahaan Kereta Api merasa jika waktu keberangkatan yang jauh lebih cepat dengan kendaraan umum padahal dengan menggunakan Kereta Api sangatlah efisien, mudah & murah. Selain dari waktu, ketidakseimbangan juga terletak pada pemasukan dan pengeluaran yang tidak seimbang sehingga perusahaan Kereta Api tidak bisa lagi mempertahankan pengoperasian Kereta Api. Apabila pengoperasian Kereta Api masih berlanjut maka perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Karena itulah pengoperasian Kereta Api di Stasiun Balung sepenuhnya dihentikan.
Setelah diberhentikannya Stasiun Balung dari pusat transportasi yang ada di Balung, Jember tersebut, Perusahaan Umum Milik Kereta Api Daerah Operasi 9 Jember (Stasiun Balung) ini tanahnya disewakan dengan bentuk Tanda Sewa Tanah Milik Perumka. Dari situlah muncul dan berkembangnya Persatuan Dagang Sepeda Balung yang disingkat dengan PDSB, kantornya pun dibentuk sedemikian rupa di samping sepeda-sepeda yang disusun/disejajarkan dengan rapi. PDSB tersebut hingga saat ini masih aktif dilestarikan oleh masyarakat setempat, tidak jarang juga masyarakat berkumpul dan bersenda gurau disana sambil menikmati hembusan angin dengan ditemani minuman kopi dan cemilan seadanya.
Penulis : Ike Nurrohmah 210210302010
Sumber Referensi
Maulana. (16 Januari 2022). Rekam Jejak Eks Stasiun
Balung Warisan Masa Kolonial. [Diakses pada 1 Desember 2022].
Munawaroh, S. (17 Juni 2022). Harta Peninggalan
Stasiun Balung (1913-1970an). [Diakses pada 1 Desember 2022].
p2k.utn.ac.id. Stasiun Balung. [Diakses pada 1
Desember 2022]. http://p2k.utn.ac.id/en3/1-3077-2966/Stasiun-Balung_84522_stie-thamrin_p2k-utn.html
Wawancara dengan Ibu Sugiarti, 75 tahun, pada 22
Oktober 2022, pukul 12.35 WIB, dan 28 Oktober 2022, pukul 12.30 WIB.

Social Footer