HMPKELAMAS.COM - Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, baik dari peninggalan leluhur hingga kebudayaan hasil dari akulturasi dengan kebudayaan asing lainnya. Tak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman tersebut menjadi berkah sebagai identitas kebudayaan nasional yang mahal harganya, hal ini dapat memberikan surplus untuk daya tarik wisata

Tak terkecuali kebudayaan indis, kebudayaan ini adalah hasil akulturasi antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan Belanda. Banyak contoh peninggalan budaya Indis yang bisa ditemui di Indonesia pada saat ini. Mulai dari Arsitektur bangunan, film, musik , hingga kuliner blasteran. Untuk kuliner blasteran ini banyak ditemui bahkan sudah menjamur di berbagai daerah.

Arsitektur bangunan peninggalan kebudayaan indis memiliki ciri khas banyak memperhatikan pada penghawaan dan pencahayaan dengan adanya ventilasi yang lebar dan jarak antara lantai dan plafon yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan suhu udara daerah tropis yang lembab dan panas. Model bangunan seperti ini banyak digunakan oleh para arsitek Belanda.

Untuk musik bisa diambil contoh yang sangat sering ditemukan seperti Tanjidor, dan juga musik keroncong yang sudah menjadi musik kesukaan para priayi zaman kolonial. Namun, perpaduan musik ini bukan hanya dipengaruhi oleh musik eropa, tapi juga dipengaruhi oleh musik-musik dari asia timur maupun timur tengah.

Dalam bidang seni film, percampuran seni teater budaya Indis dan budaya lokal merupakan sejarah awal perfilman di Nusantara. Film pertama yang dibuat di Bandung pada tahun 1928 yang mengambil mitologi Sunda yng berjudul Loetoeng Kasaroeng. Film ini diproduksi Java Film Company, perusahaan milik gabungan seorang Belanda (Heuveldrop) dengan seorang Jerman (Kruger).

Warisan kebudayaan indis lainya yang perlu disoroti adalah kuliner “blasteran” yang semakin menjamur beredar di Indonesia. Siapa sangka beberapa makanan yang sering kita jumpai disekitaran adalah makanan hasil perpaduan antara budaya indonesia dan belanda. Contoh saja Nastar, nastar ini berasal dari bahasa belanda (naastart).

Sumber: https://www.pinterest.cl/pin/854065516824834916/

Pada pertengahan abad ke-19 sampai ke-20, berkembang sebuah konsep kuliner kawasan yang oleh para gastronom masa itu disebut dengan istilah Indische keuken (kuliner Hindia). Melalui Indische keuken beberapa penulis buku masak melakukan kategorisasi resep berdasarkan kelompok sosial di tanah koloni. Dalam contoh lain makanan blasteran tersebut antara lain Sup (dalam bahasa belanda: soep), kastengel (dalam bahasa belanda: kaastengels). 

Dengan beberapa keistimewaan warisan kebudayaan indis yang sudah berkembang di Indonesia, semoga masyarakat mampu terus melestarikan kebudayaan “blasteran” ini. Karena bukan tidak mungkin kebudayaan indis akan menjadi aset kebudayaan dan menjadi daya tarik wisata budaya.

Penulis:

Mahatma Fattah Rama Romansa (210210302038)