Untuk musik bisa
diambil contoh yang sangat sering ditemukan seperti Tanjidor, dan juga musik
keroncong yang sudah menjadi musik kesukaan para priayi zaman kolonial. Namun,
perpaduan musik ini bukan hanya dipengaruhi oleh musik eropa, tapi juga
dipengaruhi oleh musik-musik dari asia timur maupun timur tengah.
Dalam bidang seni
film, percampuran seni teater budaya Indis dan budaya lokal merupakan sejarah
awal perfilman di Nusantara. Film pertama yang dibuat di Bandung pada tahun
1928 yang mengambil mitologi Sunda yng berjudul Loetoeng Kasaroeng. Film ini
diproduksi Java Film Company, perusahaan milik gabungan seorang Belanda
(Heuveldrop) dengan seorang Jerman (Kruger).
Warisan kebudayaan
indis lainya yang perlu disoroti adalah kuliner “blasteran” yang semakin
menjamur beredar di Indonesia. Siapa sangka beberapa makanan yang sering kita
jumpai disekitaran adalah makanan hasil perpaduan antara budaya indonesia dan
belanda. Contoh saja Nastar, nastar ini berasal dari bahasa belanda (naastart).
![]() |
| Sumber: https://www.pinterest.cl/pin/854065516824834916/ |
Pada pertengahan
abad ke-19 sampai ke-20, berkembang sebuah konsep kuliner kawasan yang oleh
para gastronom masa itu disebut dengan istilah Indische keuken (kuliner
Hindia). Melalui Indische
keuken beberapa penulis buku masak melakukan kategorisasi resep berdasarkan
kelompok sosial di tanah koloni. Dalam contoh lain makanan blasteran tersebut
antara lain Sup (dalam bahasa belanda: soep), kastengel (dalam bahasa belanda:
kaastengels).
Dengan beberapa
keistimewaan warisan kebudayaan indis yang sudah berkembang di Indonesia,
semoga masyarakat mampu terus melestarikan kebudayaan “blasteran” ini. Karena
bukan tidak mungkin kebudayaan indis akan menjadi aset kebudayaan dan menjadi
daya tarik wisata budaya.
Penulis:
Mahatma Fattah Rama Romansa (210210302038)

Social Footer