Sumber: KITLV Leiden Digital Collections

HMPKELAMAS.COM - Di wilayah Jember, industri gula muncul pada dekade kedua abad ke-20. Hal ini karena Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), pemilik industri gula Jatiroto berusaha untuk memperluas area di bawah budidaya tebu ke wilayah Jember. HVA mengajukan permintaan untuk menyewa tanah. Pemerintah mengabulkan permintaan pertama dan mengizinkan HVA untuk menyewakan 500 bouws tanah di lima desa, yaitu Padoemasan, Djombang, Keting, Kraton, dan Kencong. Ini diatur oleh Besluit van den Directeur van Binnenlandsch Bestuur ddo. 19 Februari 1920 No. 425 A/I. Pada tahun berikutnya ijin diberikan untuk menyewa 1,500 bau, yang dituangkan melalui Besluit van den Directeur van Binnenlandsch Bestuur ddo. 26 Januari 1921 No. 203 A/I. Pada tahun yang sama, HVA melanjutkan upaya untuk mengajukan permohonan lain untuk menyewa 3.500 bau lahan di Kencong dan Bondoyudo. Upaya selanjutnya dilakukan dengan mengusulkan permintaan untuk pendirian parbrik gula baru di Jember. Antara 1925 - 1928 tiga pabrik gula baru mulai beroperasi dan menggiling tebu di wilayah Jember (Nawiyanto, 2018:92-94).


Pabrik Gula: Dulu

Menurut Dofi (2016 dalam Prakosajaya et al., 2020) Pabrik Gula Gunungsari dibangun oleh Handels Vereeniging Amsterdam atau HVA yang digunakan sebagai pendukung dari Pabrik Gula Jatiroto yang saat itu lebih dahulu beroperasi pada tahun 1910.

Berdasarkan arsip koran dengan judul De suikerfabriek “Goenoeng Sari” van de H. V. A. in Zuid-Djember geopend. Machtig werk in korten tijd tot stand gebracht dikatakan dalam pidato Tuan van der Eijk bahwa pada bulan April 1925 Mij. izin yang diberikan untuk perusahaan gula di daerah irigasi Tanggoel Timur, Bondojoedo Timur dan Kentjong Timur. Maksimum perkebunan tebu yang akan diproses setiap tahun ditetapkan untuk sementara sebesar 4400 bws. Kemudian, ia juga sempat mengatakan bahwa kapasitas penggilingan gabungan ditetapkan pada 10.000 picol buluh per hari, Goenoengsari dan Semboro masing-masing 30.000 picol dan Bedadoeng 40.000 picol.



        Menurut arsip koran De Locomotief yang diterbitkan De Groot, Kolff & Co (Delpher, 1927) bahwasannya setelah izin pertama diterima, yaitu April 1925 pekerjaan mulai dalam persiapan untuk kontruksi usaha pertama PG Gunungsarisari. Pabrik dan pekarangan sangat jauh dengan tempat Kereta api Negara oleh karena itu dengan sumber dayanya sendiri transportasi utama harus dapat diakses dibuat yaitu sekitar Oktober 1925. Pada tahun 1927, Pabrik Gula Gunungsari melakukan uji coba dan beroperasi secara maksimal tahun 1928. Menurut Arsip Van Westersch Grootbedrijf (dalam Prakosajaya et al., 2020) pembangunan Pabrik Gula Gunungsari ini menghabiskan biaya kurang lebih 12.000.000 gulden dan terdapat pula jaringan rel lori yang memiliki Panjang mencapai 90 km.

            Namun, pabrik gula yang gagah dan modern ini tidak beroperasi lama. Hal ini dikarenakan adanya krisis ekonomi dunia dan kebijakan ekonomi otoriter sebagai respon repang di Hindia Belanda sekitar tahun 1930an. Dimana, era ini menyebabkan hancurnya industry gula. Hal yang paling memungkinkan adalah penyusutan lahan tanam tebu untuk penyelamatan (Setiawan, 2022). Berita penutupan ini juga ditemukan dalam arsip koran dengan judul De Economische Toestand In Zuid-Djember yang artinya Kondisi Perekonomian Di Jember Selatan (Delpher, 1933). Dikatakan bahwa:

Selama beberapa tahun di departemen administrasi Djember tiga pabrik gula besar dari H. V. A. tiga pabrik yang sangat modern, ketiganya berkapasitas besar, yang dapat dimengerti apalagi telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi terciptanya kemakmuran tertentu di kalangan masyarakat Djember. Karena pembatasan gula, salah satu pabrik ini, Bedadoeng, ditutup tahun lalu dan, seperti yang kita dengar sekarang dari sumber yang baik, pabrik Goenoengsari yang sangat modern juga akan ditutup, sehingga hanya Semboro yang ketiga yang masih menggiling. . Dari areal Goenoeng sari yang baru sebagian ditanami, sebagian besar akan digiling oleh Semboro dan sebagian kecil akan dicairkan oleh Djatiroto, sebagaimana mestinya.


Pabrik Gula: Sekarang

Seperti yang telah dipaparkan diatas pabrik gula Gunungsari ini telah berumur puluhan tahun lamanya. Pabrik Gula Gunungsari ini telah banyak mengalami perubahan, dimana terdapat banyak perubahan yang ada disana saat peneliti melakukan observasi.


Gambar 1. Sisa Pabrik Gula Gunungsari

Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa bangunan yang dulunya sebuah pabrik gula megah sekarang hanya sebuah bangunan tua yang tinggal menunggu runtuhnya bangunan tersebut. Pada sekitar bangunan tua tesebut telah di tumbuhi banyak tebu dan blotong.

Gambar 2. Potret jarak jauh PG Gunungsari

Jalanan menuju kearah bekas pabrik gula ini merupakan salah satu hal yang sulit dilewati. Tanah blotong yang kering mungkin masih dapat dilalkui, peneliti telah melalui sulitnya memasuki area pabrik gula tersebut.[1] Bangunan yang telah tidak utuh, tempat yang tidak terawatt karena kemungkin ini bangunan tua membuat tempat ini sedikit memiliki hawa mistis. Ketika peneliti melakukan observasi di tempat ini, satu hal yang masih digunakan di dalam bangunan lama pabrik gula ini yaitu menjadi tempat penyimpanan atau Gudang untuk pupuk TS (non subsidi) milik pabrik gula semboro. Satu-satunya bangunan yang peneliti lihat masih digunakan oleh pihak pabrik.

Gambar 3. Menjadi penyimpanan pupuk TS

Gambar 4. Landscap penyimpanan pupuk TS


Terdapat artikel yang cukup menarik yang saya temukan dengan judul “Demi Pundi-pundi Rupih, warga Semboro serbu Limbah Pabrik Gula” yang terbit di Jember.Times. Hal ini terjadi saat masa pandemi sekitar Agustus tahun 2020, dimana warga semboro mendapatkan pundi-pundi rupiah karena limbah tebu yang dibuang dapat menghasilkan jamur yang dapat dijual. Hal ini tidak mereka lakukan hanya di semboro saja, mereka juga mencari jamur di area sepanjang rel lore area PTPN Gunungsari. Meskipun jarak rumah dan tempat mencari jamur cukup jauh, hal ini tidak menghilangkan niat mereka. Pada wawancara berita yang dilakukan oleh Jember.Time dengan salah satu warga yang bernaman Endang mengatakan bahwa harga perkilo jamur itu antara 20 hingga 25 ribu. Namun, mendapatkan satu kilo juga tidaklah mudah. Ia juga menjelaskan bahwa terkadang sehari hanya mendapatkan 1 setengah kg, sebagian juga dikonsumsi sendiri untuk lauk (Mahrus, 2020).


Gambar 5. Warga mencari nafkah lewat Limbah

Perubahan Sosial: Sekitar Pabrik Gula

Gambar 6. Penjual buah dan area sekitar pabrik

          Area sekitar pabrik gula kini telah ditempati berbagai pedagang dari penjuru desa. Pedagang tersebut kebanyakan adalah pedagang buah dengan menggunakan mobil dapsun, yang mana buah-buahan nya terdapat dibelakang. Tidak hanya itu, terdapat juga warung kopi, penjual makanan, toko souvenir, dan toko baju. Area sekitar pabrik kini telah ramai lalu lintas dari roda dua, roda empat, bahkan masih terdapat becak di sekitar. Pada luaan pabrik atau tempat pengairan atau bisa disebut selokannya kini sangat kumuh karena banyaknya pedagang-pedang buah yang membuang buah-buah busuk ke selokan. Pada samping pabrik sekarang beroperasi juga sebuah pasar yang cukup ramai didatangi ibu-ibu ataupun warga yang ingin membeli bahan makanan ataupun yang lainnya. Mengapa disini peneliti mengatakan menarik, dimana warga sekitar dapat memanfaatkan area bangunan tersebut sebagai sarana mencari nafkah. Keadaan sosial ini dapat membuktikan adanya perubahan yang terjadi didaerah gunungsari. Perubahan tersebut adalah kawasannya dimana awalnya area pabrik tersebut adalah Kawasan elite pada masa itu. Namun, saat ini menjadi Kawasan untuk mencari nafkah. Dengan demikian, artinya terjadi perubahan kehidupan sosial di Kawasan gunungsari.


Kesimpulan

         Pabrik Gunungsari yang awalnya merupakan salah satu pabrik elite di besuki yang dibangun sekitar tahun 1926 dan mulai beroperasi penuh sekitar 1928. Pabrik ini merupakan pabrik dari H.V.A, yang mana pabrik ini adalah ambisi besar untuk meniru keberhasilan pabrik gula di Kuba. Namun tidak sesuai realita, pabrik ini harus tutup pada tahun 1930an dikarena krisis ekonomi yang sedang menimpa dunia. Masa sekarang, pabrik ini sedang menunggu rubuh, beberapa bangunan sisa sebagian kecil saja. Namun, satu bangunan yang masih digunakan sebagai tempat penyimpanan pupuk TS dari pabrik gula Semboro yang hingga saat ini masih beroperasi. Sekitar pabrik gula, juga telah banyak perubahan yaitu adanya pedagang-pedagang buah, toko souvenir, toko baju hingga pasar yang ada samping pabrik. Area jalan raya, juga telah ramai lalu lintas dari roda dua, roda empat, bahkan masih terdapat becak di sekitar.


Penulis    : Widuri Nur Aini    210210302030


Sumber Referensi:

Delpher. (1927, August 22). De locomotief: Opening van een Nieuwe Suikerfabriek. De Groot, Kolff & Co. https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=goenoengsari+djember&coll=ddd&page=1&maxperpage=50&identifier=MMKB23:001707132:mpeg21:a00011&resultsidentifier=MMKB23:001707132:mpeg21:a00011&rowid=19

Delpher. (1933). Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië . 10(26). https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=goenoengsari+djember&coll=ddd&page=1&maxperpage=50&identifier=MMKB19:000440038:mpeg21:a00086&resultsidentifier=MMKB19:000440038:mpeg21:a00086&rowid=22

Mahrus, M. A. (2020, August 25). Demi Pundi-Pundi Rupiah, Warga Semboro Serbu Limbah Pabrik Gula | Jatim TIMES. Jatim Times. https://jatimtimes.com/baca/221856/20200825/165600/demi-pundi-pundi-rupiah-warga-semboro-serbu-limbah-pabrik-gula

Nawiyanto. (2018). The Making of Plantation Economy in Jember (East Java ) Indonesia (Issue November). LaksBang PRESSindo.

Prakosajaya, A. A., Sianipar, H. M. T., & Ayu Nur Widiyastuti. (2020). Pemilihan Lokasi Pabrik Gula Gunungsari Oleh Handelsvereeniging Amsterdam (Hva): Analisis Keruangan Salah Satu “Sister Factory” Pabrik Gula Jatiroto. Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi, 6(2), 113–124. https://doi.org/10.24832/ke.v6i2.67

Setiawan, I. (2022, September 28). Kisah Pabrik Gula Gunungsari Kencong yang Menunggu Lenyap. Kompas.Com. https://www.kompasiana.com/dekajekita/633166a608a8b55860191f24/menelurusi-pabrik-gula-gunungsari-yang-menunggu-lenyap?page=all


[1] Blotong adalah limbah pabrik gula yang mengandung karbon, nitrogen, fosfat, kalium dan mineral lain. Blotong sendiri dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku pembuatan pupuk organik melalui metode pengomposan, serta cukup melimpah ketersediaannya.