[ Potret terkini Gedung Bioskop Candra, diambil pada tanggal 11 Oktober 2022 ]


      HMPKELAMAS.COM - Bioskop Candra atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Candra merupakan bangunan peninggalan kolonial. Gedung ini terletak di Kabupaten Jember tepatnya di Kecamatan Semboro, yang masih berada dalam kawasan Pabrik Gula Semboro. Diperkirakan adanya Bioskop ini digunakan sebagai sarana hiburan atau di intervensi untuk kepentingan pemerintah kolonial. Hal ini juga tertulis di sebuah tulisan surat kabar “De Sumatra Post” pada tanggal 3 Februari 1928 yang menyebutkan adanya bioskop saat peletakkan batu pertama Pabrik Gula Semboro.

[ Surat kabar “De Sumatra Post”, pada tanggal 3 Februari 1928 ]

Dalam surat kabar tersebut dituliskan bahwa : Die,, eerste” steenlegging is niet letter lijk op te vatten, want er is daar intusschen ten Zuiden van Baloeng al een heel stadje verrezen, de dubbele rij huizen van de fabriekskampong, een aantal woningen voor employe’s, de ijle hooge raam werken van de ijzerconstructies der fabrieksgebouwen, ja zelfs de ... bioscoop, zijn al gereed....

Artinya : Peletakan batu pertama ini tidak dapat diartikan secara harfiah, karena seluruh kota telah muncul di sana di selatan Baloeng, dua baris rumah dari kampung pabrik, sejumlah rumah untuk karyawan, jendela-jendela tipis yang tinggi dari konstruksi besi. bangunan pabrik, ya bahkan ...bioskop, sudah jadi. Jadi, dapat diketahui bahwa keberadaan bioskop ini sudah tercatat dalam surat kabar yang ditulis pada tahun 1928.

        Pada awalnya gedung ini memanglah berfungsi sebagai bioskop pada masa kolonial hingga sekitar tahun 1900-an. Namun setelah redupnya minat perfilman gedung Candra sudah tidak dipergunakan lagi sebagai bioskop, kemudian dialih fungsikan sebagai gedung badminton. Pengalih fugsian ini juga hanya bertahan beberapa tahun saja, setelah itu diganti lagi sebagai gudang penyimpanan gula dari Pabrik Gula Semboro.


Sejarah Singkat Pabrik Gula Semboro

[ Potret terkini Pabrik Gula Semboro, diambil pada tanggal 23 April 2022 ]

Dalam sebuah surat kabar “De Sumatra Post” pada tanggal 3 Februari 1928 dapat dilihat bagaimana kondisi pada masa itu. Pada paragraf pertama dituliskan acara perayaan pembukaan Pabrik Gula Semboro.
In Zuid Djember staan binnenkort weer twee feestelijke gebeurtenissen op cultuur gebied te wachten, n.l. de opening van de suikerfabriek Semboro en de eerste steenlegging van de zusterfabriek Bedadoeng, beiden van de H. V. A.”.


Artinya : “Peletakan batu pertama itu tidak bisa diartikan secara harfiah, karena ada sementara! seluruh kota telah muncul di selatan Baloeng, rumah-rumah dua baris di kampung pabrik, sejumlah tempat tinggal untuk karyawan konstruksi besi bangunan pabrik yang tipis dan tinggi, bahkan bioskop, sudah selesai. Batu fondasi gedung perkantoran, simbol sistem saraf pusat yang akan menggerakkan kompleks yang tangguh, akan menjadi kesempatan untuk merayakan selesainya tiga pabrik besar ini.

        Jika diterjemahkan hal ini berarti bahwa : “Di Djember Selatan, akan segera digelar dua acara meriah di bidang kebudayaan, yaitu pembukaan pabrik gula Semboro dan peletakan batu pertama pabrik saudara Bedadoeng, keduanya H.V.A. akan segera digelar dua acara meriah di bidang kebudayaan,yaitu pembukaan pabrik gula Semboro dan peletakan batu pertama pabrik saudara Bedadoeng, keduanya H. V. A.”.

Diketahui bahwa pembangunan pabrik ini di naungi oleh HVA (Handels Vereniging Amsterdam) sebagai pemilik swasta dari negeri Belanda. Pada saat itu juga didirikan beberapa bangunan seperti rumah dinas karyawan, dll. Pernyataan ini juga dituliskan pada surat kabar “De Sumatra Post”.

Artinya : “Peletakan batu pertama itu tidak bisa diartikan secara harfiah, karena ada sementara! seluruh kota telah muncul di selatan Baloeng, rumah-rumah dua baris di kampung pabrik, sejumlah tempat tinggal untuk karyawan.

        Hal ini berarti bahwa pada saat yang bersmaan juga mulai didirikan rumah karyawan pabrik, kontruksi bangunan, dan bioskop. Yang dimaksudkan dua baris di kampung pabrik adalah lodji yang terletak sejajar dengan pabrik dan satunya berada didepan pabrik. Hal ini karena bangunan tersebut menggambarkan hirarki jabatan karyawan tersebut. Semakin tinggi jabatan karyawan tersebut maka semakin bagus dan megah pula tempat yang ditiggalinya.

Selanjutnya juga terdapat pembangunan jalur kereta api untuk mempermudah akses pengangkutan komoditas tebu antara pabrik satu dengan pabrik yang lain (dibawah naungan yang sama, HVA).

        Dalam tulisan tersebut dijelaskan juga bahwa telaah dibangun Staatsspoor kini juga telah memperpanjang jalur dari Loemadjang ke arah Barat hingga Goenoeng Sari hingga pabrik Bedadoeng yang baru. Jelas untuk berbelok jauh ke utara dan menyambung kembali ke jalur ke Djember di Rambipoedji. Trem Rambipoedji- Baloeng-Pueger sekarang beroperasi di sana. Tetapi biaya perpanjangan itu tampaknya cukup tinggi, terutama karena seluruh jalur harus diambil alih. Dan ada juga bus, sehingga profitabilitas perpanjangan ini jauh dari pasti.

Dengan keadaan tersebut tentunya menggambarkan bagaimana makmurnya kehidupan pada masa itu. Hal ini juga dilihat tingginya produksi pabrik milik HVA tersebut.

        Dalam tulisan tersebut dijelaskan seberapa banyak produksi yang dihasilkan pabrik Gunung Sari dan Semboro hingga pabrik gula Djatiroto yang kelebihan beban. “Pabrik terakhir ini adalah yang terbesar; Goenoeng Sari dan Semboro berkapasitas 30.000 pikol per hari, Bedadoeng harus bisa menggiling 40.000 pikol. Kapasitas ekstra   10.000   ini   dimaksudkan   untuk dipertimbangkan sebagai cadangan.
        Dengan dua pabrik Djatiroto, H.V.A. memiliki satu kompleks bersambung di sini, ditutupi dengan jaringan rel kereta api yang terhubung, sehingga satu pabrik juga dapat menggiling buluh yang lain jika perlu. Cadangan dalam arti kata yang tepat. Namun, tidak lagi demikian. Pabrik-pabrik di Djatiroto sudah kelebihan beban, sehingga jamuan makan di sana tidak berakhir hingga awal November, yang tidak diinginkan. Pabrik Goenoeng Sari dan Sembore bisa meringankan Djatiroto untuk sementara, karena masa tanamnya belum maksimal.

Dari tulisan surat kabar tersebut sudah terlihat bahwa kehidupan pada masa iu cukup makmur dan sejahtera bagi pemerintah Belanda. Maka dari itu didirikan bangunan- bangunan lain disekitar pabrik termasuk gedung bioskop.


    Dari Gambar Idoep Hingga Gudang Gula

Adanya bioskop awalnya di inisiasi oleh Nederlandsche Bioscope Maatschappij (Perusahaan Bioskop Belanda) pada tanggal 5 Desember 1900. Film yang diputar pada saat itu adalah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag, Belanda. Pada masa itu bioskop disebut dengan “Gambar Idoep”. Perkembangan film naratif selanjutnya baru dimulai pada 1905 melalui impor film-film dari Amerika Serikat.

     Di wilayah perkebunan seperti Jember, dibukanya perkebunan dan pabrik gula juga membutuhkan hiburan. Dengan demikian maka didirikanlah gedung bioskop dan gedung pertunjukan. Tidak hanya di kota kabupaten, tetapi juga di pinggiran. Di Semboro dan Kencong, gedung bioskop Chandra dibangun karena di dua wilayah ini terdapat pabrik gula yang beroperasi sejak 1928.

        Selain sebagai tempat pemutaran film, gedung bioskop Chandra juga berfungsi sebagai tempat menikmati    pertunjukan    kesenian    seperti    kethoprak    dan    wayang wong. Dibangunnya gedung bioskop menjadi penanda bahwa pemerintah kolonial berusaha memberikan hiburan kepada kelompok elit Eropa agar mereka betah tinggal dan bekerja di kawasan Jember. Selain itu, agar warga elit di masyarakat terjajah memberikan apresiasi terhadap kehadiran mereka.

            Sementara, untuk para buruh perkebunan dan pabrik gula, pemerintah memberikan hiburan berupa pertunjukan kesenian rakyat. Hiburan itu perlu diberikan agar mereka bisa bergembira sehingga mereka tidak akan melakukan resistensi berlebihan terhadap para pekebun Belanda.

        Pada masa Soekarno hingga era rezim orde baru berkuasa, gedung ini masih dimanfaatkan untuk pertunjukan kesenian. Selain itu juga masih digunakan untuk menonton film-film di era Orde Baru, setidaknya sampai era 90-an. Film yang menjadi favorit adalah film laga yang dibintangi Barry Prima. Namun, sudah sangat jarang dimanfaatkan setelah masa tersebut. Jadi, secara garis besar eksistensi gedung Candra sebagai bioskop ini hanya bertahan hingga tahun 1900-an. Setelah tidak digunakan sebagai bioskop gedung ini sempat.

        Dialih fungsikan sebagai pertunjukan seni hingga sekitar tahun 2004. Namun setelah ini gedung ini tidak terpakai dan kosong begitu saja. Hingga pada tahun 2018 gedung ini mulai aktif kembali untuk gedung olahraga badminton. Meskipun demikian, hal ini juga tidak bertahan lama hanya sampai tahun 2021. Lalu gedung ini sekarang digunakan sebagai gudang penyimpanan produksi gula milik Pabrik Gula Semboro.


Penulis    : Natasya Yuni Riswanda    210210302039

Sumber Referensi:

Surat kabar De Sumatra Post, ditulis pada tanggal 3 Februari 1928.

Ikwan Setiawan. 2021. Chandra, Nasib Bioskop Peninggalan Kolonial di Jember. Diakses        secara                      online         memlalui     laman               kompasiana.com https://www.kompasiana.com/dekajekita/61867ff1f5eb6839513ebd52/chandra- nasib-bioskop-peninggalan-kolonial-di-jember

Putu Agung Nara Indra. 2016. Gambar Idoep yang Menghidupkan Nusantara. Diakses secara online memalui laman tirto.id. https://tirto.id/gambar-idoep-yang- menghidupkan-nusantara-bBhe