(Surat kabar lama, Money line)
HMPKELAMAS.COM - Krisis ekonomi
Indonesia pada puncaknya tahun 1998 merupakan krisis ekonomi terparah sepanjang
sejarah Indonesia hingga saat ini. Hampir tiga periode mulai tahun 1990-awal
1997, Indonesia masih menunjukkan stabilitas ekonomi yang sehat. Dilihat dari
Produk Domestik Bruto (PDB) rill meningkat rata-rata 7% dan inflasi masih mampu
dikendalikan pada tingkat US$ 1.014 di tahun 1996, serta terjadi penurunan
angka kemiskinan sekitar 60% tahun 1970 menjadi 11% tahun 1996 (Karmeli, 2008).
Pertengahan 1997,
timbul peristiwa krisis nilai tukar uang terhadap US$ yang menyebar di Asia hingga
berdampak di Indonesia. Krisis dimulai dari Thailand pada Juli 1997
meninggalkan fixed exchange rate (nilai tukar tetap) terhadap mata uang
dolar AS. Kebijakan tersebut memnyebabkan banyak perusahaan gagal bayar akibat
nilai tukar uang rupiah yang melemah. Krisis menjatuhkan mata uang rupiah,
awalnya Rp. 2.500,00 menjadi Rp. 14.700,00 per dolar AS tahun 1998. Tahun 1997
PDB tumbuh 4,7%, namun semakin lama mengalami penurunan hingga minus 31,1%
tahun 1998. Inflasi meningkat drastis daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni
sebesar 77,6% tahun 1998. Akibatnya, impor barang domestik (konsumsi) mengalami
penurunan sebesar 34% dan ekspor migas menurun sebesar 36% (Karmeli, 2008).
Krisis ini
mengalami puncaknya tahun 1998 ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi
sebanyak 13,1%. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai beralih ke
kanan (positif). Tetapi dampak dari krisis ekonomi ini masih membekas terhadap
kehidupan masyarakat. Begitu banyak perubahan mendasar dari adanya krisis ini,
baik dibidang sosial, tatanan ekonomi, budaya, dan politik. Diranah politik,
krisis ini mampu menjatuhkan presiden terlanggeng Indonesia Presiden Soeharto
pada tanggal 21 Mei 1998 yang telah memimpin Indonesia 32 tahun lamanya, sebab
dari krisis inilah terjadi kerusuhan massal (demonstrasi) yang dilakukan
masyarakat dan mahasiswa.
Di bidang sosial,
dampak negatif yang ditimbulkan seperti, angka kejahatan meningkat tinggi, Menigkatnya
dislokasi sosial (persoalan yang tidak sinkron), dimana persoalan itu tidak
bisa diselesaikan dalam jangka waktu lama sehingga menimbulkan emosi negatif
(stress atau depresi), meningkatnya anak yang putus sekolah, PHK dimana-mana,
akibatnya tingkat pengangguran semakin tinggi, hingga toko-toko menjadi sepi. Sedangkan
dibidang ekonomi, seperti nilai kurs rupiah ke dollar AS merosot, penduduk
yang dibawah garis kemiskinan semakin meningkat, harga barang pokok (konsumsi)
naik, utang luar negeri dalam kurs rupiah meningkat, harga tarif listrik, BBM, dan
angkutan naik drastis, serta impor barang menurun tajam.
Tidak menutut kemungkinan, dari adanya masalah krisis ekonomi tahun 1997-1998 tidak hanya menimbulkan dampak negatif, tetapi masih terdapat dampak positif yang dapat diambil, seperti (1) memberikan undang-undang nomor 46 tahun 1998 agar dapat menarik masuknya modal asing dalam jumlah besar, hal itu menjadi masuk dan keluarnya modal jumlah besar, tentunya ditujukan untuk menekan angka pengangguran yang tinggi dan memperbaiki ekonomi indonesia, tetapi buruknya bisa saja kedepannya ekonomi Indonesia mengalami ketergantungan terhadap asing (2) meningkatnya daya saing produk domestik yang memiliki kandungan impor rendah, khususnya di bidang pertanian, (3) petani yang memiliki basis ekspor ke luar negeri penghasilan dalam rupiah melonjak drastis. Sebab petani tersebut mendapatkan bentuk uangnya bukan lagi rupiah tetapi dollar. Oleh sebab itu, jatuhnya nilai tukar rupiah tidak hanya menimbulkan dampak negatif, tetapi dapat berdampak sebaliknya, meskipun secara keseluruhan dampak negatifnya masih lebih besar ketimbang dampak positifnya (Tarmidi, 2003).
Penulis : Ageng Rachmad 220210302046
Sumber Referensi :
Karmeli,
E. (2008). Krisis Ekonomi Indonesia. Journal of Indonesian Applied Economics,
2(2), 2–2008. https://doi.org/10.21776/ub.jiae.2008.002.02.3
Tarmidi,
L. T. (2003). Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran.
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan,
1(4), 1–25. https://bmeb.researchcommons.org/bmeb/vol1/iss4/6/
Social Footer