Sumber: WikimediaCommons
HMPKELAMAS.COM - Stasiun adalah suatu lokasi tempat kereta api berhenti atau singgah selama perjalanan. Pada masa penjajahan Belanda, Stasiun digunakan untuk berbagai aktivitas seperti tempat penumpang berhenti, angkutan militer, dan penyimpanan sementara hasil perkebunan. Stasiun Bandung, yang juga dikenal sebagai Stasiun Hall, didirikan pada tanggal 17 Mei 1884 pada masa Hindia Belanda. Pendirian stasiun ini menandai keberadaan Belanda di Tanah Priangan dan menunjukkan bahwa zaman kemajuan telah tiba di Kota Bandung. Antara tahun 1884-1898, perusahaan milik pemerintah, Staatsspoorwegen (SS), membuka beberapa jalur kereta api, termasuk jalur Bogor-Bandung-Cicalengka yang selesai pada tanggal 10 September 1884.
Alasan pembangunan Stasiun Bandung tidak terlalu berbeda dengan alasan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cicalengka. Tujuannya adalah untuk mengangkut hasil perkebunan dari wilayah Priangan. Hasil perkebunan tersebut meliputi kina, kopi, dan the yang kemudian dikirim ke Batavia melalui Bogor. Stasiun Bandung telah mengalami tiga kali perombakan bangunan. Selain itu, jaringan jalur kereta api di Stasiun Bandung juga mengalami perkembangan. Misalnya, terdapat jalur Bandung-Banjar, Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali, dan bahkan jalur Bandung-Surabaya dengan menggunakan dua kereta ekspres atau Kereta Cepat. Pada tahun 1920, bangunan stasiun direnovasi dan diperbesar dengan gaya arsitektur kolonial. Kemudian, pada tahun 1931, bangunan stasiun direkonstruksi sepenuhnya berdasarkan desain dari arsitek Dr. Ir. J W. Ljzerman dengan gaya arsitektur Art Deco. Demikianlah yang diungkapkan Sudarsono Katam dalam bukunya Bandung: Kilas Peristiwa di Mata Filatelis (2006).
Dengan adanya berbagai aktivitas perkeretaapian di Stasiun Bandung, tentu memberikan dampak sosial dan eknonomi bagi Masyarakat Kota Bandung. Dalam hal tersebut, dampak sosial yang timbul adalah karena keberadaan Stasiun Bandung dapat menciptakan pergeseran dalam bidang sosial serta terdapat akulturasi budaya. Hal tersebut terlihat dari masyarakat yang jenis pekerjaannya berubah, masyarakat bandung mengalami peningkatan dalam aspek kesejahteraan, bahkan hingga kemunculan suatu tempat sex komersial.
Sementara itu pada aspek ekonomi, terdapat dampak yang sangat teradakan oleh masyarakat Kota Bandung adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi karena aktivitas yang ramai pada stasiun. Sejak didirikannya Stasiun ini, telah banyak pula didirikan sarana fasilitas umum seperti hotel penginapan mulai sederhana hingga kalangan elit, dan sebagainya. Dengan aktivitas tersebut tentu akan membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dalam bidang perekonomian masyarakat Kota Bandung.
Penulis: Atqo Nawang Nilam Cahya (220210302055)
Referensi
Yogi R,P.Dampak Sosial Ekonomi dari Perkembangan Stasiun Bandung terhadap Masyarakat Kota Bandung 1884-1930.
Kartika Theresia, Kajian Desain Stasiun Bandung Dalam Lingkup Konservasi Bangunan Bersejarah, Skripsi, (Bandung: Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan, 2005), hlm. 34.
Haryoto Kunto (1984), Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, Bandung
Social Footer