A.   Teori Proses Ekspansi Islam di Thailand

HMPKELAMAS.COM - Masuknya agama Islam di Thailand merupakan sebuah proses panjang. Diperkirakan Islam masuk di Thailand sekitar abad ke-10 Masehi melalui kontak perniagaan/perdagangan (Aphonsuvan, 2003: 7 dalam Ramadhan, T, 2021: 151). Bahkan ada yang menyatakan Islam telah masuk pada abad 7 (Chapakia, 2000: 18 dalam Ramadhan, T, 2021: 151). Kemudian, penyebaran ini dilanjutkan oleh sejumlah guru sufi yang berasal dari Jazirah Arab dan pesisir India. Sementara, bukti lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke Thailand dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Bukti tersebut ialah batu nisan yang beraksara Arab di dekat Kampung Teluk Cik Munah, Pekan Pahang dengan perkiraan sudah ada sejak 1028 M.

Terdapat dua teori yang mengeksplanasikan suatu proses Islamisasi. Bagi sebagian sejarawan teori pertama cukup kuat, karena Islam yang berada di wilayah Thailand Selatan banyak mendapat pengaruh dari Arab. Fakta membuktikan ada lukisan kuno yang mendeskripsikan pengaruh bangsa Arab di Ayutthaya. Berdirinya Kesultanan Pattani yang diinisiasi oleh bangsa Arab menyatakan Islam sudah ada sejak berabad-abad silam di Thailand bahkan sebelum Dinasti Chakri ada (Ramadhan, T, 2021: 151).

Kemudian, untuk teori kedua, Scupin (1980) dalam Ramadhan, T (2021: 151) menceritakan bahwa suatu ketika pernah Kerajaan Samudera Pasai ditaklukan oleh Kerajaan Siam, Sultan Pasai dan anggota kesultanan ditawan oleh Kerajaan Siam dan dibawa ke Siam. Kemudian, melalui diplomasi akhirnya sebagian dibebaskan dan kembali ke Aceh. Akan tetapi, ada juga yang menetap di Siam (Thailand) serta menyebarkan ajaran Islam di Thailand, khususnya wilayah selatan yang bertetangga langsung dengan wilayah Malaysia.

 

B.   Muslim Thai vs Thai Muslim

Sumber : http://saa.iainkediri.ac.id/denyut-islam-di-thailand-selatan-dari-kuliner-hingga-politik/

 

Thailand adalah sebuah nama bagi negara kerajaan di tengah-tengah kawasan Asia Tenggara, yang memiliki banyak keunikan dan pengecualian. Unik, karena menurut latar belakang sejarahnya, sebelum tahun 1939 disebut sebagai kerajaan Siam, menjadi destinasi utama pedagang India dan China di masa lalu. Tak heran jika hingga kini karakter huruf di dalam tulisannya masih menggunakan karakter yang diadaptasi dari alphabet Sansekerta yang berasal dari India, dan cara pengucapan bahasanya yang terdiri dari lima intonasi nada diadopsi dari bahasa China (Haque, M. G., et. al., 2019: 137).

Kerajaan Thailand adalah sebuah wilayah yang tak pernah mengalami penjajahan bangsa Eropa. Bagi masyarakat Thai, penjajahan berarti membiarkan pengaruh budaya asing masuk dan merusak nilai kearifan lokal dan sejarah yang seharusnya dijaga dan dipertahankan oleh setiap bangsa. Sebagai gantinya, para raja di kerjaan Siam, khususnya Raja Chulalongkorn (Rama V) melakukan negosiasi. Yaitu melalui salah satu strateginya, dengan menawarkan kerjasama ekonomi dan budaya dengan para bangsawan Eropa hingga Rusia. Memang, Raja Chulalongkorn (Rama V) ini tercata dalam sejarah dunia sebagai seorang tokoh raja yang selain paling dihormati di wilyah Kerajaan Thailand oleh rakyatnya, juga oleh karena kelihaiannya di dalam melakukan diplomasi dengan pihak internasional (Barat), sehingga terbukti mampu menghindarkan masyarakat Thailand dari kehancuran dan sengsara ekonomi akibat perang (Haque, M. G., et. al., 2019: 137-138).

Hingga saat ini Thailand dikenal sebagai sebuah negeri penganut ajaran Buddha Trevada, seperti yang selama ini diajarkan dan diamalkan oleh para rajanya. Lebih dari 90 persen penduduknya mengamalkan pola hidup dan cara berpikir yang sesuai dengan ajaran Buddha, atau dengan cara pencarian diri yang sejati melalui meditasi. Dengan berlandaskan filsafat reinkarnasi, masyarakat Thai percaya bahwa kehidupan di dunia adalah sebuah siklus dan hanya mereka yang mampu menghentikan nafsu duniawi saja yang dapat melepaskan diri dari jeratan siklus lingkaran kelahiran, lalu masuk dalam kebahagiaan abadi atau disebut sebagai Nirwana. Jika tidak mampu menghentikan nafsu, maka cukup menahan diri dan mencoba agar terlahir kembali dengan derajat lebih tinggi (Forbes and Henley, 2012 dalam Haque, M. G., et. al., 2019: 138).

Karakter Buddha Trevada ini telah menjadi karakter bangsa Thai hingga sekarang dan turut mempengaruhi bagaimana cara orang-orang Thailand berpikir serta bertindak. Etika sosial dan moralitas kemanusiaan menjadi adab yang paling utama dan dijunjung tinggi di negeri Gajah Putih Thailand ini. Hal inilah yang membentuk masyarakat Thai menjadi “adapt dan adopt”. Terbuka, serta senang menerima serta mempelajari suatu budaya dan ajaran baru, yang bertujuan baik, tanpa merusak atau menghilangkan kepercayaan turun-temurun, serta untuk menghasilkan hal yang bermanfaat bagi masa depan (Haque, M. G., et. al., 2019: 138).

Maka, bukan menjadi suatu hal yang tidak wajar lagi ketika Islam masuk ke Thailand, masyarakat dan penguasa negeri Siam tersebut menyambut serta menerima dengan baik ajaran penganut agama Islam untuk menetap, bertempat-tinggal, dan berkembang di negeri Kerajaan Siam. Penyebutan identitas ini tentu saja memiliki alasan kultural/budaya yang sangat kuat. Meskipun demikian tetap saja ada perbedaan yang sangat mendasar, untuk menyebut identitas seorang Muslim di Thailand yang tidak bisa disebut dengan Thai Muslim tetapi Muslim Thai.

Penyebutan “Muslim Thai’ artinya menunjukkan bahwa identitas para Muslim yang tinggal di Thailand bukanlah penduduk asli Thailand. Muslim Thai adalah mereka yang beragama Islam, yang datang dari berbagai etnis ke tanah Siam, dan diterima dengan baik oleh penduduk lokal Siam beserta para penguasa negerinya. Sedangkan penyebutan “Thai Muslim” tidak disepakati penggunaannya, karena mengandung makna jika seakan etnis Siam itu memang aslinya Muslim. Logika ini ditolak, dengan alasan bahwa kepercayaan resmi di kerajaan Siam adalah Budhisme, dan tradisi kepercayaan ini telah membangun identitas masyarakat Thailand dari dulu hingga kini (Dania, 2016). Hal tersebut juga untuk mempertegas bahwa bahwa agama resmi di Thailand adalah agama Budha, lalu Islam bukalah agama lokal masyarakat Thailand. Meskipun Islam di Thailand adalah agama terbesar ke dua, sebesar 12 persen pada tahun 2017 lalu (Thai Embassy Riyadh, 2017 dalam Haque, M. G., et. al., 2019: 138).

Akar sejarah penyebutan orang Islam di Thailand adalah Muslim Thai bukan Thai Muslim, dimulai pada tahun 1602. Tepatnya ketika dimulainya masa konversi Islam di Asia Tenggara, dengan kedatangan para pedagang Muslim yang diterima dengan baik oleh penguasa Kerajaan Ayutthaya saat itu (kini Ayutthaya menjadi provinsi besar di Thailand), lalu sebagian dari para pedagang Muslim tersebut menjadi migran tetap di sana. Muslim Thai sendiri adalah keturunan pendatang dari enam etnis utama, yaitu: (1) Persia; (2) China; (3) Cham-Khmer; (4) Asia Selatan yang terdiri dari India, Pakistan, Bengali; (5) Melayu; dan (6) Indonesia (Haque-Fawzi, et. al, 2019 dalam Haque, M. G., et. al., 2019: 138-139).

Etnis yang tak kalah pentingnya bagi penyebaran Muslim Thai di Thailand adalah etnis China, di mana mayoritas etnis tersebut berasal dari kawasan Hui di Provinsi Yunnan di Tiongkok. Muslim Thai dari etnis China yang turut menyebarkan Islam ini bertempat tinggal di wilayah utara Thailand, seperti di Chinag Rai, Chiang Mai, serta beberapa provinsi lain di wilayah pegunungan Thailand utara lainnya. Gelombang migrasi Muslim etnis China di Thailand dipicu oleh kemenangan partai komunis pimpinan Mao Zedong di China yang merepresi keberadaan para Muslim di China sehingga mendesak mereka untuk melarikan diri guna mempertahankan akidah.

Etnis lainnya yang turut menyumbang populasi Muslim Thai adalah Muslim etnis Asia Selatan, yang di dalamnya merupakan gabungan dari India, Bengali (Bangladesh), dan Pattani (Patani). Muslim Pakistan juga disebut sebagai Patan, dan mereka hingga saat ini mendominasi wilayah Pattani di wilayah selatan Thailand. Masyarakat Muslim etnis Asia Selatan ini sangat mahir berbisnis. Bisnis adalah aliran darah dan nafas mereka secara turun-temurun. Keluarga Muslim etnis Asia Selatan Patan di Thailand menguasai bisnis perhiasan di Thailand juga “jagal daging.” Keluarga Nana atau Nana Family adalah salah satu nama keluarga dari etnis ini yang dikenal berhasil dalam bisnis dan sering diidentikkan sebagai Milyader-nya Thailand. Bahkan Mr. Lek Nana salah seorang keturunannya pernah menjabat sebagai Menteri Teknologi Thailand. Keluarga lain yang berasal dari India Muslim adalah keluarga Siamwalla atau Siamwalla Family, dikenal sebagai keluarga ahli ekonomi Thailand, sekaligus sebagai Ketua Organisasi Women’s Foundation di Thailand (Haque, M. G., et. al., 2019: 139-140).

Penyebaran Islam di Thailand masih tergolong masif ketika Kerajaan Siam berinterakasi dengan etnis Melayu. Sebutan Orang Melayu Thailand adalah sebuah istilah yang merujuk pada etnis Melayu di Thailand. Etnis Melayu di Thailand menempati urutan ketiga terbesar setelah Malaysia dan Indonesia. Orang Melayu Thailand tersebar menempati beberapa provinsi utama, di kawasan Thailand selatan, antara lain: (1) Pattani: (2) Narathiwat; (3) Yala; (4) Songkhla; dan (5) Satun.

Mayoritas Muslim Thai beretnis Melayu tersebut kini menempati berbagai posisi penting di pemerintahan Thailand. Salah satu contoh paling signifikan adalah kehadiran almarhum Dr. Surin Pitsuwan, mantan menteri Luar Negeri Thailand, dan mantan Sekjen ASEAN 2008-2012 lalu. Beliau baru saja berpulang ke rahmatullah tepat di dalam perjalanan di hari pertama saat awal pembukaan Halal Expo di Bangkok Thailand yang diadakan di Bitec Bangna, kota Bangkok pada tanggal 29 November - 3 Desember 2017 lalu. Almarhum merupakan salah satu tokoh kebanggaan masyarakat Muslim Thailand. Kebijakan “Look West Policy” dari Dr. Surin Pitsuwan dikenal telah membuat politik luar negeri Thailand semakin menguat. Sebagai Sekjen ASEAN Dr. Surin Pitsuwan bahkan juga telah meningkatkan kerjasama ASEAN dengan banyak negara Islam di dunia terkait bidang investasi serta perdagangan (Haque, M. G., et. al., 2019: 140).

Berbeda dengan Muslim etnis non-Melayu yang cenderung lebih asimilatif, hal tersebut tertuang dalam sejarah yang mencatat jika Muslim etnis Melayu menemui kesulitan untuk menjadi bagian yang integratif dengan budaya Thailand. Akibatnya, sejumlah besar gerakan separatisme khususnya di Thailand selatan, muncul. Upaya penyelesaian dari pemerintah Thailand di awal kejadian dalam upaya untuk menekan separatisme yang bersifat represif, justru berakibat luka psikologis sangat dalam dan ‘menahun’. Konflik lokal di wilayah selatan tersebut pada akhirnya menciptakan urgensi baru guna mendapatkan solusi alternatif. Pemerintah Thailand kemudian mengevaluasi kebijakan asimilasi dan integrasi yang telah dikeluarkannya.

Mereka merasa lebih baik memilih untuk berintegrasi ke dalam negara sesama etnis Melayu, atau memerintah sendiri secara independen daripada harus bergabung dengan Kerajaan Siam. Kondisi tersebut diperburuk oleh metode kebijakan pemerintah Thailand yang selalu menggunakan pendekatan senjata dalam aksi militernya untuk meminggirkan budaya Muslim etnis Melayu agar diganti dengan budaya Buddha Trevada Thailand.

Lebih lanjut, penduduk Thailand Muslim etnis Melayu diharapkan untuk segera mengadopsi nama Thailand di luar nama Muslim yang mereka miliki. Puncaknya adalah ketika mereka juga dilarang mempraktikkan ajaran ibadah dalam agama Islam dengan alasan bahwa agama Buddha adalah dasar negara dan merupakan agama dominan dari Thailand. Politik identitas memang kerap dipakai sebagai ‘senjata pamungkas’ untuk mengalahkan lawan politik. Kompetisi politik seringkali memelintir penggalan dan menenggelamkan akal sehat, bahwa secara kasat mata fakta menunjukkan bahwa masyarakat Muslim etnis Melayu sangat kuat memegang akar-tradisi kepercayaan Islamnya (Haque, M. G., et. al., 2019: 142).

Disusul dengan upaya paksa kepada para pelajar Muslim etnis Melayu di wilayah selatan untuk memberikan penghormatan kepada gambar Buddha yang ditempatkan di sekolah umum. Mereka yang menolak untuk mematuhi kebijakan ini lalu ditahan, bahkan beberapa disiksa. Meskipun, akhirnya kebijakan ini kemudian dicabut, namun bekas konflik yang selalu meninggalkan luka berdampak buruk bagi kualitas hubungan psikologis antara pemerintah Kerajaan Thailand dan rakyatnya sendiri di wilayah selatan.

 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, munculnya Islam pertama kali di Kerajaan Thailand yaitu tepatnya berada di Kota Ayutthai, di mana dari kota tersebut telah banyak meninggalkan bukti kehadiran agama Islam, hingga berkembangnya kini bersamaan dengan masuknya pemeluk agama Islam lain dari mancanegrara yang hidup secara harmonis. Sekalipun terdapat pergolakan dan pertentangan di wilayah selatannya dalam jangka waktu yang cukup lama, akibat dari perjalanan sejarah yang dipaksakan, namun secara umum kehidupan masyarakat Muslim di Thailand hingga kini dalam kondisi yang kondusif.

Penulis        : Ike Nurrohmah        210210302010

Referensi    :

Haque, M. G., Putri, V. R., Sunarsi, D., Dewi, V. K., & Nelmida. (2019). Islam Datang dan Menetap di Thailand. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 8(3), 131–144.

Himam, A. (2020). Islam Nusantara Di Thailand; Studi Etnografi Ritual Ibadah Muslim di Thailand Selatan. Jurnal Kopis: Kajian Penelitian Dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam, 2(2), 77–90. https://doi.org/10.33367/kpi.v2i2.1120

Manan, A., Armi, F. R., & Amri, W. Y. (2022). The Expansion of Islam in Pattani, South Thailand: A Historical Analysis. Journal of Al-Tamaddun, 17(1), 85–95. https://doi.org/10.22452/JAT.vol17no1.7

Mania. (2019). Perkembangan Sosial Islam di Thailand. AL MA’ARIEF : Jurnal Pendidikan Sosial Dan Budaya, 1(1), 80–101. https://doi.org/10.35905/almaarief.v1i1.783

Ramadhan, T. (2021). Hikayat Pattani dan Eksistensi Masjid di Negeri Pagoda: Umat Islam Thailand dalam Pusaran Harmoni dan Konflik. Journal of Islamic Civilization, 3(2), 149–159. https://doi.org/10.33086/jic.v3i2.2619