HMPKELAMAS.COM - Diplomasi adalah seni dan praktik
bernegosiasi oleh seseorang (dikenal sebagai diplomat) yang biasanya mewakili
suatu negara atau organisasi. Kata diplomasi sendiri biasanya berkaitan
langsung dengan diplomasi internasional yang biasanya membahas berbagai topik
seperti budaya, ekonomi dan perdagangan.
Diplomasi dapat dilakukan dengan berbagai
cara seperti Hard Diplomacy atau Diplomasi Keras yakni cara berdiplomasi suatu
negara dengan kekuatannya,pendekatannya biasanya melalui kekuatan
militer,sedangkan Soft Diplomacy atau diplomasi halus cara pendekatan diplomasi
ini menggunakan cara yang lebih ke sosial budaya contohnya seperti
kuliner,budaya kontemporer dan fashion.
Soft Diplomacy ini dapat dilakukan dengan berbagai cara,salah satunya
adalah Gastro Diplomacy dimana kegiatan warga negara dan kegiatan terorganisir
di luar negeri yang berkaitan dengan masakan atau gastronomi dan berbagai
turunannya,biasanya difasilitasi dan dibiayai pemerintah.
Kenapa kuliner dapat menjadi
alat berdiplomasi? Faktanya,manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial dan
telah terlibat dalam perayaan (yaitu, ritual berbagi makanan) untuk waktu yang
sangat lama. Dan beberapa bukti paling awal berasal dari gua pemakaman di
Israel sekitar 12.000 tahun yang lalu. Para arkeolog dan antropolog percaya
bahwa berbagi makanan berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia serta peran
yang sangat penting dalam perkembangan selanjutnya justru karena kemampuannya
untuk meningkatkan ikatan dan menjaga kohesi sosial dalam kelompok
individu.
Pada perkembangan selanjutnya,maka muncullah Gastrodiplomasi, penggunaan
masakan secara strategis untuk mempengaruhi persepsi suatu bangsa,yang terletak
di antara diplomasi publik dan di persimpangan makanan, pariwisata, dan
diplomasi. Peran makanan dan pariwisata dalam branding negara
dieksplorasi, mengarah ke penjelasan rinci tentang berbagai cara di mana
pariwisata berkontribusi pada kampanye gastrodiplomasi nasional serta ‘diplomasi
warga’ akar rumput yang terkait dengan makanan suatu negara.
Berbagai negara di dunia tentu saja memiliki budaya dan tradisi
unik,termasuk sejarah dan perkembangan kulinernya. Ciri khas makanan suatu
negara tentu saja bisa menjadi daya jual yang unik negara tersebut termasuk
saat berdiplomasi. Gastrodiplomacy telah diterapkan oleh berbagai negara
didunia,seperti Korea dengan Kimchi,Tteok dan Kimbap,Jepang dengan beragam
olahan seafood segar seperti Sushi dan Sashimi,Mexico dengan Mexican food,Indonesia
dengan Rendang,Gudeg,Sate dll serta Taiwan dengan minuman yang mendunia seperti
Boba.
Tak mau kalah dengan negara negara Asia lainnya,Thailand memperkenalkan
gastro-diplomasi; mengembangkan diplomasi budaya dan soft power mereka melalui
Gastrodiplomacy dimana praktik komunikasi dari negara kepada masyarakat yang
menggunakan kuliner sebagai salah satu unsurnya. Menurut Paul Rockower,
menggunakan makanan sebagai alat diplomasi merupakan sarana yang lebih efektif
untuk memediasi komunikasi non-verbal yang dapat mempersatukan semua kelompok.
Gastrodiplomasi dapat digunakan negara yang melakukan diplomasi publik dengan
mempromosikan keunikan masing-masing negara dan meningkatkan kesadaran publik
akan merek nasional negara tersebut. Ini juga membantu publik asing untuk
terbiasa dengan budaya negara lain melalui pengalaman kuliner tanpa harus
benar-benar berada di negara tersebut.
Pada bulan Februari 2002, The Economist
menciptakan istilah “gastrodiplomasi” untuk menggambarkan upaya baru pemerintah
Thailand untuk mempromosikan masakan Thailand di seluruh dunia, menandai
dimulainya kampanye promosi makanan yang disponsori pemerintah. Mary Jo
Pham menambahkan bahwa gastrodiplomasi adalah “praktik pemerintah untuk
mempromosikan warisan kuliner nasionalnya melalui upaya diplomasi publik untuk
meningkatkan kesadaran merek nasional, mendorong investasi ekonomi dan
perdagangan, serta terlibat dalam urusan budaya dan pribadi dengan pengunjung
sehari-hari."
Pada tahun 2003, jumlah restoran Thailand di seluruh dunia berkembang
pesat dari 5.500 menjadi 8.000. Thailand meluncurkan program Global Thai, yang
menyediakan restoran Thailand dengan bahan-bahan Thailand, menyediakan koki
Thailand, dan mendanai biaya program.
Pemerintah Thailand juga melanjutkan kampanye lain yaitu Thailand:
Kitchen of The World Misi Gastrodiplomatik Thailand telah mencapai
tujuannya untuk mengenalkan masyarakat dunia tentang masakan Thailand. Bahkan,
pemerintah Thailand juga telah menetapkan standar dan kriteria yang harus
dipenuhi oleh restoran Thailand dimana merek nasional yang dibuat oleh
Thailand memperkuat reputasi Thailand dan mendorong lebih banyak restoran
Thailand untuk buka di luar negeri.
Dukungan pemerintah Thailand dalam
menjalankan praktik Gastrodiplomacy ini sangat besar,pemerintah dan organisasi
yang mendukung pertumbuhan dan daya saing industri pengolahan makanan di
Thailand meliputi, National Food Institute. The Halal Standard Institute
of Thailand. The Halal Science Centre Chulangkorn University Kasetsart
University. (www.bol.go.th).
Ragam kuliner khas Thailand merupakan warisan budaya bangasa yang dipraktekkan
sebagai seni dan diturunkan dari generasi ke generasi. Contoh kuliner yang
terkenal yakni Tom Yum,Pad Thai,Mango Sticky Rice,Khaeng Phet,Khaoi Soi
dan lain sebagainya.
Singkatnya, inisiatif gastrodiplomasi Thailand telah mencapai tujuan baik
di pasar internasional. Dalam hal merek dan kesadaran merek sebuah studi
observasi tahun 2005 yang dilakukan oleh Kellogg School of Management dan
Institut Sains; Thai Food menduduki peringkat keempat dalam kategori
Masakan Etnik dan keenam dalam kategori Makanan Favorit. Satu hal yang dapat
diambil dari upaya Thailand adalah bahwa tom yam sekarang akrab dengan bahasa
Thailand seperti halnya sushi dari Jepang.
Penulis : Tahta Mutiara Kunanti 210210302036
Referensi
Fartiannur, Y. (2018). Kepentingan
Thailand Dalam Melakukan Gastrodiplomacy Melalui Kitchen of the World.
E-Journal Ilmu Hubungan Internasional Unmul, 1568.
Lipscomb, A. (2019). Culinary relations:
Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan. The Yale Review of
International Studies, 1(1), 1-3.
Spence, C. (2016). Gastrodiplomacy:
Assessing the role of food in decision-making. Flavour, 5(1), 1-16.
Suntikul, W. (2019). Gastrodiplomacy in
tourism. Current Issues in Tourism, 22(9), 1076-1094.
Solleh, F. M. (2015). Gastrodiplomacy as a
soft power tool to enhance nation brand. Journal of Media and Information
Warfare, 7.
Social Footer