Gambar 1: Alcazar Cabaret Show adalah petunjukkan kesenian di Thailand yang pesertanya para LadyBoys

   HMPKELAMAS.COM -  Kathoey (LadyBoy) merupakan sebutan pria yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita, atau di Indonesia akrab dipanggil dengan Waria. Namun, di Thailand juga ada Pria.

    Bagi sebagian orang di Thailand, para Kathoey seperti sudah menjadi sebuah identitas, hingga dianggap sebagai budaya di Thailand. Namun, tidak semuanya, masih menganggap para Kathoey adalah aib. Hanya di kota-kota besar saja mereka banyak dijumpai. Seperti, Bangkok, Pattaya, dan Chiang Mai. 

Lalu darimana awal eksistensi Kathoey ini ada?

    Perlu diketahui bahwa mayoritas warga Thailand adalah Buddha, khususnya aliran Treravada. Diambil dari website databoks, jumlah kaum Buddha di Thailand tahun 2020 sebanyak 66,12 juta penduduk. (13.04%). (Kusnandar, 2021).

    Dalam kitab suci agama Buddha, Tripitaka terdapat Vinaya atau suatu kode disiplin Buddha Theravada. Vinaya dipahami sebagai peraturan yang mengatur perintah dan harus dipraktekan oleh biksu yang tergabung dalam Sangha. Terdapat empat jenis kelamin/gender dalam teks ini. Pertama ada kategori pria dan kedua wanita; lalu ada tambahan dua kategori lagi ubhatobyanjanaka dan pandaka yang mengacu pada hermaphroditism dan homosexuality. Kedua konsep inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand sebagai kathoey. (Gerung, 2018).

        Agama Budhha Thailand mengartikan Kathoey, seperti hukuman dalam konsekuensi karma karena telah melakukan suatu perbuatan jahat di kehidupan sebelumnya. Perbuatan jahat yang dimaksud disini merupakan kejahatan yang bersifat seksual.

        Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa salah satu faktor utama eksistensi kaum kathoey di Thailand adalah paham agama Buddha yang mengkategorikan jenis kelamin menjadi empat kategori, termasuk kathoey di dalamnya. Karena paham ideologi agama inilah yang menjadikan banyaknya kathoey di Thailand. 

Gambar 2: Treechada Petcharat atau Nong Poy 

Jadi bagaimana Kathoey ini berkembang di Thailand?

        Menurut sumber dari web Quora yakni situs tanya-jawab seputar ilmu pengetahuan, salah seorang netizen mengatakan bahwa terdapat sebuah sejarah yang berkaitan dengan Thailand (Dikarenakan ini hanya didapat dari satu sumber perlu dikritisinya kembali.) dalam situs tersebut dikatakan bahwa.

       Di awal era Rattanakoshin (sekitar tahun 1782) ada sebuah opera bernama Lakorn Nork dan Lakorn Nai. Lakorn Nork merupakan pertunjukan yang ditunjukan untuk orang kalangan bawah. Dipertunjukan ini semua playernya adalah pria namun jika mendapatkan karakter wanita dalam opera ini, siapapun yang memerankan karakter tersebut dituntut untuk berpakaian seperti wanita. Sedangkan, Lakorn Nai ditunjukan bagi penghuni istana dan berterbalikan dari Lakorn Nork, semua pemainnya merupakan wanita yang dituntut memainkan karakter perempuan ataupun laki-laki. Budaya yang bisa disebut role-playing dan cross dressing ini sudah ada di Thailand kira-kira 250 tahun yang lalu.

    Dalam beberapa dekade terakhir Thailand menunjukan kemajuan toleransi kepada komunitas-komunitas Kathoey dan transgender baik dalam bidang politik dan sosial. Pada tahun 1972 terjadi operasi pergantian kelamin pertama di thailand dan sekarang Thailand menduduki posisi pertama sebagai negara dengan operasi kelamin paling sering di dunia yang angka-angka frekuensinya akan terus naik. (Zulkodri, 2020).

    Pada tahun 2008 beberapa sekolah di Thailand mulai menambahkan toilet khusus untuk para transgender. Di tahun 2012 Thailand membentuk organisasi bernama Provincial Administration Organization. Dan ditahun yang sama Thailand terdapat gerakan kesejahteraan sosial yang memperjuangkan kesetaraan gender. (Davis. 2016: 9- 10).

      Pada tahun 2014, terdapat suport lebih lanjut dalam bentuk klinik untuk para kaum transgender yang ditunjukan hanya untuk para transgender di rumah sakit Ramathibodi. (Davis. 2016: 9-10). Dan pada tahun 2015 dibentuk Thailand’s Gender Equality Act yang merupakan suatu badan legislasi pertama di Asia Tenggara yang melindungi diskriminasi gender. (Davis. 2016: 9-10).

      Dapat disimpulkan bahwa kathoey atau kaum transgender sudah diterima oleh masyarakat Thailand. Sehingga, kaum Kathoey ataupun transgender ini cepat sekali berkembang. Faktanya mereka selalu ambil bagian dalam teater tradisional dan pada masa sekarang sering bekerja sebagai artis, make up artis dan hair stylist. Namun mereka juga biasa menggambil pekerjaan masyarakat umum. Salah satu contohnya adalah Treechada Petcharat atau Nong Poy yang sudah diperbincangkan oleh warganet dan media, usai pengumuman pernikahannya dengan seorang anak konglomerat sekaligus pebisnis Thailand bernama Oak Pakhwa Hongyok pada 2 Februari 2023 lalu. 

Lantas, Bagaimana Respon warga Thailand kepada para Kathoey?

       Jika berbicara mengenai Kathouy pasti berkaitan erat dengan homoseksual. Namun, perlu diketahui bahwa gender dan seks disini memiliki pengertian berbeda. Menurut subjektifitas penulis, gender diartikan sebagai seseorang yang mengekspresikan dirinya sesuai dengan tingkah laku, model pakaian, mimik wajah, cara berbicara yang mereka gunakan. Sedangkan, seks adalah identitas biologis yakni laki-laki dan perempuan sejak seseorang dilahirkan.

    Jika dilihat secara sekilas masyarakat Thailand tampak bebas dari prasangka buruk tentang homoseksual, dikarenakan industri seksual mereka yang besar. Namun faktanya hal ini bisa dikatakan kurang benar. Bahkan, cukup sulit bagi seseorang di negara Thailand untuk mengakui dirinya sebagai seorang homoseksual, karena masih banyak persepsi negatif mengenai mereka.

         Mungkin tidak ada sanksi langsung terhadap homoseksual, tetapi dalam lingkup sosialnya, mereka bisa mendapat tekanan emosional sebagai akibat dari penghinaan dan gosip yang dilakukan orang-orang sekitarnya. Ini merupakan salah satu alasan mengapa kaum homoseksual dikucilkan dan mereka hanya bertindak terbuka dalam lingkaran orang-orang yang sangat dekat dengan dirinya. 

     Tapi sekarang masyarakat di Thailand beberapa sektor homoseksual tidak disembunyikan, sebaliknya mereka mudah ditemui, seperti kasus pekerja seksual transgender alias Kathoey. Di sisi lain, kasus gay atau Lesbian lebih bermasalah karena masih dianggap aib dan masyarakat Thailand tetap enggan menerima homoseksual pria ataupun perempuan (Universitas Sevilla. 2011: 194).


Penulis        : M Sandy Wijaya    210210302016

Referensi    :

Davis, Jarret, dkk.. 2016. Same Same But Different [Online]. Tersedia: https://1at4ct3uffpw1uzzmu191368-wpengine.netdna-ssl.com/wpcontent/uploads/2016/08/Same-Same-but-Different-Final.pdf. Diunduh: 31 Maret 2018.

Gerung, N. S. G. (2018). KEBERADAAN KATHOEY (LADYBOY) DI THAILAND.

Kusnandar, V. B. (2021). Jumlah Pemeluk Agama Buddha Indonesia Masuk Peringkat 20 Terbesar di Dunia pada 2020. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/10/22/jumlah-pemeluk-agama-buddha-indonesiamasuk-peringkat-20-terbesar-di-dunia-pada-2020

Saze, Nasa. 2015. History of Kathoey in Thailand [Online]. Tersedia: https://www.quora.com/What-is-the-history-of-kathoey-ladyboys-inThailand. Dilihat pada tanggal 15/06/2023.

Universitas Sevilla. 2011. From the Iron to the Lady: The Kathoey Phenomenon in Thai Cinema [Online]. Tersedia: https://dialnet.unirioja.es/descarga/articulo/3877268.pdf. Dilihat pada tanggal 15/06/2023.

Zulkodri, M. (2020). Sejarah dan Kenapa Ladyboy Banyak di Thailand, Kehadirannya Disebut untuk Menebus Dosa Masa Lalu. Bangka.Tribunnews.Com. https://bangka.tribunnews.com/2020/02/15/sejarah-dan-kenapa-ladyboy-banyak-di-thailand-kehadirannya-disebut-untuk-menebus-dosa-masalalu?page=al