HMPKELAMAS.COM - Indo-Cina
merupakan sebuah uni persatuan wilayah administratif buatan Prancis yang
terdiri dari Vietnam, Kamboja dan Laos. Prancis membagi Indo-Cina menjadi lima
jalinan hubungan negara yang terdiri dari Laos, Kamboja, Tonkin, Annam dan
Chocin Cina.
Awal
kekuasaan Prancis di Vietnam ditandai dengan terdapat sebuah perjanjian yang
ditandatangani bersama dengan pangeran Nguyen Phuc Anh pada abad ke-18. Pada
tahun 1862, Prancis berhasil merebut pelabuhan Saigon dari pasukan Eropa dan
oleh raja Hue, dilakukan penandatanganan perjanjian untuk diserahkannya
provinsi provinsi yang telah ditaklukan kepada Prancis. Nama provinsi tersebut
ialah Gia Dinh, My Tho dan Bien Hoa.
Kekuasaan
Prancis di Kamboja dilakukan dengan memberikan peringatan kepada Norodom selaku
raja di Kamboja yang memaksa Norodom akhirnya menjalin hubungan melalui
perjanjian antara Norodom dengan Prancis bahwa raja raja Kamboja akan
mendapatkan perlindungan dari Prancis dan status pemerintahan kerajaan Kamboja
berada di bawah kekuasaan Prancis.
Dalam kasus
Laos, untuk dapat menguasai wilayah Laos yang kala itu telah berada di bawah
pemerintahan Siam, diperlukan sebuah upaya klaim dengan memanfaatkan status
kekuasaan Prancis yang telah menguasai negara Vietnam. Mengapa demikian? sebab
Prancis menganggap dirinya sebagai pewaris tahta kekuasaan kaisar vietnam
terdahulu sehingga membuat Prancis berhasil melakukan klaim atas wilayah Laos.
Pada masa
kedudukan Prancis di Indo-Cina, populasi Eurasia cukup besar diakibatkan banyak
orang Prancis yang datang sebagai bujangan menikahi atau menjalin hubungan
romantis dengan gadis gadis lokal di Indo-Cina. Contohnya saja para tentara Prancis
yang datang menjajahi wilayah Indo-Cina sering dijumpai telah melakukan
hubungan romantis bahkan ada pula yang memaksa para wanita lokal untuk
melakukan hubungan seksual dengan mereka.
Akibat
hubungan yang terjalin tersebut, tak banyak dari mereka yang benar benar akan
hidup bersama, justru para wanita lokal banyak yang ditinggalkan dengan perut
yang telah terisi nyawa. Mereka hamil dan mengandung anak anak yang ketika
dilahirkan memiliki darah keturunan Prancis. Anak anak ini lah yang disebut
sebagai anak yatim metis atau anak yatim dari ayah yang berkebangsaan Prancis.
Pada masa
kolonialisme Prancis di Indo-Cina tahun 1800 hingga 1900, populasi anak yatim
metis meningkat tajam dibandingkan jumlah anak anak keturunan sesama orang
Prancis. Melihat fenomena tersebut, pemerintah Prancis mulai menanggapi
keberadaan anak yatim metis dengan serius. Awalnya, kehidupan anak anak yatim
metis ini tidak dipedulikan bagi mereka yang tidak diakui oleh ayah Prancis
mereka. Pemerintah hanya akan memberikan jaminan kehidupan bagi anak yatim
metis yang diakui keberadaannya oleh para ayah Prancis. Namun pada
kenyataannya, jumlah suara pengakuan dari ayah Prancis terhadap anak metis dari
ibu lokal atau pribumi lebih banyak yang tidak diakui keberadaannya sehingga
kehidupan yang dijalani oleh anak yatim metis di Indo-Cina sangatlah keras. Mereka
hidup dalam kemiskinan dan berada di bawah pengaruh orang orang pribumi.
Seiring dengan sedikitnya populasi masyarakat Prancis, administrator Prancis
khawatir dan mulai memperingatkan pemerintah untuk serius dalam menanggapi
populasi metis yang lebih banyak dibandingkan jumlah anak anak yang dihasilkan
dari hubungan antar orang Prancis. Administrator Prancis juga khawatir jika
para anak yatim metis ini hidup di lingkungan pribumi maka akan tumbuh menjadi
seorang pemberontak dan membenci negara Prancis.
Akhirnya
pemerintah Prancis di Indo-Cina membuat kebijakan bahwa anak anak metis ini
harus dipisahkan dari ibu pribumi mereka sebab ibu pribumi dapat menjadi contoh
yang buruk bagi anak anak metis karena mereka mengajarkan anak anak metis ini
menjadi anak anak yang tidak mempercayai negara Prancis, membenci negara
Prancis dan lebih mencintai lingkungan kehidupan bersama orang orang pribumi
lainnya. Ajaran yang diberikan ibu pribumi kepada anak yatim metis menurut
pemerintah Prancis dapat menjadikan anak yatim metis sebagai seorang
pemberontak atau pembelot terhadap kolonialisme Prancis di Indo-Cina
Untuk
menetralisir potensi ancaman yang ditimbulkan tersebut maka pemerintah Prancis
selain membuat kebijakan untuk memisahkan anak anak yatim metis dari ibu mereka,
juga memberikan fasilitas berupa pendidikan, makanan dan kebutuhan lainnya di
tempat penampungan baik gereja maupun di tempat perlindungan masyarakat yang
dibuat oleh pemerintah Prancis. Administrator Prancis percaya bahwa anak anak
yatim metis dapat dididik menjadi laki laki dan perempuan berkebangsaan Prancis
serta menjadikan mereka sebagai penyokong perekonomian negara Prancis. Setelah
anak anak Prancis ini menempuh pendidikan di bangsal perlindungan masyarakat,
mereka akan melanjutkan pendidikan di sekolah pertanian. Negara berencana bahwa
anak anak yatim metis ini akan dijadikan sebagai penyokong ekonomi melalui
pendidikan pertanian dan akan mengikuti serangkaian proyek kolonial yang
diluncurkan oleh pemerintah Prancis di Indo-Cina. Anak anak yatim metis akan
menjadi tenaga kerja pertanian dan diangkat menjadi orang Prancis kelas
menengah yang setia terhadap loyalitas Prancis.
Untuk
mengatasi jumlah anak yatim metis yang meningkat, pemerintaah Prancis juga
menerapkan sistem adopsi. Jadi, bagi anak yatim metis yang telah dirawat oleh
pemerintah Prancis dan biarawati, dapat diadopsi oleh orang tua Prancis yang
tidak memiliki anak.
Namun,
orientasi gereja pada saat itu tidak mendidik anak yatim metis sebagai anak
yang loyal terhadap pemerintah Prancis. Para biarawati mendidik anak yatim
metis menjadi sosok yang beragama Katolik dan memiliki kemampuan membaca,
menulis serta berkarakter atau memiliki sikap disiplin dan sopan santun. Maka
dengan peristiwa demikian, pemerintah Prancis mulai membawa anak yatim metis
ini ke tempat perlindungan masyarakat dan mereka akan dididik menjadi sosok
yang loyal terhadap pemerintah Prancis. Para administrator Prancis pun turut
berusaha untuk mencegah kemiskinan metis dan perilaku menyimpang dengan
menempatkan sebanyak mungkin anak yatim metis di panti asuhan milik Prancis. Di
dalam panti asuhan, anak yatim metis dibiasakan untuk menggunakan bahasa
Prancis dan budaya budaya orang Prancis.
Berdasarkan
sudut pandang dari usaha pemerintah Prancis dalam usaha memberikan perhatian
penuh terhadap anak yatim metis, pemerintah Prancis merupakan sosok penyelamat
dan bertanggung jawab. Pemerintah Prancis yang telah memisahkan anak anak metis
dari ibu pribumi mereka tidak ditelantarkan begitu saja, justru dirawat dan
dibantu untuk dapat menjadi sosok yang loyal dan memiliki kehidupan yang cukup.
Mereka anak yatim metis diberi makan, pakaian, pendidikan hingga penempatan
kerja merupakan sebuah usaha yang baik jika dipandang dari sudut pandang
pemerintah Prancis sendiri.
Namun dari sudut pandang ibu pribumi yang dipisahkan dari anak anak mereka mendapatkan pandangan yang cukup kontra. Beberapa ibu pribumi bersedia menyerahkan anak yatim metis mereka kepada pemerintah Prancis sebab mereka menyadari bahwa kehidupan ibu yang hidup di lingkungan miskin sangat sulit untuk dapat memberikan kehidupan yang cukup bagi anak anak mereka. Maka dengan jaminan akan diberi kehidupan yang layak bagi Prancis terhadap anak yatim metis, ibu pribumi tersebut bersedia menyerahkan anak mereka. Tetapi sebagian dari ibu ibu pribumi tidak mau dipisahkan dengan anak metis mereka, sehingga pemerintah demi mencapai tujuan untuk menjadikan anak yatim metis sosok yang loyal dan terhindar dari pengaruh buruk lingkungan tempat tinggal anak metis ini, maka pemerintah melakukan pemaksaan dan merebut anak yatim metis ini untuk dibawa ke tempat penampungan milik Prancis. Bahkan pemerintaah Prancis juga melakukan perubahan nama dengan nama Prancis dan berusaha menghilangkan jejak anak yatim metis dari keluarga nya.
Penulis : Aprillia Dewi Nur A 210210302051
Referensi :
Firpo,
Christina Elizabeth. 2016. The Uprooted: Race, Children and Imperialism
inFrench Indochina, 1890-1980. United Stated: University of Hawai’i Press.
Goscha,
Cristopher. 2016. Vietnam: A New History. New York: Basic Books.
Ricklefs, et al. 2013. Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer. Jakarta: Komunitas Bambu.
Social Footer