Latar Belakang dan Sejarah Singapura
HMPKELAMAS.COM - Pendudukan Jepang di Singapura ditandai dengan kekurangan makanan,
kurangnya bahan pokok, kekurangan gizi, pasar gelap yang menjamur, serta
kehancuran sosial. Jatuhnya Singapura ke tangan Jepang berlangsung pada 15
Februari 1942 dimana pada saat itu merupaka suatu momen yang cukup signifikan dalam
sejarahnya bahkan dampaknya masih berkumandang hingga saat ini. Invasi
besar-besaran yang ditorehkan Jepang atas Singapura diabadikan dalam sebuah
tugu peringatan.
Sejak tahun 1922 Singapura juga dikenal dengan sebutan Tamasek. Sejarah
tentang Tamasek tersebut telah digambarkan oleh seorang bernama Tun Sri Lanang
dari Kerajaan Sriwijaya yang pada saat itu dikenal dengan kerajaan maritim
terbesar. Sejak dulu diketahui bahwa lokasi Singapura ini sangat strategis
bahkan diprcaya sebagai pos perdagangan dari Sriwijaya serta sebagai penghubung
antara daratan utama Asia dan jalur laut yang menuju India.
Pertengahan abad-14 Singapura menjadi daerah perebutan oleh dua kerajaan
yakni Sriwijaya dan Ayutthaya. Bersamaan dengan itu diketahui pula pada abad
ini Singapura banyak sekali mengalami aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan
politik dimana kedua kerajaan tersebut melakukan ekspansi ke wilayah Malaya. Bahkan pada tahun 1388, Prameswara yang merupakan pewaris dari
Sriwijaya melarikan diri ke Singapura akibat tekanan dari kekuasaan Majapahit
ke Sriwijaya.
Prameswara yang melarikan diri tersebut pada akhirnya membentuk sebuah
kerajaan bernama Malaka pada tahun 1400. Wilayah itu dengan cepat berkembang dengan
pelabuhan-pelabuhannya yang hingga saat itu populer dengan Selat Malaka. Kondisi yang sangat strategis sangat mempengaruhi wilayah Malaka
cepat berkembang. Hal ini akhirnya mengundang Portugis
untuk melakukan hegemoni atas Selat Malaka. Malaya dan sekitarnya harus tunduk pada Portugis pada tahun 1511.
Alaudin Syah yang merupakan seorang pewaris tahta Kesultanan Malaka di
era selanjutnya segera mendirikan Kesultanan Johor. Alaudin Syah yang sudah menproklamasikan Kesultanan Johor juga
melakukan klaim atas Singapura yang membuat akhirnya Singapura berpindah dari satu pangkuan ke pangkuan lain.
Puncaknya
terjadi pada tahun 1613, dimana Portugis membumi hanguskan pemukiman orang-orang
Johor di Singapura. Singapura
yang berada di bawah Sriwijaya, Malaka, dan Johor selalu dijadikan aktivitas
ekonomi maupun interaksi sosial oleh orang-orang laut. Keberadaan orang laut di sekitar wilayah Singapura terus berlanjut
ketika Temenggong Abdurrahman bersama dengan pengawal, pelayan, pembantu rumah
tangga, dan pengikut setia yaitu orang laut dengan ratusan perahunya pindah ke
pulau Singapura pada tahun 1818 (Bastin, 2011: 13 dalam Soeharso, 2021:7).
Diketahui pula bahwa Kesultanan Johor masa itu tengah mengalami konflik
internal akibat dari polemik pengangkatan sultan yang baru. Berbarengan dengan
masalah tersebut, aktivitas dari pelayaran orang-orang Eropa juga aktif di
kawasan Asia Tenggara. Thomas Stamford Raffles yang pernah menjabat sebagai Letnan
Gubernur Jenderal Jawa semasa Inggris berkuasa di pulau tersebut dipindah
tugaskan ke Bengkulu untuk memimpin wilayah tersebut. Kemudian Raflles ditugaskan Inggris untuk melakukan survey di perairan
Semenanjung Malay dan pada akhirnya menginjakkan kaki di Singapura pada 1819.
Raflles berusaha meyakinkan orang-orang Inggris agar mau menyewakan
Singapura padanya. Perjanjian awal berhasil di tanda tangani oleh Inggris dan
Tenenggung Abdurrahman pada 30 Januari 1819. Hingga akhirnya bendera Union Jack dikibarkan di pulau tersebut
dan Raffles mengubah nama pulau tersebut dari Temasek menjadi Singapore atau
Singapura (Bastin, 2011: 10 dalam Soeharso,
2021: 7).
Dampak Kolonialisasi dan Imperialisasi Jepang atas Singapura
Pendudukan Jepang di Singapura dimulai pada 15 Februari 1942 ketika
sedang maraknya peristiwa Perang Pasifik. Selama perang berlangsung, Singapura
tidak hanya kekurangan makanan enak tetapi juga kekurangan makanan yang cukup.
Diketahui tahun 1945, sebagian penduduk Singapura mengalami kekurangan gizi
yang sangat serius. Hal ini diperparah dengan geografi Malaya yang tidak
mendukung untuk menanam padi, dan keengganan untuk menawarkan insentif
ekonomi kepada petani memperburuk kelangkaan pangan.
Mulanya Jepang menginginkan Singapura terutama karena karena
posisinya yang strategis dan sebagai pusat penyimpanan dan pengapalan minyak,
yang terakhir menjadi dasar upaya perang Jepang. Pada pertengahan 1943, Jepang,
yang sangat terdesak untuk pasokan militer, barang-barang di rumah dan juga
kapasitas pengiriman, berharap melawan segala rintangan untuk menjadikan
Singapura sebagai pusat industri.
Di pulau
kecil seperti Singapura dengan populasi sekitar satu juta orang, mudah bagi
dinas keamanan Jepang untuk mengawasi dan melacak siapa pun yang tampak
mencurigakan. Kendali Jepang atas makanan menjadi alat kendali sosial yang kuat.
Pasokan makanan, baik sebagai jatah prioritas maupun sebagai imbalan atas
pekerjaan, membantu mengikat sebagian besar penduduk untuk setidaknya menerima
secara diam-diam pemerintahan Jepang.
Sepanjang
perang, Jepang hampir tidak mengirimkan barang konsumen ke Asia Tenggara. Ekspor Jepang ke Singapura dan seluruh Malaya tiba-tiba berhenti
pada tahun 1942, pada tahun itu menjadi sepertiga dari satu yen (seperenam
dolar Selat dengan nilai tukar sebelum perang) per orang. Sepanjang perang,
Jepang hampir tidak memasok tekstil, pakaian, atau kertas ke konsumen
Singapura. Pertengahan 1943 keinginan Jepang untuk menjadikan Singapura sebagai
pusat industri, dianalisis di bawah, dan kebutuhan pertahanan Jepang terhadap
kemungkinan invasi Sekutu.
Pengeluaran
pemerintah pusat Jepang, sebagian besar mencerminkan pengeluaran militer, masih
merupakan seperlima dari PDB pada tahun 1940, tetapi pada tahun 1944 mencapai
45 persen dari pendapatan nasional. Ketika
Jepang beralih ke ekonomi perang, pengeluaran konsumen turun dari dua pertiga
PDB pada tahun 1940 menjadi di bawah dua per lima pada tahun 1944.
Orang Jepang tidak salah dalam melihat Semenanjung Malaya sebagai
daerah untuk dieksploitasi sebagai bahan mentah, Malaya dimanfaatkan oleh Jepang sebagai pemasok sumber daya pada masa
perang. Karena pada masa itu sangat krisis sekali sumber daya alamnya maka, orang
Singapura dan Jepang sama-sama berusaha
membuat barang pengganti barang impor sebelumnya. Misalnya seperti serat tanaman nanas digunakan untuk membuat
jaring ikan, minyak karet digunakan dibuat secara lokal sebagai pengganti pet
rol dan dibawa ke Thailand di mana ia dapat ditukar dengan beras, serta taksi di Singapura menggunakan arang begitu pula beberapa mobil.
Beberapa alternatif tadi tidak sepenuhnya bisa mengatasi kelangkaan
sumber daya alam yang ada di Singapura. Karena faktanya Singapura masih
mengalami beberapa masalah sebagai akibat dari adanya kolonialisasi dan
imperialisasi Jepang.
1)
Kelangkaan pangan
Setelah
kebijakan autarki Jepang memutus sebagian besar Malaya dari perdagangan dengan
produsen beras besar Asia Tenggara seperti Thailand, Burma, dan Indochina, hal ini menyebabkan konsumsi makanan dan kalori di Singapura
anjlok. Pada tahun 1943 Jepang menyerahkan negara penghasil beras utama
Malaya ke Thailand. Dari peristiwa ini akhirnya terjadi migrasi
besar-besaran dari tahun 1942 para pengungsi berbondong-bondong ke semenanjung
untuk menghindari invasi Jepang. Pasokan makanan yang diorganisir Jepang sangat tidak mencukupi
untuk mempertahankan warga Singapura bahkan pada tingkat malnutrisi yang paling
diderita pada tahun 1944.
2)
Pasar gelap
Di Singapura dan juga Malaya, makanan di pasar gelap
menjadi sangat penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan penduduk.
Orang-orang kelas menengah Singapura mengandalkan sebagian pada pasar
gelap untuk menjual
perhiasan, emas, furnitur, dan barang berwujud lainnya untuk menjaga nutrisi.
Pasar gelap juga menjalankan dua fungsi
penting yang jauh lebih luas daripada kelangsungan hidup kelas menengah.
Keduanya membantu menempatkan makanan dalam jangkauan konsumen perkotaan. Salah
satunya adalah, dengan tidak adanya pasar yang berfungsi dengan baik, menarik
makanan ke Singapura dengan memberikan kompensasi yang cukup untuk upaya
memproduksi pasokan, dan kemudian risiko dan bahaya mengangkutnya secara
sembunyi-sembunyi dari daerah sekitarnya. Kedua,
meskipun pasar gelap tidak diragukan lagi mengalokasikan kembali makanan untuk
orang yang lebih kaya, mereka juga menyediakan lapangan kerja yang substansial
dalam ekonomi informal yang sedang berkembang.
3)
Keuangan
Untuk
mencoba memobilisasi keuangan, administrator Jepang mengenalkan kampanye tabungan termasuk tabungan kantor pos wajib. Selain itu,
banyak pajak baru diperkenalkan dalam upaya mempertahankan pengaturan pajak
sebelum perang dan mengeksploitasinya sebanyak mungkin. Tidak
diragukan lagi, sebagian bertujuan untuk membatasi inflasi dengan mengeluarkan
mata uang dari peredaran. Selama
perang, pemerintah Jepang melembagakan lotere dan mendorong perjudian sebagai
cara untuk mengenakan pajak. Hal ini tentunya
menyebakan perekonomian makin tidak stabil ditambah lagi uang segera
tidak lagi diinginkan sebagai penyimpan nilai karena inflasi yang tinggi.
4)
Penggunaan Singapura oleh Jepang bagi Jepang
Jepang
mencoba memanfaatkan keunggulan lokasi Singapura yang tak tertandingi dan
infrastruktur komunikasi terkaitnya. Kedekatan Singapura dengan ladang minyak Indonesia dan fasilitas
pelabuhan untuk menyimpan dan mengirimkan minyak yang diproduksi di sana.
Bagian ini kemudian melacak upaya Jepang untuk menyesuaikan industri Singapura
dengan kebutuhan militer dan berpendapat bahwa upaya yang dilakukan pada
pertengahan 1943 untuk menjadikan kota itu sebagai pusat industri.
5)
Nilai strategis
Singapura,
bersama dengan Saigon, menjadi pusat penting dalam operasi militer Jepang. Singapura
adalah pelabuhan alami yang dilengkapi dengan fasilitas perbaikan pelabuhan dan
kapal. Jepang harus
menggunakan cadangan minim dan akan habis
setelah paling lama dua tahun dan mungkin jauh sebelumnya. Karena Asia
Timur sangat kekurangan minyak, pertimbangan strategis yang sama akan
diterapkan pada kerajaan pascaperang yang diharapkan Jepang untuk dibangun
sebagai Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
6)
Upaya produksi
Setelah
menduduki Malaya, Jepang pindah untuk mengadaptasi industri di sana dan
menggunakan fasilitas dan mesin industri sebelum perang untuk kebutuhan
militer. Upaya ini difokuskan di Singapura. Salah satu alasannya adalah karena
fasilitas industri dan industri manufaktur Singapura melengkapi kepentingan
militernya yang besar sebagai layanan, perbaikan, dan pusat penyimpanan. Kedua,
sebagian besar industri Melayu sudah ada di Singapura.
7)
Kekurangan ekonomi dan kontrol sosial
Kekurangan pangan yang akut di rasakan oleh Singapura
menyebabkan Jepang memiliki kontrol penuh untuk mengendalikannya. Pada saat itu
cukup penting untuk bertahan hidup bagi sebagian besar orang Singapura hal ini
tentunya membuat penduduk Singapura harus bergantung pada administrator Jepang
untuk mendapatkan makanan. Dampaknya adalah mendorong ketergantungan dan
meredam kemungkinan terjadinya pemeberontakan.
8)
Penjatahan
Di Singapura, Tonari-gumi atau sistem lingkungan
dilaksanakan pada bulan September 1943. Sebutan lain dari sistem ini adalah Peace
Preservation Corps yang berfungsi sebagai dasar distribusi ransum dan alat
pelacakan populasi. Pelanggaran dan perlikau menyimpang lainnya jika ditemukan
kemungkinan akan diberikan hukuman berat.
9)
Bekerja untuk orang Jepang
Pertengahan tahun 1943, Jepang membutuhkan banyak
pekerja untuk memperkuat pertahanan dan kemungkinan invasi dari Sekutu. Akirnya
mereka memikirkan cara agar mendapatkan sumberdaya manusia untuk membantunya
selama berperang. Mereka mendapati bahwa membayar dengan beras adalah 'metode
paling pasti untuk mendapatkan tenaga kerja'. Hal ini tentunya menarik perhatian Singapura karena pada saat itu di
Singapura tengah terjadi krisi sumber daya makanan. Orang Jepang menggunakan siasat: 'Jika Anda tidak bekerja untuk kami, Anda
tidak mendapatkan nasi'.
10)
Gizi dan kesehatan
Data
kesehatan dan gizi Singapura dan Kuala Lumpur membantu mengungkapkan tentang seberapa dekat Singapura dengan kelaparan dan pentingnya
persediaan makanan yang dikontrol Jepang dan pasar gelap untuk menghindarinya.
Dari kedua negara tersebut diketahui bahwa malnutrisi
tersebar luas dan serius. Pada persentase tahun 1945 diketahui Singapura
menderita kekurangan gizi yang sangat serius. Sebagian
besar anak menunjukkan pertumbuhan yang terhambat dan otot yang sangat buruk.
Tidak hanya kekurangan gizi, Singapura juga mengalami kekurangan layanan kesehatan. Tingkat kematian melonjak karena menurunnya layanan kesehatan, kekurangan kina yang serius, berkurangnya ketersediaan air bersih, diakhirinya impor susu kental manis dan pola makan yang tidak memadai. Antara tahun 1941 dan 1944, angka kematian kasar Singapura lebih dari dua kali lipat. Tingkat kelahiran turun lebih lambat daripada peningkatan kematian.
Setelah perang, kehancuran kolonialisme yang semakin dekat menyebabkan wacana politik dan keresahan buruh yang semakin meningkat, hali ini diperburuk oleh inflasi masa perang yang tinggi. Sejumlah besar sekolah Singapura ditutup. Kejatuhan Singapura digambarkan sebagai awal dari 'senja pendidikan' selama 3,5 tahun di seluruh Malaya.
Penulis : Siti Lilin Hardiyanti Rukmana 210210302005
Referensi :
Anonim. Investigating History: Singapore Under The Japanese Occupation
1942—1945.
Fernandi, M., Shuharso. R. (2021). Migrasi Tiga Gelombang: Jejak Wong
Cilik Klaten Di Singapura Tahun 1920-1980. Universitas Negeri Semanrang. Journal
of Indonesian History. Vol 10, No. 1. ISSN 2252-6633. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih
Greeg, H. Huff, G. (2020). The Second World War Japanese Occupation of
Singapore. Journal of Southeast Asian Studies. https://doi.org/10.1017/S002246342000017X
Tantra, I.H. (2018). Singapore, A Growing Economic Titan from South East
Asia. Universitas Padjajaran. ISSN 0216-5031.
Social Footer