HMPKELAMAS.COM - Tahun 1998 merupakan tahun yang sulit bagi Indonesia. Selama tahun 1998, perekonomian Indonesia menjadi lumpuh, dengan ditutupnya berbagai usaha yang menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami krisis mata uang atau moneter, yang pada akhirnya berkembang menjadi krisis multifaset yang mencakup semua sektor.

Nilai utang ke negara lain dalam rupiah juga dipengaruhi oleh depresiasi rupiah, begitu pula dengan biaya impor barang. Nilai pokok dan bunga rupiah meningkat signifikan akibat depresiasi mata uang pada tahun itu yang melebihi 300 persen.  Meningkatnya utang dan bunga tersebut, menyebabkan banyak perusahaan merasa kesulitan untuk membayarkannya karena nilai utang yang tergolong cukup besar. Karena kondisi ini, laba dan investasi ikut menurun. Semua kejadian tersebut mengakibatkan penurunan performa perusahaan, hingga pada akhirnya perusahaan mengambil tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perekonomian Indonesia mengalami kontraksi pada tahun tersebut akibat krisis multidimensi pada tahun 1998. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar -13,68 persen pada tahun 1998. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun sebelumnya selalu positif. tahun, dengan 4,91 persen pada tahun 1997, 7,82 persen pada tahun 1996, 8,22 persen pada tahun 1995, dan 7,54 persen pada tahun 1994. Kecuali sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan yang mampu tumbuh masing-masing sebesar 0,81 persen dan 1,86 persen , sebagian besar sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 1998.

Walaupun Indonesia mengalami krisis yang terutama disebabkan oleh manusia pada tahun tersebut, negara tersebut juga mengalami bencana nasional, seperti gagal panen padi yang banyak akibat musim kemarau berkepanjangan yang dianggap sebagai musim kemarau terparah dalam 50 tahun munculnya hama dan penyakit. kebakaran hutan besar-besaran di Kalimantan, yang disusul kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998. Penurunan nilai tukar rupiah yang signifikan dan jatuh tempo utang luar negeri swasta yang substansial berkontribusi terhadap krisis di Indonesia. Bank dunia juga memberikan tanggapan pada tahun itu, menyatakan bahwa krisis Indonesia disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, akumulasi utang luar negeri swasta yang pesat antara tahun 1992 dan Juli 1997, yang mengakibatkan l.k. Sektor swasta menyumbang 95% dari keseluruhan peningkatan utang luar negeri, dan jatuh tempo rata-rata hanya 18 bulan. Secara paralel, diketahui bahwa utang luar negeri pemerintah mengalami penurunan selama empat tahun terakhir. Kedua, ketidakstabilan sistem perbankan Indonesia. Ketiga, ketidakmampuan pemerintah menghadapi persoalan krisis Indonesia dengan tegas. Terakhir, masyarakat politik kurang percaya diri menjelang Pemilu, dan ada kekhawatiran terhadap kesehatan Presiden Soeharto saat itu.

Pemerintah Indonesia mencari bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi krisis negara. IMF kemudian menyusun strategi pemulihan, dengan fokus utama pada pemulihan kepercayaan nilai mata uang. Program perubahan keuangan yang disarankan oleh IMF mencakup empat bidang yaitu Pembangunan Kembali Area Moneter, Pengaturan Keuangan, Strategi Terkait Uang dan Perubahan Mendasari. IMF akan menyediakan kredit siaga sekitar $11,3 miliar untuk memulai program ini, yang akan berjalan selama tiga sampai lima tahun. Kemudian, pada saat itu, sejumlah US $ 3,04 miliar akan segera dicairkan, jumlah yang sama akan tersedia setelah Walk 15, 1998 jika program restorasi telah selesai sesuai kesepakatan, dan sisanya dari diberikan secara bertahap sesuai kemajuan pelaksanaan program. Indonesia memiliki kuota di IMF sebesar US$ 2,07 miliar dari total pinjaman yang dapat digunakan.


Penulis: Sulung Ndaru Rochman

Referensi

Karmelli, E., & Fatimah, S. (2008). Krisis Ekonomi Indonesia.

Oktaviani.J. (2018). Dampak Krisis Moneter 1998. Sereal Untuk, 51(1), 51.

Susilo, Y. S. (2008). Dampak Krisis Ekonomi terhadap Kinerja Sektoral. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Susilo, Y. S., & Budiono, S. H. (2002). Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Kinerja Sektor Industri: Pendekatan Model Keseimbangan Umum Terapan Indorani. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia, 17(3), 243–257.

Tarmidi, L. T. (2003). Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan, 1(4), 1–25. https://bmeb.researchcommons.org/bmeb/vol1/iss4/6/