FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DEPRESI BESAR
- Kehancuran pasar saham pada tahun 1929 menghancurkan kepercayaan pada ekonomi Amerika, mengakibatkan penurunan tajam dalam pengeluaran dan investasi.
- Kepanikan perbankan di awal tahun 1930-an menyebabkan banyak bank bangkrut, mengurangi jumlah uang yang tersedia untuk pinjaman.
- Standar emas mengharuskan bank sentral asing untuk menaikkan suku bunga untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan Amerika Serikat, menekan pengeluaran dan investasi di negara-negara tersebut.
- Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley (1930) mengenakan tarif tinggi pada banyak barang industri dan pertanian, mengundang tindakan pembalasan yang pada akhirnya mengurangi produksi dan menyebabkan perdagangan global berkontraksi.
DAMPAKNYA TERHADAP KOMODITAS GULA DI
JEPARA
Pada zaman kolonial Belanda menduduki Indonesia, selain rempah-rempah menjadi komoditas utamanya terdapat pula komoditas lain yaitu Gula. Di Indonesia sendiri, gula merupakan bahan pokok yang bersifat wajib untuk tersedia di dapur. Gula sendiri di Indonesia dihasilkan dari berbagai macam tanaman seperti tebu, kelapa hingga pohon aren. Namun, sebagian besar masyarakat mengonsumsi gula yang berasal dati tanaman tebu. Konsumsi dan permintaan ekspor yang tinggi di Indonesia pada zaman pendudukan Belanda menjadi titik awal dari munculnya perkebunan tebu di Indonesia. Bidang Ekspor hindia belanda pada bidang pertanian merosot selama terjadinya krisis malaise sedang terjadi, hal yang paling berdampak adalah pada hasil perkebunan. Kemudian terdapat pula penurunan daya jual beli pada negara-negara lain karena mereka juga terdampak masalah yang sama.
DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT JEPARA DAN SEKITARNYA
Krisi ekonomi di jepara tidak dapat dipungkiri kembali, selain kerugian ekonomi yang terjadi terdapat perubahan sosial masyarakat sekitar semakin maraknya kerusuhan di tahun 1930.
- Terjadi sebuah kerusuhan di perkebunan, kerusuhan yang terjadi adalah pembakaran area perkebunan yang dilakukan oleh para buruh itu sendiri. Hal ini dilakukan karena para buruh merasa bahwa upah dan sewa tanah yang di tawarkan sangat rendah. Hal ini diperparah dengan adanya krisis ekonomi yang dimana mereka perlu membayar pajak serta membeli bahan-bahan untuk tetap hidup. Akibatnya sering terjadi pencurian baik itu pencurian hewan ternak bahkan pencurian irigasi air.
- Terdapat masalah dalam sektor kesehatan yang dimana hal ini dilatar belakangi karena adanya penghematan dan alokasi dana sektor kesehatan. Tahun 1936 menyebar penyakit malaria dan kekurangan gizi pada permukimana di jepara dan rembang tepatnya di desa Loenda.
Pada tahun 1931 terdapat penurunan upah untuk buruh wanita, Namun pada buruh laki laki tidak terjadi penurunan upah. Saat terjadi krisis ini upah buruh pria mendapat 21 sen, Pada 1935 dan 1936 buruh pria juga mendapatkan jumlah upah yang sama. Namun untuk buruh wanita pada 1937 hanya mendapatkan upah sebesar 18 sen. Lalu pasca krisis malaise tepatnya pada tahun 1940, buruh pria menerima upah sebesar 26 sen sedangkan perempuan hanya 20 sen.
Penulis : Surya Ainur Rofiq 220210302056
Sumber Referensi :
Netherlands, Ministerie van Zaken Overzee. (1937) Indisch Verslag. Indiana University
Utomo. N., I. (2020). DEPRESI EKONOMI DAN KRISIS KEPERCAYAAN RAKYAT TERHADAP PEMERINTAHAN KOLONIAL 1930-1936. Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya. 14 (1). 62-75.
Social Footer