Pabrik Gula Rendeng di Kota kudus, PG yang terdampak Maliase 1930. 
Source : Info Seputar Kudus – ISK

       HMPKELAMAS.COM -  Perekonomian dunia dilanda gelombang krisis yang terjadi pada awal tahun 1930-an. Setelah Perang Dunia I dan Perang Dunia II berikutnya, masalah baru mulai muncul. Krisis yang mengguncang perekonomian dunia diawali dengan peristiwa yang melanda perekonomian Amerika, yang diawali dengan peristiwa yang biasa dikenal dengan Black Tuesday atau Selasa Hitam, yaitu jatuhnya pasar saham New York pada bulan Oktober 1929. (Soegijanto Padmo, Humaniora, no. 2 1991: 149). Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Depresi Hebat tahun 1930-an, yang berlangsung lebih lama dan lebih parah dari krisis sebelumnya. Masalah ini datang dari berbagai sektor seperti perkebunan, pertanian dan sektor industri modern sejak awal depresi tahun 1930-an. Selain itu, efek Great Depression atau krisis malaise juga merambah kehidupan sosial dan politik.

Surat Kabar dengan Headline Black Tuesday, Awal dari Maliase 1930
Source : Amazon.com

Pada tahun 1900 pasca penghapusan tanam paksa, Penanaman tebu diserahkan ke tangan para pengusaha perkebunan swasta Belanda. Penanaman tebu oleh perusahaan-perusahaan gula terus berkembang. Jumlah perkebunan yang dimanfaatkan sebagai perkebunan tebu di wilayah Jepara diantaranya, yaitu Trangkil, Langsee, Tanjungmodjo, Klaling, Rendeng, Besito, dan masih ada lainnya. Tahun 1903 dan 1905 perkebunan Klaling tidak lagi melakukan penanaman tebu dan Bendokerep hak sewanya diambil alih oleh Tanjungmodjo. Tahun 1920 merupakan masa kejayaan dari penanaman tebu di Jepara.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DEPRESI BESAR

  1. Kehancuran pasar saham pada tahun 1929 menghancurkan kepercayaan pada ekonomi Amerika, mengakibatkan penurunan tajam dalam pengeluaran dan investasi.
  2. Kepanikan perbankan di awal tahun 1930-an menyebabkan banyak bank bangkrut, mengurangi jumlah uang yang tersedia untuk pinjaman.
  3. Standar emas mengharuskan bank sentral asing untuk menaikkan suku bunga untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan Amerika Serikat, menekan pengeluaran dan investasi di negara-negara tersebut.
  4. Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley (1930) mengenakan tarif tinggi pada banyak barang industri dan pertanian, mengundang tindakan pembalasan yang pada akhirnya mengurangi produksi dan menyebabkan perdagangan global berkontraksi.

DAMPAKNYA TERHADAP KOMODITAS GULA DI JEPARA

        Pada zaman kolonial Belanda menduduki Indonesia, selain rempah-rempah menjadi komoditas utamanya terdapat pula komoditas lain yaitu Gula. Di Indonesia sendiri, gula merupakan bahan pokok yang bersifat wajib untuk tersedia di dapur. Gula sendiri di Indonesia dihasilkan dari berbagai macam tanaman seperti tebu, kelapa hingga pohon aren. Namun, sebagian besar masyarakat mengonsumsi gula yang berasal dati tanaman tebu. Konsumsi dan permintaan ekspor yang tinggi di Indonesia pada zaman pendudukan Belanda menjadi titik awal dari munculnya perkebunan tebu di Indonesia. Bidang Ekspor hindia belanda pada bidang pertanian merosot selama terjadinya krisis malaise sedang terjadi, hal yang paling berdampak adalah pada hasil perkebunan. Kemudian terdapat pula penurunan daya jual beli pada negara-negara lain karena mereka juga terdampak masalah yang sama.

Tabel Luas Lahan Tebu Pabrik Gula yang ada di Jepara saat terjadinya Great Deprresion.
Source : Indisch Verslag

Dari tabel yang telah dilampirkan dapat dilihat bahwa luas lahan pertanian tebu merosot saat terjadinya depresi besar penurunan dimulai pada tahun 1932 dengan titik awal pada 1931 total luas lahan sebanyak 9.346 Ha dan titik terendah total lahan tebu berada pada tahun 1934 dengan luas 1.707 Ha. Jepara kehilangan 7.657 Ha luas lahan tebu dari sini dapat pula dipastikan jumlah produksi gula juga pastinya turun dengan signifikan.

DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT JEPARA DAN SEKITARNYA

Krisi ekonomi di jepara tidak dapat dipungkiri kembali, selain kerugian ekonomi yang terjadi terdapat perubahan sosial masyarakat sekitar semakin maraknya kerusuhan di tahun 1930.

  1. Terjadi sebuah kerusuhan di perkebunan, kerusuhan yang terjadi adalah pembakaran area perkebunan yang dilakukan oleh para buruh itu sendiri. Hal ini dilakukan karena para buruh merasa bahwa upah dan sewa tanah yang di tawarkan sangat rendah. Hal ini diperparah dengan adanya krisis ekonomi yang dimana mereka perlu membayar pajak serta membeli bahan-bahan untuk tetap hidup. Akibatnya sering terjadi pencurian baik itu pencurian hewan ternak bahkan pencurian irigasi air.
  2. Terdapat masalah dalam sektor kesehatan yang dimana hal ini dilatar belakangi karena adanya penghematan dan alokasi dana sektor kesehatan. Tahun 1936 menyebar penyakit malaria dan kekurangan gizi pada permukimana di jepara dan rembang tepatnya di desa Loenda.

Pada tahun 1931 terdapat penurunan upah untuk buruh wanita, Namun pada buruh laki laki tidak terjadi penurunan upah. Saat terjadi krisis ini upah buruh pria mendapat 21 sen, Pada 1935 dan 1936 buruh pria juga mendapatkan jumlah upah yang sama. Namun untuk buruh wanita pada 1937 hanya mendapatkan upah sebesar 18 sen. Lalu pasca krisis malaise tepatnya pada tahun 1940, buruh pria menerima upah sebesar 26 sen sedangkan perempuan hanya 20 sen.

Penulis                        : Surya Ainur Rofiq 220210302056

Sumber Referensi      :

Netherlands, Ministerie van Zaken Overzee. (1937) Indisch Verslag. Indiana University

Utomo. N., I. (2020). DEPRESI EKONOMI DAN KRISIS KEPERCAYAAN RAKYAT TERHADAP PEMERINTAHAN KOLONIAL 1930-1936. Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya. 14 (1). 62-75.