HMPKELAMAS.COM - Reog Ponorogo merupakan kesenian legendaris asli Indonesia yang berasal dari kota Ponorogo, Jawa Timur. Kesenian ini ada sejak era kerajaan Majapahit, yang mana pada saat itu memang Reog Ponorogo digunakan sebagai alat untuk mengkritik Prabu Brawijaya V oleh Ki Ageng Kutu. Kepala Barongan yang diatasnya terdapat Burung Merak merupakan visualisasi dari Prabu Brawijaya V yang takluk oleh pesona Putri Champa sehingga kekuasaan dari Brawijaya V melemah. Terdapat pula sejarah lain yang menceritakan Reog Ponorogo dengan versi kisah cinta antara Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin dengan Putri Songgolangit dari Kerajaan Kediri. Dikisahkan bahwa Prabu Klono Sewandono ingin menikahi Putri Songgolangit, namun ada syarat yang harus dipenuhi yakni adalah menampilkan sebuah pertunjukan yang sebelumnya belum pernah ada. Prabu Klono Sewandono bersama pasukannya yakni Jathil, Warok, dan Bujang Ganong akhirnya pergi untuk mencari pertunjukan yang diinginkan oleh Putri Songgolangit, di perjalanan rombongan dari Prabu Klono Sewandhono dihadang oleh Prabu Singo Barong yang berasal dari Kerajaan Lodaya. Prabu Singo Barong ingin menggagalkan usaha dari Prabu Klono Sewandono agar dirinya bisa meminang Putri Songgolangit, pada akhirnya terjadilah peperangan yang dimenangkan oleh Prabu Klono Sewandono dan Prabu Singo Barong dibawa menuju Kerajaan Kediri untuk dipersembahkan kepada Putri Songgolangit sebagai sebuah pertunjukan hewan berkepala dua yang tidak pernah ada sebelumnya.

        Seiring berkembangnya jaman kesenian Reog Ponorogo populer di berbagai daerah bahkan hingga ke negara tetangga yakni Malaysia. Disana Reog Ponorogo didatangkan oleh para masyarakat Jawa khususnya Ponorogo pada kisaran abad ke 18 sampai 20 awal. Masyarakat Ponorogo sendiri mayoritas menempati wilayah Batu Pajat,Johor. Masyarakat Ponorogo di perantauan tetap menjaga tradisi daerah asalnya dengan membuat suatu pesta kebudayaan Reog yang diadakan setahun sekali, karena masyarakat Ponorogo menganggap tidak akan lengkap rasanya jika di perantauan tidak ada budayanya sendiri seperti Reog Ponorogo. Dalam perkembangannya Reog Ponorogo di Malaysia ini mendapat respon yang baik dari banyak masyarakat bahkan masyarakat asli Malaysia sendiri, hingga pada akhirnya terdapat bebeapa grub Reog yang terbentuk pada kisaran tahun 1900an. Reog di Malaysia dalam perkembangannya juga tercampur oleh budaya asli Malaysia yang mengedepankan adat ketimuran. Banyak ornamen-oramen dari Reog Ponorogo asli yang dirubah seperti sesajen yang dirubah menjadi shalawat kepada nabi karena sesajen dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan Islam. Selain itu Islamisasi terjadi pada tarian-tarian di Reog itu sendiri seperti penari Jathil yang wajib menggunakan kerudung dan penari warok yang wajib menggunakan kaos, beberapa perubahan itu juga bertujuan untuk menjaga aurat dari sang penari, selain itu berat dari kepala barongan sendiri dikurangi hingga 10-20 Kg dari berat normalnya yang sekitar 60-65 Kg dan perubahan yang cukup kontroversional adalah perubahan sejarah Reog Ponorogo yang oleh pemerintahan Malaysia khususnya Johor sebagai kisah dari Nabi Sulaiman yang dapat berbicara dengan hewan. Hal tersebut tentu menimbulkan protes dari kalangan seniman Reog Ponorogo, protes tidak hanya datang dari Indonesia, namun juga datang dari kalangan seniman Reog Ponorogo yang ada di Johor itu sendiri.

        Pada Februari 2004 Pemerintah Daerah Ponorogo mendaftarkan Reog Ponorogo dan mendapatkan Hak cipta No.026377 yang membuat posisi Reog Ponorogo sebenarnya cukup aman, namun pada kisaran tahun 2007 terdapat kontroversi kembali yang dilakukan oleh pihak Malaysia yang menampilkan kesenian Reog Ponorogo pada iklan kunjungan Malaysia untuk turis asing. Pada website resmi dari Kementerian Kebudayaan Malaysia juga terdapat foto dari Reog Ponorogo yang bertuliskan Malaysia dan membuat banyak masyarakat Indonesia khususnya Ponorogo geram akan hal tersebut. Permasalahan saling klaim antar kedua negara atas kesenian Reog Ponorogo ini hingga saat ini sebenarnya belum benar-benar terselesaikan dengan baik. Reog Ponorogo yang ada di Malaysia sudah berkembang hampir selama 100 tahun sehingga bisa diajukan kepada UNESCO sebagai budaya dari Malaysia, namun disisi lain Reog Ponorogo memang berasal dari Indonesia karena bukti sejarahnya sangat kuat. Dalam hal Ini Universitas Jember juga peduli akan kesenian Reog Ponorogo khususnya dikalangan Mahasiswa agar kesenian ini tidak punah dimakan oleh jaman, bahkan pihak Rektorat Universitas Jember sempat mempromosikan Reog Ponorogo di kancah internasional dan menjadikan Reog Ponorogo sebagai salah satu ikon dari Universitas Jember.

Penulis        : Mochammad Satria Fattah