Figure 1. lustrasi kedatangan bangsa barat di kawasan Asia Tenggara, sumber gambar didapat dari wawasansejarah.com

Arti Kolonialisme

HMPKELAMAS.COM - Nasionalisme pada sebuah bangsa dapat memiliki arti adanya sekelompok orang-orang yang memiliki paham bahwa konsep ssaling berbagai teakdir berdasarkan masa lalunya dapat berperan penring dalam kehidupan di masa depan dengan berlandaskan rasa kebersamaan yang mengikatnya. Nasionalisme sebagai suatu paham juga dapat berarti membentuk sebuah perjuangan atau pertahanan dalam memperjuangan kemerdekaan sebuah bangsa.  Arti Lain tujuan paham tersebut juga  dimaksudkan untuk membentuk sebuah identitas sekelomok orang berupa kedaulatan bangsanya. Nasionalisme pada suatu nation (negara) dapat terbentuk dari faktor penyebab yang berbeda-beda, hal ini membuat adanya bentuk nasionalisme tiap negara didunia memiliki wujud dan ciri masing-masing. Salah satu faktor terbentuknya nasionalisme dapat berupa adanya praktik kolonialisme di suatu wilayah hingga akhirnya berdampak pada terciptanya sebuah kedaulatan negara.

Bukti nyata dari adanya kedaulatan negara yang muncul dari praktik kolonialisme adalah praktik kolonialisme bangsa barat di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini praktik kolonialisme dapat dikatakan menjadi dampak positif karena menumbuhkan rasa nasionalisme pada sebuah kawasan hingga menjadikan di kawasan tersebut sebagau sebuah negara. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara sebagian besar terbentuk dari adanya praktik kolonialisme bangsa barat dan dalam proses pembentukan identitas kebangsaannya melalui proses yang panjang di pertengahan abad ke-20. Proses tersebut dapat terjadi dari adanya kolonialisme bangsa barat yang bisa dikatakan sebagai faktor intern yang memunculkan rasa nasionalisme. Pada hakikatnya dalam hal ini munculnya nasionalisme dapat disebabkan dari adanya faktor dari dalam dan faktor dari luar negara tersebut. faktor dari dalam diri bangsa atau faktor Intern dapat berupa kesadaran rakyat untuk melakakukan perlawanan dalam bentuk peperangan pemberontakan yang muncul dari adanya ketidakpuasan terhadap penjajah. Sedangkan untuk faktor dari luar atau faktor ekstern dapat berupa adanya kemampuan dirinya sendiri yang yakin atas rasa kepecayannya sehingga berakibat pada munculnya rasa nasionalisme yang dapat berasal juga dari sebuah paham renaissance (Susanto, H. (2016) hal. 144-145).

Dapat dikatakan bahwa proses nation building negara-negara dikawasan Asia Tenggara saat ini tidak tercipta dalam waktu yang singkat. Hal tersebut didasarkan pada sejaranya bahwa sebelumnya berawal dari adanya kerajaan-kerajaan besar yang berkuasa dikawasan Asia Tenggara kemudian mulai berganti dengan masa kedatangan bangsa barat atau bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis, Portugis dan Spanyol yang melakukan praktik imperialisme dan kolonialisme. Adanya imperialisme bangsa barrat di kawasan Asia Tenggara membentuk adanya batas-batas wilayah koloni atau kependudukan. Adanya praktik tersebut memunculkan nilai-nilai dan rasa nasionalisme dinegara-negara jajahan Kawasan Asia Tenggara. (Emil Radhiansyah. (2020). Hal.59-61)

Nasionalisme di Negara-negara di Asia Tenggara

Proses penyatuan atau rekonsiliasi etnik tiap daerah sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai suatu bangsa adalah sebuah proses yang membentuk identitas nation negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut khususnya juga terjadi di Indonesia yang mana juga  diawali dengan proses penyatuan atau rekonsiliasi etnik. Adapun negara-negara Asia Tenggara yang sadar akan rasa nasionalisme bangsanya setelah adanya kolonialisme dari bangsa barat adalah sebagai berikut :

1) Philipina

Proses nasionalisme Philipina dalam menentang penjajahan tergolong panjang atau lama diantara negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Adanya proses pendidikan modern tertua di luar Eropa menjadi penyebab dari adanya proses nasionalisme Philipina yang panjang. Gerakan nasional pertama yang ada di Philipina dipimpin oleh Jose Rizal dengan nama Liga Philipina yang berdiri tahun 1880. Adanya gerakan tersebut adalah bentuk perjuangan juangan Rizal melawan pemerintah Spanyol. Bentuk perjuangan berupa adanya novel-novel yang dia tulis yang berisi propaganda terhadap penolakan pemerintahan Spanyol. Dua novel tersebut yakni Noli me Tangere dan El Filibusterisme. Pada tahun 1890-an sifat-sifat radikal pada gerakan nasional Philipina mulai terlihat dan berlanjut menjadi sebuah pergolakan-pergolakan radikal. Terhitung ada sekitar 100 pergolakan melawan pemerintah kolonial selama penjajahan Spanyol (1571-1898). Pada tahun 1898 Filipina memproklamasikan kemerdekaan negaranya tepatnya tanggal 12 Juni 189, akan tetapi adanya ikut campur Amerika serikat membuat pemroklamasian tersebut gagal karena AS tidak mengakui kemerdekaan Philipina dengan tujuan agar dapat mengambil alih kekuasaan Philipina.

 

Pendirian sebuah partai sebagai wadah perjuangan juga menjadi salah satu jalur perjuangan diplomasi yang direncanakan oleh Philipina saat berada dibawah penjajahan Amerika Serikat. Pada akhirnya Sergio Osmena, Manuel Quezon dan Manuel Roxas membentuk sebuah partao bernama Partido Nacionalista (Partai Nasionalis) didirikan oleh Philipina sebagai bentuk perjuangan diplomasi. Usaha philipina melawan penjajahan Inggris sempat mengalami krisis perjuangan akan tetapi kemudian Philipina tetap mengusahakan perjuangannya melalui seni, hal tersebut melakukan upaya diplomasi langsung kepada pemerintah Amerika agar memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan usaha tersebut merupakan pertunjukan untuk mempengaruhi masyarakat sehinngga kemerdekaan bisa tercapai. Hingga pada akhirnya tanggal 4 Juli 1946 Amerika Serikat memberikan kemerdekaan Philipina setelah adanya peristiwa Perang Dunia II (Susanto, H. (2016).Hal.147-148).

 

Dapat disimpulkan munculnya rasa nasionalisme di Philipina memang bermula dari adanya kolonialisme bangsa barat dikawasan tersebut. Kedasadaran orang-orang Philipina akan nasib bangsanya mulai diwujudkan dalam bentuk terciptanya sebuah Liga Philipina tahun 1880 sebagai gerakan nasional pertama Philipina. Gerakan tersebut dipimpin oleh Jose Rizal sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah Spanyol di kawasan Philipina. Selain bangsa Spanyol yang sebelumnya memiliki kekuasaan di Philipina, adanya negara Amerika Serikat dimasa tersebut juga menghambat adanya kemerdekaan Philipina. Barulah pada tanggal 4 Juli 1946 Philipina dapat diakui kemerdekaannya oleh Amerika Serikat setelah perjuangan diplomasi yang dilakukan oleh Philipa.

 

2) Myanmar

Pembentukan Persatuan Pemuda Birma tahun 1906 adalah awal dimulainya Gerakan nasional Myanmar dan lebih dikennak dengan nama YMBA (Young Man Buddhis Association). Adanya tindakan Inggris yang memisahkan Myanmar dari konstitusi India (Inggris) setelah Perang Dunia I menunjukkan adanya perkembangan nasionalisme pada saat itu. Hal tersebut mulai terjadi saat gerakan nasional Burma menunjukkan tujuan politik yang jelas dengan adanya perubahan   YMBA menjadi GCBA (Dewan Umum Persatuan Burma) pada tahun 1921. Sistem Dyarchy diperkenalkan oleh Inggris seperti yang diterapkan di provinsi di India direpakan juga pada wilayah Myanmar pada Tahun 1923. Adanya ide dari kaum nasionalis untuk pemisahan Myanmar dari India membuat kaum nasionalis mencurigai bahwa Inggris akan mengambil alih Myanmar setelah India lepas dari Inggris dimana pada awalnya ide tersebut diajukan oleh Komisi Simon pada tahun 1830an. Pada proses menuju kemerdekaan Myanmar terdapat pula  sebuah organisasi Dobama Asiayone yang lahir pada tahun 1935. Gerakan yang memiliki arti Kami Masyarakat Burma ini diilhami oleh paham sosialis dan ajaran komunis, serta terpengaruh modernisasi Jepang. Organisasi Dobama Asiayone sering juga disebut dengan Partai Thakin dan dengan terbentuknya partai tersebut semakin membangkitkan semangat nasionalisme rakyat. Khususnya mengorganisir petani, buruh dan gerakan pemuda adalah taktik perjuangan partai Thakin. Dari adanya Partai Thakin inilah pada akhirnya yang membuat Myanmar meraih kemerdekaan pada tanggal 4 Januari 1948 (Susanto, H. (2016) Hal.148-149).

 

Dapat disimpulkan adanya kemerdekaan Myanmar berawal dari gerakan nasional pertama Myanmar yaitu YMBA (Young Man Buddhis Association) atau Persatuan Pemuda Burma tahun 1906. Setelah itu terbentuknya Organisasi Dobama Asiayone (Kami Masyarakat Burma) yang lahir pada tahun 1935 semakin membangkitnya semangat rakyat Myanmar dalam memperjuangakan kemerdekaan bangsanya. Pada akhirnya di tanggal 4 Januari 1948 Myanmar meraih kemerdekaannya.

 

3) Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam

Adanya perlindungan Inggris terhadap wilayah Malaya membuat nasionalisme di wilayah Malaya tergolong lambat perkembangannya. Namun pada akhirnya Kemerdekaan Malaya terjadi tanggal 31 Agustus 1957 Di bawah pimpinan Tengku Abdul Rahman. Bekas rumpun jajahan Inggris di wilayah Malaya yang lainnya adalah Singapura dan Brunei Darussalam yang tidak ikut merdeka setelah merdekanya Malaya tanggal 31 Agustus 1957 sebagai PTM (Persekutuan Tanah Melayu). Pada 16 September 1963 Malaya sendiri berganti nama menjadi Malaysia setealah berkembangannya PTM. Kemerdekaan Singapura sendiri terjadi pada tanggal 9 Agustus 1965 yang ditandai dengan adanya keputusan Singapura memisahkan diri dari Malaysia dan berada dibawah pimpinan Perdana Menteri Lee Kuan Yew, dan Singapura berdiri sendiri sebagai negara republik. Sedangkan Brunei darussalam memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 1 Januari 1984 setelah adanya berbagai perundingan dengan Inggris karena yang bermula dari raja Brunei yang ditolak oleh Malaysia untuk menjadi Raja Malaysia dan akhirnya tidak mau bergabung dengan Malaysia (Susanto, H. (2016) Hal.150-151).

 

4) Thailand

Kedatangan bangsa barat di Thailand juga menimbulkan adanya ancaman akan kemerdekaan negeri sehingga muncul sebuah Gerakan yang dilancarkan oleh raja dan para bangsawan. Hal tersebut merupakan gerakan nasionalisme Thailan dalam bentuk diplomasi dan modernisasi. Nasionalisme di Thailand sendiri memiliki tujuan untuk mempertahankan kemerdekaan dengan makksud bukan untuk mengusir penjajah dari negara mereka akan tetapi sebagi  jalan memajukan bangsanya. Bangsa barat selain Inggris yang menjadi salah satu lawan paling berbahaya bagi kemerdekaan Thailand selain Inggris adalah Peranccis, akan tetapi kedua bangsa barat tersebut sungguh-sungguh menghormati bahkan menjaga kedaulatan Thailand.Taktik Thailand yang lain dalam menghindari ancaman bangsa Barat adalah dengan cara memihak Sekutu dalam Perang Dunia I (Susanto, H. (2016) Hal.152).

 

5) Indonesia

Nasionalisme di Indonesia sendiri berdasarkan pengertian dari Sartono Kartodirdjo (1998) meurpakan adanya perkembangan demokrasi, parlementarianisme dan konstitusionalisme, kesemuanya memantapkan pembangunan civil society yang berlangsung pada pertumbuhan negara-nasion dalam abad ke-19. Adanya Proses perjuangan dan kesadaran dalam diri bangsa Indoneesia dapat dikatakan sebagai wujud dari nasionalisme Indonesia. Budi Utomo pada tahun 1908 adalah awal adanya Gerakan nasional di Indonesia dan menandai lahirnya nasionalisme Indonesia. Perubahan paham dalam tubuh serekat Islam yang mulanya moderat kemudian  menjadi radikal setelah kemasukkan Marxisme membuat SI menjadi oposisi pemerintah (1916) serta menjadi adanya gerakan menuju kemerdekaan dalam tujuan organisasinya. Tidak hanya itu terdapat pula Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Soekarno tahun 1927. Kemerdekaan Indonesia pada akhirnya dapat diraih setelah adanya masa perang dunia II yang membuat kekosongan kekuasaan di Indonesia saat dijajah oleh jepang dan akhirnya kemerdekaan indonesia dapat diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 (Susanto, H. (2016).Hal.153-154).


Penulis        : Maya. D. M    210210302066

Referensi    : 

Emil Radhiansyah. (2020). Asia Tenggara: Kawasan yang Tengah Berkembang. Konfrontasi: Jurnal Kultural, Ekonomi Dan Perubahan Sosial, 2(1), 32–45. https://doi.org/10.33258/konfrontasi2.v2i1.87

Susanto, H. (2016). Kolonialisme dan identitas kebangsaan negara-negara asia tenggara. Hal. 144–155. SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Kesepuluh, Nomor 2, Desember 2016. http://dx.doi.org/10.17977/sb.v10i2.7667