Sumber Foto: Dokumen Pribadi
HMPKELAMAS.COM - Kabupaten Jember merupakan wilayah yang mempunyai kemampuan besar dalam usaha perkebunan, salah satu nya Perkebunan Kopi yang sebagian besar nya adalah kumpulan dari kebun- kebun kecil yang dimiliki oleh Petani. Di Jember sendiri ada 7 kecamatan yang menghasilkan Kopi yang cukup tinggi diantaranya kecamatan Ledokombo, kecamatan Sumber jambe, kecamatan Tanggul, kecamatan Sumberbaru, kecamatan Panti, kecamatan Jelbuk dan kecamatan Silo. Rata-rata produksi kopi di kabupaten Jember sendiri berada di wilayah tersebut.
Salah satu daerah yang memiliki potensi tersebut ialah daerah Silo tepatnya di Desa Pace kecamatan Curah Wungkal, Silo merupakan daerah perbatasan Banyuwangi – Jember yang berada di dataran tinggi, masyrakat disana memanfaatkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian masyarakat sehari – hari disana yaitu dengan berkebun karena daerahnya yang memiliki dataran tinggi dan tanah yang subur rata – rata masyakrata disana memilih untuk berkebun. Salah satu desa Pace yang terkenal dengan kebun kopi nya.
Namun kebanyakan sebelum menjadi kebun kopi daerah di Pace di penuhi dengan pohon atau seperti hutan lalu masyarakat disana membabat hutan itu menjadi Kebun Kopi, tidak hanya Kopi yang dijadikan sumber ekonomi masyarakat Pace namun kebun kebun tersebut ditanami bibit – bibit lainnya seperti sengon, pisang, alpukat dll.
Tapi kebanyakan masyarakat pace memilih menanam Kopi untuk sumber mata pencaharian mereka. Salah satu biji kopi yang ditanam masyarakat Desa Pace adalah biji Kopi Robusta, biji Kopi ini terbilang cukup populer di Indonesia memiliki rasa yang pahit dan kuat selain itu Kopi Robusta juga tumbuh baik di ketinggian 400-700 mdpl apalagi di Desa Pace memiliki ketinggian lebih dari itu, jadi sangat cocok jika ditanami Kopi tersebut.
Rata-rata luas yang lahan disana kurang lebih sekitar 5.107 Ha diantaranya adalah kebun Kopi masyarakat dengan skala usaha sekitar 1-2 Ha. Dengan luas tersebut masyarakat Desa Pace dapat menanam dan mengembangkan perkebunan Kopi tersebut. Tinggi dan rendahnya penghasilan ekonomi disana kebanyakan dari panen Kopi setiap satu kali musim panen dan ketika sudah memasuki musim panen, biji Kopi tersebut dijual kepada pengepul untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Desa Pace dalam menanti panen berikutnya
Biji Kopi yang bisa dipanen adalah yang berwarna merah, setiap 1 Ton biji Kopi dijual dengan harga 10-35 juta, namun pada saat itu muncul masalah baru yaitu harga pupuk mahal tentunya masyarakat Desa Pace kebingungan dengan hal itu apalagi ketika masyarakat disana yang memiliki kebun luas tentunya akan sangat kebingungan, tapi masyarakat disana mencari berbagai cara agar kebun Kopi tersebut bisa berkembang dengan menggunakan sisia kototoran Hewan ternak, masyarakat disana selain berkebun juga memilik kerja sampingan dengan merawat hewan – hewan ternak.
Di Desa Pace sendiri penghasilan yang diperoleh kurang lebih sekitar 1,5 juta dengan jumlah keluarga yang banyak. Itu lah kenapa kebanyakan Desa Pace tidak hanya menanam Kopi namun mereka juga menanam bibit lain seperti hal nya karet, sengon, kelapa yang dimana hal tersebut menjadi faktor pendukung. Yang pertama adalah inovasi baru, seperti teknik dan metode baru dalam bidang budidaya kopi. Inovasi sudah siap, dimulai dari cara petani kopi menebar dan menanam benih, bibit, pupuk dan obat-obatan agar lebih produktif, lebih sederhana dan lebih efektif daripada metode sebelumnya. Kedua tentang infrastruktur dan alat yang digunakan masyarkat desa Pace dalam berkebun, serta kemampuan biji Kopi ketika dipanen akan menjadi bubuk Kopi yang berkualitan dan siap diminum. Terakhir adalah teknik yang dipakai keduanya proses penyemaian biji Kopi untuk dikelola dan di proses pemasaran sampai ke tangan pembeli.
Semua produksi Kopi bisa berhasil apabila produksi tersebut di samakan dengan perubahan yang merata pada semua sektor. Pembangunan perkebunan bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi dan meningkatkan kualitas produk, pendapatan naik, nilai ekspor naik, industri didukung, menciptakan dan memperluas kesempatan kerja serta mewujudkan pemnamgumam yamg adil di segala bidang.
Kepala rumah tangga yang tinggal di balik bukit silo dapat memasarkan Kopi di daerah tersebut ke pengepul yang ruang lingkup nya tersebar sampai di luar Kabupaten Jember. Selain itu, kopi yang di jual ke pedagang, kopi tersebut di salurkan ke Pengolah Kopi lau di proses di pabrik pengolahan Kopi.
Model pasar budidaya Kopi dari awal adalah petani Kopi menjual hasil tersebut kepada agen, setelah itu agen tersebut mengatarkan Kopi menuju pabrik untuk dikelolas, sehingga ketika di proses biji Kopi yang sudah di panen menjadi produk Kopi yang lebih baik. Setelah selesai, kemudian hasil olahan Kopi di pasarkan ke konsumen, berbagai toko, supermarket dan kafe. Jenis pemasaran ini dikarenakan volume produksinya yang sangat banyak dan karena juga pekerjaan di kebun Kopi merupakan pendapatan tunggal terbesar dari petan Kopi Desa Pace.
Oleh karena itu, hasil – hasil Kopi yang sudah di panen tersebut harus segera dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan harian. Pemasaran ini dilakukan untuk menghasilkan uang atau barang yang bisa di gunakan petani Kopi untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga. Berdasarkan pendapatan tersebut, dapat di artikan bahwas pemasaran adalah suatu kemungkinan melalui proses sosial dan juga administratif, seseorang dapat menawarkan dan menukar benda atau barang yang dimilikinya.
Bagi masyarakat Desa Pace pengembengan perkebunan Kopi masih belum merata dalam perannya dikarenakan tidak banyak yang mendapatkan atau merasakan dampak dari program tersebut. Di lapangan saja pengahsilan para Petani Kopi masih tergolong kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan makan, biaya sekolah dan kebutuhan lainnya. Karena kurang nya penghasilan dari kebun Kopi tersebut para Petani juga menanam tanaman lain seperti sengon, pepaya, mahoni, pisang, alpokat dll, untuk menambah pendapatan mereka. Produksi kopi Desa Pace juga sudah di distribusi mulai dari pengepul, toko sekitar Desa Pace hingga ke area Kota Jember
Penulis: Mochammad Fahmi Yahya (220210302080)
Referensi
Novi Haryati (2008). KONTRIBUSI KOMODITAS KOPI TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER. Universitas Jember.
(Andika Pratama Rahmadianto, PERAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KOPI TERHADAP KONDISI EKONOMI MASYARAKAT DESA PACE KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER, 2019)
Social Footer