HMPKELAMAS.COM - Pendahuluan

Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan bagian yang terdapat di Benua Asia. Dalam sejarahnya, negara-negara kawasan Asia Tenggara ini merupakan daerah koloni bangsa Eropa pada masa imperialisme dan kolonialisme. Masuknya bangsa Eropa ke kawasan Asia Tenggara tentu memberikan peranan tersendiri bagi setiap negara yang pernah menjadi daerah koloni. Pengaruh bangsa Eropa di negara Asia Tenggara salah satunya di bidang sosial-budaya.

Pola Permukiman

Rezim Kolonial sebetulnya tidak pernah berhasil mengubah permukiman-permukiman yang terpencar menjadi perumahan yang idealnya berada di tengah tanah pertanian, Kampung dan Desa. Masyarakat meninggalkan rumah mereka dan pergi ke pegunungan sebagai bentuk protes atas penarikan pajak dan pekerja wajib. Para petani juga menerima ajaran agama Kristen, tetapi menolak untuk pindah dari sawah atau kampung mereka sebagai pemenuhan misi para biarawan untuk mengkonsentrasikan umatnya. Akhirnya dengan usaha dan tidak pantang menyerahnya para biarawan menghasilkan pola permukiman yang disebut poblacion-barrio-sitio atau cabecera-visita-ranchercia yakni permukiman yang mengkombinasikan pola persebaran barangay tradisional dengan konsentrasi populasi yang ideal menurut Spanyol. Pusat dari pola permukiman semacam ini adalah gereja katolik yang dikenal bersama sebagai cabecera. Keberadaan cabecera sebagai pusat keagamaan berdampak pada pengelompokan populasi yakni terbentuknya pusat-pusat politik dan ekonomi yang disebut poblaciobe. Mereka yang menolak pindah kesana membentuk barrio-nya sendiri (komunitas sekunder) dan para biarawan cabecera menjumpai umatnya melalui visita (kapel).

Para biarawan rutin menggelar peribadatan dan menyerukan doktrin katolik di visita. Pada abad ke-19 lapisan urbanisme Hispanik terbentuk di kepulauan ini. Seluruh koloni para perencana tata kota spanyol menerapkan struktur menyerupai lapangan sepakbola degnan konsentrasi masyarakat ditempatkan di seputaran plaza sentral yang dikelilingi blok jalan persegi. Menurut fungsinya kompleks plaza ini terdiri atas tiga struktur utama yakni Gereja, balai kota dan rumah-rumah principalia (penduduk kelas atas). Diseberang alun-alun, balai kota tempat para pejabat sipil Spanyol berkantor berdiri di sebelah gereja.

Balai kota merupakan lokasi digelarnya pesta rakyat, ruang publik dalam struktur masyarakat poblacion-barrio-sitio. Kediaman principalia merupakan elemen ketiga kompleks plaza. Tidak seperti rumah sebagian besar penduduk kota yang dibuat dari batang bamboo beratap daun kelapa,rumah principalia dibangun dari batu dan bata. Warga Spanyol membentuk pegawai negeri sipil kelas bawah dan memelihara loyalitas mereka terhadap Principilia dengan memberikan mereka hak untuk memperkaya diri.

Praktek Kolonialisme dan Imperialisme

Spanyol mutlak berkuasa di seantero Filipina sebab prestise sosialnya terletak pada superioritas militer dan agamanya. Kebijakankebijakan hukum dan pajak memperkuat posisinya sedangkan kepemilikan tanah menjamin kemakmuran dan kekuatan ekonominya. Hampir seluruh posisi pemerintahan dan gereja, kecuali jabatan rendahan, dikhususkan untuk orang spanyol. Para penduduk lokal dilatih sebagai pendeta sekuler (rohaniawan paroki) tetapi jarang sekali mendapatkan parokinya sendiri karena paroki tetap berada di bawah rohaniawan regular Spanyol (biarawan misionaris).

Dampak di Bidang Sosial Budaya

Keretakan sosial terjadi di dalam masyarakat Spanyol. Orang Spanyol yang lahir di Spanyol (peninsulare) memandang rendah orang Spanyol yang lahir di Amerika atau Filipina (insulare atau disebut criollo). Untuk membedakan dari rekan sebangsanya, insulare menyebut dirinya putra negeri. Setelah filipino dilekatkan pada penduduk pribumi, Filipina baru muncul. Kelas bangsawan berusaha mempertahankan posisinya sebagai kepala principalia, orang merdeka dan yang abdi (alipin) berstatus pueblo dan bagi orang orang spanyol statusnya lebih tinggi dibandingkan dengan principalia. Diantara principalia dan Indio (penduduk lokal) muncul mestizo yakni keturunan Cina-Filipina. Orang eurasia keturunan Spanyol Filipina disebut sebagai Espanol Filipino dan statusnya lebih rendah dari peninsulare atau criollo. Espanol Filipino dapat menjadi kaya apabila mendapatkan warisanndari leluhur Filipino yang kaya atau melalui liberalisasi ekonomi di abad ke 19.

Dampak yang diakibatkan oleh penjajahan Spanyol dalam aspek sosial Budaya yakni bahasa resmi di Negara Filipina sedikit banyak menggunakan bahasa Spanyol. Selain itu, nama orang Filipina masih terdapat unsur spanyol contohnya Manuel Quezon (Presiden Persemakmuran Filipina) Jose Ozamiz (Gubernur wilayah Misamis) dan lain sebagainya.

Terdapat stratifikasi sosial dikalangan penduduk lokal yang disebut dengan Indio.

  • Kelas Maguinoo merupakan bangsawan lokal yang mempertahankan posisinya sebagai kepala Principalia.
  • Tinawa (orang merdeka) dan alipin (abdi) menyandang status pueblo (rakyat).
  • Principalia merupakan orang orang asli Spanyol.
  • Sangley untuk orang Tionghoa atau Cina.
  • Mestizio merupakan keturunan dari Spanyol-Filipina.

Orang Sangley yang masih diragukan oleh Spanyol mendapati pajak yang tinggi dan 35 akhirnya untuk mengakali pajak tinggi tersebut, Sangley berpindah agama menjadi Katolik. Rumah rumah milik Principilia pun tidak terbuat dari bambu beratab daun kelapa seperti sebagian penduduk kota, namun dibuat dengan menggunakan batu bata.

Penulis        : Natasya Yuni Riswanda        210210302039

Referensi    :

Ricklefs, et al. 2013. Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer.

Jakarta: Komunitas Bambu.

Djaja, W. (2018). Sejarah Eropa: dari Eropa kuno hingga Eropa modern. Yogyakarta: Ombak