Sumber foto: Dokumentasi Pribadi. Pantai Canggu
HMPKELAMAS.COM - Bali merupakan sebuah pulau yang ada diseberang Pulau Jawa, Pulau Bali juga memiliki keelokan alam yang sangat indah tak jarang jika para warga lokal Indonesia atau turis mancanegara ingin mengunjungi pulau tesebut. Karena Bali memiliki keindahan pad alam dan segi bangunannya, maka dari itu banyak yang menjadikan Bali sebagai obejk wisata. Pariwisata di Bali sudah hidup dari zaman ke zaman. Periode setelah kemerdekaan pembangunan objek wisata Bali masih sedikit untuk didokumentasikan. Pembangunan pariwisata masih bertahan hingga era abad ke 21 ini, maka dari itu Bali masih menjadi tren dalam onjek wisata di Indinesia. Karena pariwisata menjadi hal yang paling besar di Bali, maka hal ini akan berpengaruh dalam sistem ekonomi di Pulau tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan mengumpulkan beberapa sumber untuk dikaji. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan dan gambaran terhadap pembaca.
Pada tahun 1950 pada era Soeharto banyak warga negara Indonesia yang berharap terhadap negara baru mereka. Revolusi memiliki angan-angan agar bisa membangun negara Indonesia layaknya sama dengan negara-negaea Barat. Presiden Soekarno berargumen bahwa perlunya membangun kembali tentang cita-cita akan revolusi secara lahiriah. Pada era ini Pulau Bali mencerminkan masalah yang dihadapi oleh seluruh warga Indonesia pada saat itu.Jeff menguraikan tentang Bali dimulai dari upaya Soekarno dalam memadamkan perpecahan internal yang diwariskan dari revolusi.
Perpecahan ini bertahan di dalam sebuah bentuk gerombolan bandit dan perlawanan terhadap negara Indonesia. Pada sisi positifnya, Nyoman Wijaya memberi tahu tentang cara bagaimana orang Bali berusaha merangkul modernitas dan berusaha untuk menerapkannya pada tingkat lokal. Pariwisata juga menjadi salah satu fokus dalam perubahan sosial sebagai pengusung industri baru yang akan membawa perubahan dan harapan besar.
Tidak hanya terjadi di Bali, namun perencanaan pariwisata juga terlihat di daerah lain di Indonesia. Namun tentang pariwisata Bali era tahun 1950 an tidak memberikan banyak bukti atu tidak banyak yang menjelaskan tentang pariwisata di era tahun ini. Michel Picard memiliki sebuah karya yang menjelaskan berkenaan tentang pariwisata di Bali pada era kolonial dan Bali pada masa orde baru. Pada buku Geofferey Robinson menjelaskan bahwa terdapat sumbangan penting dalam memetakan politik pada periode itu.
Pada kondisi pariwisata tahun 1950-1971 para pejabat perekonomian membangun kembali objek-objek pariwisata. Para bangsa asing khusunya Belanda yang masih menjajaki Indonesia juga ikut melakukan pembangunan pariwisata di Bali. Pada akhirny Belanda mampu memulihkan imperiumnya seperti keadaan sebelum adanya perang tahun 1954 dan 1957. Namun peran orang Indonesia juga terlibat terhadap pembangunan pariwisata, mereka mulai serius dalam membangun objek-objek wisata dengan memproduksi berbagai panduan wisata dan juga ikut mendirikan organisasi-organisasi khusus untuk memetik sebuah keuntungan dari obejk wisata tersebut.
Pariwisata di Bali sebagian besar adalah soal perdagangan. Pada setiap daerah pariwisata di Bali pastinya banyak warga lokal atau penduduk yang menjual artshop atau toko-toko benda seni. Penjualan atau perdagangan artshop ini sudah mulai hidup sejak zamn penjajahan kolonial hingga saat ini. Adanya pariwisata di Bali sangat membantu perekonomian rakyat yang sedang berada dalam masa penjajahan para bangsa kolonial.
Namun Belanda berhasil menculik dan membunuh para pejuang-pejuang yang berasal dari Bali. Mereka berhasil mengusir mereka ke bukit-bukit asing dan pada akhirnya Belanda menjadikan Pulau Bali sebagai boneka mereka. Pada masa itu Negara Indonesia Timur (NIT) yang dipimpin oleh Cokorda Raka Agung Gede Agung dan pada itu pula ada seorang arsitek yang berasal dari Belnda bernama G.Koppman yang menetap di Sanur dan segera diikuti beberapa keturunanya yang bernama Pandy.
Koopman tiba di Bali pada taun 1947 dan menjabat sebagi kepala Kementrian Bidang Perekonomian Pemerintah Belanda di Bali. Secara profesional Koopman tertarik untuk membangun kembali pariwisata di Bali beserta ciri khasnya. Koopman juga mendorong Pandy untuk datang ke Indonesia pada tahun 1949, karena Pandy pernah menjadi agen Thomas Cook pada era sebelum adanya perang dan Pandy memiliki kemmapua khusus untuk memasarkan Pulau Bali.
Pada tahun 1956-1959 terjadi sebuah pemberontakan daerah yang berkepanjangan dan pemberontakan ini didukung oleh CIA, dan sebagian besar reaksinya adalah berupa nasionalisasi perusahan eks-Belanda. Diberlakukan juga keadaan Darurat Militer dan juga munculnya demokrasi terpimpin. Hal ini membuktikan jika periode ini sangta buruk pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi kepariwistaan yang ada di Pulau Bali. Karena pada periode tahun 1956-1959 jumlah wisatawan terus merosot dan yang menjadi agen dari Bali Tour and Guide mengalami kerugian.
Kesulitan ekonomi yang dialami pada periode itu puncaknya terjadi pada tahun 1960 pada saat Bali Tour and Guide terpaksa untuk bergabung dengan Natour, yang merupakan sebuah badan usaha milik negara yang didirikan pada tahun 1952. Hal ini merupaka sebuah upaya pemerintah pusat untuk menjadi pemegang saham terbesar milik Balitour. I Nyoman Gede Oka juga menuturkan ‘mending jual kacang daripada bergabung’. Karena Natour merupakan sebuah badan yang memberri monopoli diawal, yang artinya tidak akan ada pilihan lagi selain untuk Bali Tour and Guide bergabung.
Pada dekade tahun 1950-an merupakan sebuah periode yang cukup sulit untuk perekonomian rakyat Bali. Para masyarakat Bali yang memiliki pola pikir modern pada masa itu berhasil dalam mengembangkan objek pariwisata di Bali. Tetapi hal yang berbeda terjadi pada dunia industri pariwisata. Pada dunia industri pariwisata, Bali ditempa oleh bangsa penjajah, yaitu bangsa Kolonial. Namun dengan adanya Revolusi, hal ini merubah berbagai hal. Revolusi berhasil menunjukkan kemampuan dan kelenturan dalam beradaptasi yang sangat luar biasa terhadap perekonomian. Orang yang menduduki Bali masih terus saja menyelenggarakan usaha-usaha kecil meskpin di dalamnya terhdapat pola pengambilalihan oleh perusahan besar, seperti perusahaan nasional dan internasional.
Penulis: Ade Syalung Maisyah Putri (220210302073)
Referensi
Darma Putra, I Nyoman. 1997. “Pariwisata Budaya: Antara Polusi dan Solusi, paper disampaikan pada Lokakarya Internasional Pelestarian Warisan Budaya Bali.
Vickers, Adrian. "Bali Membangun kembali Industri Pariwisata: 1950-an." Journal of Bali Studies 3.2 (2013): 1-38.
Bakker, Wim. 1985. Bali verbeeld. Delft: Volkenkundig Museum Nusantara.
Social Footer