HMPKELAMAS.COM - Peralihan Fungsi Pabrik Gula Colomadu Serta Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Sekitar
Rima Nur Mutmaina
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember
Abstrak-
Pabrik gula colomadu yang sempat berdiri dan eksis pada masanya itu adalah peninggalan dari Sri Paduka Mangkunegara IV (MN IV). Namun, harus ditutup dengan seiring merosotnya hasil produksi yang dihasilkan serta berkurangnya lahan tanaman tebu. Selain itu dengan tidak lagi diekspornya gula dan hany dijadikan sebagai gula yang dijual secara lokal di dalam negara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana data yang ada diperoleh dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, internet, televisi dan lain sebagainya, yang terkait dengan pabrik colomadu dan alih fungsinya hingga saat ini. Kemudian dianalisis dan hasilnya dijabarkan dalam hasil dan pembehasan. Di peroleh hasil bahwa terjadi perubahan sosial di daerah sekitar kawasan pakrik gula colomadu, saat pabriknya berfungsi sebagai pabrik gula atau sebagi kawasan wisata.
Kata kunci: Colomadu, Sosial Ekonomi
The Change of Function of Colomadu Sugar Factory and Its Effect on the Surrounding Community
Rima Nur Mutmaina
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember
Abstract-
The Colomadu sugar factory, which had stood and existed in its time, was a legacy of Sri Paduka Mangkunegara IV (MN IV). However, it had to be closed along with the decline in production results produced and the reduction of sugar cane plantations. In addition, sugar is no longer exported and is only used as sugar that is sold locally within the country. This research uses a descriptive method, where existing data is obtained from various sources, such as books, magazines, the internet, television and so on, which are related to the Colomadu factory and its function change until now. Then it is analyzed and the results are described in the results and discussion. It was found that there were social changes in the area around the colomadu sugar factory area, when the factory functioned as a sugar factory or as a tourist area.
Keywords: Colomadu, Social-Ecomomic
Pendahuluan
Pabrik gula Colomadu yang berada di kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Solo. Sebagai pabrik gula yang sudah beroperasi sejak abad ke-18, menjadikan pulau Jawa menjadi sentral produsen gula terbesar nomor dua didunia, dengan Kuba sebagai yang terbesar di dunia. Colomadu sendiri dibangun oleh Sri Paduka Mangkunegara IV yang saat itu terinspirasi dan ingin terjun ke dunia bisnis, maka setelah beberapa pertimbangan diputuskanlah untuk membangun pabrik gula.
Dalam perkembangannya hingga sekarang pabrik gula Colomadu ini banyak mengalami masa sulit dan berbagai upaya pemulihan nya. Serta beberapa kali berpindah kepemilikan hingga akhirnya menjadi milik negara melalui penetapan PNP (Perusahaan Negara Perkebunan) yang saat itu terjadi pada tahun 1967, Colomadu berganti menjadi PT Perkebunan XV-XVI (Persero).
Meskipun pabrik gula Colomadu masih berdiri hingga saat ini, namun dalam fungsinya kini telah berubah. Sebab pabrik ini mengalami kemerosotan bahan hasil produksi sebagai akibat berkurangnya lahan untuk menanam tebu. Sehingga ditutup sekitar tahun 1998, namun pemerintah mulai menggunakannya sebagai museum ditahun 2018 yaitu Museum De Tjolomadoe. Dalam masa transisi pergantian fungsi pabrik, tentunya terjadi perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi pada masyarakat di sekitar pabrik gula Colomadu. Itulah yang akan peneliti bahas dalam artikel ini.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Dimana data DNA informasi mengenai pabrik gula Colomadu serta kondisi sosial ekonominya sejak beroperasi hingga berganti menjadi museum di dapatkan melalui penelusuran sumber baik dari buku, majalah, koran, televisi, internet dan lain sebagainya. Data-data tersebut kemudian di analisis dan hasilnya di jabarkan dalam hasil dan pembahasan.
Hasil dan Pembahasan
Pabrik gula Colomadu dalam Sejarah
Awal mula didirikannya pabrik gula Colomadu atas keinginan dari Sri Paduka Mangkunegara IV untuk mengembangkan lahan tebu di wilayahnya, oleh karena keadaan tanah yang memungkinkan untuk menanam tebu setelah dia berkunjung ke rumah menantunya di Demak. Mangkunegara sendiri berhasil menjadikan industri gula dalam perdagangan internasional, bahkan dirinyalah bumiputedRa pertama yang mampu mendirikan pabrik gula di Nusantara.
Pada saat itu terdapat sistem dalam mengelola tanah, yang disebut Tanah Lungguh. Hal itu berarti status kepemilikan tanah tetap milik raja, akan tetapi pengelolaan dan juga pemanfaatannya berada penuh di tangan lungguh atau seorang yang menggarapnya (Nalurita, 2022). Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, sistem tanah ini dihapuskan setelah menimang beberapa faktor salah satunya anggapan bahwa sistem industri akan lebih menguntungkan daripada sistem tanah lungguh.
Setelah itu Upaya untuk membangun kawasan perkebunan digagas dan tanaman utama berupa kopi dan gula. Termasuk di kawasan kawedanan Malangjiwan yang merupakan perkebunan tebu. Sebagai bentuk kerjasama Mangkunegara IV dengan pihak belanda, dibangunlah pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu. Dengan mempertimbangkan berbagai alasan yaitu, gula adalah komoditi ekspor yang saat itu memiliki pangsa pasar yang baik dalam perdagangan internasional. Selain itu tebu bmerupakan tanaman yang sering ditanam penyewa sebelumnya, jadi agar tidak merubah kondisi tanah dan memerlukan waktu yang lama untuk tanaman baru. Dan seperti telah disebutkan bahwa sistem Mudun lungguh dianggap kurang memberikan keuntungan bagi praja. Dan benar saja, hal itu memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian Praja Mangkunegaran, dimana dari keuntungan pabrik gula Colomadu tersebut hutang-hutang untuk modal pembangunan dan untuk orang lungguh bisa dilunasi. Sehingga pembangunan dilanjutkan dengan membangun pabrik gula baru yang tidak jauh dari pabrik gula Colomadu, yaitu pabrik gula Tasikmadu atau berarti “lautan madu”. Sementara Colomadu sendiri berarti “gunung madu”. Sistem yang digunakan di kedua pabrik gula tersebut adalah feodal, dimana para petani tebu disekitar pabrik wajib untuk menanam tebu tanpa dibayar. Dalam pengoprasian pabrik gula Colomadu menggunakan tenaga air dan uap, serta cikar (mirip Dokar, hanya berbeda pada bagian roda dan ditarik oleh sapi) sebagai transportasinya.
Pabrik Gula Colomadu tahun 1920
Akan tetapi saat Mangkunegara wafat, terjadi guncangan hebat dalam kndustri gulanya. Hal itu tidak lepas dari krisis ekonomi dunia yang terjadi saat itu, serta berkembangnya bama tebu yang membuat prosuksi gula terhambat. Selain itu terjadi kesalahan manajemen pada masa Mangkunegara V, sehingga industri gula mengalami kemunduran hingga mencapai f 100.000 (seratus ribu gulden). Kemudian kondisi ini berangsur-angsur membaik seiring dengan bergantinya kepemimpinan Mangkunegara V oleh Mangkunegara VI. Dimana ia menggunakan cara penghematan pengeluaran praja Mangkunegaran dengan mengurangi gaji pegawai, penghapus beberapa prajurit, menggabungkan beberapa acara agar tidak terjadi pengeluaran yang tidak perlu. Cara ini sangat efektif sehingga pabrik gula kembali ke kondisi yang stabil dan beroperasi selayaknya.
Ketika pendudukan Jepang, terjadi berbagai masalah baru yang sebelumnya tidak terjadi, yaitu terkait kesulitan mendapatkan tenaga kerja serta kesulitan mendapatkan lahan untuk menanam tebu. Jepang yang saat itu mengalami peperangan yang membutuhkan banyak bahan pangan untuk perbekalan, sehingga memfokuskan agar masyarakat Indonesia menanam tanaman pangan dibandingkan tebu, hingga pabrik gula pun banyak yang dialihfungsikan. Keadaan tersebut akhirnya berlanjut pada penghapusan status pabrik gula Mangkunegara menjadi milik pemerintah Republik Indonesia yang terjadi pada tahun 1946. Setahun setelahnya dikeluarkan PP No. 9 tahun 1947 mengenai pengelolaan pabrik gula Vcolomadu diambil alih dibawah perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI).
Pabrik Tebu Colomadu Sebagai Museum
Pabrik gula Colomadu berubah menjadi De Tjolomadoe
Pada tahun 2017 beberapa perusahaan BUMN seperti PT PP (Persero) Tbk., PT PP Properti Tbk., PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT Jasa Marga Properti membentuk patungan dengan nama PT Sinergi Colomadu untuk melakukan restorasi atau revitalisasi Pabrik Gula Colomadu dengan mengikuti kaidah cagar budaya dan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis yang ada. Mesin-mesin raksasa dengan bintik-bintik karat tetap dipertahankan untuk membarikan wawasan sejarah bagi pengunjung. Proses restorasi sempat terkendala karena selain pabrik ini merupakan bangunan lama, juga sudah berhenti beroperasi selama 20 tahun. Selain itu juga terdapat kesulitan dalam mencari blueprint serta foto-foto Pabrik Gula Colomadu selama masih beroperasi. Sehingga sekarang bernama De Tjolomadoe resmi resmikan pada 24 Maret 2018 dengan menambahkan beberapa koleksi digital pada akhir tahun 2018.
Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Pabrik Gula Colomadu
Awalnya ketika pabrik gula colomadu dididrikan masih banyak lahan yang kosong sebagai tempat menanam tebu dan membuat produksi gula melimpah ruah. Akan tetapi, ketika suatu tempat menjadi pusat peradaban mencari ekonomi. Maka terjadi penumpukan penduduk dan akhirnya peningkatan jumlah penduduk di sekitar pabrik Colomadu mau tidak mau membuat lahan secara perlahan-lahan berubah menjadi pemukiman. Sehingga produksi gula tidak berjalan maksimal sehingga mengakibatkan dituttupnya Colomadu. Akibat dari penutupan Pabrik Gula Colomadu terjadi beberapa perubahan struktur sosial dan jug perekonomian dalam masyarakat sekitar pabrik gula Colomadu. Yang awalnya bekerja sebagai pegawai yang akhirnya banyak yang tidak mendapatkan pekerjaan lagi. Selain itu minim sekali interaksi atau hubungan kerjasama seperti dulu di pabrik karena banyak yang beralih pekerjaan dan tidak lagi berkumpul bersama untuk bekerja. Sehingga gHubungan yang dulu begitu kental dan erat menjadi meregang.
Simpulan
Simpulan yang bisa diambil bahwa pabrik gula colomadu membawa dampak sosial ekonomi ketika pabrik gula tersebut berupa pola petani yang menanam tebu di sekitaran pabrik. Lalu kegiatan sehari-hari yang berpusat pada industri gula. Namun setelah dialihfungsikan menjadi museum dan tempat wisata kehidupan ekonomi masyatakat berubah. Hubungan sosial masyarakat juga berubah lebih jauh atau merengang sebab tidak lagi bersama dalam suatu pekerjaan.
Saran yang bisa diberikan adalah untuk bisa menyempurnakan dan mengembangakan lebih jauh mengenai penelitian ini.
Penulis: Rima Nur Mutmaina (220210302069)
Referensi
Lestari, D.S.S. (2018). Prospek Revitalisasi Eks Pabrik Gula Colomadu Karanganyar Terhadap Perkembangan Kota Karanganyar dan Surakarta. Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur. 22(26):
Virgin, N.R. (2022). Perkembanhan Pakrik Gula Colomadu dan Perubahan Kehidupan Ekonomi Masyarakat Tahun 1990-1998. Jurnal Historia Vitae. 02 (01): 31-41.
Social Footer