Gambar 1 Source: Pinterest
HMPKELAMAS.COM - Dewasa ini, dunia sedang dikejutkan dengan perkembangan pesat ekonomi Republik Rakyat Tiongkok. Hal ini dikarenakan negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor dua di dunia ini mampu menembus pasar global dan menjadi salah satu Negara adidaya dunia setelah mengalami keterpurukan pada masa revolusi kebudayaan, dibawah kepemimpinan Mao Zedong.
Kebangkitan Tiongkok ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Tangan dingin Deng Xiaoping yang mengawali pembukaan diri Tiongkok kepada dunia rupanya berdampak besar pada perkembangan seluruh aspek Negara ini. Pemanfaatan seluruh lini potensi seperti sumber daya alam juga sumber daya manusia membuat Negara ini secara bertahap menjadi raksasa baru dunia.
Deng Xiaoping memulai revolusinya dengan melakukannya pada sector pertanian yang ada di pedesaan. sampai saat ini 40% masyarakat Tiongkok masih bermata pencaharian sebagai petani. Awalnya, Deng Xiaoping membagikan lahan pertanian pada tiap-tiap kepala rumah tangga, dengan upah yang dibayarkan berdasarkan seberapa banyak hasil panen mereka, yang upahnya aan dibagi tiap akhir tahunnya.
Deng Xiaoping kemudian merambah reformasinya ke bidang industry setelah reformasi pertaniannya dirasa berhasil. Ia membangun zona-zona ekonomi khusus di beberapa wilayah. Pada wilayah ini pemerintah meniadakan undang-undang antibisnis yang sebelumnya berlak pada kekuasaan Mao Zedong, menggantinya dengan peraturan wajib pajak, namun tergolong rendah. Dan aturan-aturan yang memudahkan pengusaha pemilik pabrik untuk memproduksi barangnya dan mengekspornya ke luar negeri. Dengan peraturan-peraturan tersebut memungkinkan pelaku industry untuk bekerja dengan efisien, sehingga ekonomi Tiongkok dapat berkembang dengan signifikan.
Setelah berkembangnya zona-zona ekonomi, Tiongkok kemudian terus berupaya untuk mendatangkan perusahaan-perusahaan asing guna membuka pabrik yang bertujuan untuk menyediakan mata pencaharian baru untuk masyarakat Tiongkok. Lahan pertanian kemudian dialihfungsikan sebagai lahan industry yang kebanyakan berlokasi di Shanghai, Beijing, dan/ atau kawasan pesisir pantai Tiongkok lainnya. Pemerintah juga memberi penawaran seperti intensif bebas pajak, infrastuktur bidang komunikasi, dan teknologi informasi. Upaya-upaya tersebut terbukti menciptakan peningkatan lapangan pekerjaan, kemajuan teknologi, serta perkembangan ekonomi yang pesat.
Tujuan dari pemerintah Tiongkok mengundang investor asiang, tidak lain adalah agar terjadinya modernisasi. Mereka memberi kewajiban kepada para perusahaan asing untuk memakai teknologi terkini dan mengedukasi para pekerja agar tidak ada ketertinggalan teknologi dan mendapat edukasi terbaru sehingga mengakselerasi revolusi industry.
Selain itu, Tionkok juga melakukan revolusi di bidang pendidikan. Dengan mewajibkan 9 tahun masa belajar sejak tahun 1986, dengan hasil yang signifikan pada akhir tahun 1990-an tingkat melek huruf melonjak ke angka 80%. Namun, pada tahun 1900-an Tiongkok hanya mengalokasikan 1% dari total GDP ke bidang riset dan perkembangan (resource and development). Ssat ini penganggaran di bidang pendidikan meningkat sebanyak 0,5% dan terus meningkat ke angka 2,5% pada tahun 2020. Hal ini memicu peningkatan inovasi ilmiah para scientist Tiongkok, dibuktikan dengan jumlah aplikasi paten yang meningkat menjadi 130.000 pada tahun 2004.
Dampak yang paling nyata dan bisa dirasakan masyarakat Tiongkok pada kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan pemerintah tersebut adalah banyaknya industry teknologi sebagai dampak hasil dari transfer teknologi. Kemudian, hal ini membuat industry teknologi berkembang secara signifikan, tidak hanya berada pada pasar domestic, melainkan juga pasar global. Hal ini tak hanya meningkatkan perkembangan ekonomi Tiongkok, namun juga mengangkat reputasi Tiongkok sebagai pusat industry teknologi berskala dunia.
Keberhasilan Tiongkok dalam melakukan industrialisasi membawa efek yang mengejutkan pada bidang penurunan kemiskinan di Negara tersebut. Contoh konkretnya adalah pada tahun 1985 kemiskinan berada pada angka 65% dan di tahun 2010 menurun drastic menjadi 7%. Tiongkok telah berhasil menangani kemiskinan di daerah yang menjadi basis kemiskinan, dengan cara melakukan reforamasi seperti reformasi pertamanya. Satu dari beberapa factor yang menjadi pengaruh merupakan berkembangnya industry manufaktur dengan keuntungannya sebesar 50% didekasikanuntuk kesejahteraan rakyat sehingga berdampak pula dalam mengurangi kesenjangan dalam masyarakat.
Keberhasilan Tiongkok dalam kebangkitannya melawan kemsikinan memberi pengaruh cukup besar kepada Negara-negara di Asia. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok membuat kebijakan baru untuk membuka peluang bekerja sama secara bilateral kepada negara-negara Asia pada bidang ekonomi dengan menjadi mitra dagang. Tergambar nyata pada peningkatan nilai dagang antar negara-negara di kawasan Asia. Negara-negara yang berada di Asia mempunyai peluang untuk memperbesar kesempatan bekerja sama di berbagai bidang, seperti infrastruktur, perdagangan, pariwisata, hingga teknologi sehingga saling menguntungkan untuk memperluas hubungan mereka, dan memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kawasan Asia.
Tiongkok merupakan motor penggerak utama pada pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, dipicu oleh kemampuan berniaga skala internasionalnya. Produk-produk Tiongkok telah banyak ada di pasar local, bahkan menguasai Asia. Pertumbuhan perdagangan dunia diperkirakan akan terus berlanjut , dengan Tiongkok sebagai penggerak utamanya.
Kebangkitan Tiongkok pada bidang ekonomi menjadi kekuatan besar, dan menjadi alat “bargaining position” untuk memengaruhi hubungan politik dengan Negara lain di kawasan Asia, contohnya pada konflik sengketa antara Jepang dan Tiongkok mengenai pulau Diaoyu. Jepang telah mendapat manfaat dari investasi dan mengekspor produk mereka ke Tiongkok sementara pertumbuhan ekonomi Jepang sangat membutuhkan pasar China. Di sisi lain, investasi Jepang di China juga telah mendorong penciptaan lapangan kerja bagi tenaga kerja local. Hal ini mendorong diplomasi antara Tiongkok dan Jepang guna memperkuat hubunganmereka, mengingat hubungan ekonomi yang saling menguatkan kedua Negara tersebut.
Di abad-21 ini, Tiongkok semakin berkiblat pada tujuan politik internasional yang hagemonik dan ekspansif. The Peaceful Rise of China telah digaungkan oleh Hu Jintao untuk kebangkitan Tiongkok yang damai. Amerika Serikat dalam dokumen China Development Road atau dalam bahasa Tiongkok adalah Heping Fazhan menjelaskan terdapat lima strategi untuk memperoleh keunggulan ekonomi pada kerangka pembangunan, yakni (1) pembangunan yang berdasar perdamaian (2) andil dalam promosi perdamaian dunia (3) reformasi dan inovasi dalam mencari keuntungan bersama (4) pengembangan berdasar kemampuan sendiri (5) membentuk dunia yang harmonis untuk kesejahteraan bersama
Transformasi Tiongkok untuk bangkit sangatlah mengejutkan negara-negara barat. Tipngkok kini telah menjelma menjadi sumber tenaga kerja, pelangga, pesaing, dan mitra, sehinggamenarik banyak industry perusahaan asing untuk berinvestasi dan berbisnis di Tiongkok.
Penulis: Afifa Maharani Pambayun (220210302049)
Referensi
Santoso, B. (2017). Kebangkitan Ekonomi China Dan Pengaruhnya Terhadap Beberapa Negara Di Kawasan Asia. Global Insight Journal, 2(1).
Wishanti, D. A. P. E. (2014). Kebangkitan China dalam Kerjasama Ekonomi Internasional di Kawasan Asia Timur. Transformasi Global, 1(1).
Social Footer