Arca Perwujudan Raja di Candi Angkor Watt

HMPKELAMAS.COM - Kosmologi merupakan pengetahuan tentang gambaran proses terciptanya jagat raya. Alam semesta dalam pandangan Hinduisme diceritakan tercipta dari sebuah titik utama yang selanjutnya menyebar secara seimbang ke empat arah yang berbeda, yakni ke utara, timur, selatan, dan barat. Keempat arah utama ini selanjutnya dijadikan sebagai empat arah yang disucikan dan menjadi arah acuan kosmologis dan kegiatan ritual bercorak Hindu dan Buddha di dunia. Gambaran kosmogonis semacam ini melahirkan gambaran figur Dewa Brahma sebagai dewa pencipta alam semesta. Brahma merupakan dewa yang memiliki empat wajah serupa yang menghadap ke empat arah yang disucikan itu.

Proses Indianiasai yang kental diwilayah Kamboja adalah Buddhisme diamana Buddhisme Theravada menjadi agama paling banyak pengikutmya dan dalam sistem kepercayaannya masih mempertahankan unsur kosmologis dan dewa serta raja yang dimuliakan sebagai Tuhan dari makrokosmos (manusia super). Heinen-Geldern juga mencatat bahwa Thailand, Kamboja, dan Jawa memiliki banyak kesamaan dalam kutipan mereka. Hubungan antara India dan Kamboja sudah ada sejak zaman kuno. Pedagang India menjalin kontak dengan Asia Tenggara dan sebaliknya jauh sebelum zaman kita. Para sarjana percaya bahwa peradaban Asia Tenggara seperti Khmer melakukan perjalanan sejauh Delta Indus. Sarjana modern telah menyarankan bahwa seni dan bangunan Khmer awal menunjuk ke India selatan, seperti yang telah dispekulasikan oleh para sarjana sebelumnya. Bahasa Khmer sangat dipengaruhi oleh aksara Cholan Tami, yang berasal dari sebagian besar negara asli lainnya di Asia Tenggara.

Kosmologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas tentang tatanan berlangsungnya semua siklus di yang berlaku di jagat raya. Dalam ajaran Hinduisme dan Buddhisme, jagar raya ini diyakini terdiri atas beberapa tingkatan kehidupan yang masing-masing dihuni oleh berbagai macam makhluk yang memiliki beberapa tingkatan kehidupan juga. Secara garis besarnya, tingkatan-tingkatan kehidupan di alam semesta itu dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan alam, yaitu (1) tingkatan alam bawah (pātāla) yang menjadi tempat hidup kaum raksasa, denawa, detya, serta para naga, (2) tingkatan alam tengah (dunia) yang menjadi habitat umat manusia, flora, dan fauna, dan (3) tingkatan alam peralihan serta tingkatan alam atas (loka) yang disemayami oleh para tokoh dewata, jiwa-jiwa suci, dan segala makhluk hibrid setengah dewa lainnya. Dalam konsepsi Sapta Loka-Sapta Patala, tingkatan-tingkatan jagat raya ini diceritakan terdiri dari tujuh lapisan alam bawah (Sapta Patala) yang masing-masing terdiri atas Patāla, Rasātala, Mahātala, Talātala, Sutala, Vitala, dan Atala, serta tujuh tingkatan alam atas (Sapta Loka) yang terdiri atas Bhur Loka, Bhuvar Loka, Svar Loka, Maha Loka, Jana Loka, Tapa Loka, dan Satya Loka (Grimes, 1996: 95). Alam hidup manusia diceritakan berada di lapisan loka atas terendah, yakni Bhur Loka.

Kesejajaran konsepsi arca perwujudan yang terdapat di Kamboja terutama yang terlihat pada latar belakang pembuatan Candi Angkor Watt, diketahui memiliki konsepsi yang sejajar dengan yang terdapat di Indonesia. Konsep kosmologis Candi sebagai lambing Gunung Mahameru terlihat pada Candi di Kamboja. Arca perwujudan raja yang menghiasi relief Candi juga memiliki konsepsi untuk memulyakan raja yang dianggap sebagai inkarnasi dewa, dan setelah wafat menyatu denga dewa penitisnya. Oleh sebab itu maka raja dibuatkanh arca perwujudannya dengan pengharapan untuk menghormati jasa nenek moyang yang dianggap dapat memberikan perlindungan bagi yang ditinggalkan.

Penulis                : Grey Ardia Anggraini    210210302015

Referensi            : 

D.G.E. HALL. 1981.Macmillan Asian Histories Series A History of South-East Asia Fourth Edition. London : THE MACMILLAN PRESS LTD

Jaya, I. B. S., Si, S. S. M., & Permasalahan, I. L. B. D. KESEJAJARAN KONSEPSI ARCA PERWUJUDAN.

Hall, D.G.E. 1977. A History of south Easth Asia. Mac Milan Press Ltd, London.