Sumber foto: Radar Jember
HMPKELAMAS.COM - Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui sejarah Kecamatan Puger, (2) Potensi ekonomi wilayah Puger, dan dimanika masyarakat yang tinggal di Kecamatan Puger. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini menujukan Puger sudah menjadi daerah yang penting, dimulai dengan di temukannya situs-situs bersejarah dan potensi ekonomi yang beragam, mulai dari hasil laut, penambangan, dan pertanian yang terbilang cukup subur.
Kata kunci: Puger, Sejarah, Potensi ekonomi.
Abastract: The aims of this study were (1) to find out the history of the Puger District, (2) the economic potential of the Puger region, and the dynamics of the people living in the Puger District. The method used in this research uses literature review. The results of this study show that Puger has become an important area, starting with the discovery of various historical sites and economic potential, ranging from marine products, mining, and agriculture which are quite fertile.
Keywords: Puger, History, Economic potential.
Pendahuluan
Kecamatan Puger berada di Kabupaten Jember, letaknya di bagian selatan, dan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Di sebelah timur Kecamatan Puger berbatasan dengan kecamatan Wuluhan, dan terkenal dengan Sungai Bedadung yang berada disebelah utara Puger adalah Kecamatan Balung, sedangkan di sebelah barat ada kecamatan Blambangan / Pamotan. Wilayah Puger dan Jember banyak didokumentasikan oleh Belanda saat mereka berusaha mengeksploitasi sumber daya alam untuk keperluan Belanda. Puger dibuat sebagai kota pelabuhan di bagian selatan oleh Belanda. Pasca penaklukan Blambangan menyusul pertempuran Bayu, sumber daya alam Puger, antara lain biota laut yang beragam, hutan yang masih asli, batu kapur, dan Pulau Nusa Barong yang terkenal dengan sarang burung waletnya, menarik perhatian berbagai suku bangsa di Nusantara untuk bermukim.
Robert Wessing dalam penelitannya mengutip catatan de Stoppelaar yang menyatakan bahwa komposisi etnis penduduk Puger pada tahun 1927 terdiri dari “etnically this population is up of Madurese, Javanise and Bugis people with and additional springksling of using from the Banyuwangi area and in the past people of mandarese and malay extraction”. Secara etnik populasi ini terdiri dari suku Madura, Jawa dan Bugis dengan tambahan sumber mata air yang menggunakan dari daerah Banyuwangi dan pada masa lampau merupakan keturunan mandar dan melayu. Dalam melihat hal-hal yang telah disebutkan di atas terkait sejarah wilayah Puger dan potensi ekonominya yang signifikan, peneliti berupaya untuk lebih mendalami dan menggali informasi tentang sejarah Puger serta potensi ekonomi yang ada, dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat Puger.
Hasil Penelitian
Sejarah Puger
Sejak zaman kuno, daerah pesisir laut dan sekitar aliran sungai besar telah dihuni oleh manusia, dan hal ini juga berlaku untuk Kecamatan Puger dan sekitarnya terutama di aliran sungai Besini dan Bedadung. Masyarakat pada masa itu mengandalkan sumber daya alam yang melimpah, baik hasil pertanian maupun hewan sebagai sumber makanan utama. Catatan sejarah dalam kitab Desawarnana yang ditulis pada 1359 M menyebutkan bahwa Raja Majapahit yang terkenal, Hayam Wuruk, saat melakukan perjalanan ke daerah timur Jawa.
Catatan perjalanan Raja ke timur yang ditulis Prapanca, tidak secara langsung menuliskan mana Puger. Namun, nama-nama daerah yang sekarang berada di Puger di sebutkan dalam Negara Kertagama. Seperti Basini, Sadeng, Sarampawan.
Saat penjajahan Belanda, Puger ditetapkan sebagai wilayah administrasi yang setara dengan Regentschap Poeger, yang mencakup Jember dan Bondowoso saat ini. Hal ini ditetapkan melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Belanda. Puger sebagai daerah penghasil tambang (kapur) yang sangat dibutuhkan. Kapur dari daerah Puger sudah digunakan hampir di seluruh daerah Jawa Timur. Tanah di daerah Puger sangat subur, sehingga dapat di tanami berbagai tanaman, padi menjadi komoditas utama pertanian di Puger sehingga membuat daerah Puger terkenal sebagai lubung padi di Kabupaten Jember. Kecamatan Puger yang berada di daerah pesisir juga menghasilkan komoditas hasil laut. Hasil laut Puger didistribusikan ke segala penjuru di sekitar daerah Kecamatan Jember dan Bondowoso.
Potensi Ekonomi Puger
Lautan luas yang terbentang di selatan Puger merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Puger. Itu berlimpah dengan berbagai ikan laut dalam, menjadikannya surga untuk memancing. Nelayan pesisir Puger terkenal dengan keterampilan pelautnya sejak zaman kuno. Gunung Sadeng/Kapur di Puger memiliki nilai yang tinggi. Ikan kering (asin) merupakan komoditas yang banyak dicari, berfungsi sebagai pengganti barang lain.
Selain terkenal dengan hasil laut Puger juga terkenal dengan kapurnya, kapur yang dihasilkan Gunung Sadeng sangat bagus mutunya, dan distribusinya bisa mencapai Banyuwangi di bagian timur, Situbondo di bagian utara, sampai Pasuruan dan Malang. Gunung Sadeng yang terkenal, sumber batu kapur, masih ada di Puger, tetapi kelestariannya mungkin hanya bertahan 20 hingga 30 tahun lagi. Hal ini disebabkan oleh minimnya upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya izin pabrik semen di Puger. Pabrik-pabrik ini secara ekstensif dan terus-menerus mengeksploitasi gunung Sadeng. Mesin berat dan penggunaan dinamit terlihat jelas di sana. Pendapatan pajak yang dihasilkan dari pabrik semen tidak melebihi kerusakan yang ditimbulkan, juga tidak mempertimbangkan signifikansi historis yang terkait dengan Puger.
Pertanian di Puger terbilang cukup maju, dilihat dari saluran irigasi membelah pesawahan, air yang mengalir lancar dapat meningkatkan hasil panen. Taman utama yang ditanam di Puger adalah padi dan palawija. Meskipun Puger berada di daerah selatan, Puger terbilang cukup subur.
Sekitar tahun 70 sampai 90an. Jember menjadi salah satu penghasil tembakau, tanaman tembakau di tanam hampir diseluruh daerah di Jember termasuk juga di Puger yang sampai sekarang dapat di temukan ladang-ladang tembakau.
Kesimpulan
Sejak zaman kuno, daerah Puger dan sekitarnya telah dihuni oleh manusia, mengandalkan sumber daya alam yang melimpah seperti hasil pertanian dan hewan sebagai sumber makanan utama. Catatan sejarah dalam kitab Desawarnana menyebutkan bahwa Raja Majapahit pernah melakukan perjalanan ke arah timur pulau Jawa, meskipun secara langsung tidak disebutkan Puger. Pada masa penjajahan Belanda, Puger ditetapkan sebagai wilayah administrasi yang setara dengan Regentschap Poeger, mencakup Kabupaten Jember dan Bondowoso saat ini. Puger juga memiliki tambang kapur yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Tanahnya yang subur memungkinkan pertumbuhan berbagai tanaman, dengan padi menjadi komoditas utama. Puger juga dikenal sebagai daerah penghasil hasil laut, dengan ikan menjadi salah satu komoditas yang dicari. Gunung Sadeng/Kapur di Puger memiliki nilai tinggi, namun kelestariannya terancam karena kurangnya upaya pelestarian lingkungan, terutama dengan adanya izin pabrik semen yang mengexploitasi gunung tersebut. Pertanian dan perkebunan di Puger juga berkembang, terutama dalam penanaman tembakau yang merupakan komoditas penting di daerah Jember.
Penulis: Dania Prima Hendriyanto (220210302066)
Referensi
Ahmad, Z. 2015. Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno. Yogyakarta.
Seojono, Dj. 2008. Pengembangan Agro Industri berbasis Perikanan Laut di Kecamatan Puger Kabupaten Jember. J-SEP. Universitas Jember
Social Footer