Gambar 1. Keluarga Bahagia (Sumber Popmama.com)
HMPKELAMAS.COM - Stigma Banyak Anak Banyak Rezeki masih menggema ditengah masyarakat. Orang terdahulu percaya bahwa dengan banyak anak maka akan mendatangakan banyak rezeki kepadanya. Mereka meyakininya dengan dalih ketika anak mereka telah dewasa kelak, maka dapat membantu merawat dan menyokong perekonomian mereka. Bahkan mereka menganggap dengan banyak anak, apalagi dalam usia produktif dapat membantu usaha dan diandalkan sebagai investasi.
Pada dasarnya anak adalah penerus keturunan yang dapat mewariskan harta dan sebagai jaminan orang tua di hari tua. Anak juga dipercaya sebagai penghubung kebudayaan yang akan terus dilanjutkan ke keturunan seterusnya. Mengingat masyarakat Indonesia menjunjung tinggi semangat gotong-royong, sebagian orang mengganggap dengan banyak anak maka dapat meringankan beban. Orang Jawa menganut stigma banyak anak banyak rezeki karena mereka menganggap penting keuntungan meteril yang dihasilkan.
Islam dalam perspektif ini dapat menjadi muasal stigma atau adagium Banyak Anak Banyak Rezeki. Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan yang subur dan memiliki banyak keturunan, bahkan beliau membanggakannya sebagai penyeimbangang rasa cinta dan penerus agama. Hal ini tertuang dalam Hadist Sunan Abi Dawud;2/220, yang berarti “…Menikahlah dengan perempuan yang punya kecintaan, punya banyak keturunan, sebab aku akan membanggakan kalian di hadapan para pemimpin (esok di hari kaiamat).”
Buchori (dalam Peran Anak dalam Pembangunan Ekonomi, 2011), menyatakan jika terdapat dua prinsip nilai anak dalam pandangan sifat, yaitu negatif dan positif. Dikatakan positif karena anak dapat memberikan keuntungan berupa emosional atau kebahagian dan kecintaan, keuntungan ekonomi yang dapat menjamin hari tua, dan keuntungan sosial dengan membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik. Sementara dinilai negatif karena dengan memilki anak maka dapat menambah beban. Beban ini berupa beban perasaan, beban ekonomi dengan pengeluaran baiaya hidup anak, beban ruang dan gerak, beban fisik dengan menambahnya pekerjaan, serta beban kemasyarakatan yang menambah jumlah penduduk.
Lalu bagaimana sebenarnya peran anak dalam kacamata ekonomi?
Peran Anak dalam Kaca Mata Ekonomi
Peran anak dalam kaca mata ekonomi memiliki konteks permasalahan yang cukup luas dan kompleks. Permasalahan ini di latarbelakangi oleh perpektif orang tua meposisikan anak-anak mereka dalam keikutsertaannya di pasar kerja. Kendati peran anak dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi yang dapat membantu laju pertumbuhan penduduk dengan landasan transisi fertilitas dalam pembangunan perekonomian negara. Kendati kehadiran anak tidak selalu dikarenakan dasar cinta atau sengaja ditunggu-tunggu. Ironisnya kehadiran anak yang tanpa dikehendaki menjadi permasalahan tersendiri bagi suatu keluarga. Bahkan beberapa dari mereka diekspolitasi atau terpaksa menjadi genarasi sandwich.
Anak memilki peran yang penting dalam modal dasar pembangunan masa depan. Menurut budaya kita, anak yang bekeja tidak dianggap sebagai hal baru lagi karena dinilai sebagai proses sosialisasi. Realitas kelompok terdampak pembangunan ekonomi sebagai kesejahteraan dan kemakmuran adalah anak-anak yang turut menjadi tulang punggung keluarga. Perhatian khusus perlu diketatkan melihat masih banyak anak yang bekerja seraya bersekolah, akibatnya dapat mengganggu fokus belajar mereka dan menyebabkan rendahnya nilai sekolah. Padahal anak merupakan investasi besar bagi masa depan keluarga dan negara. Bagi kelompok keluarga miskin, justru sekolah tidak dianggap terlalu penting. Mereka lebih memilih bekerja membantu orang tua demi menyokong perekonomian, sebab bagi mereka bekerja lebih menghasilkan uang ketimbang bersekolah yang memerluakan biaya tidak sedikit.
Konteks ini menjadi cermin bahwa, pekerjaan yang tidak memberatkan anak tentu dapat membantu proses keterampilan anak dalam bersosialisasi. Namun jika pekerjaan tersbut dapat mengganggu dan membahayan anak secara fisik maupun pendidikan, justru menjadi petaka bagi mereka.
Problematika Fertilitas terhadap Perekonomian Pembangunan
Dewasa ini pertumbuhan penduduk berkembangang begitu cepat. Pada akhirnya pembangunan perekonomian membuat keputusa untuk mencegah fertilitas secara besar-besaran terlebih di negara berkembang. Hal ini didukung dengan adanya program KB atau Keluarga Berencana yang menjadi ikhtiyar pemerintah dalam mengurangi kelebihan pertumbuhan penduduk dengan bantuan subsidi dan alat-alat kontrasepsi.
Akibat perekmbangan ekonomi, anak tertua dalam suatu keluarga kerap kali terpaksa untuk bekerja sekaligus sekolah demi mengurangi beban perekonomian keluarganya. Dengan ini dapat ditarik argumentasi, bahwa mobilitas sosial ditentukan oleh pengeluaran keluarga per kapita karena biaya kelahiran anak dan keberlangsungan hidupnya. Oleh karenanya harapan penurunan fertilitas dapat mengurangi angka kemiskinan Indonesia. Birdsall, Kelley dan Sinding (2001), menyatakan bahwa fertilitas yang tinggi menjadi salah satu penyebab peningkatan kemiskinan pada tingkat keluarga hingga tingkat perkembangan perekonomian negara.
Perekonomian Keluarga Mempengaruhi Pendidikan Anak
Kondisi pendidikan seorang anak sangat dipengaruhi oleh perekonomian keluarga. Orang tua yang memiliki perekonomian tinggi pasti akan menyokong kebutuhan pendidikan anak, baik sejak dini hingga dewasa. Tak jarang banyak kaum menengah atas sukses menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi tanpa kesuliatan masalah biaya. Bahkan sejak kecil anak-anak mereka telah diikut sertakan les hobi yang dikuasai olehnya. Meraka akan dituntun menuju jalan sesuai dengan cita-cita yang dikehendaki. Sebab segala kebutuhan mereka telah terpenuhi, tinggal bagaimana mereka merawat dan membesarkan anak dengan baik.
Sementara bagi kelompok keluarga kelas menengah ke bawah, pendidikan anak tidak terlalu menjadi persoalan penting. Sugihartono, dkk (2015:3), menyatakan jika keluarga yang memiliki status sosial kurang mampu akan lebih memikirkan kebutuhan pokok, sehingga perhatian pendidikan anak bukan menjadi fokus utama. Untuk memenuhi kebutuhan makan esok hari saja, mereka memerlukan kerja keras. Padahal bisa jadi, seorang anak memiliki kepandaian dalam bidang pendidikan hanya saja latar belakang perekonomian keluarga dan keteraturan dalam belajar.
Pada hakikatnya stigma banyak anak banyak rezeki tidak sepenuhnya salah. Karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu dari arah mana rezeki datang, mungkin dengan banyaknya anak dapat menjadi motivasi untuk orang tua semangat bekerja demi kesejahteraan keluarganya. Akan tetapi tidak semua orang tua memiliki kondisi perekonomian yang mapan. Orang tua sebagai pemilik tanggungjawab perlu mempertimbangkan sebab dan akibat kelahiran anak bahkan sebelum menikah. Sepatutnya jika enggan memilki anak tentu menjadi lebih baik denga sedikit anak asal pendidikan dan kesejahteraan hidupnya ditanggung dengan baik dan benar.
Penulis: Thifal N. F. Zahra (220210302076)
Referensi
Buchori, N. S. (2011). Peran Anak dalam Pembangunan Ekonomi. Maslahah Vol. 2 No. 1, 37-43.
Chotimah, L. N., ANi, H. M., & Widodo, J. (2017). Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi Volume 11 Nomor 2, 123.
Jayasantika, Y. (2022, Januari 22). Banyak Anak Banyak Rezeki, Baru Terungkap Asal MUlanya, Benarkah Diambil dari Ayat Alquran? Banyak Anak Banyak Rezeki, Baru Terungkap Asal MUlanya, Benarkah Diambil dari Ayat Alquran?, p. 1.
Karomi, A. (2023, Januari 30). Perbnayak Anak Banyak Rezeki, Benarkah Demikian? Perbnayak Anak Banyak Rezeki, Benarkah Demikian?, p. 1.
Yolandha, F. (2021, April 9). Banyak Anak BAnyak Rezeki, Penyebab Adanya Generasi Sandwich. Banyak Anak BAnyak Rezeki, Penyebab Adanya Generasi Sandwich, p. 1.
Zahra, G. (2021, Oktober 26). Kritik atas Sugesti Banyak Anak Banyak Rezeki. Kritik atas Sugesti Banyak Anak Banyak Rezeki, p. 1.
Social Footer