Sidoarjo
adalah kota yang terletak dengan ibukota Jawa Timur, Surabaya. Tidak heran
Bahasa, kebudayaan hingga makanan sekalinpun
hampir sama. Kota dengan satu rumpun yang sama dengan
Bahasa Jawa yang terkenal kasar. Oleh karena itu Sidorjo adalah kota yang
hampir mirip dengan Surabaya tetapi versi Sidoarjo punya. Lalu menurut sumber,
bahwa Sidoarjo adalah salah satu pecahan dari Surabaya dan namanya adalah
Sidokare karena di wilayah Sidokare sendiri memiliki wilaya yang cukup luas.
Sehingga kolonial membaginya menjadi dua bagian. Adanya pembagian wilayah,
Sidokare yang termasuk wilayah karesidenan Surabaya mengubah namanya menjadi
Sidoarjo. Ditandai dengan [1]Staatblad
No.32 bulan Juni tahun 1859, berisikan nama Sidokare berubah menjadi Sidoarjo
berdasakan kepuusan Hindia Belanda.
Di
dalam esai akan membahas Sejarah perekonomian yang nanti akan menyambung dengan
judul diatas tentang bagaimana
perekonomian Sidoarjo pada tahun 1800 di masa kolonial Belanda. Masuk pada era
kolonial, Sidoarjo dahulu dikenal dengan sentra penghasil tebu di Nusantara. Kebanyakan
warga disana mata pencahariannya adaah petani perkebunan tebu dan buruh pabrik
gula. Di satu sisi, wilayah di Sidoarjo tanahnya subur sehingga cocok untuk
tanaman-tanaman perkebunan. Selain itu, di wilayah Sidoarjo ini cocok untuk
berternak hewan, Sidoarjo juga mempunyai wilayah tidak subur dari segi tanah,
daerah itu di Sidoarjo bagain timur. Dengan tanah yang kandungannya asin, tanah
ini tidak cocok dengan pertanian ataupun perkebunan, sehingga disana mata
pencaharian diasna petani tambak ikan.
Tanah
yang subur dapat menarik minat pada investor untuk membangung industry di
Kawasan Sidoarjo. Buktinya yaitu banyak sekali pembangunan pabrik gula bahkan
sebelum adanya pembagian wilayah. Setidaknya ada 13 pabrik gula yang dibangun,
mulai dari pabrik gula Candi, Tanggulangim, Buduran, Waru Balongbendo, Wonoayu,
Krian, Ketegan, Taman, Gedangan, Krembong, Tulangan hingga Porong. Cakupan
wilayah luas perkebunan yang berada di Sidoarjo sangat luas, contoh saja di
wilayah Tanggulangin terdapat 92 bau[2].
Tetapi tidak terlepas dari peran tanah milik pribumi yang disewakan kepada
ondirminer.
Pada
tahun 1863, pabrik gula yang berada di Sidoarjo menjadi sasaran para penduduk
agar dapat penghasilan. Tetapi upah yang didapatkan minim jika bekerja sebagai
buruh pabrik gula, sehingga penduduk di Kawasan Sidoajo kurang puas dengan
kolonial akhirnya masyrakat bekerja di bidang yang lain agar dapat memperoleh
penghasilan yang lebih layak. Akan tetapi onderminer yang bekerja sama dengan pemerintahan
mulai turun tangan dalam merekrut pekerja buruh pabrik gula secara terpaksa.
Selain dari warga dari wilayah sendiri, perekrutan juga mengambil dari
orang-orang yang bukan asli disana.
Dan
banyak sekali warga yang direkrut paksa oleh para pemerintah pada saat, setiap
daerah memiliki banyaknya warga yang ikut dipaksa. Dari wilayah Candi sebanyak
140 orang, Krembong sebanyak 110 orang, Porong dengan 140 orang dan yang paling
terbanyak adalah wilayah Ketegan dan Waru sebanyak 220 orang. Lalu pada tahun
1870-an telah diberlakukan Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang untuk warga
Sidoarjo yang mana warga Sidorjo disini dapat menyewakan tanahnya untuk
disewakan kepada para investor asing tanpa merasakan kehilangan hak kepemilikan
tanah tersebut. Tahu sendiri bahwa perkebunan tebu di Sidoarjo dianggap
berharga sekali dengan hanya memiliki 1 bau.
Pada
tahun 1850-an, perluasan tanaman wajib berhenti akan tetapi beban kerja yang
diberikan ini masih dirasa berat oleh penduduk setempat. Pada tahun 1860-an,
asisten residen Sidoarjo diberikan mandat tugas untuk memulai yang namanya
penggilangan gula. Setiap saat terjadi yang namanya penyetoran terhadap pekerja
paksa dalam kepentingan pabrik-pabrik gula yang di Sidoarjo. Para pekerja paksa
ini berasa dari desa-desa, orang asli dari Sidoarjo dan para pendatang. Mereka
setiap harinya dipekerjakan dengan paksa untuk melakukan produksi,
penggilingan, dan pengangkutan tebu dengan pabrik gula sebanyak 11 pabrik yang
ada di Sidoarjo. Jumlah pekerjanya tidak sedikit sekitar 1.890 orang per
harinya. Dan paling parahnya upah yang dikasih minim dengan hasil kerja keras
pekerja dan tidak layak dalam menyejahterakan warga Sidoarjo, perusahaan hanya
memikirkan reputasi bukan memikirkan bagaimana sengsaranya pekerja ini yang
bekerja dengan paksa. Juga pembayaran gula seringkali dihitung dari jumlah yang
diproduksi pabrik bukan atas dasar tebu yang mereka pasok. Petani merasa
dirugikan dengan pembayaran mereka yang sedikit dengan jerih payah mereka
menanam hingga ke panen.
Kemudian
dengan penanam tebu di wilayah Sidoarjo sendiri hampir semua desa menyewakan
selama 6 setengah tahu. Dari tanah-tanah hanya sepertiga tanah yang diguanakn
untuk penanaman tebu. Berkembangnya industry gula, dapat meningkatkan
penghasilan bagi perusahaan yang menjalankan atau swasta dengan hasil produksi
yang melimpah dan usaha dalam penanaman tebu di wilayah Sidoarjo. Karesidenan
Surabaya yang pada saat itu, menjadi pabrik gula terbesar dan paling banyak
beroperasi. Dan cakupan wilayahnya seperti Mojokerto, Jombang hingga Sidoarjo
sendiri serta didukung tenaga kerja yang berasal dari pulau Madura yang
bermigrasi ke wilayah Karesidenan Surabaya.
Kantor Pabrik Gula Tanggulangi (Sumber: KITLV)
Kerja
upah sehabis system perekonomian liberal mendorong lebih banyak terjado di
Sidorjo karena suatu hukuman dari kebijakan kolonial yang membuat pekerja.
Untuk abad ke-19 ini, keharusan adanya para tenaga kerja paksa semata, akibat
dari kenyataan bahwa tidak munkin untuk mendapatkan orang agar bisa bekerja di
dalam proyek yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Jumlah upah mengalami
penurunan karena kondisi yang disebabkan adanya krisis gula yang terjadi pada
tahun 1884 dan pada saat itu pemerintah kolonial Belanda belum bisa
mengembalikan perekonomian sebelum krisis terjadi.
Kemakmuran
perekonomian desa di Sidoarjo mulai sedikit meningkat. Peningkatan itu adanya
kebijakan yang dapat meringankan warga setempat setelah penggunaan UU Agraria
dan UU tentang Gula. Kebijakan itu adalah dihapuskan kerja wajib pada tahun
1890-an. Selain itu pemerintah Sidoarjo mererapkan system kontrak sewa tanah.
Tujuan yang diberikan adalah penduduk dapat bebas menyewakan tanah yang mereka
miliki kepada investor dari campur tangan penguasa tradisional
Masuk
tahun 1876, pemerintah Sidoarjo telah membangun sebuah stasiun dan rel kereta
api. Dengan adanya stasiun dan rel kereta apii di sidoarjo dianggap menunjukkan
wilayah ini paling penting oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pembangunan ini
terjadi guna kepentingan ekonomi yaitu untuk mendistribusikan barang khusus
seperti tebu. Di samping kepentingan ekonomi, ini juga dilakukan untuk
kepentingan politik juga militer. Pembangunan rel kereta api pada jalur barat
mulai dari stasiun Tarik, Krian, Tropodo, Kejaten. Untuk jalur tengah sendiri
yaitu ada stasiun Watutulis dan Tulangan. Dan jalur timur dari Porong,
Tanggulangin, Sidoarjo, Buduran, Gedangan dan Waru.
Pada
esai ini akan penulis akan membahas salah satu stasiun yang sekarang menjadi
stasiun yang paling ramai dikunjungi pendatang setiap kali sampai di Sidoarjo
yaitu Stasiun Sidoarjo. Stasiun Sidoarjo sendiri terletak pada Jalan Diponegoro
no 1, kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjp. Stasiun
Sidoarjo sendiri sangat dekat Kampung Batik Jetis Cuma hanya menyebrang di
depan stasiun Sidoarjo.
Stasiun
Sidoarjo berada dibawah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya memiliki kode SDA.
Berada di ketinggian +4 dan memiliki 4 jalur. Stasiun ini termasuk stasiun
cukup besar karena adanya fungsi sebagai kereta api berhenti, tempat untuk
kereta api berangkat. Serta tempat kereta api bersilang, menyusul dan disusul.
Stasiun di Sidoarjo (Sumber: KITLV)
Adanya
stasiun Sidoarjo karena pada abad 18 Sidoarjo menjad pusat atau sentra dari
produksi gula. Sehingga pemerintah membangun stasiun dan salah satunya adalah
stasiun Sidoarjo. Serta industry gula di Sidoarjo menjadi potensial di
Nusantara. Sebagai dari pembukaan yang berpotensial, pemerintah kolonial
Belanda segera menyiapkan segala sarana dan prasarana agar dapat mengangkat
hasil gula dari Sidoarjo menuju pelabuhan atau bisa ke kota lain. Dan gula
sebagai komuditas yang paling diminati di Kawasan Eropa, sehingga pemerintah
kolonial Belanda membangung sebuah stasiun yang dirasa penting agar dapat membuka
pasar. dengan membangun jalur kereta api. Pembangunan itu dimulai dari Surabaya
hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo. Di bangunan selama tiga tahun lalu
diresmikan pada 16 Mei 1878.
Sekarang
stasiun Sidoarjo masih aktif bahkan selalu kedatangan para pendatang setiap
harinya. Untuk arsitektur masih kental dengan suasana kolonial, dengan sentuhan
warna abu yang khas dengan stasiun Sidoarjo.
Kesimpulan
yang didapat pada esai ini adalah bahwa pembangunan stasiun Sidoarjo dengan
perekonomian Sidoarjo saling berkaitan. Perekonomian yang begitu maju sehingga
didorong dengan alat trasportasi yang mendukung. Akhirnya dibangunlah
stasiun-stasiun termasuk stasiun Sidoarjo. Meski umur bangunan sudah tua tetapi
kisah dibalik itu akan tetap abadi. Terima kasih
Social Footer