HMPKELAMAS.COM - Islamophobia adalah sebuah ketakutan, prasangka buruk pada agama Islam terutama umat ini dipandang sebagai sumber terorisme. Munculnya Islamophobia ini berawal dari adanya serangan 11 September, kebangkitan ISIS, peningkatan penduduk muslim di Eropa, dll. Ada beberapa yang menyebutkan bahwa islamophobia ini merupakan usaha pembungkaman pendapat maupun kritik terhadap Islam.
Islamophobia juga terdapat di Asia Tenggara seperti halnya kasus kekerasan terhadap muslim rohingya di Myanmar oleh orang Budha yang fanatik didukung oleh para biksu. Meningkatnya islamophobia ini banyak dikaitkan berdasar peristiwa serangan 11 September di Amerika sehingga hal tersebut meningkatkan kebencian terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk di Asia Tenggara.
Konflik ini bermula saat jenderal Ne Win mengkudeta Myanmar, Sehingga yang awalnya etnis rohingya ikut serta dalam tampuk pemerintahan tergeser oleh kepemimpinan Ne Win yang memfitnah minoritas etnis rohingya ingin memisahkan diri dan juga melakukan separatisme kepada etnis rohingya..
Tangisan etnis Rohingya. Sumber : Salam online
Etnis rohingya banyak mengalami diskriminasi terhadap masyarakat setempat (etnis Myanmar), upaya genosida besar-besaran untuk menghancurkan etnis rohingya dari Myanmar. Seperti pada saat etnis rohingya melakukan sholat mereka dibantai dengan sangat kejam tanpa ampun tidak mengenal dewasa maupun anak-anak. Tindakan pemerintahan Myanmar sangat kejam dibandingkan dengan tindakan diskriminasi yang terjadi di Afrika Selatan (Apartheid). Permasalahan kemanusiaan ini berawal dari tidak diakui etnis rohingya sebagai masyarakat asli dari Myanmar.
Pada Oktober 2016 muncul kembali kekerasan terhadap etnis rohingya. Dengan adanya militer Myanmar yang menuduh etnis rohingya sebagai teroris di mana etnis rohingya ini dituduh menyerang tiga pos polisi di daerah Rakhine dan menegaskan 9 petugas. Dari tuduhan tersebut militer Myanmar desas-desusnya akan melakukan pembunuhan,, dan pemerkosaan terhadap masyarakat etnis rohingya.
Konflik Rohingya yang terjadi di Myanmar menjadi polemik bagi negara-negara sekitar khususnya negara di kawasan ASEAN. Etnis yang terdapat di sebagian kecil kelompok di Myanmar ini tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah dan mereka pun terpaksa harus mengungsi ke negara-negara terdekat termasuk ke Indonesia. Dalam upaya penyelesaian konflik di Myanmar, Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan ini aktif di dalam mengirimkan misi-misi diplomasi kemanusiaan ke Myanmar melalui berbagai aktor mulai dari aktor pemerintahan sampai dengan aktor individu. Diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia ini menekankan pada dialog-dialog baik itu di forum internasional maupun kunjungan langsung, selain itu pemerintah Indonesia juga lebih berusaha untuk mengajak aktor-aktor lain baik itu negara ataupun individu untuk bersama-sama mencarikan solusi dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan di wilayah Myanmar. Ini merupakan langkah yang sangat baik mengingat piagam ASEAN yang melarang negara-negara lain ikut campur di dalam urusan suatu negara. ASEAN memilih melakukan perannya dari luar dan fokus terhadap kesejahteraan dan keamanan pengungsi bagi etnis Rohingya dengan demikian organisasi di kawasan ini lebih peduli tentang bagaimana mengendalikan konflik yang terjadi pada etnis Rohingya.
Meski ASEAN dan PBB tidak bisa memberikan tekanan tegas pada Myanmar atas masalah kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Harapannya bisa muncul dari rakyat itu sendiri, Kudeta militer pada 1 Februari menjadi sebuah panggilan bagi rakyat Myanmar untuk kesadaran bersama mengenai masalah bangsanya, yaitu pihak militer adalah musuh bersama yang harus dilawan. Mayoritas etnis Bamar yang beragama Budha dan 100 etnis minoritas lain yang sering didiskriminasi oleh militer harus bersatu untuk menciptakan masyarakat Myanmar yang demokratis di bawah pimpinan kalangan sipil yang benar-benar paham demokrasi, dengan demikian etnis Rohingnya yang selama ini paling menderita bisa diterima menjadi bagian dari masyarakat Myanmar itu sendiri.
Penulis: Dyah Ratna Ayuningrum (210210302058)
Referensi
Suntana & Tresnawaty. (2021). Krisis Sosial Multidimensi dan Kekerasan Beragama di Asia Tenggara: Agenda Strategis Regional, Pemerintahan Sipil yang Lemah, Kejahatan Tritunggal, Kesenjangan Kekayaan, dan Jurnalisme Terkooptasi. Jurnal Budaya dan Nilai dalam Pendidikan. 4(2) : 1-13.
Social Footer