Teori Kedatangan islam
Ada sejumlah teori yang mengemukakan kedatangan Islam di Asia Tenggara ini antara lain sebagai berikut:
1.
Teori Gujarat
Teori yang diusulkan oleh
Pijnapel, Snouck Hurgonje, dan Moquette menyatakan bahwa Islam yang berkembang
di Nusantara bukan berasal dari Persia atau Arab, tetapi berasal dari
orang-orang Arab yang telah bermigrasi dan menetap di wilayah India, kemudian
membawanya ke Nusantara. Teori ini didasarkan pada pemahaman tentang perbedaan
mazhab dan teori nisan. Menurut teori ini, terdapat kesamaan dalam mazhab yang
dianut oleh umat Islam di Nusantara dengan umat Islam di Gujarat. Kedua
komunitas Muslim ini mengikuti mazhab Syafii.
2.
Datang dari Bengal
Teori
yang diajukan oleh Kern, Winstedt, Bousqute, Vlenke, Gonda, Schrike, dan Hall
dikenal sebagai Teori Bengal. Teori ini didasarkan pada penelitian tentang
nisan (batu nisan) yang memiliki bentuk dan gaya yang mirip dengan nisan yang
ditemukan di Bruas, pusat kerajaan kuno Melayu di Perak, Semenanjung Malaya.
Para ahli ini berpendapat bahwa semua batu nisan di Bruas, Gresik, dan Pasai
didatangkan dari Gujarat, sehingga menurut mereka, Islam juga berasal dari
sana. Namun, teori ini menjadi lemah ketika teori mazhab diajukan. Menurut
teori mazhab, ternyata terdapat perbedaan mazhab yang dianut oleh umat Islam di
Bengal, yang mengikuti mazhab Hanafi.
3.
Dari Persia
Hal ini terbukti dari
banyaknya ditemukan tradisi dan budaya Persia dan Syi’ah yang masuk ke
Nusantara, seperti halnya dalam model upacara keagamaan seperti tabut di
Minangkabau, metode pembelajaran pembacaan Al-Qur’an seperti metode bagdadiyah,
istilah-istilah bazaar, Mulud Fatimah. Teoeri ini didasarkan pada kesamaan unsur budaya
Persia, khususnya Shiah yang ada dalam unsur kebudayaan Islam Nusantara,
khususnya di Indonesia dengan Persia. Diantara pendukung teori ini adalah
Hoesin Djajadiningra.
4.
Islam dari Arab
Teori ini
diajukan oleh John Crawford dan didukung oleh Syed Muhamad Naquib l-Attas, yang
memperhatikan bukti-bukti seperti catatan perdagangan dari China yang mencatat
keberadaan orang Arab dan Persia di Canton pada tahun 300 M. Pedagang Arab
diketahui dapat menguasai jalur perdagangan laut dari pelabuhan Iskandariah
hingga China. Selain itu, orang Arab telah melakukan perdagangan di wilayah
ini, terutama setelah munculnya Islam pada abad ke-7 M. Bukti lainnya adalah
ditemukannya perkampungan Islam Ta Shih di Sumatera Utara pada tahun 650 M,
yang didokumentasikan dalam catatan China. Selain itu,
raja-raja Melayu juga diislamkan oleh ulama Syeikh dari Arab, seperti yang
tercatat dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, di mana keturunan Sufi berhasil
mengislamkan Merah Silu (Malik al-Salih) dan Raja Pattani Phaya Tu Nakpa
diislamkan oleh Syeikh Said.
Kedatangan
Islam Di Asia Tenggara
Banyak beberapa macam cara dalam islam memasuki kawasan Asia Tenggara
pada masa lalu berikut beberapa cara Islam memasuki kawasan Asia Tenggara dalam
menyebarkan Agama Islam:
1. Perdagangan
Kesibukan
lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang- pedagang
Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari
negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia.11 Saluran Islamisasi
melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan
turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan
saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari
luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu
menjadi orang Jawa dan kaya-kaya.
2.
Perkawinan
Pedagang Muslim memiliki
status sosial yang lebih tinggi daripada kebanyakan penduduk pribumi di wilayah
tersebut. Hal ini membuat para puteri bangsawan tertarik untuk menikahi
pedagang-pedagang Muslim tersebut. Sebelum menikah, para puteri bangsawan ini
akan mengikuti agama Islam terlebih dahulu. Dengan adanya perkawinan ini,
komunitas Muslim semakin berkembang dan membentuk kampung-kampung,
daerah-daerah, dan bahkan kerajaan-kerajaan Muslim. Dalam perkembangan
selanjutnya, terjadi juga perkawinan antara wanita Muslim dengan keturunan
bangsawan. Tentunya, sebelum menikah, mereka juga akan memeluk Islam. Jalur
perkawinan ini menjadi menguntungkan terutama ketika pedagang Muslim menikahi
anak raja atau adipati, karena raja, adipati, atau bangsawan tersebut ikut
mempercepat proses Islamisasi.
3.
Tasawuf
Guru-guru tasawuf atau sufi
mengajarkan teosofi yang mencampurkan ajaran yang sudah dikenal oleh masyarakat
Indonesia. Mereka memiliki keahlian dalam hal magis dan memiliki kekuatan
penyembuhan. Beberapa di antara mereka juga menikahi puteri bangsawan setempat.
Dengan bantuan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi
memiliki kesamaan dengan pemahaman pikiran mereka sebelumnya yang menganut
agama Hindu. Oleh karena itu, agama baru ini mudah dipahami dan diterima oleh
mereka.
4.
Pendidikan
Proses Islamisasi juga
dilakukan melalui pendidikan, baik di pesantren maupun pondok yang dijalankan
oleh guru agama, kiyai, dan ulama. Di pesantren atau pondok tersebut, para
calon ulama, guru agama, dan kiyai menerima pendidikan agama yang mendalam.
Setelah mereka meninggalkan pesantren, mereka kembali ke desa mereka
masing-masing atau berdakwah di tempat-tempat tertentu untuk mengajarkan Islam.
5.
Kesenian
Salah satu saluran penting dalam Islamisasi melalui seni adalah pertunjukan wayang yang sangat terkenal. Sunan Kalijaga dianggap sebagai tokoh yang sangat ahli dalam memainkan pertunjukan wayang. Ia tidak pernah meminta bayaran untuk pertunjukan tersebut, namun ia meminta para penonton untuk mengikuti dan mengucapkan kalimat syahadat setelah pertunjukan selesai. Meskipun sebagian besar cerita wayang masih didasarkan pada cerita Mahabarata dan Ramayana, namun dalam cerita tersebut juga disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam.
Penulis : Dimas Ageng Laksono
Referensi :
Saleh,
H. (2021). Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara. Journal
of Islamic History, 1(2), 170-199.
Amin, F., & Ananda, R. A. (2018). Kedatangan dan Penyebaran Islam di Asia Tenggara: Telaah Teoritik tentang Proses Islamisasi Nusantara. Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 18(2), 67-100.
Kusman, A. Islam di Asia Tenggara. Jakarta. Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, 1-16.
Social Footer