HMPKELAMAS.COM - Lima tahun yang lalu tepatnya tahun 2017 ramai pemberitaan dunia menyoroti suatu krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. Konflik kemanusiaan yang terjadi di Myanmar ini dilakukan terhadap salah satu kelompok minoritas etnis muslim yaitu Rohingya.

Myanmar sendiri merupakan salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara. Myanmar memiliki daerah daratan yang terbesar, dengan luas wilayah mencapai 678.500 km2. Negara Myanmar juga merupakan anggota dari ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) yang mulai resmi bergabung pada 23 Juli 1997 bertepatan dengan ulang tahun ASEAN yang ke-30 tahun. Negara Myanmar memiliki penduduk sekitar 54,41 juta jiwa pada tahun 2020. Mereka dalam sehari-hari berkomunikasi menggunakan Bahasa Burma. Dan para penduduknya kebanyakan bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan. 

Menurut beberapa sumber Myanmar memiliki kurang lebih 135 suku, dimana suku Bamar merupakan suku yang terbesar. Adapun suku-suku yang lain seperti Shan, Kachin, Chin, Kaya, dan masih banyak lagi. Seperti di negara lain, suku-suku di Myanmar juga memiliki sub-kelompok yang memiliki Bahasa sehari-hari yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Mengenai keyakinan yang dianut oleh penduduk Myanmar mayoritas beragama Buddha, dengan sisa penduduk beragama Kristen, islam, animisme, dan kepercayaan lainnya.


Siapa etnis Rohingya itu?


Rohingya merupakan etnis muslim yang berasal dari Myanmar yang tinggal di wilayah Arakan, Myanmar Barat. Sejak dulu etnis ini dipandang sebagai minoritas yang sangat tertindas meskipun mereka mempunyai sejarah lama di Myanmar. Pemerintah Myanmar tidak mengakui secara resmi etnis Rohingya karena mereka menganggap etnis Rohingya ini sebagai imigran gelap dari negara Bangladesh. Etnis Rohingya juga mendapatkan diskriminasi dalam kehidupan sosial mereka yang mana penduduk di Myanmar mayoritas beragama Buddha.

Menurut undang-undang kewarganegaraan Myanmar tahun 1982, etnis Rohingya tidak berhak memiliki kewarganegaraan. Hal ini mengakibatkan terbatasnya hak-hak mereka untuk mengenyam pendidikan, bekerja, menikah, menjalankan agamanya, dan terbatas dalam mengakses layanan kesehatan. Tak sedikit juga dari mereka yang mendirikan dan menetap di gubuk-gubuk kumuh.


Awal Terjadi Konflik

Seperti yang dijelaskan sebelumnya awal terjadi konflik yaitu dilatar belakangi oleh diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah dan penduduk Myanmar lainnya terhadap etnis Rohingya. Selain karena diskriminasi agama, terjadi pula pada kepentingan politik dan ekonomi. Kekerasan mulai memuncak pada 25 Agustus 2017 ketika sekelompok militan Rohingya menyerang pos polisi dan asrama tentara dengan menggunakan bom rakitan, pisau, dan pentungan. Penyerangan ini mereka lakukan untuk melindungi etnis Rohingya dari penindasan. Serangan ini pun menewaskan 12 personil keamanan Myanmar.

Sebelumnya pada tahun 2012-2013 juga terjadi konflik antara etnis Rohingya dengan etnis Rakhie yang beragama Buddha. Hal ini terjadi karena adanya kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang diduga dilakukan oleh laki-laki muslim Rohingya kepada perempuan Buddha. Setelah kejadian itu bentrokan dan kekerasan antar kedua etnis itu pun tidak bisa dihindari sehingga banyak menghilangkan korban jiwa. Dan konflik diskriminasi pun masih berlanjut sampai sekarang ini.

Etnis Rohingya Saat Ini



Diperkirakan sekitar satu juta jiwa etnis Rohingya yang menetap di Myanmar dan semakin lama populasi mereka semakin mengecil. Hal ini karena banyak dari etnis Rohingya yang berbondong-bondong menyelamatkan dirinya akibat dari kekerasan dan penindasan yang dilakukan penduduk mayoritas. Mereka menyelamatkan diri ke beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia.

Mulai tahun 2012 hingga saat ini banyak warga etnis Rohingya yang terusir dari Myanmar. Hal ini pun menjadi perhatian negara-negara dunia karena adanya krisis kekerasan ini. Salah satunya yaitu negara Indonesia yang menampung pengungsi muslim Rohingya. Di Indonesia sendiri pengungsi paling banyak mendaratkan kapalnya ke wilayah Aceh Timur. Total pengungsi Rohingya di Indonesia saat ini yaitu mencapai lebih dari seribu warga. Selain itu banyak negara-negara barat dan negara mayoritas islam di dunia yang bersimpati dengan warga Rohingya. Mereka menekankan kepada pemerintahan Myanmar agar menghentikan konflik ini dengan memberi hak-hak yang seharusnya mereka miliki. Dilansir dari Detik news, pemerintah Malaysia yang menyebut konflik ini sebagai isu sensitif di ASEAN. Menurutnya meskipun konflik ini termasuk konflik internal negara, namun ini juga berdampak pada negara-negara lainnya di kawasan ASEAN. 

Dari pembahasan di atas kita mengetahui bahwa konflik ini sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Perasaan ini pun tidak hanya dirasakan oleh etnis Rohingya saja, namun juga dirasakan oleh orang-orang barat dan muslim dari negara lain. Seperti yang diketahui dimana mereka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, dan bahkan bisa berlantung-lantung di laut sampai berhari-hari demi menyelamatkan dirinya.



Penulis: Juniar Aleyda Putri Senastri (210210302055)

Referensi

Website VOA Indonesia. (2017). Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya? https://www.voaindonesia.com/a/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-/4045516.html (diakses pada 16 Juni 2023)

Arief, Ikhsanudin. (2023). Menkominfo Malaysia Soroti Rohingya Jadi Isu Sensitif di ASEAN. Website detik news. https://news.detik.com/berita/d-6553631/menkominfo-malaysia-soroti-rohingya-jadi-isu-sensitif-di-asean (diakses pada 16 Juni 2023)