D:\Libraries\Pictures\Screenshots\Screenshot (177).png

HMPKELAMAS.COM - Keberadaan etnis Cina sendiri di kawasan Asia Tenggara sudah ada sejak awal yang dimana, orang Cina tersebut melakukan perdagangan seperti sutra, obat-obatan, dan porselin serta barang-barang unik lainnya. Pada sekitaran abad ke -16 dan 17 awal, saat bangsa Barat datang ke wilayah Asia Tenggara, mereka menjumpai saudagar-saudagar Cina yang jumlahnya tidak terlalu banyak tetapi mereka tersebar luas di Asia Tenggara. Orang Cina tidak memiliki konsep identitas, tetapi konsep tentang kecinaan yakni Cina dan bukan Cina. Pada mas asebelum 1950, konsep tersebut sering digunakan. terdapat dua cara orang China melihat tentang kecinaannya, yakni terdapat identitas nasional Cina dan identitas historis Cina.  Sesudah berakhirnya Perang Dunia II, di kalangan orang Cina Asia Tenggara muncul suatu identitas nasional Cina. Selama beberapa tahun hingga 1950, sebagian identitas historis Cina tampaknya digantikan oleh identitas nasional.

Dihampir semua negara Asean, peran etnis Cina dalam perekonomian terus meningkat, lembaga-lembaga kapitalis Cina yang pertama muncul berada di Malaysia yang berkaitan dengan pertambangan timah serta di Indonesia yang bergerak dalam produksi gula.  Kebangkitan berbagai lembaga Cina diakibatkan oleh akspansi ekonomi yang tercipta dari keahlian orang Cina dalam bahasa Inggris yang membuat bangsa barat menanamkan modalnya. Etnis Cina juga mendirikan lembaga perbankan dan bersaing dengan perbangkan Barat. Untuk memenuhi kebutuhan uang meraka sendiri. Pada awalnya mereka tidak memiliki keahlian dalam bidang perbangkan guna mengatasinya mereka memperkerjakan orang Cina yang bekerja di perbangkan Barat dan menyewa bangsa Barat untuk menjadi manager. 

Etnis Cina berhasil mengontrol perekonomian Asia Tenggara sejak dulu seperti terjadi di Thailand, Philipina, Indonesia dan Vietnam, kecuali Birma yang dikuasai oleh India. Jaringan bisnis dari etnis Cina memiliki peranan yang sangat strategis, sesuai dengan teori ‘angsa terbang”. Wilayah Asia Tenggara sendiri mendapatkan investasi dari Jepang dan Taiwan yang terjadi di masa tahun 1975-1985 dan 1985-1990. Pada tahun tersebut investasi Jepang sebesar 48% untuk berbagai proyek yang berkaitan dengan sumber daya alam. Perekonomian idustri di Vietnam dan Philipina juga berjalan sangat cepat disebabkan investasi dari Taiwan. Kedua hal itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya peranan etnis Cina dalam perekonomian di kawasan Asia Tenggara. 

D:\Libraries\Pictures\Screenshots\Screenshot (180).png

D:\Libraries\Pictures\Screenshots\Screenshot (176).png

Beberapa negara di Asia Tenggara yang terdapat komunitas etnis Cinanya maka negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Seperti contohnya pada tahun 1960 jumlah etnis Cina di Singapura mencapai 75% . Thailand 10% dan Malaysia 37%, ketiga negara tersebut mengalami kemajuan dalam perekonomiannya. Untuk Indonesia sendiri hanya 2,9%  dan pada waktu itu etnis Cina mendapat tekanan dari pemerintahan Soeharto sehingga peran mereka tidak begitu maksimal dalam perekonomian Indonesia saat itu. Etnis Cina juga tidak hanya berkutat dalam usaha swasat saja tetapi juga memegang jabatan penting di pemerintahan. Dengan demikian maka peranan etnis Cina tidak hanya pada bidang ekonomi tetapi bidang politik juga.

Sampai sekarang ini dapat dilihat banyak etnis Cina banyak menguasai sektor industri di Asia Tenggara. Hal tersebut dapat dilihat dari jajaran orang terkaya di Asia Tenggara mayoritas diisi oleh etnis Cina contohnya seperti Low Tuck Kwong yang menjadi orang terkaya di Asia Tenggara yakni seorang penguasha batu bara pendiri Bayan Resources (perusahaan tambang batu bara). Nilai kekayaannya total mencapai US$25,5 Miliar, Low Tuck Kwong juga bisa dikatakan berasal dari etnis Cina yang lahir pada 17 April 1948.  Ia juga memiliki memegang jabatan penting di perusahaan Singapura Metis Energy, Sarmindo Resources dan Voksel Electric. Low juga mendukung SEAX Global untuk membangun sistem kabel bawah laut untuk menunjang konektivitas internet di negara Singapura, Malaysia dan Indonesia. Sebenarnya masih banyak etnis Cina yang mempengaruhi perekonomian Asia Tenggara seperti : Li Xiting, Goh Cheng Liang dan masih banyak lagi. Dengan demikian etnis Cina memiliki peranan penting dalam perekonomian di Asia Tenggara terkait dengan kegiatan-kegiatannya di bidang ekonomi dan bidang komersial lainnya. 


Penulis: Mochamad Tegar Ramadhani (210210302077)

Referensi

Widiyanta. D. 2010. Keberadaan Etnis Cina Dan Pengaruhnya Dalam Perekonomian Di Asia Tenggara. Jurnal Mozaik. Vol 5, No 1

Rohman. S. dkk. 2022. Polical Ecnomic China In Southeas Asia Between Impact On The Indonesian Economy. Jurnal Media Ekoniomi. Vol 30, No 1 

Eric  Heginbotham,  “Strategi  China  di  Asia  Tenggara,”  dalam  China  Steps  Out:  Keterlibatan  Kekuatan  Utama  Beijing  dengan  Dunia  Berkembang,  ed.  Joshua  Eisenman  dan  Eric  Heginbotham  (New  York:  Routledge,  2018),  48-49.

https://id.wikipedia.org/wiki/Low_Tuck_Kwong (diakses pada 18 Juni 2023)