Latar Belakang Berdirinya Monumen Palagan Jumerto

Terjadinya Pertempuran Jumerto tentu memberi pengaruh terhadap perjuangan bangsa khusunya di daerah Jember dan Karesidenan Besuki. Pertempuran Jumerto telah menyebabkan berkurangnya personel Mobile Brigade Polisi di Besuki, padahal mereka telah memperlihatkan keberanian dan pengalaman dalam perjuangan. Contohnya seperti keterlibatan mereka dalam berbagai front pertempuran diantaranya; di Karesidenan Besuki, Surabaya dan Blitar. Kemampuan dan pengalaman mengangkat senjata juga ditambah dengan keterlibatan dalam penumpasan pemberontak komunis di Madiun tahun 1948. Kekuatan pasukan untuk perang gerilya melawan pihak Belanda tentu melemah karena berkurangnya personel dari pasukan Mobile Brigade, persenjataan yang dimiliki Indonesia untuk melakukan perjuangan melawan pasukan Belanda pun juga berkurang karena peristiwa ini.

Jika dilihat dari segi mentalitas, pertempuran ini memberikan dampak positif karena peristiwa tersebut meningkatkan fanatisme perjuangan melawan kekuatan kolonial. Namun, peristiwa ini tentu juga memberikan rasa duka di kalangan anggota pasukan lainnya yang sedang melakukan long march. Hal tersebut disebabkan karena mereka mempunyai ikatan solidaritas yang kokoh selama perjuangan melalui gemblengan peristiwa dan pengalaman yang panjang. Penderitaan dan kekurangan yang dirasakan pasukan selama long march tentu menjadi pengalaman yang dapat memperkukuh rasa solidaritas. Rasa solidaritas itu menumbuhkan sikap antipati terhadap kaum penjajah. Di sisi lain sikap antipasti ini merupakan sumber api yang dapat membakar semangat dan fanatisme perjuangan melawan kekuatan kolonialis. Tak hanya pasukan Mobile Brigade disini yang menjadi korban dalam Pertempuran Jumerto, warga lokal pun banyak yang menjadi korban karena pertempuran ini.

Peristiwa Pertempuran Jumerto ini diabadikan dalam sebuah Monumen yang didirikan di Jember dan diberi nama “Monumen Palagan Jumerto” dengan uraian sebagai berikut. 

Deskripsi Fisik Monumen

Upaya dalam mengabadikan peristiwa sejarah pada masa revolusi fisik untuk mempertahankan kemerdekaan, pembangunan sebuah monumen merupakan salah satu upaya konkret yang dapat dirasakan nilai signifikansinya. Nama yang biasa dipakai untuk menunjukkan identitas monumen secara umum setidaknya bisa merujuk pada tiga hal, yaitu :

  1. Nama monumen dapat diambilkan dari lokasi geografis tempat terjadinya peristiwa atau proses sejarah (historical event or process) yang hendak diabadikan dalam bentuk monumen
  2. Nama monumen diambilkan dari nama tokoh sejarah (historical actors/players) yang berperan secara sentral dalam peristiwa yang dimaksud baik nama individu maupun kelompok kolektif
  3. Nama monumen diambilkan dari nama senjata atau alat yang dipergunakan dalam perjuangan.

Nama monumen dari Peristiwa yang terjadi di Desa Jumerto, Kecamatan Patrang, Jember rupanya diambil dari lokasi terjadinya peristiwa sejarah. Nama monumen tersebut adalah Monumen Palagan Jumerto. Monumen ini berada sekitar 5 km arah utara dari kota Jember, persis di sebelah kanan Kantor Desa Jomerto. Adapun batas-batas dari Desa Jumerto adalah sebagai berikut; di sebalah Barat berbatasan dengan Desa Banjarsengon, Desa Bintoro di sebelah timur, Desa Klungkung di sebelah utara dan Desa Slawu di sebelah selatan. Perjalanan untuk menuju lokasi bersejarah ini dapat ditempuh dengan mudah karena sudah terdapat fasilitas jalan Desa beraspal yang menghubungkannya dengan kota, kecamatan dan kabupaten.

Monumen Palagan Jumerto

Sumber : Dokumen Pribadi

Monumen Palagan Jumerto berada satu kompleks dengan bangunan masjid yang bernama Masjid Jihad Syuhada’. Kedua bangunan ini dibangun dalam waktu yang bersamaan dan antara kedua bangunan dipisahkan dengan pagar yang terbuat dari tembok dan besi. Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan kepada Bapak Suhadi, beliau mengatakan bahwa Bangunan masjid tersebut dahulunya merupakan tempat pengumpulan mayat-mayat yang telah gugur dalam pertempuran Jumerto. Kompleks bangunan ini relatif bersih dan cukup terawat dengan baik. Di sekeliling bangunan monumen telah diberi pagar tembok dengan hiasan relief perjuangan. Pagar bagian depan dibuat dari besi yang membuat monumen dapat dilihat dari luar. Untuk jalan masuk ke dalam kompleks monumen di bagian depan terdapat pintu besi yang selalu dalam keadaan terkunci sehingga jika ingin masuk harus mendapatkan ijin dari penjaganya yang tinggal sekitar 100 meter dari bangunan monumen. Di samping berfungsi menjaga bangunan monumen dari tindakan perusakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, pemberian pagar juga membuat bangunan monumen tampak lebih memiliki nilai seni dan terlihat estetik. 

Letak Monumen bersebelahan dengan Masjid

Sumber : Dokumen Pribadi

Bahan dasar pembuatan Monumen Palagan Jumerto ini adalah campuran semen, batu bata dan batu gunung. Tinggi bangunan ini 11 meter dan terdiri dari beberapa bagian. Bagian pondasi berbentuk segi lima dengan ukuran sisi 3 meter. Di atasnya terdapat dinding sebelah-menyebelah. Dinding bagian depan bertuliskan prasasti pembangunan monumen yang diresmikan pada tanggal 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur Mayor Jenderal Polisi Soedarmadji. Pada dinding sebelah kanan tertulis nama-nama pahlawan dari Mobile Brigade yang telah gugur dalam pertempuran Jumerto di atas sebuah batu marmer berukuran 2 x 2 meter. Pada dinding sebelah kiri tertulis nama-nama penduduk Jomerto yang menjadi korban pertempuran. Pada dinding yang lain tertulis nama-nama panitia yang mendirikan monument tersebut.

Arti Lambang

Bangunan Monumen Palagan Jomerto mempunyai makna filosofis yang sangat tinggi, mulai dari atas sampai bawah monumen tersebut mempunyai maknanya masing-masing. Berikut ini adalah makna dari setiap symbol pada Monumen Palagan Jomerto.

  1. Fondasi bangunan Monumen Palagan Jomerto yang berbentuk segi lima melambangkan kelima sila Pancasila yang menjadi dasar negara dan falsafah hidup negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan bahwa perjuangan yang terungkap dalam peristiwa Palagan Jomerto dilandasi oleh nilai-nilai luhur yang dikristalisasikan dalam kelima sila Pancasila.
  2. Lambang Kepolisian Daerah Jawa Timur dan lima buah bambu runcing yang menancap. Kelima bambu runcing ini melambangkan senjata yang dipergunakan rakyat pada masa perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sekalipun hanya dengan senjata yang amat sederhana, rakyat berani melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda yang persenjataannya jauh lebih baik dan lebih lengkap. Dengan demikian, bambu runcing merupakan simbol heroisme dan patriotisme rakyat dalam ikut serta mempertahankan kemerdekaan. 
  3. Diatas lima bambu runcing ditempatkan dua buah senjata api laras panjang peninggalan Jepang yang melambangkan senjata polisi. Kedua senjata tersebut bersandar pada empat pilar tiang yang melambangkan keempat pedoman kerja polisi Republik Indonesia yakni Catur Prasetya, Yaktan Satrisna. Keempatnya secara berurutan berarti setia kepada negara dan pimpinan negara, mengenyahkan musuh-musuh negara dan masyarakat, mengagungkan negara dan bangsa serta tidak terikat trisna pada sesuatu. Pilar ini dihiasi dengan lambang Brigade Mobil (Brimob). 

Maksud dan Tujuan Pembangunan Monumen

Kesadaran sejarah merupakan salah satu karakter yang membedakan keberadaan manusia dengan makhluk lainnya. Memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan tingkatan kesadaran sejarah secara individual maupun kolektif. Dengan kata lain, terdapat perbedaan tingkatan kesadaran sejarah antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain atau antara individu yang satu dengan yang lain. Akan tetapi, adanya variasi tingkat kesadaran sejarah bukan semata-mata hanya berkaitan dengan heterogenitas sosial, melainkan berkaitan juga dengan lintas temporal seiring dengan gerak perjalanan sejarah. Dalam perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti kesadaran sejarah mengalami pasang surut.

Adanya kesadaran sejarah yang terus mengalir dalam masyarakat salah satunya dimanifestasikan dalam berbagai upaya untuk membuat keberadaan individu maupun kelompok kolektif tetap akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Menyadari keberadaan individu maupun kelompok kolektif yang terbatas dalam sebuah rentang waktu, maka mereka baik secara individual maupun kolektif berusaha memberikan bukti maupun tanda-tanda akan keberadaan dalam sebuah periode sejarah. Dalam konteks inilah sebenarnya penulisan sejarah atau yang sering disebut pula dengan istilah historiografi maupun pembangunan monumen pertamatama perlu ditempatkan. Penulisan sejarah dan monumen merupakan sebagian dari bentuk pertanggungjawaban akan masa lampau dari suatu komunitas maupun individu. Dalam kerangka pemikiran tersebut Monumen Palagan seharusnya ditempatkan. Monumen Palagan Jomerto dimaksudkan sebagai simbolisasi peristiwa pertempuran melawan pasukan Belanda di daerah Jomerto dalam bentuk bangunan fisik yang dapat dilihat secara langsung. Pada bangunan ini dilekatkan nilai sejarah perjuangan Mobile Brigade dan rakyat Jomerto dalam ikut serta merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dari keinginan kekuatan kolonial yang bermaksud menanamkan kembali kekuasaannya atas Indonesia melalui serangkaian aksi militernya. Keberadaan Monumen Palagan Jomerto dengan demikian ditujukan untuk mengabadikan semangat perjuangan melawan kekuasaan kolonial.

Pengabadian semangat perjuangan secara konkret dalam bentuk monumen membuat semangat perjuangan yang sebenarnya bersifat abstrak dapat terus dikenali oleh generasi-generasi berikutnya. Didasari bahwa semangat perjuangan tidak mustahil tenggelam dan dilupakan bersamaan dengan pergantian generasi. Akan tetapi, dengan mengabadikannya dengan sebuah monumen semangat perjuangan tersebut tetap terus dapat dihadirkan bagi generasi berikutnya meskipun waktu senantiasa berjalan dan berubah.12 Bagi generasi penerus Monumen Palagan Jomerto dapat dipakai sebagai bukti yang memberikan kesaksian mengenai semangat perjuangan dan pengorbanan tanpa pamrih yang telah diberikan oleh Mobile Brigade Polisi dan rakyat Jomerto bagi bangsa dan negara. Pembangunan Palagan ini juga merupakan wujud pengakuan, penghargaan dan penghormatan terhadap pahlawan.13 Ada pepatah menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya.

Pembangunan Monumen Palagan Jomerto ini diprakarsai oleh Bapak Soemardijono bersama dengan beberapa mantan anggota polisi yang ikut terlibat dalam peristiwa pertempuran Jomerto. Pelaksanaan pembangunan monumen ditangani oleh DPU Cipta karya Besuki dan DPU Kabupaten Jember. Pembangunan dimulai tanggal 26 Januari 1984 dan diselesaikan pada tanggal 20 Oktober 1984. Pembangunan monumen dilakukan bersama-sama dengan pembangunan masjid yang terdapat di sebelahnya. Keseluruhan biaya untuk pembangunan monumen dan masjid menghabiskan dana lebih dari 20 juta rupiah. Adapun sumber dana diperoleh dari anggota Polri dan bantuan dari berbagai pihak termasuk Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Jember Suryadi Setiawan.

Penulis        : Cindy Kurnia Fatihah        210210302092

Referensi    :

Buku

Nawiyanto, dkk. 2018. DARI KISAH HINGGA MONUMEN SEJARAH: PALAGAN JOMERTO JEMBER. Yogyakarta : Best Publisher

Wawancara

Wawancara dengan Bapak Suhadi di Jember, 4 Desember 2022

Website

Rizky. 2020. Palagan Jumerto, Monumen Heroik Anggota Kepolisian https://wisato.id/wisata-budaya/palagan-jumerto-monumen-heroik-anggota-kepolisian/  [Di akses pada 6 Desember 2022]

RZ Hakim . 2012. Palagan Jumerto : Catatan Sejarah Jember yang Tercecer https://www.kompasiana.com/acacicu/55182eaa813311cb669deda7/palagan-jumerto-catatan-sejarah-jember-yang-tercecer [Diakses pada 6 Desember 2022]