Kedatangan bangsa Eropa khususnya Belanda ke Nusantara dengan tujuan 3G yaitu Gold, Glory, dan Gospel (Wardhani, 2017:138). Kekuasaan Belanda di Nusantara berawal dari dibentuknya kongsi dagang Belanda tahun 1602 yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie atau yang disebut dengan VOC. VOC mampu menguasai seluruh aspek yang ada di Nusantara yaitu aspek sosial, ekonomi dan politik (Wulandari, 2020:1). Namun, pada tahun 1799 kongsi dagang tersebut mengalami kebangkrutan dan dibubarkan. Terdapat beberapa pendapat menjelaskan bahwa adanya korupsi yang dilakukan oleh para pegawai VOC, mengalami kebangkrutan, dan faktor perang tahun 1783 yang melibatkan Inggris dan Perancis (Poesponegoro & Nugroho, 2008: 51-52). 

        Pada akhir tahun 1795 Pemerintah Belanda memutuskan mengambil alih seluruh kekayaan dan kekuasaan VOC sebagai pelunasan hutang-hutang. Kekayaan VOC yang tidak memiliki kemajuan seperti benteng-bentang atau daerah produksi rempah-rempah di Nusantara, diambil alih oleh negara. Aset-aset tersebut yang menjadi menjadi cikal bakal Negara Kolonial Hindia Belanda (Poesponegoro & Nugroho, 2008:52). 

        Pada tahun 1830-1870 terdapat sistem tanam paksa yang diberlakukan oleh pemerintah Belanda. Sistem tanam paksa membawa keuntungan dipihak pemerintah Belanda sehingga hutang negara Belanda dapat terlunasi dan membawa kemajuan terhadap industry perkapalan. Namun, akibat sistem tanam paksa sangat membuat rakyat menderita dan sengsara. Pada tahun 1870, akhirnya sistem tanam paksa dihapuskan karena alasan rasional ekonomis. Kemudian sistem tersebut digantikan dengan politik liberal yang ternyata tetap membawa keuntungan bagi pihak pemerintah kolonial dan perekonomian masyarakat nusantara mengalami kemrosotan (Suprayitno, 1997: 2-3). Pemerintah kolonial Belanda memiliki tujuan baru yakni pernyataan-pernyataan keprihatinan atas kesejahteraan nusantara. Kebijakannya disebut sebagai Politik Etis yang menjadikan babak baru bagi kolonialisme di Hindia Belanda. Hal ini disebabkan oleh kesejahteraan masyarakat nusantara semakin memburuk saat dilaksanakan politik liberal. Resep Politik Etis ada dalam semboyan tiga program, yaitu: pembangunan Irigasi, Edukasi, dan Emigrasi (Hartono, 2014:4-5).

        Sesuai dengan judul disini akan banyak berbicara tentang arsitektur irigasi yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Menurut Mawardi (dalam Latif, 2016:19) Irigasi adalah usaha untuk memperoleh air yang menggunakan bangunan dan saluran buatan untuk keperluan penunjang produksi pertanian. 

        Potret diatas merupakan bangunan irigasi dari kali Sampean yang ada di Situbondo. Menurut KITLV potret ini diambil oleh bezit van P. van Mourik, Andel yang diterbitkan tahun 1932 (KITLV, 2007). Jika diamati bangunan tersebut memiliki lubang air sekitar 4 dan memiliki libar yang cukup luas diareanya. Bangunannya sangat kokoh. 

        Pada potret kedua dibawah ini merupakan Kali Sampean yang diambil sekitar tahun 1930-1940 (KITLV, 2015). Jika diperhatikn pada ruas nya cukup panjang serta kokoh untuk mengairi pertanian masyarat atau industri lainnya.


Kesimpulan dari analisis potret-potret yang ada di KITLV tentang bangunan irigasi masa pemerintah Belanda memiliki karakteristik yang sama, seperti selalu ada beberapa lubang besar dalam bangunannya, terdapat tingkat-tingkat pada bangunan irigasinya, tempat titik irigasi selalu di sungai atau kali dengan ukuran yang cukup besar.

Referensi:

Arsip

KITLV. (2007a). De Sampean bij Sitoebondo | Digital Collections. Leiden University Libraries. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/910869?solr_nav%5Bid% 5D=fe30ad5b636f6889c72d&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=0

KITLV. (2007b). Stuwdam, vermoedelijk voor irrigatie, in de Kali Sampean bij Pekalan ten westen van Sitoebondo. KITLV. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/782351?solr_nav%5Bid% 5D=c25887aca10955b1b3e2&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=0

Jurnal dan Skripsi

Hartono, M. (2014). REALISASI POLITIK ETIS DI BOJONEGORO PADA AWAL ABAD XX : Kajian Sosial Ekonomi. ISTORIA Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sejarah, 10(1), 1–18. https://doi.org/10.21831/ISTORIA.V10I1.3609 KITLV. (2007). 

De irrigatiedam in de Kali Sampean bij Sitoebondo | Digital Collections. KITLV. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/732652?solr_nav%5 Bid%5D=c07886cb954037a58bf8&solr_nav%5Bpage%5D=1&solr_nav%5 Boffset%5D=19 KITLV. (2015).

Vermoedelijk de Kaili Sampean te Sitoebondo | Digital Collections. Leiden University Libraries. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/930070?solr_nav%5 Bid%5D=176a563563a912182cef&solr_nav%5Bpage%5D=2&solr_nav%5 Boffset%5D=1 

Latif, A. (2016). SISTEM SALURAN IRIGASI TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI DI KELURAHAN TAMARUNANG KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA [UIN Allaudin Makassar]. file:///Users/andreataquez/Downloads/guia-plan-de-mejora-institucional.pdf%0Ahttp://salud.tabasco.gob.mx/content/revista%0Ahttp://w ww.revistaalad.com/pdfs/Guias_ALAD_11_Nov_2013.pdf%0Ahttp://dx.doi. org/10.15446/revfacmed.v66n3.60060.%0Ahttp://www.cenetec. 

Poesponegoro, M. D., & Nugroho. (2008). Sejarah nasional indonesia jilid IV Kemunculan penjajahan di indonesia (Cetakan Kedua). Balai Pustaka. https://books.google.com/books?id=N5jc0h1BktwC&pgis=1 

Suprayitno. (1997). Pengaruh Pelaksanaan Politik Etis Terhadap Politik Sosial Budaya Masyarakat Jawa Tahun 1904-1942. Universitas Jember. 

Wardhani, B. L. (2017). Respon Poskolonial terhadap Intensifikasi Pendidikan Kolonial di Afrika. Jurnal Global & Strategis, 10(1), 137. https://doi.org/10.20473/jgs.10.1.2016.137-151 

Wulandari, D. S. (2020). Irigasi di Afdeling Bondowoso Tahun 1880an Sampai Tahun 1920an. Universitas Airlangga. 


Penulis:

Widuri Nur Aini        210210302030