Pasukan Tjiung Wanara

Pada tanggal 19 November 1946, kira-kira pada jam 22.00, dibawah suasana malam datang I Nengah Merta ke Banjar Ole, Desa Marga, tempat pertahanan MBO DPRI Sunda Kecil. Dia membawa berbagai jenis obat yang telah disiapkan untuk para pejuang. Pada saat itu, beliau membawa informasi untuk kepala pucuk pimpinan, bahwa di pagi hari tanggal 20 November 1946, serdadu Belanda telah merencanakan pengurungan di Desa Marga, yang meliputi Desa Adeng dan Pengembungan. Setelah mendapatkan informasi mengenai pengurungan ini maka pasukan pejuang diperintahkan oleh I Gusti Ngurah Rai untuk segera melakukan perkumpulan kilat dan bersifat khusus. Pada saat tersebut, para pejuang yang telah berkumpul diberikan siasat yang harus dilakukan menyikapi tentang kurungan yang akan dilakukan oleh serdadu Belanda. Pada pertemuan tersebut, terkumpul pasukan sebanyak 96 dengan menggunakan pakaian hitam dengan peci hitam strip merah dan bagian depan terdapat lencana merah putih.

Pasukan tersebut di beri nama Tjiung Wanara yang menceritakan hubungan sangat akrab antara seekor Kera dengan seekor Burung Siung.Sehinga, mungkin dimanifestasikan oleh Bapak I Gusti Ngurah Rai, hubungan akrab antara beliau ( I Gusti Ngurah Rai) dengan anak buahnya (pasukan Tjiung Wanara) yang begitu setia untuk terus bertempur. Mulai dari Tanah Aron, hingga ke daerah Gunung Agung sampai kembali lagi ke Desa Marga, Tabanan.[1]

Para pasukan tersebut itu pun bersumpah dan berjanji, apabila ditakdirkan akan mati mereka ingin mati di Desa Marga dan mereka tidak akan membuka rahasia sekalipun nyawa yang menjadi taruhan-nya. Dalam era perang kemerdekaan, banyak penduduk yang dengan ikhlas mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Banyak rumah penduduk yang dimanfaatkan untuk lubang perlindungan, atau tempat istirahat bagi kalangan pejuang kemerdekaan. Teriakan merdeka atau mati sering terdengar dan menggema dalam pertempuran sesama pejuang.

I Gusti Ngurah Rai adalah seorang pahlawan nasional yang sangat terkenal di Bali, Indonesia. Beliau merupakan pimpinan dari pasukan Tjiung Wanara, sebagai seorang pemimpin I Gusti Ngurah Rai digambarkan sebagai sosok yang gagah perkasa dalam menyerah tangsi musuh, juga bijaksana.Semangat perjuangan melawan penjajah itu muncul akibat dari rasa jenuh untuk tidak di kolonisasi lagi dan menjadi bangsa yang merdeka. Dalam surat saktinya I Gusti Ngurah menyatakan alasan kenapa beliau siap bertempur hingga Belanda lenyap hilang dan lenyap dari tanah Bali. Alasan tersebut, karena kehidupan masyarakat Bali yang semakin menderita, karena penjajahan di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.

I Gusti Ngurah Rai menyatakan perang melawan Belanda dan tidak ingin Belanda kembali lagi menginjak tanah Bali dan Indonesia. Sebagai langkah untuk menyebarkan seruan kemerdekaan, I Gusti Ngurah Rai melakukan gerakan longmarch Gunung Agung, terjadi sejumlah pertempuran seperti; pertempuran di Sekumpul Buleleng, Pangkung Bangka Buleleng, Penyerangan pos Belanda di Lampu Bangli, Pertempuran di Bon Badung, Pemuteran Karangasem, Pesagi Karangasem. Setelah berakhirnya pertempuran di Pesagi akhirnya pasukan I Gusti Ngurah Rai memenangkan pertempuran di tanah Aron.[2]

Pada tanggal 20 November 1946 merupakan puncak perjuangan I Gusti Ngurah Rai berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan tanah Bali untuk Indonesia dari Belanda. Pertempuran yang heroik telah berlangsung antara Pasukan Tjiung Wanara melawan pasukan Belanda yang jauh lebih Unggul dari segi kualitas dan kuantitas personil maupun teknologi persenjataan di darat maupun di udara. Pada pertempuran puputan margarana ini I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Tjiung Wanara gugur. Dari pertempuran ini bisa kita simpulkan bahwa I Gusti Ngurah dan pasukannya tidak ingin menyerah dan tetap teguh dengan semangat puputan dengan teriakan merdeka atau mati.

Peran Pasukan Tjiung Wanara

Pasukan Tjiung Wanara (Ciung Wanara) yang berjumlah 96 orang, termasuk 11 warga negara Jepang yang tercatat dalam pasukan tersebut hanya dapat bertahan 1 hari 1 malam, di mana pasukan tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam pertempuran yang disebut sebagai Pertempuran Puputan Margarana.[3]

Pasukan Tjiung Wanara memulai sebuah Pertempuran Puputan Margarana ini atas perintah dari I Gusti Ngurah Rai selaku pelopor dibentuknya pasukan tersebut untuk melucuti persenjata polisi NICA yang menduduki Kota Tabanan. Perintah yang keluar sekitar pertengahan November 1946, yang mana baru berhasil dilaksanakan tiga hari kemudian. Puluhan senjata lengkap yang di miliki oleh pihak Belanda berhasil direbut oleh Pasukan Tjiung Wanara.

Pasca pelucutan senjata NICA, semua Pasukan Tjiung Wanara kembali dengan penuh bangga ke Desa Adeng-Marga. Perebutan sejumlah senjata api pada malam 18 November 1946 telah membakar kemarahan Belanda. Belanda mengumpulkan sejumlah informasi guna mendeteksi peristiwa misterius malam itu. Tidak lama, Belanda pun menyusun strategi penyerangan. Tampaknya tidak mau kecolongan kedua kalinya, pagi-pagi buta dua hari pasca peristiwa itu (20 November 1946) Belanda mulai mengisolasi Desa Adeng, Marga.[4]

Batalion Tjiung Wanara pagi itu memang tengah mengadakan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Selain penjagaan, patroli juga untuk melihat sejuah mana aktivitas Belanda. Tidak berselang lama setelah matahari menyingsing (sekitar pukul 09.00-10.00), pasukan Tjiung Wanara baru sadar kalau perjalanan mereka sudah dimata-matai dan dikepung oleh serdadu Belanda. Melihat kondisi yang cukup mengkhawatirkan pada saat itu, Pasukan Tjiung Wanara memilih untuk bertahanan di sekitar perkebunan di daerah perbukitan Gunung Agung.

Benar saja dugaan tersebut, tiba-tiba terjadi serangan beruntun mengarah ke pasukan Tjiung Wanara. I Gusti Ngurah Rai selaku pemimpin pasukan pada saat itu memang sudah gerah dengan semua polah tingkah Belanda, akhirnya mengobarkan api perlawanan. Aksi serang menyerang dengan tembakan pun tak terelakkan. Pagi yang tenang seketika berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan sekaligus mendebarkan. Psaukan Tjiung Wanara cukup terkejut dengan kejarian tersebut, karena mereka tidak mengira akan terjadi pertempuran hebat semacam itu.[5]

Lecutan senjata terdengar di segala sisi daerah Marga. Pasukan Nedherland Indische Civil Administration (NICA) bentukan Belanda, yang merasa dihina dengan peristiwa malam itu sangat ambisius dan brutal menggempur Desa Marga dari berbagai arah. Serangan hebat pagi itu tak kunjung membuat Pasukan Tjiung Wanara dan I Gusti Ngurah Rai Menyerah. Serangan balik dan terarah membuat Belanda kewalahan.

Sederetan pasukan lapisan pertama dari pihak Belanda pun tewas dengan tragis. Dapat diakui strategi perang yang digunakan I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Tjiung Wanara saat itu memang terdengar tidak begitu jelas. Namun, kobaran semangat juang mereka begitu terasa. Pantang menyerah, biarlah gugur di medan perang, menjadi prinsip mendarah daging di tubuh I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Tjiung Wanara. Seketika akibat pertempuran hebat tersebut, kebun jagung dan palawija berubah menjadi genosida manusia. Ada yang menyebutkan, saat itulah I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menerapkan puputan, atau prinsip perang habis-habisan hingga nyawa melayang.

Demi menghanguskan Desa Marga, Belanda terpaksa meminta semua militer di daerah Bali untuk datang membantu. Belanda juga mengerahkan sejumlah pesawat tempur untuk membombardir Desa Marga. Kawasan marga yang permai berganti kepulan asap, dan bau darah terbakar akibat serangan udara dari Belanda. Perang sengit di Desa Marga berakhir dengan gugurnya I Gusti Ngurah Rai dan semua pasukannya yakni Pasukan Tjiung Wanara.

Pertempuran Puputan Margarana ini menyebabkan sekitar 96 gugur sebagai pahlawan bangsa, sementara di pihak Belanda, lebih kurang sekitar 400 orang tewas. Mengenang peperangan hebat di desa Marga maka didirikan sebuah Tuguh Pahlawan Taman Pujaan Bangsa. Tanggal 20 November 1946 juga dijadikan hari perang Puputan Margarana. Perang ini tercatat sebagai salah satu perang hebat di Pulau Dewata dan Indonesia.[6]

Dari pemaparan di atas, dapat peneliti ketahui bahwa Pahlawan nasional Indonesia dari Bali, I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan kecil yang dinamainya Pasukan Tjiung Wanara, di mana pasukan ini bertujuan dan memiliki peran untuk menghalau pengaruh Belanda di Bali untuk membentuk Negara Indonesia Timur setelah disetujuinya Perjanjian Linggarjati dan mengembalikan Bali dibawah kendali pemerintahan Indonesia. Pasukan Ciung Wanara yang jumlahnya tidak lebih dari 100 personil (sekitar 96 orang) ini seluruhnya gugur dalam pertempuran Puputan Margarana melawan pasukan NICA Belanda di Tabanan pada November 1946.

Tim Penulis    :

Ike Nurrohmah            210210302030

Na’imatus Sa’diyah     2102103020

Referensi:

Alit, Made, Dewa. (2015). Peranan Masyarakat Dalam Perang Kemerdekaan: Studi Kasus Desa Marga Dalam Peristiwa Puputan Margarana 20 Nopember 1946. Vol. 03. NO. 1 Februari 2015. Prodi Pendidikan Sejarah FPIPS IKIP PGRI Bali.

Histeria. Pasukan Ciung Wanara Hanya Berumur Satu Hari. https://www.sejarahbali.com/read/ pasukan-ciung-wanara-hanya-berumur-satu-hari?page=3

Permatasari, Ayu, Shindi & I Gusti Agung Oka Mahagangga. (2018). Studi Komparasi Taman Kota Lumintang Dan Taman Kota Puputan Margarana Niti Mandala Renon Sebagai Sarana Leisure And Recreation. Jurnal Destinasi Pariwisata: Vol. 6 No 2, 2018. Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana.

Pramartha, Bayu, Nyoman, I & Ni Putu Yuniarika Parwati. (2023). Nilai Pendidikan Karakter Perjuangan I Gusti Ngurah Rai Dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Serta Potensinya Sebagai Sumber Pembentukan Karakter Bangsa. Widyadari: Vol. 24 No. 1, Hlm 43-54. Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. DOI: 10.5281/zenodo.7813377

Suara dari Pulau Dewata. Ciung Wanara Khusus Gusti Ngurah Rai. https://www.suaradewata.com/read/17/ciung-wanara-pasukan-khusus-gusti-ngurah-rai.html

Wawancara dengan Bapak I Gede Putu Abdiasa pada Tanggal 21 Juni 2023.



[1] Wawancara dengan Bapak I Gede Putu Abdiasa pada Tanggal 21 Juni 2023.

[2] Pramartha, Bayu, Nyoman, I & Ni Putu Yuniarika Parwati. (2023). Nilai Pendidikan Karakter Perjuangan I Gusti Ngurah Rai Dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Serta Potensinya Sebagai Sumber Pembentukan Karakter Bangsa.

[3] Wawancara dengan Bapak I Gede Putu Abdiasa pada Tanggal 21 Juni 2023.

[4] Suara dari Pulau Dewata. Ciung Wanara Khusus Gusti Ngurah Rai. https://www.suaradewata.com/read/17/ci ung-wanara-pasukan-khusus-gusti-ngurah-rai.html

[5] Ibid

[6] Ibid