Pendahuluan

Jika dilihat di era modern ini, jiwa nasionalisme anak muda semakin memudar. Di era modern ini, anak muda lebih senang untuk bermain gadget dan aktif di sosial media. Hal ini sangat miris dilihatnya. Permasalahan seperti ini harus cepat ditanggapi, jika tidak cepat diatasi maka jiwa nasionalisme anak muda akan hilang. Solusi yang mungkin bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme anak muda lagi dengan mengajaknya studi lapangan, misalnya melakukan penelitian ke sebuah museum, melakukan penelitian ke sebuah situs, dan lain sebagainya.

Agar mereka tahu berbagai peristiwa sejarah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, begitu pula bangsa Indonesia yang pernah mengalami pasang surutnya tatanan kehidupan berbangsa. Selama berabad abad Indonesia berada di tangan penjajah. Selama berada di tangan penjajah, perlawanan – perlawanan terhadap penjajah tersebut tidak terhindarkan dan memakan banyak korban baik itu jiwa maupun harta. Perlawanan – perlawanan dimulai sejak masa kerajaan – kerajaan di bawah pimpinan raja – raja, pangeran, tokoh adat dan para pejuang bangsa lainnya. Sikap anti penjajah yang menggerakkan perlawanan raja – raja beserta rakyatnya. Seperti perlawanan rakyat Bali khususnya “Perang Puputan Margarana”. (Dewa, M.A. 2).

Perang Puputan Margarana terjadi pada tanggal 20 November 1946. Perang ini terjadi di desa Marga, kecamatan Margarana, Tabanan Bali. Pertempuran ini dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai selaku raja Kepala Divisi Kecil. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya bertempur habis habisan menghadapi Belanda. Terjadinya perang ini dikarenakan Belanda berambisi untuk membentuk Negara Indonesia Timur, namun I Gusti Ngurah Rai menolaknya dan ada rasa kekecewaan terhadap isi perjanjian Linggarjati 1yaitu Belanda hanya mengakui wilayah Madura, Jawa dan Sumatra secara de facto2. Hal inilah yang menimbulkan peperangan. Pada tanggal 18 November 1946, markas pertahanan Belanda di Tabanan di serang secara habis habisan. Hal ini membuat Belanda marah besar dan mengarahkan pasukannya untum mengepung Bali khususnya Tabanan. Belanda mengirimkan pasukan ‘Gajah Merah’, ‘Anjing Hitam’, ‘Singa’, ‘Polisi Negara’, dan ‘Polisi Perintis’. Selain itu, Belanda juga mengirimkan tiga pesawat miliknya. Pasukan memulai serangannya pada tanggal 20 November 1946 tepat pada pukul 05.30 WITA.(Kompas.com)

Mereka menembaki area pasukan warga Bali. Pasukan dari Bali tidak cukup senjata sehingga sementara tidak ada penyerangan balik. Sekitat pukul 09.00 WITA pasukan Belanda mulai mendekat dari barat laut. Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan, 17 korban dari Belanda ditembak mati oleh pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Setelah mengetahui pasukannya kalah, Belanda melakukan penyerangan dadi berbagai arah. Namun penyerangan Belanda gagal dikarenakan pasukan Ciung Wanara berhasil melakukan serangan balik. Setelah itu, Belanda sempat menghentikan serangannya selama satu jam, namun tak lama kemudian Belanda melakukan penyerangan kembali. Belanda mengirimkan banyak pasukan dan pesawat terbang pengintai. Serangan ini kembali digagalkan oleh pasukan Ciung Wanara. Akhirnya Belanda dan pasukannya mundur sejauh 500 meter ke belakang untuk menghindari pertempuran. Hal ini merupakan kesempatan bagi I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya untuk meloloskan dari kepungan musuh. Dalam perjalanan meloloskan diri, tiba tiba Belanda mengirimkan pesawat terbang untuk memburu I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya. Untuk terakhir kalinya, I Gusti Ngurah Rai menyerukan “Puputan” yang berarti habis habisan. I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya bertempur melawan Belanda hingga titik darah penghabisan.

Dari penjelasan diatas, bahwa perang Puputan Margarana sangatlah besar pengorbanannya. Dari pengorbanan tersebut dibuatlah sebuah bangunan monumen untuk mengenang jasa – jasa para pahlawan yang sudah bertempur habis – habisan. Oleh karena itu, dalam penulisan artikel ini, kami mengangkat sebuah permasalahan bagaimana representasi dan interpretasi keyakinan pada struktur bangunan monumen Taman Pujaan Bangsa Margarana.

Hasil

Dalam upaya mengenang dan mengabadikan jasa – jasa pahlawan dan para pejuang yang telah gugur di Bali, maka pada tahun 1953 munculah suatu gagasan untuk mendirikan sebuah Monumen yang sekarang dikenal sebagai Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana. Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana merupakan lokasi bersejarah yang pernah dijadikan arena pertempuran yang sangat dahsyat yaitu Perang Puputan Margarana. Selain menjadi lokasi bersejarah Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana merupakan wisata edukasi bersejarah bagi para generasi sekarang. Tidak terlepas dari kepariwisataannya saja yang menjadi daya Tarik bagi wisatwan yang berlibur ke Bali, namun juga bentuk dari struktur penataan Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana memiliki arti sejarah, kepercayaan hingga makna rasa persatuan dan kesatuan agama. Didirikannya Monumen ini karena ide cemerlang dari beberapa tokoh Veteran Pejuang Kemerdekaan RI (Abdiasa, 2023). Setelah itu monument ini berdiri dengan arsitektur yang bagus dan tertata karya I Nengah Wirtha Tamu atau yang lebih dikenal dengan Pak Tjilik (Ketua YKP Daerah Tingkat I Bali Tahun 1951 sd 1968) dengan gagasan yaitu membangun sebuah candi sebagai tempat utama pada monumen ini dikarenakan dalam kepercayaan agama hindu sebuah candi merupakan gambaran kemegahan dan kebesaran, sehingga bangunan candi ini dapat diartikan sebagai keagungan jiwa para pahlawan yang sudah gugur dalam pertempuran Puputan Margarana.

Alasan dipilihnya daerah persawahan Uma Kaang, desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali ini karena lokasi inilah perang puputan terjadi. Selain itu sebelum candi terbentuk peninjauan awal ke daerah tersebut yang dilakukan pada tahun 1950, perencanaan dan persiapan pembuatan Candi Pahlawan Margarana diadakan pada tahun 1953, dengan diadakannya sayembara (Abdiasa, 2023). Pada tahun 1953 Pak Tjilik menuangkan kekreatifitasannya kepada Pak Kalem yang menjadi juru lukisnya setelah itu kekreatifitasannya berupa lukisan Candi Pahlawan Margarana itu sudah selesai dan menjadi pemenang dalam sayembara tersebut. Dalam Pembangunan Candi ini tidak lepas dari koordinasi Pak Tjilik selaku arsitektur bangunan dan Candi ini resmi diresmikan pada tanggal 20 November 1954 yang bertepatan dengan Hari Puputan Margarana yang ke VII.

Menurut Bapak I Gede Putu Abiyase (2023) Pada struktur rencana bangunan Monumen Taman Nasional Taman Pujaan Bangsa Margaran bangunan ini berada pada area seluas 9 ha dan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu bagian hulu, tengah, dan hilir, penjelasannya sebagai berikut:

A.  Bagian Hulu, pada bagian hulu ini wilayah utama dengan luas 4 ha yang terdiri dari bangunan Candi Puputan Margarana, Balai Peristirahatan, Patung Lambang Panca Bakti, Gedung sejarah atau Museum, Taman Bahagia (Taman Nisan) serta Taman Suci.

B.   Bagian Tengah, pada bagian tengah wilayah ini dengan luas 1 ha yang terdiri wantilan, parkir kendaraan, warung kopi

C. Bagian Hilir, pada bagian wilayah ini luas daerah 4 ha yang terbagi dalam taman bumi perkemahan yang dulunya menjadi taman karya alam.


Pembahasan

Bangunan asritektur pada Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margrana ini memiliki makna tersendiri.

Candi Pahlawan Margarana



Menurut Bapak I Gede Putu Abiyasa (2023) Bangunan ini merupakan lambang penjiwaan dari proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu pada 17 Agustus 1945 yang berdasar pada Pancasila. Tiap bangunan memiliki arti dan makna tertentu sebagai berikut,

  • Dasar candi yang berbentuk segi lima memiliki arti dari Pancasila yang menjadi dasar perjuangan bangsa Indonesia.
  • Tinggi Candi 17 Meter memiliki arti yaitu tanggal proklamasi kemerdekaan
  • Atap Candi yang bersusun 8 rangkap memiliki arti bulan agustus yaitu bulan proklamasi kemerdekaan
  • Tangga dasar candi yang bertingkat 4 serta 5 pilar pada setiap sisi yang berarti tahun 45 yakni tahun proklamasi kemerdekaan
  • 5 tiang sudut yang berdiri dengan lambing Pancasila yang berarti pencerminan dasar Pancasila dalam jiwa bangsa Indonesia
  • Stupa bulat di atap dasar candi memiliki arti kebulatan tekad dari para seluruh rakyat serta para pejuang tentang mempertahankan kemerdekaan.
  • Pada bagian bawah candi terdapat ukiran Karangmanuk berbentuk burung garuda yang diyakini umat hindu sebgai kendaraan Dewa wisnu yang memiliki arti sebagai penuntun roh suci menuju ke alam surga.
  • Diatas lubang pintu terdapat ukiran Karanghoma yang melambangkan dewa Kala yang berarti penolak aura negative.
  • Setiap sisi candi juga terdapat isi surat balasan I Gusti Ngurah Rai kepada Tuan Termulen (Belanda) yang memvisualisasikan jiwa patriotism rakyat bali.

1.      Balai Peristirahatan

Terdapat 2 balai peristirahatan pada TBP ini yakni yang terletak di bagian barat dan bagian timur. Fungsi dari kedua balai ini merupakan tempat upacara secara nasionalis ataupun religious yang akan dilakukan setiap tanggal 20 November.

2.      Patung Panca Bakti

Patung panca bakti merupakan bangunan yang menyimbolkan sikap patritisme dan nasionalisme para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan RI. Dalam patung tersebut terdapat 5 patung yang terdiri: pemuda, petani, buruh, alim ulama, serta satu Wanita dengan membawa bendera merah putih. Serta dalam sisi kolam yang dihiasi dengan ukiran kebudayaan bali dari yang asli hingga kebudayaan bali yang terpengaruh saat kemerdekaan dengan berdasar pada Pancasila.

3.      Taman Bahagia (Taman Nisan)


Pada bagian bangunan ini terdapat 1372 nisan tanpa jenazah dengan ciri khas yang berbeda setiap nisan. Arsitektur yang membedakan nisan satu dengan nisan lainnya yaitu pada keterangan symbol keagamaan yang sekaligus mencerminkan agama yang dianut pada setiap pahlawan yang gugur. Dalam 1372 nisan tersebut terdapat 96 pejuang ciung wanara dan 1 nisan I Gusti Ngurah Rai serta beberapa pejuang dari jepang dan pejuang lainnya yang gugur dalam perang Bali lainnya (Abdiasa, 2023).

4.      Museum Margarana

Bangunan ini merupakan tempat penyimpanan barang bersejarah perjuaangan perang Puputan Margarana. Didalam bangunan ini terdapat baju bersejarah I Gusti Ngurah Rai, Persenjataan Asli yang digunakan Perang hingga teknologi animasi dari orang jepang kepada Museum tersebut. Didirikannya museum ini digunakan untuk generasi selanjutnya bisa melihat dan menilai serta mengembangkan peristiwa bersejarah tersebut.

5.      Taman Suci



Bangunan ini merupakan tempat pensucian bagi para wisatawan yang mau berkunjung pada Monumen Nasional TPB Margarana ini, namun kebijakan ini belum diberlakukan

6.      Bumi Perkemahan


Bangunan yang berada di hilir ini dulunya dijadikan karya alam yaitu berfungsi sebagai untuk rekreasi para wisatawan dan pembinaan ekonomi social masyarakat. Namun, pada tahun sekarang dialih fungsikan sebagai bumi perkemahan.

Referensi:

Abdiasa, I. G. (2023). Wawancara. Bali

 

Alit, D. M. (2015). Peranan Masyarakat Dalam Perang Kemerdekaan: Studi Kasus Desa Marga Dalam Peristiwa Puputan Margarana 20 Nopember 1946. Jurnal Prodi Pendidikan Sejarah FPIPS IKIP PGRI Bali, 03(2), 10–17.

Kristianingrat, I.G.A. Kertih, I. W. (2019). Menggali Nilai - Nilai Kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai sebagai Sumber Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS. Jurnal Pendidikan IPS Indonesia. 03(2).

Putri, V. K. M. 2021. Puputan Margaran, Pertempuran Rakyat Bali Mengusir Belanda.

Diakses pada pada tanggal 23 Juni 2023.

 

Sugiantiningsih, A. A. P., Yowana, I. M. A., Yunita, I. M., Yasa, I. G. P., Noor, M., & Saputra, I. G. O. (2023). Pengelolaan Taman Pujaan Bangsa di Margarana Tabanan Bali. International Journal of Community Service Learning, 7(1).


https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/16/131749269/puputan-margarana- pertempuran-rakyat-bali-mengusir-belanda?page=2