Pada Situs Kutho Dawung di Desa Paleran terdapat petak-petak yang terdiri dari bata-bata merah dan memiliki corak berupa lengkungan-lengkungan. Kondisi di Situs Kuto Kedawung ini sudah tidak terawat karena kurangnya kesadaran masyarakat. Petak-petak tersebut oleh masyrakat dibuat sawah dan pengairan sehingga kondisi situs Kedawung terkesan tidak terawat. Terdapat dugaan, tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat bermukim penduduk. Fungsi dari batu merah tersebut Fungsi dari batu bata tersebut dikatakan sebagai pondasi bangunan pada masa kerajaan Majapahit. 

Situs ini termasuk ke dalam zaman klasik yaitu pada zaman kerajaan Blambangan dibawah kerajaan Majapahit. Di daerah ini terdapat sisa-sisa peninggalan pada zaman dahulu berupa batu bata yang ukurannya tidak seperti batu bata pada saat ini. Batu bata tersebut mempunyai corak yaitu setengah lingkaran (lengkung). Di situs Kutho Dawung, batu bata kuno ini sudah hancur dan ditemukan berserakan di sekitar rumah warga setempat bahkan ada di persawahan yang dijadikan jalan bahkan untuk irigasi sawah di tempat tersebut.

Pada situs Beteng di Desa Sidomekar Semboro wilayahnya lebih terstruktur dan terkesan rapi. Karena pada wilayah tersebut barang-barang peninggalan masih dirawat dengan baik bahkan oleh juru kunci dibuatkan replika pintu masuk (paduraksa). Pada situs ini ditemukan peninggalan batu dengan corak yang sama dengan di situs Kuto Kedawung. Selain itu, disini juga ditemukan sejenis senjata seperti Keris dan Tombak. Sehingga tempat ini dulunya diduga sebagai gerbang pintu masuk ke Kuto Kedawung.

Pada situs Beteng ditemukan juga koin-koin Tionghoa lama serta pecahan-pecahan keramik. Hal ini menunjukkan bahwasannya dulu terdapat interaksi antara masyarakat sekitar dengan masyarakat Tionghoa. Di situs ini ditemukan juga seperangkat lingga yoni yang diduga digunakan masyarakat untuk menumbuk padi, disisi lain lingga yoni ini diartikan sebagai perwujudan laki-laki dan perempuan pada masa Hindu-Buddha. Di sini juga ditemukan pahatan dengan bentuk yang mirip dengan hidung. Hal ini diduga merupakan pecahan dari suatu patung (kemungkinan dewa-dewi karena ukurannya yang besar). Di sini juga ditemukan juga sebuah sumur kuno dan batu gosok yang diduga tempat ini dulunya dipakai sebagai tempat untuk mandi dan menimba air untuk keperluan hidup masyarakat.

Kesimpulan

Menurut pengamatan yang telah dilakukan, terdapat dugaan bahwasannya adanya keterkaitan antara Situs Beteng yang ada di desa Sidomekar dengan Situs Kuto Kedawung yang ada di desa Paleran. Hal ini menunjukkan bahwasannya wilayah Kuto Kedawung itu memiliki luas dua Kecamatan tersebut. Yang dimana pintu gerbangnya ada di desa Sidomekar dan pemukiman utamanya ada di di desa Paleran. Selain itu kelompok juga menyimpulkan bahwa adanya kontak antara masyarakat Kuto Kedawung dengan dunia internasional.