Terjadinya peristiwa Revolusi Perancis tidak serta – merta terjadi begitu saja. Peristiwa Revolusi Perancis pasti ada peristiwa sebelumnya yang menjadi salah satu latar belakang terjadinya Revolusi Perancis, setelah itu penyebab terjadinya Revolusi Perancis, jalannya Revolusi Perancis serta akibat dari adanya Revolusi Perancis.
A. Sebelum Terjadinya Revolusi Perancis
Sebelum terjadinya Revolusi Perancis, ada peristiwa bernama zaman rezim lama. Rezim lama terjadi sebelum revolusi Prancis berlangsung. Rezim lama ini bisa disebut dengan L’ Ancien Regiem. Rezim lama adalah masa dimana Prancis berada di bawah pemerintahan monarki absolut yang diperintah oleh Raja Louis XVI. Rezim lama ini disebut dengan sistem ekonomi yang usang. Pada masa rezim lama ini, tersedia lahan untuk menanam gandum, serta cara – cara tradisional yang digunakan untuk bercocok tanam oleh para petani. Sekitar tahun 1708 dan 1741, Prancis mengalami masa krisis. Dapat dilihat dengan adanya kelangkaan gandum yang kemudia berimbas dalam tingginya harga roti. Puncak dari krisis ekonomi yaitu adanya kelaparan yang kemudian berimbas pada kematian penduduk yang jumlahnya lumayan banyak, terutama dari rakyat golongan bawah. Keadaan sosial masyarakat pada saat ini terbagi menjadi tiga golongan yaitu golongan bangsawan, golongan borjouis, dan golongan masyarakat miskin yang biasanya menjadi petani. Pada masa rezim lama, keadaan petani benar – benar tertekan. Para petani terikat dengan kaum – kaum feodal yang menguasai tanah – tanah yang mereka garap dan pemberlakuan pajak yang menambah petani itu tertekan. Dalam aspek keagamaan. Prancis pada zaman rezim lama didominasi oleh agama Katholik. Dalam aspek politik sudah dijelaskan diatas bahwa Prancis berada dibawah kekuasaan Raja Louis XVI dengan sistem pemerintahan monarki absolut. Raja adalah pemimpin birokrasi yang dipusatkan di Istana Versailles dan penjara Bastille merupakan lambang dari rezim lama.
B. Penyebab Terjadinya Revolusi Perancis
1.
Penyebab khusus
terjadinya Revolusi Perancis yaitu Dalam Perang
Kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1780, Prancis membantu Amerika dalam perang dikarenakan Prancis merupakan musuh bebuyutan Inggris. Prancis mengirimkan pasukan untuk membantu Amerika dengan
dipimpin oleh Jenderal Marquis de Laffyette. Setelah kembali dari
Amerika, tentara – tentara Prancis membawa pengaruh euphoria kebebasan
di Prancis. Hal ini bisa dilihat dari adanya pemberosan uang Negara untuk mengadakan pesta – pesta mewah di Istana Versailles oleh
Permaisuri Marie Antoinette.
Permaisuri tersebut sering dijuluki madame Deficit.
2. Penyebab umum terjadinya Revolusi Perancis
a.
Pertama, dapat dilihat dari pemerintahan yang bersifat absolut.
Pemerintahan bersifat absolut berarti pemerintahan tersebut di pegang sepenuhnya oleh pusat atau berada di tangan raja. Pemerintahan yang absolut tidak mengenal akan desentralisasi atau otonomi daerah. Pemerintahan absolut yang terjadi di Perancis terjadi sejak lama. Pemerintahan absolut dianggap tidak mencerminkan kemanusiaan dan tidak ada kebebasan bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapatnya.
Pemerintahan absolut yang terlalu kaku dalam menghadapi perubahan dunia. Penyebab lainnya yaitu adanya sebuah ambisi yang berkembang dan dipengaruhi oleh ide Pencerahan dari kaum borjuis, kaum petani, para buruh, dan individu dari semua kelas yang merasa disakiti. Sementara revolusi berlangsung dan kekuasaan berubah dari monarki menjadi ke badan legislatif, semua kepentingan yang berbenturan dari kelompok – kelompok yang semula bersekutu ini kemudian menjadi sumber konflik dan pertumpahan darah.
b. Kedua, pada abad ke-18 muncul aliran rasionalisme dan aufklarung
Pada abad 18 muncul aliran nasionalisme dan aufklarung sebagai akibat dari Renaisance dan Humanisme. Dengan kritik – kritik yang tergolong tajam dari mereka untuk menghantam dan melenyapkan berbagai kesalahan. Perenan mereka yaitu sebagai pendorong munculnya sebuah Revolusi Prancis karena Prancis pada waktu itu penuh dengan kesalahan.
c. Ketiga, munculnya sebuah aliran romantika.
Aliran romantika yaitu sebuah paham yang menganggap perasaan dan kepribadian itu lebih penting daripada rasio. Aliran romantik menganjurkan agar masyarakat Eropa kembali pada alam. Aliran romantik mulai muncul pada tahun 1750 sebagai reaksi dari kemunculan aliran Rasionalisme. Aliran romantik sangat menghargai insting sehingga dengan dengan insting tersebut nantinya merajalela di kalangan rakyat jelata dan mengharuskan dan meneruskan perjuangan yang tidak mungkin diselesaikan oleh Rasionalisme. Salah satu tokoh aliran romantik yaitu J.J. Rousseau.
d. Keempat, pengaruh dari paham – paham perang kemerdekaan di Amerika
Paham – paham
dari perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1774 – 1783. Pada saat peperangan, Prancis mengirimkan tentaranya
yang langsung di pimpin oleh Lafayette
untuk membantu Amerika dalam perang. Namun, setelah kembali dari perang, mereka terpengaruh oleh paham baru mengenai
hak – hak asasi manusia dan demokrasi
sehingga mereka berkeinginan untuk mengubah pemerintahan Prancis yang absolut, menindas rakyat, dan tidak mengenal
hak asasi manusia.
e. Kelima, pengaruh feodalisme di Eropa yang berasal dari abad pertengahan
Pembagian otoritas yang tidak merata menyebabkan
munculnya golongan bangsawan yang mempunyai
hak istimewa yaitu bertindak semena – mena terhadap rakyat. Para bangsawan juga menghisap semua rakyat dan rakyat pun masih dibebani
dengan pajak. Sehingga
ketidakadilan ini yang menyebabkan revolusi Prancis meletus.
f. Keenam, monarki absolut yang begitu buruk.
Pada masa
pemerintahan Raja Louis XVI
dianggap kekuasaan absolut yang begitu buruk, dengan sifatnya yang despotis, sehingga orang – orang yang mengkritik kebijakan kerajaan akan
ditindas dengan kejam. Hal ini
berakibat pada kehidupan masyarakat yang tidak ada kemerdekaan. Kemudian feodalisme, yaitu adanya jaminan hidup bagi
golongan bangsawan dan binarawan di
atas golongan rakyat yang tidak mempunyai hak. Ada juga substitutiestelsel yaitu sistem perwalian yang menempatkan golongan rakyat yang menjalankan kewajiban dengan menerima gaji yang kecil. Kemudian
untukadministrasi negara menjadi kacau dan banyak yang melakukan tindak
korupsi.
g. Ketujuh, adanya vacuum of power
Vacum of power yaitu kekosongan kekuasaan di Prancis pada saat itu. Padahal hal ini merupakan faktor yang sangat berbahaya bagi
sebuah negara karena merupakan
peluang bagi musuh – musuh negara untuk menjatuhkan dan menguasai negara tersebut. Hal inilah yang terjadi di Prancis sehingga
mendorong masyarakatnya untuk
mengadakan sebuah reformasi dan revolusi untuk mengisi kekosongan kekuasaan pemerintahan tersebut (Sumardi, 2019 : 63 – 67).
C. Berlangsungnya Revolusi Perancis
Secara garis
besar berlangsungnya Revolusi Perancis yaitu sebagai berikut
1.
Pada tanggal 5 Mei 1789 diselenggarakan Etats Genereux yaitu dibukanya
kembali Dewan Permusyawaratan Rakyat.
2.
Pada tanggal 17 Juni 1789 diselenggarakan Assemblee Nationale yaitu
pembentukan Dewan Nasional oleh perwakilan rakyat Perancis.
3.
Tahun 1789 – 1791 diselenggarakan Constituante yaitu adanya pemerintahan
baru dari pemerintahan lama menjadi pemerintahan baru.
4.
Tahun 1792 – 1795 di bidang legislatif terbentuk pemerintahan borjuis
dengan bentuk negara berupa constitutionale monarchi.
5.
Tahun 1795 – 1799 terjadi convention yaitu pemerintahan rakyat jelata di
bawah pimpinan Robespiere dengan bentuk republik.
6.
Pada tahun 1795 1799 terjadi
directoire yaitu pemerintahan borjuis dengan membagi kekuasaan eksekutif kepada
lima orang direktur.
7.
Pada tahun 1799 – 1804 terjadi consulat yaitu pemerintahan yang dipimpin
oleh tiga orang consul dan mulai muncul Napoloen sebagai penguasa yang
otoriter.
Setelah
penjelasan secara garis besar, selanjutnya pembahasan secara terperinci
bagaimana jalannya Revolusi Perancis ini.
Revolusi Perancis dimulai pada
tanggal 17 Juni 1789, namun diresmikan pada tanggal 14 Juli 1789 dengan
diserbunja Penjara Bastile.
Sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya bahwa bangsawan menolak untuk
membayar pajak dan mengusulkan untuk membuka kembali
Etats Generaux (Dewan Permusyawaratan
Rakyat). Permintaan dari golongan bangsawan tersebut disetujui oleh raja dengan dibukanya kembali dewan tersebut pada 5 Mei 1789, kemudian diadakan sidang yang diikuti oleh tiga golongan yaitu golongan I, II dan
III. Dalam persidangan ternyata terjadi perselisihan antara golongan I dan II dengan golongan Ill mengenai
permasalahan pengar bulan suara. Pengaruh
raja yang begitu lemah, menyebabkan raja 1 dapat mengatasi perselisihan tersebut. Akibatnya, golongan III semakin berani
untuk tetap beroposisi dan rakyat pun
semakin bertambah percaya diri (Djaja, M,
2018 : 118)
Pada 17 Juni 1789 wakil-wakil
golongan III memproklamasikan Etats Generaux sebagai Assemblee Nationale (Dewan Nasional) yang mengubah sidang
golongangolongan menjadi sidang seluruh rakyat tanpa golongan. Hal ini
merupakan suatu revolusi karena
pada hakikatnya hal tersebut menunjukkan perubahan suatu masyarakat yang feodalistis menjadi demokratis. Pada 20 Juni 1789 Assemblee
Nationale bersumpah bahwa mereka tidak
akan bubar sebelum Prancis mempunyai UUD dan mereka menamakan diri sebagai Constituante. Setelah itu, banyak di antara
kalangan bangsawan dan agamawan yang
menggabungkan diri ke dalam Constituante tersebut. Perintah raja untuk membubarkan Constituante pun mengalami kegagalan ((Djaja, M, 2018 : 119)
Pada 14 Juli 1789 rakyat Prancis
menyerbu penjara Bastile yang merupakan
lambang absolutisme monarki karena di dalamnya
dipenjarakan para pemimpin rakyat yang dulu berani menentang kekuasaan dan kesewenangan pemerintah monarki absolut. Alasan penyerangan terhadap Penjara Bastile tersebut adalah
adanya kabar bahwa raja yang gagal
membubarkan Constituante telah mengumpulkan tentara di sekitar Paris untuk menggagalkan revolusi dan rakyat pun membutuhkan
senjata untuk mempertahankan diri, sehingga mereka berusaha mengambil
persediaan senjata di Penjara Bastile.
Dengan direbutnya penjara tersebut
dianggap sebagai permulaan dari revolusi dan dijadikan sebagai "Hari Nasional Prancis." Bendera Bourbon
(raja) pun diganti dengan bendera nasional
(biru, putih, merah), dan tentara nasional dibentul: di bawah pimpinan Lafayette. Dengan direbutnya penjara tersebut dianggap sebagai permulaan
dari revolusi dan dijadikan sebagai
"Hari Nasional Prancis." Bendera Bourbon (raja) pun diganti dengan bendera nasional (biru, putih, merah), dan tentara nasional dibentuK di
bawah pimpinan Lafayette.
Selanjutnya yang dilakukan oleh
pemerintahan baru adalah menghapus Encien Regime (pemerintahan lama) dan menyusun
pemerintahan baru Perighapusan dijalankan secara tegas, semua hak-hak istimewa
dan sebutan-sebutan bangsawan
dihapuskan, gilda dihapuskan sehingga perdagangan menjadi bebas. Kaum agama dijadikan pegawai biasa dan semua milik gereja disita, Hal ini
menimbulkan pertentangan antara kaum
revolusioner Prancis dengan paus di Roma. Akibatnya, kaum agama dianggap sebagai musuh revolusi dan revolusi menjadi bersifat
antiagama Katolik Roma. Selain itu,
pemerintahan lama yang telah hancur digantikan oleh pemerintahan baru yang disusun oleh kaum revolusioner. Dasar dari
pemerintahan baru ini adalah
Declaration des droits de l'homme et du citoyen, yaitu pernyataan hak-hak manusia dan warga negara, yang diumumkan pada 27 Agustus 1789 ((Djaja, M, 2018 : 120).
Pada 14 juli 1790 UUD Prancis telah
berhasil dirancang dan disahkan. Pada masa ini terjadi pertentangan antara
partai pemenang, yaitu antara Gironde dan Montagne. Namun, pertentangan ini akhirnya
dimenangkan oleh kelompok Gironde. Sehingga Prancis menjadi negara
constitutionale monarchie. Sifat Constituante adalah liberal. Rakyat dipimpin dan
diperintah oleh kaum borjuis yang menggantikan kedudukan bangsawan dan merupakan
bangsawan baru di Prancis. Setelah penyusunan UUD selesai, maka Constituante
bubar pada 1791 dan digantikan dengan
pemerintahan yang disebut Legislati Pada masa ini penuh dengan kekacauan karena terjadinya perebutan kekuasaan antara kaum borjuis (bangsawan
baru) yang menginginkan monarki
konstitusional dengan rakyat jelata yang menghendaki negara republik.
Kekacauan ini dipicu oleh masalah
raja. Kaum borjuis menginginkan negara
Konstitusional Monarki karena memandang bahwa raja
yang lemah akan berguna bagi mereka sebagai
alat dan perisal untuk mengendalikan rakyat yang semakin tidak terkontrol,
sehingga perjuangan rakyat untuk ikut merasakan hasil revolusi dituduh oleh kaum Borjuis sebagai tindakan anarki. Di lain pihak, rakyat jelata
menghendaki negara berbentuk
Republik. Hal itu karena raja tidak dapat mereka percayai lagi, retelah raja melakukan pelanggaran sumpah setianya terhadap UUD, sehingga dalam
penilaian rakyat raja merupakan
seorang penghianat yang harus dihukum daripada dipertahankan kedudukannya.
Keyakinan rakyat tersebut diperkuat
dengan adanya Perang Koalisi 1. Austria dan Prusia bersatu untuk menyerbu Prancis dan mengancam rakyat Prancis dengan hukuman yang seberat-beratnya bila berani mengganggu raja (Louis XVI)
beserta keluarganya. Hal ini
menyebabkan rakyat memandang bahwa Louis XVI mempunyai hubungan dengan pihak asing yang akan menyerbu dan menggagalkan revolusi
dan hal ini menunjukkan bahwa raja
merupakan seorang pengecut dan penghianat cita-cita revolusi. Oleh sebab itu, Raja Louis XVI dan keluarganya ditangkap untuk diadili lebih lanjut. Dengan adanya Perang Koalisi yang bermaksud
untuk menghentikan revolusi justru
manambah semangat rakyat Prancis untuk melakukan revolusi. Hal ini juga diperkuat dengan diperclehnya kemenangan atas
tentara Prusia di daerah Valmy.
Tanda-tanda akan adanya teror sudah mulai tampak dengan dibunuhnya para bangsawan yang telah ditawan. Kaum borjuls yang pada saat itu masih
memimpin revolusi mulai kehilangan
kendali atas rakyat jelata yang semakin bersifat radikal dan anarki.
Masa convention dimulai dengan
pertentangan antara kelompok Montagne dengan Gironde mengenai Raja Louis yang telah melarikan diri dan di tangkap
kembali. Montagne (rakyat)
menginginkan agar raja dihukum karena telah menghianati sumpahnya terhadap UUD, sedangkan Gironde (kaum borjuls) menginginkan
agar raja dipertahankan untuk
mengendalikan rakyat yang mulai menampakkan sifat agresif. Namun, pertentangan kali ini dimenangkan oleh kelompok Montagne sehingga kerajaan dihapuskan dan diganti menjadi Republik (1792), kemudian Louis
XVI dihukum mati.
Adanya intervensi pihak asing, yaitu
dengan bergabungnya Austria dan Prusia untuk menyerbu Prancis dan menghentikan Revolusi Prancis dalam Perang
Koalisi I menyebabkan Revolusi Prancis
menjadi semakin kuat karena rakyat Prancis menganggap Perang Koalisi I itu sebagai usaha dari raja-raja untuk
menindas kembali rakyat yang telah bebas. Sehingga interpensi yang bertujuan
untuk menyelamatkan Louis XVI
sekeluarga, justru menjadi sebaliknya dan malah menyebabkan mereka semua terbunuh. Convention merupakan kemenangan rakyat jelata atas kaum borjuis, Rakyat jelata ini lazimnya disebut commune,
yang artinya rakyat dari comune (kota
praja) Paris, karena rakyat Paris-lah yang menjadi pelopor dan dijadikan sebagai pusat revolusi.
Ketika kelompok Montagne memegang
pemerintahan, kondisi Prancis begitu kritis, karena musuh dari luar berhasil mengalahkan Prancis. Ditambah lagi
terjadinya pemberontakan-pemberontakan
dari dalam negeri (pemberontakan golongan bangsawan dan kelompok Gironde), kondisi ekonomi mengalami kekacauan,
uang kertas merosot nilainya dan
terjadinya inflasi. Di kota terjadi kekurangan makanan Larena para petani hanya mau menjual bahan makanan kalau dibeli dengan
uang logam, yang digunakan sebelum
berlangsungnya Revolusi Prancis. Tindakan para petani ini sebetulnya adalah sabotase dari kaum Gironde, yang kebanyakan mereka
merupakan tuan tanah, untuk
menjatuhkan pemerintahan Montagne. Keadaan negara yang kacau balau menyebabkan kaum Montagne yang merupakan pemegang pemerintahan bertindak tegas dan radikal, demi keselamatan dan stabilitas negara.
Tindakan-tindakan inilah yang
menimbulkan akses negatif, sehingga pemerintahan Montagne, yang pada saat itu berada di bawah pimpinan Robespierre, disebut sebagai
pemerintahan teror.
Adapun
kebijakan-kebijakan yang diambil Robespierre di antaranya adalah
a. Membentuk
pemerintahan revolusioner yang bersifat sementara, serta membentuk Comite de Surete Generale sebagai badan eksekutif.
b. Adanya kebijakan
Levee en masse, yaitu keharusan bagi semual orang yang dapat bertempur untuk masuk tentara, demi
menyelamatkan negara. Hal ini karena pada saat itu Prancis dalam keadaan bahaya
akibat adanya pemberontakan dari golongan bangsawan di daerah
Vendee dan musuh dari luar telah berhasil menguasai daerah Verdun.
c. Negara
dibersihkan dari para penghianat dengan tindakan tindakan yang radikal, sehingga Robespierre muncul sebagai seorang
diktator.
d. Kekayaan milik gereja dan para bangsawan yang melarikan diri ke luar
negeri disita dan dijual untuk kepentingan negara.
e. Pemilik tanah dan petani diberi sebagian dari hasil tanahnya untuk
mencukupi kehidupan mereka, sedangkan sisanya harus dijual
kepada negara dengan harga maksimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah Monta berhasil dengan
baik. Musuh dari luar dapat dihalau, mahd dalam dapat di
atasi, inflasi dapat ditahan dan keadaan ekonomim membaik. Dipandang dari sudut
yuridis pemerintahan Montagne bawah pimpinan Robespierre memang merupakan
pemerintahan teror, namun cipandang dari sudut politis pemerintahan
inilah yang menyelamatkan Prancis dari keruntuhan. Setelah keberhasilannya
tersebut, Robespierre menjadi tokoh yang sangat populer di kalangan masyarakat
Prancis. Namun, setelah kondisi normal kembali, terjadi Pemberontakan Thermidor
(1794) yang berhasil menggulingkan pemerintahan Robespierre dan
menghukumnya dengan guillotine (alat untuk eksekusi pancung khas Prancis). Sehingga
berakhirlah pemerintahan Robespierre dan digantikan kembali oleh kaum
Gironde.
Tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah Monta berhasil dengan
baik. Musuh dari luar dapat dihalau, mahd dalam dapat di
atasi, inflasi dapat ditahan dan keadaan ekonomim membaik. Dipandang dari sudut
yuridis pemerintahan Montagne bawah pimpinan Robespierre memang merupakan
pemerintahan teror, namun cipandang dari sudut politis pemerintahan
inilah yang menyelamatkan Prancis dari keruntuhan. Setelah keberhasilannya
tersebut, Robespierre menjadi tokoh yang sangat populer di kalangan masyarakat
Prancis. Namun, setelah kondisi normal kembali, terjadi Pemberontakan Thermidor
(1794) yang berhasil menggulingkan pemerintahan Robespierre dan
menghukumnya dengan guillotine (alat untuk eksekusi pancung khas Prancis). Sehingga
berakhirlah pemerintahan Robespierre dan digantikan kembali oleh kaum
Gironde.
Kejatuhan pemerintahan Robespierre juga disebabkan juga oleh tindakan
terror dan arogannya untuk memaksakan kehendaknya. Dulu
rakyat dapat menerima tindakan teror pemerintahan Robespierre karena
keadaan negara yang sedang kacau, namun setelah kondisi stabil, tindakan
tersebut menjadi tidak disukai oleh rakyat karena mereka telah jemu melihat terjadinya
pertumpuhan darah. Setelah Robespierre jatuh, tidak ada lagi orang yang
disegani, sehingga terjadilah krisis gezag (kewenangan). Keadaan menjadi kacau kembali,
setelah kaum borjuis berkuasa lagi dan mengadakan terror balasan terhadap
kaum Montagne yang disebut "teurreur blanche" (teror putih).
Mereka menghapuskan peraturan harga maksimum, sehingga nilai mata uang menjadi merosot,
inflasi merajalela, keadaan ekonomi kacau, dan rakyat berontak menuntut adanya
bahan makanan.
Kaum Gironde (borjuis) yang telah menang atas kaum Montagne (rakyat) kemudian membubarkan Convention, selanjutnya mereka
membentuk pemerintahan directoire. Pemerintahan ini hanya
merupakan kelanjutan dari pemerintahan Gironde. Mereka lebih suka bekerja sama
dengan pihak militer yang dipimpin oleh Napoleon, daripada dengan kaum
Montagne yang merupakan kelompok rakyat jelata. Sifat lemah dari
pemerintahan Gironde, yang korup dan tidak berwibawa menyebabkan rakyat menjadi apatis.
Akhirnya, pada 1795 muncullah Napoleon Bonaparte sebagai seorang tokoh
militer yang berani dan tangguh di medan pertempuran, sehingga militer
Prancis menjadi sangat kuat dan ditakuti oleh musuh musuhnya. Hal ini membuat rakyat
Prancis menjadi segan dan mengagung-agungkan Napoleon.
Pada 1799, setelah kembali dari Mesir, dengan kekuatan militer Napoleon berhasil membubarkan pemerintahan Directeur dan
membentuk pemerintahan baru yang disebut Consulat. Pada hakikatnya Prancis bukan
merupakan pemerintahan demokrasi, melainkan sebuah pemerintahan otokrasi
yang dipimpin oleh Napoleon sebagai pucuk pimpinan pemerintahan Prancis.
Berbagai kebijakan negara ditentukan oleh Napoleon
Langkah-langkah yang diambil Napoleon dan merupakan kebijakannya dalam memimpin pemerintahan, terutama dalam bidang
politik, di antaranya adalah
a.
Membentuk
pemerintahan yang stabil dan kuat, dengan cara menetralisir pemerintahan, administrasi sacara seragam, menjamin
keadilan dengan membuat kitab
undang-undang hukum perdata (Code Civil) dan peraturanperaturan hukum yang
sebelumnya berbeda di tiap provinsi, menjadi seragam seluruh wilayah negara.
b. Mengembalikan stabilitas keamanan dalam negeri, dengan cara menghilangkan paham provinsialisme dengan membag negara ke dalam
beberapa provinsi yang batas-batasnya diuba kemudian menerima kembali para
bangsawan yang pada saat revolusi melarikan diri ke luar negeri, dengan
syarat mereka tidak boleh menuntut kembali harta kekayaan milik mereka yang
telah disita oleh rakyat, serta mengadakan concordat dengan P Pius VII untuk
membereskan konflik dengan kalangan agamawan yang terjadi selama
revolusi.
c. Memberikan
kesejahteraan kepada rakyat, dengan cara menjamin keamanan, membuat jalan-jalan besar, memperbaiki dan
merenovasi pelabuhan-pelabuhan, menjalankan kembal perindustrian yang selama
revolusi mengalami kelumpuhan dengan memberikan subsidi terhadap
perusahaan-perusahaan dalam negeri, memperindah kota, dan pembuatan
fasilitas umum lainnya.
d. Membawa kejayaan Prancis melalui berbagai kemenangan, sehingga di bawah pemerintahan Napoleon, Prancis berubah menjadi negara terbesar di Eropa dan sangat disegani baik oleh kawan ataupun lawan-lawannya. Hal tersebut terbukti dengan kemenangan Prancis yang gemilang dalam Perang Koalisi 1 (1792- 1797) dan Perang Koalisi II (1799-1802).
D. Peranan Golongan Borjuis pada Masa Revolusi
Perancis
Masyarakat Perancis terbagi menjadi tiga golongan yaitu pertama golongan
bangsawan, golongan rohaniawan dan golongan rakyat jelata. Golongan bangsawan
dan rohaniawan mempunyai hak istimewa sedangkan golongan rakyat jelata tidak
mempunyai hak istimewa. Masyarakat Perancis tidak terlalu mengedepankan
pembagian pekerjaan yang pasti. Para pemilik tanah bertugas memimpin dan
melindungi daerahnya, para pendeta mempunyai tugas untuk memimpin doa dan
mengajar sedangkan para petani bertugas untuk memenuhi kebutuhan materi. Namun
kehidupan petani di desa tertekan karena adanya pemimpin atau tuan tanah yang
memimpin lahan mereka serta iklim dan wabah yang tidak menentu. Dengan keadaan
tersebut terjadilah urbanisasi. Keadaan ini menjadi awal mula terbentuknya kota
– kota baru yang menjadi pusat perdagangan. Kota baru yang menjadi pusat
perdagangan disebut dengan bourg. Istilah bourg menjadi asal mula kata borjuis (Sungkar,
L. 2007 : 60).
Kelahiran golongan borjuis diawali dari kelahiran kembali perdagangan di
Eropa. Golongan borjuis bisa dikatakan golongan orang – orang yang tidak ingin
disamakan dengan penduduk Perancis lainnya. Istilah tersebut berkembang pada
abad XI. Pada saat itu seiring berjalannya aktivitas perdagangan dan keuntungan
yang diperoleh maka mulailah terbentuk rumah – rumah, toko – toko serta
bangunan pemerintah. Golongan borjuis berjuang untuk meraih kesuksesan di
bidang materi karena mereka beranggapan bahwa orang kaya akan di pandang. Hal
tersebut yang melahirkan garis pembatas antara si kaya dan si msikin.
Masyarakat yang tergolong borjuis antara lain kaum industriawan, bangkir, para
pengusaha dan kelompok yang bergerak di bidang jasa seperti dokter, notaris dan
lain sebagainya (Sungkar, L. 2007 : 62).
Golongan borjuis dibagi menjadi petit bourgeois yaitu borjuis kecil yang umumnya bergerak di bidang pengrajin dan
pengusaha kelas menengah. Sedangkan grand bourgeois atau borjuis besar antara lain golongan industriawan, pengusaha properti,
bangkir dan pengusaha besar. Selain itu ada bourgeois provincial atau biasa
disebut borjuis desa yaitu golongan yang tinggal di kota kecil dan mempunyai
kekayaan di sekelilingnya. Dalam masyarakat feodal, perbedaan kelas sosial di
dasari oleh perbedaan atas kewajiban serta kepemilikan materi dan kecermatan
dalam mengelola harta (Sungkar, L. 2007 : 63).
Peranan borjuis sebelum revolusi Perancis. Eksistensi golongan borjuis
sudah diakui sejak abad XIII dan mereka menjadi bagian dari rakyat yang
eksklusif. Mereka dianggap sebagai sekutu monarki. Pada pemerintahan Philipe
Auguste, peran golongan borjuis sudah mulai terlihat. Golongan borjuis
mempunyai peranana sebagai dewan penasehat para raja sehingga mendapat hak –
hak istimewa. Pada abad XIV golongan borjuis memasuki karir di bidang hukum.
Ketika itu, pendapat para pakar hukum sangat diperhatikan oleh raja. Menuntut
ilmu di bidang hukum menjadi hal yang wajib pada saat itu. Pada pemerintahan
Louis XI terjadi sebuah perubahan yang cukup besar, sistem pemerintahan
berganti dari feodal menjadi borjuis. Hal ini ditandai dengan makin melonjaknya
ambisi golongan borjuis. Golongan borjuis yang mendapat gelar noblesse de robe menduduki jabatan
tertentu dan dapat mewariskan kepada keturunanya dan mereka mendapat otonomi
sendiri. Ada juga yang mendapat gelar la moyenne de
robe yang merupakan wakil – wakil
daerah dan ada juga la pelite robe yaitu para pengacara, jaksa, notaris dan panitera pengadilan. Ada juga noblesse d’epee yaitu golongan
bangsawan yang memang berdarah ningrat dan tugas mereka yaitu semata – mata
mendampingi raja (Sungkar, L. 2007 : 64).
Pada awal periode berikutnya, timbul kecaman dari golongan bangsawan yang
merasa posisi mereka lebih rendah daripada golongan borjuis. Golongan bangsawan
ingin mempertahankan tradisi dan gaya hidup serta hak – hak istimewa mereka (Sungkar, L. (2007 : 64).
Peranan golongan borjuis pada masa revolusi Perancis. Sejak terjadinya
revolusi Perancis, golongan borjuis berhasil memaksa raja dalam hal penghapusan
hak hak istimewa yang diberikan kepada
golongan bangsawan dan meminta persamaan antar mayarakat Perancis. Dalam hal
ini membuktikan bahwa revolusi Perancis dapat meruntuhkan sistem politik
absolutisme. Undang – Undang Dasar tahun 1791 memberi kebebasan terhadap
individu untuk berbicara, menulis dan memilih agamanya sendiri. Bendera merah
putih biru berkibar dengan semboyan liberte (persatuan), egalite (persamaan) dan fraternite (persaudaraan). Perkumpulan perdagangan dan peraturan tentang monopoli
juga dihapus. Seorang pemilik tanah yaitu pemilik tunggal dan mereka bebas
untuk mengolah lahannya sesuai kemauan mereka (Sungkar,
L. 2007 : 65 – 66).
Peranan golongan borjuis setelah revolusi Perancis mulai tampak. Pada
saat itu sudah dihapus hak istimewa para bangsawan dan kedudukan masyarakat
Perancis sama rata. Para petani dibebaskan untuk mengolah lahannya. Di bawah
kekaisaran Napoleon, rakyat merasa tertekan karena adanya persaingan antara
golongan bangsawan dan borjuis. Ketika kekuasaan Napoleon mulai hancur, maka
timbulah kembali kekuasaan monarki absolut. Para bangsawan ternyata kembali
mendapat hak – hak istimewanya kembali. Pada pemerintahan Charles X, saudara
laki – laki Louis XVI, Perancis berhasil merebut Aljazair. Golongan borjuis
menjadi partisan revolusi yang mempunyai tekad mencegah kembalinya rezim lama (Sungkar, L. (2007 : 66).
E. Peranan Kaum Wanita pada
Masa Revolusi Perancis
Pergerakan Wanita
Masyarakat Perancis ingin sebuah revolusi di Perancis pada masa
pemerintahan Luois. Pada bulan Oktober 1789 terjadi inflasi yang sangat tinggi
dan biaya hidup yang tidak masuk akal. Hal ini mengundang sebuah gerakan dari
kaum wanita di pasar. Kaum wanita tersebut sangat marah dan membawa pisau dapur
dan persenjataan buatan mereka sendiri. Kemudian mereka menyerbu hotel de
Ville, merampas persediaan makanan, senjata, dan bahan pangan lainnya. Setelah
itu mereka bergerak menuju Versailles (Hubbard, B. 2017 : 99).
Gerakan wanita tersebut berjalan sejauh 20 km menerjang hujn dari kota
Paris menuju ke Versailles. Beberapa golongan wanita menjadi perwakilan untuk
bertemu raja untuk menyampaikan protes mengenai masalah yang di hadapi mereka.
Melihat keadaan yang buruk, membuat Louis untuk segera menyetujui setiap pasal
dalam konstitusi yang baru dan segera di sahkan. Namun pada saat jam 6 pagi,
gerakan wanita ini menemukan sebuah jalan untuk masuk ke istana yang pada saat
itu tidak di jaga oleh prajurit istana. Akhirnya mereka masuk dan prajurit atau
Swiss Guard menghalangi mereka dengan menutup pintu – pintu istana bahkan
mereka tidak segan – segan untuk menembak seorang pemrotes. Lafayette berhasil
mengusir para golongan wanita tersebut (Hubbard, B. 2017 : 99).
Untuk menenangkan massa pada saat itu, Lafayette berusaha meyakinkan raja
dan menyuruh Marie Antoinette untuk menyambut golongan wanita dari balkon
istana yang aman. Upaya dari Lafayette membuahkan hasil, para pemrotes sudah
bisa reda dalam amarahnya. Gerakan wanita tersebut menjadi pengiring bagi
kereta raja dan di dalam perjalanannya mereka di tembak kepalanya serta
diangkat untuk merayakan peristiwa tersebut (Hubbard, B. 2017 : 103).
F. Pengaruh Revolusi Perancis
Bagi Eropa
1.
Bidang politik
a. Dijadikannya
undang-undang sebagai kekuasaan tertingg yang mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
b. Munculnya ide
mengenai pengertian Republik sebagai suatu bentuk pemerintahan negara.
c. Tumbuh dan
berkembangnya paham demokrasi di kalangan rakyat Prancis.
d. Tumbuh dan
berkembangnya rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan rakyat Prancis.
e. Munculnya ide tentang aksi revolusioner untuk mengubah suatu tatanan
negara secara cepat.
2.
Bidang ekonomi
a.
Penghapusan
gilda, sehingga perdagangan menjadi bebas dan mengalami kemajuan
b.
Tumbuhnya
industri yang besar, terutama setelah adanya kebijakan dari Napoleon untuk mensubsidi perusahaan-perusahaan dalam negeri yang mengalarni kelumpuhan karena terjadinya kekacauan yang berkepanjangan pada masa
revolusi.
c.
Petani menjadi
pemilik tanah, setelah para bangsawan yang memilikinya melarikan diri ke luar
negeri pada saat revolusi, sehingga tanah milik mereka disita dan menjadi milik rakyat Serta tanah yang berhasil disita dari pihak gereja,
kemudian menjadi milik rakyat.
d.
Dihapuskannya sistem pajak feodal, yang dipungut oleh para bangsawan dan agamawan, sehingga beban yang ditanggung rakyat menjadi berkurang dan kesejahteraan rakyat pun menjadi meningkat.
3.
Bidang sosial
a.
Penghapusan
feodalisme, menyebabkan terwujudnya kesamaan harkat dan
martabat seluruh masyarakat Prancis, dan pengakuan
atas hak asasi manusia.
b. Munculnya susunan masyarakat baru, yaitu golongan borjuls yang
menggantikan kedudukan bangsawan dan biarawan.
Adapun kedudukan biarawan sendiri menjadi sama dengan warga masyarakat lainnya, tanpa memiliki suatu keistimewaan.
c.
Adanya pendidikan
dan pengajaran yang merata di seluruh lapisan masyarakat, sehingga tingkat kecerdasan masyarakat semakin meningkat.
d.
Adanya Kode Napoleon yang memberi kesempatan bagi perkembangan hukum.
G. Pengaruh Revolusi Perancis Bagi Dunia
1.
Bidang politik
a. Tersebarnya paham
liberalisme, yang memisahkan antara urusan akhirat dengan urusan keduniawian, ke berbagai negara Eropa dan negara-negara lainnya di seluruh dunia.
b. Muncul dan
berkembangnya demokrasi ke negara-negara di dunia, sebagai
kekuasaan yang bersumber dari, oleh, dan untuk
rakyat.
c. Tumbuh dan
berkembangnya rasa nasionalisme, terutama di negara-negara yang masih menerapkan sistem feodal ataupun bangsa-bangsa yang masih terjajah.
d. Menyebarnya ide tentang aksi revolusioner, yang memotivasi masyarakat
untuk melepaskan dan membebaskan
diri car ketertekanan dan ketertindasan.
2.
Bidang ekonomi
a. Munculnya industri-industri di Eropa, setelah mengikuti kebijakan yang
dilakukan Napoleon berupa subsidi dari
pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan dalam negeri.
b. Kehidupan
perdagangan beralih dari daerah pantai-pantal di Eropa ke daerah pedalaman, sehingga menyebabkan terjadinya persaingan dalam perekonomian, dan tidak adanya lagi monopoli perdagangan.
c. Negara-negara yang ada di daerah pantai seperti Inggris menjadi
kehilangan pasar di Eropa.
3.
Bidang sosial
a.
Penghapusan
feodalisme yang menyebar ke negara-negara di Eropa, yang
kebanyakan negaranya berbentuk kerajaan.
b.
Pendidikan dan
pengajaran yang merata di seluruh kalangan masyarakat di Eropa.
c. Adanya Kode
Napoleon yang menjadi dasar dan acuan dalam pembuatan dan pengembangan hukum-hukum yang ada di dunia.
Penulis: Siti Husnul Khotimatul Ulum
Referensi:
Carey, P. (2011). Revolution Europe and the Destruction of Java's Old
Order 1808-1830. International Journal of History Education, 12(2),
296-317.
Carlyle, T. (2019). The French Revolution : a History by
Thomas Carlyle. America: United States of America .
Djaja, M. (2018). Sejarah Eropa "Dari Eropa Kuno
Hingga Eropa Modern". Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Hubbard, B. (2017). Bloody History Paris. Jakarta: PT
Elex Media Komputindo.
Hunt, J. C. (2005). Imaging the French Revolution :
Depictions of the French Revolutionary Crowd. American Historical Review,
38-45.
James E. McClellan, I. a. (2000). The Colonial Machine :
French Science and Colonization in the Ancien Regime. Chicago Journal, 15(2),
31-50.
Magleod, E. V. (2007). Historiographical Review (British
Attitudes to the French Revolution. The Historical Journal, 50(3),
689-709.
Puspita, M. D. (2017). People's Trauma in Pre-French
Revolution Era Victor Hugo's Les Miserables. Litera Kultura, 5(3),
81-90.
Sumardi. (2019). Sejarah Eropa (Dari Eropa Kuno Hingga
Eropa Modern). Jember : UPT Percetakan & Penerbitan Universitas Jember
.
Sungkar, L. (2007). Peranan Golongan Borjuis pada Revolusi
Perancis Tahun 1789. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 11(1), 59-67.
Social Footer