Pada 27 April 2023, pukul 14.38 hingga 15.21 peneliti melakukan wawancara terhadap informan yang bernama Bapak Sokib di Dusun Biting 2 tepatnya Desa Keturenon, Kecamatan Sukodeno, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Gambar 1. Wawancara bersama Bapak Sokub (sumber: dokumen pribadi)

Selamat sore Bapak Sokib, bolehkah bapak menceritakan sedikit tentang diri anda? 

    Saya Sokib seorang RT di Dusun Biting 2, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Saya juga seorang juru kunci dari Situs Biting. Dengan adanya tugas penelitian mengenai Situs Biting yang akan ditanyakan atau diteliti, maka saya berkenan dan menjadi narasumber untuk menjelaskan sejarah Kerajaan Lamajang Tigang Juru dari Situs Biting. Dapatkah bapak ceritakan awal mula berdirinya kerajan islam di Lumajang dan faktor apa yang melatar belakangi terbentuknya kerajaan lumajang ini tepat di situs biting? Dilatar belakangi runtuhnya kerajaan singosari, pada akhirnya putra Mahkota melarikan diri ke hutan Tarim karena takut dibunuh. Pada pelariannya, pangeran menghubingi kepercayaan raja yang menjadi adipati di Sumenep yang bernama arya wiraraja, untuk mengalahkan Kediri prabu Brawijaya meminta bantuan kepada orang mongol. Arya wiraraja merupakan orang ahli strategi kerajaan Singosari pada waktu itu. Maka, beliau menyusun kekuatan dengan mengubungi anak-anaknya untuk bergabung dengan Prabu Brawijaya yang berada di hutan Tarim untuk mendirikan kerajaan Majapahit. Sebelum menjadi kerajaan Majapahit desa tersebu sebuah perkampungan yang bernama Majapahit. 

    Sebelumnya Raden Wijaya pernah mengatakan kepada Arya Wiraraja jika berhasil mengalahkan Kediri, kekuasaan akan dibagi menjadi tiga wilayah yaitu, wilayah tengah, utara, dan timur. ketika menang Raden Wijaya pun menunaikan janjinya dengan mebagi wilayah kerajaan yaitu, Wilyah Timur meliputi Pasuruan hingga Bali dan Madura dipimpin oleh Arya Wiraraja, wilayah utara meliputi Tuban hingga Cepu yang dipimpin oleh Arya Ranggalawe, dan Tengah yaitu bagian Trowulan dipimpin oleh Raden wijaya dan Arya Nambi diangkat sebagai mahapatih pertama kerajaan Majapahit. Dengan dalih belum memiliki kekuatan maka ketiga kerajaan tersebut disatukan menjadi satu keraajan yaitu kerajaan Majapahit. 

    Setelah majapahit terbagi akhirnya raden wijaya takut kalah dengn karena ranggalawe putra arya wiraraja yang brilliant seperti ayahnya. Sedangkan arya wiraraja sendiri ahli strategi yang mengakibatkan ketakutan Raden Wijaya jika kedua kerajaan tersebut besar dan mengambil alih bagiannya. Dengan dalih belum memiliki kekuatan maka ketiga kerajaan tersebut disatukan menjadi satu keraajan yaitu kerajaan Majapahit dan menyatukan dengan Majapahit tengah.

Bagaimana proses islamisasi di kerajaan ini tercipta serta apa penyebabnya? 

    Arya wiraraja seorang ahli strategi yang sebelumnya sudah memeluk Islam, islam lama yaitu islam sebelum kedatangan wali sering disebut dengan islam berkawitan yang sama dengan islamnya Prabu Jayabaya. Penyebutan malaikat jibril dengan Jobroro dan Malaikat Mikailo denga Makahala. Islam ini tumbuh dan berkembang sebelum kedatangan wali ke Nusantara. Beliau merupakan orang yang ahli strategi, alasan beliau dibuang ke Sumenep yaitu karena berbeda dengan agama kerajaan Singasari pada waktu itu. 

    Maka pada saat Arya Wiraraja memimpin kerajaan Lumajang beliau telah mengenal banyak ulama yang sejalan dengannya salah satunya yaitu syekh termasuk syekh Abdurrahman Assyaibani. Said Aqil (ketua PBNU pusat) sempat mengatakan bahwa jika semestinya lumajang bisa dikatakan kerajaan Islam pertama di Indonseia. Karena Arya Wiraraja mendirikan kerajaan saat Majapahit pertama sedangkan zaman perwalian pada saat Majapahit terakhir yaitu Prabu Wijaya. Majapahit Kemudian direbut oleh anaknya yaitu Raden Patah untuk mengislamkan kerajaan yaitu proses awal berdirinya kerajaan Demak. 

    Mengapa Arya Wiraraja tetap memiliki makam karena hal tersebut. Alasan mengapa orang Madura mayoritas beragama islam karena sudah sejak zaman dulu masyaraakat menganut islam sejak kepemimpinan Arya Wiraraja. Sebab pada zaman dulu apabila rajanya islam maka mayoritas penduduk islam juga. Gelar Arya Wiraraja di Sumenep saat itu adalah Adipati Sumenep. Terdapat 3 Majapahit di awal berdirinya yaitu: 1. Majapahit Tuban (Ranggalawe) 2. Majapahit Tengah (Raden Wijaya) 3. Majapahit Timur (Arya Wiraraja) 

    Kemudian ketiga keraajan tersebut disatukan lalu dibentuklah kadipaten. Proses islamisasi masyarakat saat itu tergantung oleh pemimpin dan ulama yang ada pada wilayah. Jadi proses islamisasi tidak melibatkan perdagangan dikarenakan jaraknya yang lumayan jauah dari wilayah pantai.

    Ditelisik dari kisah zaman dulu orang Jawa sudah ada yang beragama islam sebelum kedatangan islam yang dibawa oleh para wali. Islam zaman dulu kapitayan yang berarti berdiri maksudnya mereka percaya dengan tuhan YME dan budi pekerti yang luhur tapi tidak mengenal adanya nabi dan kitab. Dalam artian dalam diri manusia ada yang ngemong atau menjaga, pada pewayangan di kisahkan dengan nama punokawan, pamomong akehe empat pada diri manusia. sekarang disebut dengan malaikat mukarobi, mukarobi yang mengantarkan permintaan manusia ke tuhan.

Akulturasi apa yang terjadi setelah proes islamisasi?

    Lumajang ini tidak mengenal jati diri, pasti ada situs-situs yang entah dengan kisah yang dari apa lumajang ini tidak memiliki kebudayaan meski ada situ-situs yang ada entah itu proses gunung berapi atau seperti apa, kita ini tidak bisa mengatahui kebudayaan seperti apa. Dulu banyak mencari mengenai rujukan rujukan kebudayaan tapi tidak ada. Dulu pernah ikon lumajang itu orang membawa pisang lalu berganti kuda kencak dan yang terakhir ini adalah Tari Gemplang. 

    Kultur budaya yang asli setelah pemindahan kerajaan majapahit ke majapahit islam itu berada di Banyuwangi namanya tari Kuntulan. Lumajang ini tidak memiliki kebudayaan pasti dari peninggalan majapahit sesungguhnya. Tari gandrung kemungkinan salah satu kultur budaya Majapahit di Banyuwangi. 

Sejarah Kerajaan Islam Lamajang Tigang Juru 

    Lumajang terletak dikawasan tapal kuda di Provinsi Jawa Timur yang diapit oleh tiga gunung, yaitu Gunung Semeru, Gunung Lamongan, dan Gunung Bromo, sehingga Lumajang terkenal dengan daerahnya yang subur. Pada Prasasti Mula Malarung yang dibuat oleh Raja Singosari (Tumapel) yaitu Sminingrat atau Wisnuwardhana yang ditemukan di Kediri pada tahun 1975. Prasasti tersebut bertuliskan angka tahun 1177 (1255 Masehi), di dalamnya tertulis bahwa Wisnuwardhana mengutus anaknya Narariya Kirana sebagai juru pelinjung Nagara Lamajang.5 Lamajang merupakan nama kuno dari Lumajang saat ini. 

Pendiri Kerajaan Lamajang ini adalah adipati Sumenep yakni Arya Wiraraja atau Ida Banyak Wide. Arya Wiraraja merupakan keturunan Brahmana yang sebelumnya sudah memeluk agama Islam. Namun, agama Islam yang dianut oleh Arya Wiraraja adalah Islam Kejawen (akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal Jawa), berbeda dengan Islam pada umumnya. Seperti yang dikatakan Bapak Sokib, beliau mengatakan: 

    “…. Islam zaman dulu kapitayan yang berarti ‘berdiri’ maksudnya mereka percaya dengan tuhan         YME dan budi pekerti yang luhur tapi tidak mengenal adanya nabi dan kitab …”.

    Arya Wiraraja datang ke Jawa untuk menjenguk kakeknya. Ketika kakeknya meninggal dunia, Arya Wiraraja diangkat menjadi anak Empu Sedah. Empu Sedah saat itu menjadi Penasehat Raja Airlangga, dan pada saat itu Arya Wiraraja mengenal sesosok gadis bangsawan bernama Ageng Pinatih dari Kerajaan Kediri. Karena cinta terhadap sang gadis itu, orang tua angkatnya (Empu Sedah) tidak bisa menolak meski dia adalah keturunan dari Brahmana, akhirnya Arya Wiraraja menikah dengan Ageng Pinatih, sehingga Wiraraja diangkat menjadi adipati Kerajaan Kediri. Namun, karir jabatan sebagai adipati tersebut tidak bertaham lama, saat Kediri dipimpin oleh Kartanegara, Arya Wiraraja diminta untuk memimpin Kerajaan Madura yang ber-ibu kota di Sogenep (sekarang Sumenep) karena untuk membendung penyebaran agama yang dianutnya di wilayah Kerajaan Tumapel.

    Pada saat Arya Wiraraja di Madura, pada saat itu Raden Wijaya melarikan diri ke Madura juga. Arya Wiraraja menyambut keluarga Raden Wijaya yang datang ke Madura dan membantunya berperang melawan Jayakatwang dan pasukan Mongol. Isi Kitab Pararaton, tertulis bekas Kerajaan Singosari dibagi menjadi dua berdasarkan kesepakatan antara Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Selain itu, Prasasti Kadudu menyebutkan bahwa ketika Raden Wijaya melarikan diri bersama 12 pengawal setianya ke Madura, Adipati Arya Wiraraja memberikan bantuan kemudian melakukan kesepakatan pembagian tanah Jawa menjadi dua wilayah yang sama besar, perjanjian itu dinamakan Perjanjian Sumenep.6 Dua wilayah tersebut yakni bekas wilayah Kerajaan Singosari bagian barat kemudian bernama Majapahit meliputi daerah Singosari, Kediri, Gelang-gelang (sekarang Ponorogo) dan Wegker dengan ibu kota Majapahit di Mojokerto. Sedangkan, bekas Kerajaan Singosari bagian timur kemudian menjadi Kerajaan Lamajang Tigang Juru dengan kekuasaan meliputi daerah Lumajang, Panarukan, Blambangan, Madura, dengan ibu kotanya di Kutorenon (Kawasan Situs Biting) dengan rajanya yakni Arya Wiraraja. Namun, menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan, pembagian wilayah tersebut dibagi menjadi tiga, yakni bagian utara dipimpin oleh Ronggolawe dengan wilayah Tuban hingga Cepu, bagian tengah dipimpin oleh Raden Wijaya sekitar Trowulan, dan bagian timur dipimpin oleh Arya Wiraraja dengan wilayah Lumajang, Blangbangan hingga Bali.

    Kerajaan Lamajang Tigang Juru berdiri pada 10 November 1293 atau 1295 M, dan perjanjian pembagian dua wilayah termaktub dalam Prasasti Padudu. Wiraraja menjadi raja di Lamajang setelah anaknya Ranggalawe tewas dibunuh oleh pungawa Majapahit yang dipimpin Adipati Nambi, dikarenakan melawan Wilwatikta. Kerajaan Lamajang ini ber-ibu kota di Biting Kutorenon Kabupaten Lumajang. Berdasar pada sumber sejarah, Arya Wiraraja dinobatkan menjadi raja Kerajaan Lamajang Tigang Juru pada kamis legi, wuku landep, tanggal 25, bulan Bhadrapada (bulan karo) tahun 1216 Saka yang bertepatan pada tanggal 26 Agustus 1294 Masehi.

    Keraton Kerajaan Tigang Juru berada di Arnon (Kutorenon). Di sana terdapat keraton kerajaan dan benteng yang kokoh. Benteng tersebut dilengkapi dengan sistem menara pengawas. Hingga saat ini diketahui ada 6 benteng yang terkuak. 

    Babad Pararaton menceritakan tentang kejatuhan Kerajaan Lamajang Tigang Juru pada tahun saka Naganahut-wulan (Naga Menggigit Bulan) dan dalam Babad Negara Kertagama disebutkan tahun Muktigunapaksarupa dimana keduanya sama-sama menunjukkan angka tahun 1238 Saka atau 1316 Masehi. Jatuhnya Lamajang membuat kota-kota pelabuhannya seperti Sadeng dan Patukangan melakukan perlawanan yang dikenal sebagai Pasadeng atau Perang Sadeng (1328 Masehi) dan Ketha (1328 Masehi) dan diikuti perang-perang lain, seperti Perang Lasem (1318 Masehi) dan Perang Kuti (1319 Masehi).

    Perlawanan masyarakat Lumajang kembali bergolak ketika Babad Tanah Jawi menceritakan Sultan Agung merebut Benteng Renong (Arnon atau Kutorenon) melalui Tumenggung Sura Tani sekitar tahun 1617 Masehi. Kebesaran dan kekuatan Kerajaan Lamajang Tigang Juru bertahan sampai tahun 1620-an. Kerajaan Mataram yang jaya pada waktu itu menyebarkan ideologi keyakinan dan Lamajang Tigang Juru dihancurkan oleh Sultan Agung serta ibu kota Lamajang di daerah Biting dibakar, sehingga mulcul nama Kutorenon (Ketonon artinya terbakar atau dibakar).

Bidang Politik

    Kerajaan Lumajang, seperti kebanyakan kerajaan di Jawa pada masa lalu, memiliki sistem politik yang bersifat monarki atau kekuasaan raja. Raja Lumajang bertindak sebagai pemimpin tertinggi dan memiliki kekuasaan mutlak atas kerajaan.

    Namun, selain kekuasaan raja, terdapat pula pengaruh dari kelompok bangsawan atau ningrat yang memiliki peran penting dalam sistem politik kerajaan. Mereka biasanya diberi gelar seperti Raden atau Pangeran, dan memiliki peran penting dalam mengambil keputusan politik, baik yang menyangkut kebijakan dalam negeri maupun hubungan luar negeri. 

    Selain itu, dalam sistem politik kerajaan Lumajang terdapat peran penting dari pegawai negeri atau abdi dalem yang bertugas sebagai pengawal raja dan mengurusi berbagai urusan dalam kerajaan. Mereka dikenal dengan sebutan "bupati" atau "patih".9 Namun, walaupun sistem politik di kerajaan Lumajang bersifat monarki, namun pada saat yang sama terdapat juga pengaruh agama Islam yang masuk ke dalam struktur politik kerajaan. Para pemuka agama atau ulama memiliki peran penting dalam memberikan nasihat-nasihat politik kepada raja, dan dalam beberapa kasus bahkan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan politik.

    Dalam kerajaan Lumajang, seperti halnya kerajaan-kerajaan lain di Jawa pada masa itu, politik juga dipengaruhi oleh adat istiadat atau tradisi yang dijunjung tinggi. Adat-istiadat tersebut memberikan tuntunan dan normanorma yang harus diikuti oleh raja dan seluruh pengikutnya dalam mengambil keputusan politik, sehingga adanya keselarasan antara kebijakan politik dan nilai-nilai budaya yang diyakini oleh masyarakat.

Bidang Ekonomi

    Diketahui Kerajaan Lamajang Tigang Juru (Lumajang) terletak dikawasan tapal kuda di Provinsi Jawa Timur yang diapit oleh tiga gunung, yaitu Gunung Semeru, Gunung Lamongan, dan Gunung Bromo, sehingga Lumajang terkenal dengan daerahnya yang subur. Ditambah terdapar 3 sungai besar, yakni Sungai Bondoyudo disebelah timur, disebelah timur lagi ada Sungai Bodang atau Wingong, di sebelah barat ada Sungai Ploso, serta satu sungai buatan yakni Sungai Cangkring di sebelah selatan.10 Dampaknya komoditas dan penghasilan utama dari kerajaan tersebut adalah di bidang pertanian. Dimana hasil utama yang dihasilakan oleh Kerajaan Lamajang Tigang Juru adalah padi dan pisang. Hal itu selaras dengan hasil wawancara terhadap Bapak Sokib, beliau mengatakan:

    “… penghasilan utama ekonomi kerajaan itu adalah berkebun atau petani, karena terdapat                 banyak lahan basah di Lumajang, sehingga cocok untuk bercocok tanam, sebab itu banyak sekali      lumbung-lumbung padi, selepan, dan beras-beras yang diproduksi dari Lumajang.” 

    Selaras dengan data sejarah yang ada, pada masa Kerajaan Singosari (Tumapel), Lumajang dijadikan tempat lumbung pemenuh kebutuhan kerajaan. Daerah ini sekarang dikenal dengan nama Candipuro.

Bidang Sosial Budaya

    Terjadi pola sosial yang terjadi antara masyarakat Jawa-Madura dan melahirkan suatu pola berbeda dari kultur masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Kebudayaan Pendhalungan berada di daerah Tapal kuda akibat dari kedatagan masyarakat Madura datang ke daerah Tapal kuda. Penyebab terbentuknya masyarakat pendhalungan adala migrasi masyarakat madura dan Jawa ke daerah Lumajang yang memiliki kesuburan tanah. Kebudayaan yang tercipta adalah kebudayaan semi Jawa-Madura.

    Kebudayaan pendhalungan di Tapal Kuda tidak memiliki keseragaman di setiap wilayahnya tergantung oleh lingkungan dan kondisi alam yang ada. Pendhalungan ini terbagi menjadi 3 yaitu, Pendhalungan Barat (Pasuruan dan Probolinggo), Pendhalungan Timur (Situbondo dan Bondowoso), dan Pendhalungan Selatan (Lumajang, Jember, dan Sebagian Banyuwangi).

    Akulturasi yang terjadi pada kebudayaan di Kerajaan Islam ini adalah munculnya beberapa kesenian yang merupakan gaabungan dari kebudayaan Jawa dengan madura. Akulturasi tersebut diantaranya, kesenian jaran kencak dan kesinian Glipang.

    Namun berbeda menurut Bapak Sokib, tidak ada secara pasti budaya yang dimiliki oleh Kerajaan Lamajang Tigang Juru. Sebab, kurangnya sumber dan kurangnya penelitian yang mengkaji tentang kerajaan ini. 

    “Lumajang ini tidak mengenal jati diri, pasti ada situs-situs yang entah dengan kisah yang dari         apa lumajang ini tidak memiliki kebudayaan meski ada situ-situs yang ada entah itu proses                 gunung         berapi atau seperti apa, kita ini tidak bisa mengatahui kebudayaan seperti apa ….”.      Sokib. 

Warisan Peninggalan Kerajaan Islam Lamajang

1. Makam Arya Wiraraja dan Syekh Abdurahman Assyaibani

Gambar2. Makam Arya Wiraraja (sumber: dokumen pribadi)

    Disebelah timur dari makam Syekh Abdurahman Assyaibani terdapat makam yang tertulis ‘Petilasan makam atau Pesareyan Arya Wiraraja’. Dan disebelah barat terdapat makam yang lebih besar yakni makam Syekh Abdurahman Assyaibani dan para senopatinya. Makam Arya Wiraraja sering didatangi oleh orang-orang Madura dan Bali untuk melakukan ritual dan baca doa.

Gambar 3. Makam Syekh Abdurahman Assyaibani beserta para senopatinya (sumber: dokumen pribadi)

    Makam ini menandakan bahwa Islam sudah berkembang di Pulau Jawa sebelum berdirinya Kerajaan Demak. Diketahui Arya Wiraraja menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam membentuk Kerajaan Majapahit. Sebab itu, diketahui juga berdirinya Kerajaan Lamajang Tigang Juru tidak terlalu jauh dengan berdirinya Kerajaan Majapahit di era pesatnya kepercayaan Hindu-Budha di Nusantara.

2. Benteng dan Situs Biting

Gambar 4. Peniggalan Benteng Lamajang Tigang Juru (sumber: dokumen pribadi)

    Situs Biting ditafsirkan sebagai kawasan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpim oleh Arya Wiraraja. Ibu kota tersebut dikelilingi oleh benteng-benteng pertahanan kokoh dengan tebal 4-6 meter, tinggi 6-10 meter dan panjang 10 km.13 Dalam Naskah Negara Kertagama, kawasan Biting disebut sebagai ‘Arnon’ dan dalam perkembangannya pada abad ke17 disebut Renon (Bahasa Kawi artinya pasir atau debu). Nama Biting sendiri merujuk pada kosa kata Jawa Kuno ‘Biting’ berarti ‘Benteng’ dimana kawasan ini dikelilingi oleh benteng-benteng sepanjang 10 km yang dijaga oleh pasukan gagah berani.

Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap Bapak Sokib, beliau mengatakan:

    “… Ukuran dari batu bata yang terdapat dibekas-bekas benteng memiliki ukuran besar, berbeda         dengan ukuran batu bata sekarang ini. Hal itu menandakan bahwa umur dari batu tersebut sudah      terlampau lama ….” 

    Tumpukan-tumpukan batu besar tersebut membentuk sebuah benteng dan diketahui memiliki sistem pengawasan dari atas dengan memanfaatkan menara sebagai tempatnya. Ukuran dari satu batu bata itu yakni 40×20×5 centimeter.14 Keberadaan benteng ini tidak begitu terawat terlebih sebagian darinya banyak yang rusak karena dialihfungsikan untuk pembangunan perumahan oleh perusahaan pengembang. 


Penulis:

Ageng Rachmad (220210302046)

Nabilatus Sa’adah (220210302050) 

Rima Nur Mutmaina (220210302069) 

Qorina Nandita I. (220210302071) 

Muhammad Yusron (220210302072) 

Daftar Pustaka

Ayu, W A, ‘Strategi Politik Arya Wiraraja Dalam Pemerintahan Kerajaan Lamajang Tigang Juru Tahun 1295–1316 Masehi’, Avatara, 9.1 (2020)

 Harry Purwanto, ‘Lumajang Kota Sejarah Yang Dikubur’, 14Kompasiana, 2015 

Martudji, Tudji, ‘Menguak Misteri Situs Biting, Benteng Majapahit Timur’, Viva.Co.Id (28 September 2013 pukul 06:01 WIB, 2013) 


Pagi, Kopi, ‘Pararaton, Kitab Raja Singasari Dan Majapahit’, Ruber.Id (Kamis, 23 September 2021 Pukul 13:13 WIB, 2021) 

Palupi, P R, ‘… Biting Sekitar Blok Randu Kerajaan Lamajang Berdasarkan Metode Magnetik: Studi Kasus Di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang Jawa Timur’, 2017

Silvi, Dwiki Olivia, ‘Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Kerajaan Lamajang Tigang Juru Tahun 1294 M – 1316 M Dalam Pembelajaran Sejarah Di SMA Dengan Meggunakan Model ADDIE’, Efektifitas Penyuluhan Gizi Pada Kelompok 1000 HPK Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Kesadaran Gizi, 3.3 (2015), 69–70

Sunyoto, Agus, Atlas Wali Songo: Buku Pertama Yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Journal of Chemical Information and Modeling, 2017, LIII

Tim Bapebda Jatim, ‘Situs Biting Dan Kerajaan Lamajang Yang Terpendam’, Bapebda Jatim Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur, 2014

Tim Jawa Pos Radar Madura, ‘Berkunjung Ke Makam Arya Wiraraja Di Kabupaten Lumajang’, RadarMadura.Id (3 Mei 2023, 2023)

Tim, Kompas, ‘Prasasti Mula Malurung: Sejarah Penemuan Dan Isinya’, Kompas.Com (25 Desember 2022 Pukul 15:00 WIB, 2022)