Endraswara dalam pengantar bukunya “Seksologi Jawa”, seks ibarat seperti orang berenang. Berenang di mana pun tempatnya pasti memberikan sensasi tersendiri, seperti berenang di air hangat dengan berenang di sungai pastinya akan memberikan sensasi yang berbeda. Berenang juga butuh ilmu agar tidak tenggelam. Begitu pun dengan seks. Seks haruslah dilakukan dengan ilmu supaya lebih bermakna dibandingkan dengan sembarangan. Istilahnya “asal jleb, langsung bar”.

Ilmu seks nyatanya telah ada dan dikupas di dalam naskah-naskah Jawa kuno ratusan tahun lalu. Ada beberapa karya sastra yang secara khusus mengupas ajaran seksologi ini, seperti Serat Nitimani, Serat Susila Sanggama, Serat Centhini, Serat Dalmogandhul, dan Serat Gatholoco. Naskah ini mengandung nilai yang cukup baik dan cukup relevan serta bermanfaat bagi kehidupan di masa sekarang. Sebab itu layak untuk disebarluaskan.

Tulisan ini akan mengupas beberapa dari katalog naskah khususnya didasarkan pada Serat Nitimani dan Serat Susila Sanggama.

Ekukasi Seks berdasarkan Serat Nitimani

Sebenarnya Serat Nitimani ditemukan dalam enam katalog, yakni 1) katalog naskah Perpustakaan Museum Radya Pustaka, Surakarta, 2) Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok, 3) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 4) Perpustakaan Pakualam, Yogyakarta, 5) Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, dan 6) Universitas Leiden, Belanda. Katalog yang dipilih dalam tulisan ini menggunakan koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka, Surakarta dengan kode 613.95 Sug. S berjudul “Serat Nitimani”.

Secara etimologi, Nitimani berasal dari dua kata “niti” dan “mani”. “Niti” berarti “pranata” atau pedoman. “Mani” berarti “wijining manungsa kang saka wong lanang” atau benih manusia dari laki-laki, (dalam Poerwadarminta, “Boaesastra Djawa”, 1939). Jika dimaknai, Nitimani berarti pedoman untuk memasukkan benih manusia dari laki-laki (pedoman berhubungan badan). Serat Nitimani ditulis sekitar tahun 1816, kemudian kata-katanya disunting oleh Raden Mas Aryasuganda pada 1821. Serat ini merupakan terjemahan dari Aji Asmaragama, yang mana di dalamnya banyak mengulas soal rahasia hubungan suami istri, termasuk lika-liku bersenggema.

Dalam budaya Jawa, hubungan seksual ialah masalah yang sangat penting karena hasilnya adalah kehidupan baru (keturunan). Sebab itu perlu diajarkan dan perlu sebuah persiapan agar hasilnya sempurna. Aturan yang ditetapkan baik itu ketetapan para leluhur maupun agama haruslah dipatuhi. Persetubuhan hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah (sah), artinya seorang laki-laki hanya boleh bersetubuh dengan istrinya sendiri, bukan orang lain.

Seperti yang saat ini dirasakan oleh banyak orang. Membahas soal seks memang dianggap suatu yang tabu. Tetapi sebenarnya setiap orang berhak untuk tahu adab dan moral yang baik sebelum dan akan melakukan hubungan seksual supaya prosesnya bukan sekedar untuk main-main saja. Serat Nitimani menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat dijadikan pedoman, seperti yang terdapat pada kutipan ini.

Wondene bilih pinuju badhe salulut anggenipun anaji-aji lan angedi-edi ing patrap kapratelaken kados ing ngandap punika: ingkang rumiyin, duk wiwit kagungan karsa badhe apulang asmara lan wanita sekaliyan sami sesucia, inggih punika siram tuwin jamas lajeng ngasta siwur anyiduka toya kaankat celak ing wedana mawi dipundonganana.... Ing sesampunipun rampung sesucia siram jamas lajeng sami angadi-adi warna, kinarya sarana pangundhaning asmara, liripun menggahing pratingkah sami busana ingkang sarwa pantes, serta ageganda wida, sasmpunipun samekta ing sekaliyan lajeng reruntunan sami malebet ing papreman...” (Pupuh 26)

‘Sedangkan ketika ingin memuja-muja dan mengindahkan tingkah laku, akan dijelaskan seperti di bawah ini: Pertama, mulai dari punya keinginan senggama dengan wanita, semua harus suci. Harus mandi keramas, lantas mengambil gayung berisi air dan diangkat di dekat muka dengan berdoa... setelah selesai bersuci mandi kearamas (jamas) lantas berpakaian yang rapi untuk mengundang nafsu yang intinya tingkah laku dengan berpakaian yang pantas dan memakai wangi-wangian. Setelah semuanya selesai, lantas bersama-sama masuk ke tempat untuk tidur...’

Ingkang rumiyin nyariosaken tembung upami, wonten sujanma priya kaliyan wanodya, badhe dumugekaken kersa ngulang salulut sami lumebet ing jemen rum, tegesipun dunungin pasareyan, ing riku sendyana amung sekaliyan tur dumunung wonten papaning sepen, liripun boten katinggalan dening tiyang kathah, ewa semanten menggah pepantenganing panggalih...” (Pupuh 25)

‘Yang pertama, menceritakan kalimat seandainya ada manusia laki-laki dan perempuan berkeinginan bercinta, masuk ke dalam ranjang artinya berada di tempat tidur walaupun di situ hanya berdua dan juga berada di tempat yang sepi yang intinya tidak kelihatan orang banyak, walaupun begitu keseriusan perasaan janganlah sampai lupa...’.

Proses yang paling penting sebelum melakukan hubungan seksual adalah bersuci diri. Alangkah baiknya jika akan melakukan hubungan itu, kedua belah pihak mempersiapkan diri dengan merias diri atau menggunakan wangi-wangian guna membangkitkan hasrat masing-masing. Selain itu, etika yang harus dipatuhi ialah memperhatikan tempat pelaksanaannya. Asmaragama hanya boleh dilakukan di tempat sepi dan nyaman, serta tidak boleh diperhatikan (menjadi tontonan) orang lain. Sebab, hubungan seksual adalah proses yang sakral dan bukan untuk main-main’.

Lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking”. (pupuh 2)

‘Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi terjaga, supaya tidak terkalahkan’.

Dari kutipan ini, budaya Jawa mengajarkan ketika berhubungan seksual harus diniatkan dalam hati dan tahu bahwa tujuannya adalah baik, karena menghasilkan keturunan. Sebab itu, niat sungguh-sungguh dalam berhubungan badan, sama juga dengan beribadah. Segalanya harus dilakukan dan dipersiapkan dengan baik agar hasil keturunan juga baik. Hati pria dan wanita harus bersih dan bijaksana serta ingat munculnya janin ialah hasil karya Tuhan sehingga harus dipertanggungjawabkan.

Kalamun pasta pururusa wus kiyeng kiyat santosa, kwehning daya wus samekta, iku nulya tindakena uamangsah ing ranonggana, sayekti datan kaciwa tumempuhing banda yuda. Nanging ta dipunpriyayitna, ing tindak ajwa sembrana, gyaning bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya leganing dyiya, wruhanta diphunwaspada”. (pupuh 6)

‘Ketika senjata pusaka laki-laki telah siap tempur, segenap kekuatan siaga maka segeralah memulai pertandingan. Niscaya pertempuran tidak akan mengecewakan. Namun tetaplah waspada, jangan ceroboh. Ketika menghujamkan serangan terhadap senjata lawan, hendaklah mengutamakan kewaspadaan’.

Yen sembrana, den priyatna sampun lena, lampun ina, sayek amanggih weda”. (pupuh 2)

‘Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan’.

Yen anglaras, panggagas saja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas”. (pupuh 2)

‘Jika sedang menikmati sesuatu, janganlah kesadaran terlena, agar tetap siaga, kewaspadaan tidak akan menimbulkan kematian’.

Etika ini harus diperhatikan saat berhubungan badan. Selalu waspada selama prosesnya. Tujuannya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang dapat menyakiti diantara pihak, sehingga ke dua pihak tidak ada yang menemui maut.

Lamun cuwa, sampun kawiscareng netya, wrananana, ing suka dhanganing karsa, kang supadya, datan manggih dirgama. Lamun gela, jroning nala sampu daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legawa”. (pupuh 2)

‘Apabla tidak puas, janganlah terlihat diwajah, tutupilah dengan wajah ceria, agar tidak mendapat kesulitan. Apabila kecewa, janganlah memberontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarut-larut’.

Setiap pihak pasti memiliki kekurangan masing-masing dan harus diterima oleh ke duanya. Jika salah satu pihak belum mencapai titik kepuasan orgasme, maka pihak lainnya harus sabar dan melayaninya dengan kesabaran hingga terpuaskan. Intinya pada pelaksanaannya ke duanya harus memiliki rasa sabar dan saling membantu satu sama lain.

Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakarine kang utama .... Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-angguh, yeku pikarti luamah”. (pupuh 2)

‘Apabila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur.... Selama mengendalikan diri bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan perilaku serakah’.

Lampahing asmaragama, kalamunpasta pururusa dereng kiyat lan santosa, ing driya ajwa kesesa, nandukaken pancakara, kang mangkono wau mbok manawa, blenjani neng wirara, dayane datan widada, temah dela kang wardaya, terkadang amanggih ewa, lan wanita lawannya, marga tan kapadang karsa .... pamating rahsa mangkana, srana ngagema wisaya, pratingkah ukeling pasta, kacalita solahira, duk murwani lumaksana karya pepucuking yuda, kwehning daya saniskara, aswa sineru sarasa, ing tindak kesah saranta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita” (pupuh 6)

‘Penerapan asmaragama adalah apabila senjata yang dimiliki laki-laki belum siap tempur maka janganlah terburu-buru melakukan pertandingan, karena pertandingan tentu tidak akan berlangsung seru. Sang laki-laki tentu tidak akan mampu bertahan lama, dan si wanita sebagai lawan pasti tidak akan merasa puas... Dalam keadaan demikian, kendalikanlah tata gerak senjatamu, janganlah tergesa-gesa untuk lekas selesai, dengan tujuan agar wanita yang menjadi lawanmu merasa terlayani dan hasrat bertempur akan semakin memuncak’.

Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun kedamel lega, prasaning rahsa kawudhara, ing riku wujuding wisaya”. (Pupuh 6)

‘Hendaklah membangun rasa penasaran, jangan merasa puas, bangkitkan kembali dorongan seksual Anda, karena disitulah ruang kenikmatan’.

Dalam hubungan seksual, pastinya ada saat kondisi tubuh kita mengalami kelelahan. Akan menjadi tidak maksimal dalam melaksanakannya. Jika memang terjadi demikian, misalnya saat di tengah pertandingan belum selesai, si laki-laki haruslah bisa mengendalikan tata geraknya dan membangkitkan kembali dorongan seksual untuk bisa menyelesaikannya, agar kedua belah pihak bisa terpuaskan dan tidak tersakiti.

Sebenarnya Serat Nitimani tidak hanya berbicara mengenai seputar cara berhubungan saja, tetapi ajaran yang kompleks di dalamnya berkaitan untuk memilih wanita yang tepat sebagai calon istri, dengan melihat sifat-sifat, dan watak dari wanita tersebut. Namun, dalam tulisan ini tidak dibahas, sebab tak sesuai dengan tema. Ada yang lebih menarik dari itu, melalui Serat Susila Sanggama, seseorang diajarkan bagaimana cara memilih waktu ideal untuk bersenggema agar hasrat bisa terpuaskan.

Cara memuaskan pasangan berdasarkan Serat Susila Sanggama

Orang-orang zaman sekarang tentu tidak menganggap penting dan mengabaikan waktu yang ideal untuk bercinta. Toh, misal situasi mendukung (sama-sama mau), bisa bercinta kapan saja. Dalam Serat Susila Sanggama, hubungan seksual bukan dianggap sebagai hubungan yang asal-asalan, semua punya aturan, dan melakukannya dalam rangka ibadah untuk tujuan yang mulia.

Dalam serat Susila Sanggama koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan kode 78047, memilih waktu yang ideal untuk bersenggema bisa dengan cara melihat ciri fisik warna kulit si wanitanya. Seperti dalam kutipan berikut ini.

“... Kedah mendhet wanci jam [2] dalu, menawi saged kaleresan patrap punika sedaya badhe saged ambuka menahipun estri, rumaos angsal tukking kanikmatan, ngantos supe dhateng jiwa-raganipun”. (Serat Susila Sanggama, hal 12 Bab I)

‘... Maka bercinta pada pukul 2 malam, akan membuat istri sangat puas menemukan puncak kenikmatan, rasanya sampai melayang, lepas jiwa raga’.

Tata cara bersenggama pukul 2 malam ini dianjurkan untuk karakter wanita yang memiliki raut muka sengoh (memiliki sorot wajah berseri) dan bongoh (aura bersinar) dengan warna kulit hitam manis.

“... Ing kang sapisan kedah mendhet wanci jam [12] dalu, dumungi jam [7] enjing”. (Serat Susila Sanggama hal 13, Bab II)

Jika memiliki ciri wanita berkulit kuning langsat, waktu yang ideal untuk bersenggema adalah antara pukul 12 malam hingga 7 pagi.

Menawi sacumbana kedah mendhet ing wanci jam [6] sonten dumugi perak enjing (pajar)”. (Serat Susila Sanggama, hal 13 Bab III)

Bersenggema pada pukul 6 sore hingga waktu fajar tiba adalah cocok untuk wanita yang memiliki karakter wajah sumeh dengan ciri kulit berwarna ambambang awak atau coklat. Sedangkan apabila wanita (istri) yang memiliki ciri warna kulit merah kecoklatan terang (abrit ragi nyenggaringan) maka cocok untuk bersenggema pada pukul 12 malam hingga pukul 4 pagi (subuh).

... kedah mendhet wanci jam [12] dalu dumugi jam [4] enjing”. (Serat Susila Sanggama, hal 14 Bab IV)

Menawi tiyang estri, jene nemu giring, utawi ijem pupus, wiwit wedaling asmaragamanipun, wiwit jam [6] sonten dumugi tengah dalu”. (Serat Susila Sanggama, hal 15 Bab IV)

Jika istrimu memiliki warna kulit kuning erah menyerupai daun hijau muda segar, waktu yang ideal untuk bersenggema adalah pukul 6 petang (magrib) hingga tengah malam. Tetapi jika istrimu memiliki warna kulit hitam manis pucat, waktu yang ideal untuk membuka asmaragama adalah pukul 8 malam hingga dini hari.

Menawi tiyang estri kulitanipun cemeng manis, wenes, wiwit wudhar wedaling asmaragamanipun wiwit jam [8] sonten dumugi lingsir dalu”.

Menawi tiyang estri kalitanipun ambambang awak, wedaling asmaragamanipun wiwit tengah dalu, dumugi selai [3] dalu” (Serat Susila Sanggama, hal 15 Bab IV).

Jika memiliki istri yang berkulit kemerahan, maka waktu yang cocok untuk bersenggema adalah tengah malam hingga pukul 3 pagi.

Kemudian yang terakhir, jika istrimu memiliki warna kulit coklat, maka waktu terbukanya asmaragama (waktu ideal bersenggema) adalah diantara tengah malam hingga sang matahari terbit.

... Menawi tiyang estri warninginipun, ngrokoh, wudhar wedaling asmaragamanipun, wiwit tengah dalu dumugi wedaling Sang Hyang Surya” (Serat Susila Sanggama, hal 15 Bab IV).



Penulis: Ageng Rachmad 220210302046


Sumber

Endraswara, Suwardi. (2013). Seksologi Jawa. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Poerwadarminta, W. J. S. (1939). Boaesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers Maatschappij N.V. https://drive.google.com/file/d/1UNxGOun-QTiKCXi7BPskMBj2FgN1vnzI/view?usp=sharing

Katalog

Serat Nitimani, koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka, Surakarta. Kode 613.95 Sug. S.

Susila Sanggama. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. ID Katalog 78047. No. Panggil NB 16