Gambar 1. Bakti Situs (sumber: dokumentasi pribadi)
Kabupaten Jember, terletak di bagian timur Provinsi Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam. Wilayah ini memiliki ragam potensi yang mencakup pertanian, wisata alam, hingga peninggalan sejarah yang masih terjaga. Sebagai salah satu kabupaten terbesar di Jawa Timur, Jember menyimpan banyak situs bersejarah yang tidak hanya menjadi bukti peradaban masa lampau, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan masyarakat lokal. Salah satu situs tersebut adalah Situs Duplang, sebuah peninggalan prasejarah yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia purba di wilayah ini. Situs Duplang terletak di Kecamatan Arjasa, sekitar 12 kilometer dari pusat kota Jember. Situs ini merupakan salah satu dari sekian banyak situs megalitikum yang tersebar di wilayah Jember, menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat peradaban manusia pada masa prasejarah. Penemuan berbagai artefak, seperti dolmen, menhir, dan sarkofagus, di Situs Duplang memberikan gambaran tentang bagaimana nenek moyang kita menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk praktik keagamaan, tradisi pemakaman, serta hubungan sosial yang terjalin di komunitas mereka.
Keberadaan Situs Duplang tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis dan sejarah Kabupaten Jember itu sendiri. Jember memiliki lanskap yang beragam, mulai dari pegunungan, dataran rendah, hingga pesisir. Kekayaan alam ini menjadikan wilayah Jember sebagai tempat yang ideal bagi perkembangan komunitas manusia sejak zaman purba. Sungai-sungai besar yang mengalir di wilayah ini, seperti Sungai Bedadung, juga memberikan peran penting sebagai sumber air dan jalur transportasi pada masa lalu. Tak heran jika berbagai situs arkeologi, termasuk Situs Duplang, banyak ditemukan di wilayah dengan akses yang strategis seperti ini.
Sebagai bagian dari warisan budaya, Situs Duplang menjadi bukti penting yang menunjukkan bahwa Jember bukan hanya sekadar daerah agraris, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Penelitian yang dilakukan di situs ini mengungkapkan banyak hal tentang kepercayaan masyarakat prasejarah, seperti penghormatan terhadap leluhur dan praktik keagamaan yang terwujud dalam bentuk bangunan megalitikum. Dolmen, misalnya, diyakini sebagai tempat persembahan atau pemujaan arwah leluhur, sedangkan sarkofagus digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh penting dalam masyarakat pada masa itu.Selain nilai sejarahnya, Situs Duplang juga memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata Jember. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah bersama masyarakat setempat mulai memperhatikan pelestarian situs ini sebagai bagian dari upaya mempromosikan wisata sejarah dan budaya. Dengan memperkenalkan Situs Duplang kepada masyarakat luas, Jember dapat memperkuat identitasnya sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang tak ternilai. Lebih dari sekadar tempat wisata, Situs Duplang memiliki nilai edukatif yang penting. Situs ini dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya leluhur mereka. Dengan mempelajari artefak-artefak yang ditemukan di situs ini, masyarakat dapat memahami bagaimana kehidupan manusia berkembang dari masa prasejarah hingga sekarang. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan budaya lokal, sekaligus memotivasi mereka untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah tersebut.
Menjelajahi Jawa Timur terasa kurang lengkap jika tidak mengunjungi Jember, sebuah kabupaten yang dikenal kaya akan peninggalan purbakala. Salah satu situs penting di sana adalah Situs Duplang yang terletak di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, sebuah desa kecil di lereng Gunung Argapura, Jember. Meskipun jarak dari alun-alun Kota Jember ke Desa Kamal hanya 16 km, kondisi jalan yang rusak dan sempit membuat perjalanan memerlukan waktu lebih lama. Situs Duplang, yang terletak di lahan berukuran tidak lebih dari 10×10 meter, menyimpan sejarah panjang peradaban manusia Nusantara pada masa lampau. Sudarman Abdurahim, penjaga Situs Duplang, menyatakan bahwa situs ini muncul pada abad ke-10 Masehi, setelah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 Masehi. "Banyak yang percaya bahwa situs ini sudah ada sejak abad ke-4 Masehi. Desa ini merupakan salah satu perkampungan purbakala di Jawa Timur, selain Kendal dan Trowulan," kata Sudarman.
Pembahasan
1. Masuknya Tradisi Megalitik di Jember
Kebudayaan Megalitikum di Indonesia dibawa oleh ras pendatang yaitu bangsa Austonesia. Dalam arus migrasinya, bangsa Austronesia melakukan dua gelombang migrasi, yaitu gelombang I dengan yang terjadi sekitar 4.000 tahun lalu dengan membawa teknologi neolitik, masa ini disebut dengan budaya megalitik tua. Selanjutnya, pada gelombang II yang terjadi sekitar 2.300 tahun lalu dengan membawa teknologi logam, pada masa ini disebut budaya megalitik muda. Persebaran peninggalan megalitikum di Indonesia tersebar luas dan salah satunya di Jawa Timur. Di ujung timur Pulau Jawa peninggalan megalitik dapat ditemukan di wilayah Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi yang dimana wilayah ini disebut komunitas Besuki. Dikarenakan banyaknya hasil peninggalan megalitik di Jawa Timur, dapat dikatakan bahwa Jawa Timur merupakan kerajaan megalitik dengan ibu kotanya di Bondowoso, karena di sini peninggalannya yang terbanyak.
Berdasarkan hasil penelitian oleh beberapa ahli tentang umur batuan dari peninggalan megalitik ini, diketahui bahwa megalitik di Situbondo memiliki umur paling tua, kemudian diikuti oleh Bondowoso, dan Jember. Hal ini dapat diketahui bahwa migrasi bangsa Austronesia yang membawa budaya megalitik ini awalnya bermigrasi masuk ke Situbondo, kemudian mereka menyebar ke daerah pedalaman menuju selatan masuk ke Bondowoso kemudian Jember. Di Indonesia, persebaran megalitik diklasifikasi menjadi beberapa komunitas karena terdapat ciri kekhasannya di setiap wilayah termasuk di komunitas Besuki ini. Komunitas Besuki memiliki ciri khas akan batu kenong yang hanya diwilayah ini dan paling banyak ditemukan di Bondowoso. Batu kenong ini tidak ditemukan di daerah lain.
Gambar 2. Bakti Situs.
2. Peninggalan Megalitik di Situs Duplang
a) Kubur Batu
Kubur Batu digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal. Dalam penguburan ini, si mayat diberi perhiasan ataupun gerabah sebagai bekal kubur. Seperti pada kepercayaan bangsa Austronesia pada umumnya, dalam sistem penguburan kubur batu menghadap ke arah gunung. Hal ini sesuai dengan kepercayaan mereka bahwa roh nenek moyang yang telah meninggal bersemayam di tempat yang tinggi seperti gunung.
b) Batu Kenong
Masih belum diketahui fungsi batu kenong secara pasti, namun sebagian besar para ahli berpendapat bahwa fungsi batu kenong yaitu sebagai umpak bangunan. Hal ini digunakan sebagai penyanggah atau pondasi dari rumah bangsa Austronesia. Selanjutnya ada satu hal yang cukup menarik, yaitu mengapa batu kenong hanya ada di daerah Bondowoso dan Jember. Kenapa tidak ada di wilayah lain di Indonesia atau di daerah Jawa Tengah dan Barat yang tentu masih sama-sama satu daratan yaitu Pulau Jawa serta di Bali (pulau terdekat dari Jawa Timur). Hal ini bisa kita simpulkan bahwa batu kenong muncul atau dihasilkan oleh bangsa Austronesia Bondowoso sendiri, kemudian mereka menyebar ke selatan. Sementara itu kenapa batu kenong tidak ada di wilayah lain karena dapat dipastikan bahwa bangsa Austronesia Bondowoso tidak bermigrasi ke luar Pulau Jawa dan di Jawa itu sendiri. Bisa diasumsikan bahwa mereka berhenti di Jember dan karena mereka sudah puas untuk menempati wilayah baru membuat mereka tidak bermigrasi lagi.
c) Menhir
Menhir merupakan batu tunggal berdiri tegak dan berfungsi sebagai media pemujaan roh nenek moyang. Berdasarkan kepercayaan mereka, mereka meyakini bahwa roh nenek moyang yang sudah meninggal masih bisa menjaga kehidupan mereka. Oleh karena itu, bangsa Austronesia melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Mereka menjadikan Menhir sebagai media dalam pemujaan tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi yang dilakukan oleh peneliti, terdapat dua kesimpulan utama. Pertama, Situs Duplang yang terletak di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, menyimpan peninggalan dari masa megalitikum, seperti menhir, kubur batu, dan batu kenong, yang menjadi bukti kuat adanya kebudayaan megalitikum di daerah tersebut. Kedua, benda-benda peninggalan tersebut memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai sumber pembelajaran sejarah melalui metode karya wisata. Hal ini sangat relevan dengan materi pelajaran sejarah di tingkat SMP dan SMA, sehingga dapat memperkaya pemahaman siswa mengenai sejarah Indonesia. Oleh karena itu, disarankan agar kegiatan karya wisata ini dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan dan wawasan siswa dalam menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga merasa termotivasi dan lebih tertarik dalam mempelajari sejarah. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan menarik, serta dapat meningkatkan apresiasi siswa terhadap warisan budaya lokal.
Penulis
Mirza Roisatun Nisa 220210302016
Cinta Khusnul Purwanti 230210302017
Yuggis Fiddar 230210302068
Rofi Rotus Soleha 230210302080
Rendiyanto 230210302032
Daftar Pustaka
Indonesia Kaya. (n.d.). Menggali akar kebudayaan Nusantara di Situs Duplang. Diakses pada 18 Desember 2024, dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/menggali-akar-kebudayaan-nusantara-di-situs-d uplang/
Prasetyo, B. (2013). Sebaran Situs Megalitik Bondowoso: Tipe dan Karakteristiknya. Jakarta: https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/126/90.
Simanjutak, T. dan Widianto, H. (Ed.), 2013, Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 1: Prasejarah, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta


Social Footer