Suara Tak Berujung
Oleh: Deena
Angin sore yang bertiup lembut terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur derasnya hujan. Surya, seorang laki-laki yang berusia dua puluh satu tahun, berjalan mengelilingi desa dan sengaja melewati pematang sawah. Ia berjalan sambil bersiul menikmati suasana sore itu. Tak sengaja, sorot matanya tertuju pada sesuatu yang tergeletak sembarangan di bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi. Surya kemudian mendekat ke arah sesuatu yang menarik perhatiannya, tiba disana dirinya pun membersihkan benda tak bertuan itu dari kotoran tanah yang melekat. Sebuah radio tua dengan tombol yang mulai berkarat dan untaian kabel yang tidak karuan.
“Radio? Kelihatannya berkarat sekali, apa ini masih bisa berfungsi, ya?” gumamnya sembari melihat benda itu dan membawanya pulang ke rumah.
“Halo? Ada seseorang yang mendengar? Halo? Radionya berfungsi apa tidak sih?” suara perempuan itu terdengar penuh keraguan.
Hampir saja Surya melemparkan radio tersebut ke tanah. Ia terkejut saat mendengar suara yang ditangkap oleh radar radio tua itu. Lalu, ia mendekatkan telinganya ke radio. “Ada siapa disana? Kamu siapa? Kamu penyiar?”
Tak lama suara perempuan tersebut terdengar kembali, tapi kali ini suaranya lebih pelan. “Halo, Aku Saraswati. Panggil saja, Saras! Omong-omong aku bukan penyiar. Aku hanya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru dan Selamat menikmati kehidupan tahun 2025! Kamu asal mana? Aku kebetulan dari Semarang.”
Surya terdiam beberapa detik. Dirinya terpaku mendengar ucapan perempuan itu. Apanya yang tahun 2025? Ini lebih dari sembilan puluh tahun ke depan dari tahun ini, tahun Surya berada. “Ngomong apa kamu, Saras? Bercanda ya? Sekarang masih tahun 1930.”
“1930? Ada-ada saja kamu! Aku serius, ini 2025. Kamu siapa?” Saras bertanya balik dengan lantang.
“Aku Surya. Sekarang masih tahun 1930.”
Dari situlah cerita mereka dimulai. Setiap sore, mereka saling berbicara melalui radio tua itu. Surya selalu menceritakan kehidupannya yang penuh suka duka di masa penjajahan, setiap hari bagi Surya adalah perjuangan untuk hidup. Sedangkan Saras, seorang perempuan yang berusia dua puluh tahun, hidup di masa modern turut berbagi cerita kehidupannya, mulai dari dirinya yang suka menulis cerita, kehidupan di perkuliahannya, dan kegemarannya pada sejarah.
“Jadi, di tahun kamu hidup sudah nggak ada penjajahan?” tanya Surya dengan suaranya yang penuh harapan.
“Nggak ada, Surya! Kita sudah merdeka sejak lama. Aku nggak akan kasih tau kita merdeka tahun berapa supaya menjadi teka-teki untukmu, Surya!”, jawab Saras.
Dari percakapan dan cerita yang mereka bagi berdua dengan bantuan radio tua, Surya belajar tentang untuk tetap semangat dan berani, dan Saras belajar tentang apa arti sebuah perjuangan. Namun, suatu hari percakapan mereka menjadi serius. Surya memberi tahu Saras tentang rencananya.
“Saras, aku mau bantu para pejuang di desaku. Mereka sangat butuh pesan rahasia ini untuk sampai ke daerah sebelah, tapi disana jalannya penuh patroli dan pengawasannya ketat sekali.”
Saras terkejut mendengar rencana dari Surya, “Surya, itu bahaya sekali. Kamu yakin mau bantu mereka? Surya, aku masih butuh kamu. Aku takut kamu mendapatkan bahaya, lebih ngerinya lagi sampai tertangkap oleh mereka.”
Surya terkekeh kecil mendengar kekhawatiran Saras, “Kalau bukan aku siapa lagi, Saras? Hidup terkadang harus berani berbuat sesuatu apapun resikonya.”
Saras merasa tidak karuan dan penuh khawatir, lalu ia menjawabnya dengan suara gelisah, “Janji pulang dengan selamat dan tidak akan tertangkap ya, Surya? Kita berjumpa terus ya lewat radio ini!”
Sore itu adalah percakapan terakhir mereka. Saras menunggu suara dari radar radio tersebut setiap sore, tapi nihil, tidak ada tanda-tanda suara Surya dari seberang sana. Saras mencoba memperbaiki radio itu berulang kali. Hingga tujuh hari sejak saat itu, Surya tidak kembali dan menghilang dari radar. Hatinya cemas dan kecewa karena berharap dirinya bisa selalu berkomunikasi dengan Surya.
Waktu berlalu, dan Saras lulus dari pendidikan sarjananya. Ia memutuskan untuk bekerja di bidang yang lekat dengan sejarah dan selalu menulis cerita dengan latar belakang sejarah, tidak lupa Surya abadi dalam tulisannya. Cerita tentang Surya yang ia tulis sejak hilangnya laki-laki itu akhirnya berhasil ia terbitkan dalam sebuah novel yang berjudul “Suara Tak Berujung” dan menjadi novel best seller.
Saras kembali membuka kotak berwarna merah tua, radio itu masih ia simpan. Bagi dunia dan manusia lainnya, radio itu dianggap sekedar benda mati saja. Namun, bagi Saras radio itu adalah jembatan penghubung antara dirinya dan laki-laki dari masa yang mengantarkan negara ini merdeka.
Social Footer