Pertanian Desa Umbulrejo dari dulu hingga
saat ini, banyak yang berfokus
pada sektor padi, jagung dan juga jeruk,
namun terkadang juga terdapat lahan
sawah yang digunakan sebagai
lahan pertanian tanaman
tebu. Tahun-tahun sebelum
krisis moneter melanda hampir
seluruh negara Indonesia, para petani Desa Umbulrejo masih bisa mengelola lahan
pertaniannya dengan cukup baik. Petani pada tahun- tahun 1996 masih mampu membeli pupuk-pupuk dan juga membeli
pestisida dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan pertaniannya.
Berdasarkan hasil
wawancara dengan para petani, produktivitas pertanian Desa Umbulrejo mulai
mengalami penurunan yang cukup signfikan pada saat terjadinya krisis
moneter di Indonesia. Lebih parahnya, pada
tahun 1997 hingga 1998 yang saat itu krisis moneter sedang pada
puncaknya, membuat produktivitas pertanian turun drastis. Penurunan
produktivitas pertanian ini terjadi karena melonjaknya harga pupuk dan
pestisida yang merupakan sarana utama produksi pertanian sehingga petani tidak
mampu memaksimalkan hasil dari pertanian.
Bhakan, beberapa petani
harus mengalami gagal panen atau hanya hasil panennya hanya mendapat setengah
dari harga sebelum tahun 1998. Petani-petani Desa Umbulrejo pada tahun tersebut
hanya menggunakan pupuk- pupuk organik yang sederhana untuk tanamannya guna
menyambung kebutuhan sehari-hari.
Pertanian Desa Umbulrejo menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada tahun
1999. Saat bantuan-bantuan dari pemerintah berupa subsidi pupuk
mulai masuk ke desa. Meskipun produktivitas pertanian
di Desa Umbulrejo tidak sepenuhnya pulih, namun produktivitas pertaniannya lambat laun mulai menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik hingga sekarang.
Kondisi Pertanian di Desa Umbulrejo
Krisis moneter mengubah
berbagai dinamika kehidupan di negara Indonesia, salah satunya yang terjadi di Desa Umbulrejo. Dampaknya terasa dalam berbagai segi kehidupan tidak hanya aspek
ekonomi tetapi aspek sosial juga terasa dampaknya bagi para petani.
Sebagai desa yang bergantung pada kegiatan
pertanian, para petani mengalami perubahan yang cukup drastis dalam pola
kehidupan. Sistem pertanian yang mulai awal bergantung pada pertanian
konvensional yang menggunakan cuaca dan iklim tanpa cadangan
modal, membuat kondisi
pertanian menjadi rapuh dan lesu pada tahun 1996-1999. Kenaikan harga barang sehari-hari, membuat para petani harus
memakai anggaran yang awalnya untuk pertanian, diganti
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Situasi ini membuat kegiatan pertanian
mengalami penurunan drastis, beberapa lahan hanya ditanami oleh tanaman yang
seadanya dan tidak memerlukan biaya perawatan.
Terdapat program
penyuluhan atau pelatihan mengenai pertanian yang diberikan oleh pemerintah
tidak berjalan secara baik dan pendampingan juga kurang memuaskan, sehingga hal
ini tetap saja membuat petani harus kembali menggunakan metode konvensional
dalam bercocok tanam. Terjadinya El Nino
bersamaan dengan krisis moneter menambah dan memperburuk kondisi pertanian yang
dirasakan oleh para petani. Adanya
musim kemarau yang panjang sehingga menyebabkan kekeringan lahan yang memakan
waktu cukup lama membuat hasil pertanian sulit untuk diolah dan hasil panen
hanya setengah atau bahkan terdapat yang gagal panen. Petani Desa Umbulrejo
hanya bergantung pada hujan tanpa membuat system irigasi sebagai cadangan
membuat memperburuknya kondisi pertanian yang ada di desa ini.
Permasalahan atau
Tantangan Pertanian Desa Umbulrejo
Berdasarkan hasil
wawancara terdapat permasalahan-permasalahan yang muncul pada pertanian Desa Umbulrejo pada tahun 1996-1999. Berikut rangkuman permasalahan-permasalahan
yang dirasakan oleh para petani.
1. Kenaikan Harga Untuk
Sarana Produksi
Salah satu dampak yang
paling terasa saat terjadinya krisis moneter adalah kenaikan harga diberbagai
sektor. Sektor pertanian juga mengalami dampak
dari adanya krisis
moneter, dimana harga
berbagai sarana pertanian
seperti pupuk, pestisida, benih mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi.
Harga pupuk Urea dan pupuk ZA meningkat
dua kali lipat, dimana kedua
pupuk tersebut sangat-sangat dibutuhkan untuk tanaman jeruk beliau. Pupuk Urea
dan pupuk ZA yang digunakan sehari-hari menjadi sangat langka, dan jika ada pun
dijual dengan harga yang cukup mahal. Mengganti pupuk kendang seadanya
terkadang menjadi pilihan bagi para petani di desa ini. Adanya hal tersebut
menyebabkan biaya produksi pertanian naik secara drastis.
2. Penurunan Harga Hasil
Panen
Disaat terjadinya melonjaknya biaya produksi,
harga jual panen justru
mengalami penurunan yang cukup merugikan para petani. Daya beli masyarakat
turun drastis sehingga petani tidak bisa menawar dalam menentukan harga jual.
Akibatnya dibeberapa kasus, hasil dari panen pertanian tidak bisa menutup modal dari yang sudah
dikeluarkan, sehingga dalam hal ini petani mengalami kerugian yang cukup
banyak. Banyak pula dari petani pada waktu itu merangkap pekerjaan lain atau
bahkan ada juga yang beralih ke pekerjaan lain yang dianggap lebih memiliki
jaminan dari segi ekonominya.
3. Perubahan Iklim dan
Cuaca
Pertanian pada masa itu
menggunakan system bertani yang masih memanfaatkan iklim dan cuaca dalam menanam aneka tanaman. Ironisnya,
pada tahun 1997 terjadi fenomena El Nino yang memperburuk keadaan petani. El Nino merupakan peristiwa musim kemarau
yang terjadi di hampir
seluruh Indonesia pada sekitar tahun
1997-1998, salah satunya terjadi juga di wilayah Jawa Timur.12 Musim kemarau ini berdampak di Desa Umbulrejo
yang membuat lahan pertanian mengering, sehingga para petani
yang bergantung pada cuaca dan
iklim, jika tidak memiliki system irigasi harus menggantungkan pada hujan.
Salah satu cara yang
dilakukan petani untuk tetap mengairi lahan pertanian adalah dengan membuat
sumur di sawah, namun karena adanya El Nino sumur-sumur ini menjadi kering
sehingga membuat para petani harus memutar otak menggunakan cara lain.
Penggunaan mesin pompa
air yang mengambil air dari sungai-sungai sekitar sawah membuat
alternatif terakhir untuk tetap melanjutkan pertanian, namun penggunaan mesin
pompa air ini membutuhkan solar atau bensin
untuk mesinnya sementara itu bahan BBM ikut terkena dampak dari adanya krisis
moneter ini mengalami kenaikan harga jualnya. Petani dalam hal ini berada
disituasi yang terjepik dari berbagai arah.
4. Kurangnya Penyuluhan
Masa krisis merupakan
masa-masa para petani membutuhkan informasi dan juga arahan mengenai strategi
bertani yang sesuai dengan keaadan. Meskipun pada waktu itu terdapat
penyuluhan-penyuluhan untuk para petani dan buruh tani, namun dari segi program
pelatihan tidak berjalan secara baik dan pendampingan juga
kurang memuaskan. Hal ini menyebabkan para petani Desa Umbulrejo
kembali pada pengalaman yang
diajarkan turun-temurun atau tradisional. Sementara itu, tantangan yang
dihadapi pada tahun-tahun tersebut terus menerus kompleks, mulai dari perubahan kondisi
iklim dan cuaca,
pestisida yang mahal sehingga tanaman pertanian diserang hama, hingga
ketidakpastian harga yang ada dipasar membuat para petani terus mengalami
kemunduran dan kesulitan dalam mengakses pertaniannya.
Penulis:
Alya Nuriaski Safira
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik
Provinsi Jawa Timur. (1999). Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Perkembangan
Harga di Jawa Timur Dan Dampaknya Terhadap Daya Beli Masyarakat.
Damayanti, N. Pertanian
Padi Provinsi Jawa Timur Pada Masa Gubernur
Soelarso Tahun 1988-1993.
Fatony, A., & Suwandi. (tanpa tahun). Pengaruh El Niño 1997 terhadap variabilitas musim di Provinsi Jawa
Timur. Sekolah
Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika.
Kadeni. Petani
Desa Umbulrejo. Wawancara
Pribadi, 7 Juni 2025.
Maesaroh, S., &
Kusrini, K. (2017). Sistem Prediksi Produktifitas Pertanian Padi Menggunakan Data Mining. Energy: Jurnal
Ilmiah Ilmu-Ilmu Teknik, 7(2), 25-30.
Surip. Petani Desa Umbulrejo. Wawancara Pribadi, 21 April 2025.
Social Footer