Gambar 1. Besokisch Proefstation Desember 1935               

hmp-kelamas.web.id. – Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Lembaga ini berdiri pada 1 Januari 1911 dengan nama Besokisch Proefstation di bawah pimpinan Dr. A. J. Ujttée. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda bersama sejumlah peneliti merintis penelitian komoditas kopi dan kakao. Pada tahun 1932, pengelolaan lembaga dialihkan ke Central Proefstation Vereniging dan namanya berubah menjadi Proefstation der CPV Jember. 

Proses nasionalisasi baru dimulai pada 1981, diikuti dengan berbagai perubahan penting, terutama terkait lembaga pengelola. Pada 1989, nama berubah menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Jember di bawah Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia. Kemudian pada 1993, lembaga ini kembali berganti nama menjadi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, dikelola oleh Dewan Pembina APPI yang diketuai Kepala Badan Litbang Pertanian. Tahun 1997, pengelolaan dipindahkan ke Departemen Kehutanan dan Perkebunan, lalu pada 2002 beralih ke Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LPRI) hingga akhirnya pada 2003 resmi bernama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Gambar 2. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Juni 2025

Seiring waktu, Puslitkoka mencatat berbagai prestasi. Tahun 2006, lembaga ini menerbitkan jurnal Pelita Perkebunan yang diakui LIPI. Pada 2008 memperoleh akreditasi dari KNAPP, kemudian tahun 2012 mendapat sejumlah penghargaan penting, termasuk anugerah IPTEK “Prayogasala” dari Kemenristek RI, penetapan sebagai Center of Excellence Kakao, serta akreditasi dari KAN untuk laboratorium penguji dan lembaga sertifikasi produk. Pada 2013, Puslitkoka ditetapkan sebagai Center of Excellence Kopi. Tahun 2015, lembaga ini meraih akreditasi ISO 9001:2008 untuk Training Center, kembali ditetapkan sebagai pusat unggulan IPTEK kopi dan kakao, serta menerbitkan buku teks kakao.

Transformasi besar terjadi pada 2016 saat Puslitkoka diresmikan sebagai Coffee and Cocoa Science Techno Park (CCSTP) oleh Menristekdikti RI. Pada tahun yang sama, kawasan ini mulai dibuka sebagai destinasi eduwisata. Sebelumnya, Puslitkoka merupakan kawasan tertutup yang hanya difungsikan untuk penelitian, perkantoran, jual beli bahan tanam, serta produksi mesin. Namun sejak 2014, gagasan untuk membuka akses publik sudah digagas oleh pimpinan saat itu, Misnawi, dengan tujuan agar masyarakat Jember lebih mengenal Puslitkoka. Perubahan ini membuat suasana lembaga menjadi lebih fleksibel, interaktif, dan tidak kaku seperti sebelumnya.

Alasan utama Puslitkoka dikembangkan menjadi kawasan eduwisata berangkat dari keinginan memperkenalkan keberadaan pusat penelitian ini kepada masyarakat luas. Hal tersebut selaras dengan misi lembaga, yakni melaksanakan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, membina kapasitas sumber daya manusia, serta mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri kopi dan kakao. 

Penelitian Sadiyah (2019) menegaskan bahwa keberhasilan wisata edukasi ditentukan oleh faktor kenyamanan, kebersihan, keberlanjutan, serta keberagaman atraksi. Puslitkoka menerapkannya melalui pembangunan fasilitas baru, pelestarian kawasan, dan renovasi foodcourt. Selain itu, keterlibatan masyarakat setempat juga menjadi faktor penting agar eduwisata tetap relevan. Puslitkoka menargetkan pelajar sebagai sasaran utama, dengan harapan mereka memahami proses budidaya dan pengolahan kopi serta kakao sejak dari biji hingga menjadi produk konsumsi.

Selain berfungsi sebagai sarana edukasi, Puslitkoka juga menjaga warisan sejarah. Perpustakaannya menyimpan lebih dari 12.000 judul buku dan majalah, termasuk arsip dari masa kolonial Belanda. Kawasan ini juga melestarikan tanaman peninggalan kolonial seperti batang kopi, daun kopi, daun kakao, dan buah kakao.

Transformasi Puslitkoka menjadi eduwisata membawa banyak dampak positif. Masyarakat yang sebelumnya tidak mengetahui proses pengolahan kopi dan kakao, kini bisa belajar secara langsung. Para pemilik kedai kopi dan barista pun mendapat manfaat dengan mempelajari kualitas biji kopi hingga keterampilan praktis seperti latte art. Dari sisi sosial, sebagian besar pekerja masih berasal dari masyarakat sekitar yang sebelumnya sudah terlibat sebagai buruh tani atau pekebun. Namun, setelah dibuka untuk umum, muncul peluang kerja baru seperti kantin oleh-oleh dan pemandu wisata.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Pandemi Covid-19 pada 2020–2022 membuat jumlah kunjungan menurun drastis. Padahal, pada awal pembukaan sebagai kawasan eduwisata tahun 2016–2018, Puslitkoka mampu menarik hingga 2.000 pengunjung per hari. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengunjung rata-rata kurang dari 100 orang per hari, dipengaruhi oleh persaingan dengan destinasi wisata lain.

Meski jumlah kunjungan menurun, Puslitkoka tetap menjadi rujukan edukasi penting. Sebagian besar pengunjung datang dari kalangan pelajar, mulai PAUD hingga mahasiswa, termasuk untuk kegiatan praktik kerja lapangan. Bahkan, pengunjungnya kini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terutama Jawa dan Bali. Kehadiran mereka membuktikan bahwa Puslitkoka masih menjadi pusat eduwisata yang berharga, tidak hanya sebagai tempat penelitian, tetapi juga sebagai penjaga sejarah dan pengetahuan kopi serta kakao. 

Penulis: Nafisha Nazillia Salsabila

Daftar Pustaka:

Dayat. Wawancara oleh Nafisha Nazillia Salsabila, 3 Juni 2025, di Puslitkoka Jember. Susiyani. Wawancara oleh Nafisha Nazillia Salsabila, 10 Juni 2025, di Puslitkoka Jember.

De Bergcultures. (1935). Negende Jaargang. Orgaan van het Algemeen Landbouw Syndicaat, het Zuid- en West-Sumatra Syndicaat en de Centrale Vereeniging tot Beheer van Proefstations voor de Overjarige Cultures in Nederlandsch- Indië. Batavia: Factorij-gebouw.

Sadiyah, H. 2019. Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Edukasi pada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Kabupaten Jember. Skripsi, Universitas Jember. Universitas Jember Digital Repository.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Sejarah Puslitkoka. 

Pusat Layanan dan Informasi Puslitkoka Jember. 2025.