Foto Jugun Ianfu (Sumber: archives.gov)
hmp-kelamas.web.id. — Di balik peristiwa besar pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun seribu sembilan
ratus empat puluh dua hingga seribu sembilan ratus empat puluh lima, tersimpan
kisah pilu yang lama terpendam dalam ingatan banyak keluarga. Di berbagai
daerah, dari Jawa hingga Sumatra, ratusan perempuan Bumi Putera mengalami nasib
yang tidak pernah mereka bayangkan. Mereka dipaksa menjalani kehidupan sebagai
Jugun Ianfu, yaitu perempuan yang dijadikan pemuas tentara Jepang selama masa
perang.
Istilah Jugun Ianfu merujuk pada perempuan yang ditempatkan di rumah rumah khusus yang disiapkan untuk kebutuhan tentara. Tempat itu disebut ianjo yang berfungsi sebagai lokasi untuk melayani prajurit yang terlibat dalam medan pertempuran. Sistem ini pertama kali muncul di Shanghai pada awal dekade tiga puluhan dan kemudian diterapkan di wilayah wilayah lain yang dikuasai Jepang, termasuk Indonesia. Alasan yang digunakan untuk membenarkan pembentukan tempat ini adalah menjaga kesehatan dan moral tentara. Namun dalam kenyataannya, praktik tersebut berubah menjadi eksploitasi seksual yang berjalan secara terencana.
Janji Pendidikan yang Menjebak
Selama
pendudukan, aparat Jepang aktif membangun citra sebagai kekuatan yang membawa
perubahan. Perempuan muda Bumi Putera menjadi salah satu sasaran yang paling
mudah terpengaruh oleh janji janji yang ditawarkan. Banyak dari mereka diberi
iming iming kesempatan belajar di luar negeri, kesempatan bekerja, dan peluang
untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Janji
tersebut membuat banyak perempuan dari keluarga sederhana terpikat. Sebagian
besar masih berusia belasan tahun. Ada yang sudah menikah. Ada pula yang baru
mulai mengenyam pendidikan. Mereka dibawa pergi dengan dalih mengikuti
pelatihan dan pendidikan. Namun setibanya di lokasi tujuan, mereka justru
dipindahkan ke barak yang dijaga ketat. Mereka dipaksa melayani tentara setiap
hari dan tidak memiliki ruang untuk berkata tidak. Kekerasan menjadi bagian
dari kehidupan mereka.
Banyak keluarga yang tidak mengetahui nasib anak mereka karena percaya pada informasi yang disampaikan aparat Jepang. Ada pula keluarga yang memberi izin karena berharap masa depan anak mereka akan lebih baik. Pada akhirnya, harapan itu berubah menjadi penyesalan yang tidak terucapkan.
Luka yang Mengikuti Sepanjang Hidup
Dampak
dari pengalaman sebagai Jugun Ianfu tidak berhenti pada masa perang saja.
Setelah Jepang pergi, banyak perempuan pulang dalam keadaan terluka, baik
secara fisik maupun batin. Banyak yang mengalami penyakit menular. Ada yang
mengalami kerusakan pada organ reproduksi sehingga tidak bisa memiliki anak.
Ada pula yang hidup tanpa pengakuan karena malu menceritakan apa yang pernah
mereka alami.
Namun
luka paling dalam datang dari masyarakat sendiri. Para korban sering dipandang
dengan stigma yang berat. Mereka dianggap membawa aib, padahal mereka adalah
korban yang tidak memiliki pilihan. Banyak dari mereka memilih diam,
menyembunyikan identitas, bahkan menghilang dari lingkungan tempat mereka
dibesarkan.
Seorang peneliti yang pernah bertemu beberapa penyintas di Jawa menyampaikan bahwa sebagian besar dari mereka masih mengalami mimpi buruk puluhan tahun setelah perang berakhir. Mereka membawa beban yang tidak pernah benar benar hilang.
Bayang Bayang Kelam Pendudukan Jepang
Peristiwa
Jugun Ianfu menjadi salah satu bukti kekerasan yang terjadi di balik propaganda
Jepang. Jepang membangun narasi bahwa mereka datang sebagai saudara tua. Namun
praktik di lapangan menunjukkan pemaksaan, penipuan, dan eksploitasi yang
dilakukan secara terstruktur.
Sistem
perekrutan yang menggunakan janji palsu, tekanan, dan kekuatan militer
menambahkan luka sejarah yang sulit disembuhkan. Lebih dari empat puluh rumah
khusus didirikan di berbagai kota. Perempuan dijadikan alat untuk memenuhi
kebutuhan tentara pada masa perang.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kolonialisme tidak hanya menyisakan penderitaan ekonomi dan politik, tetapi juga menyentuh tubuh perempuan secara paling menyakitkan. Peristiwa ini meninggalkan jejak yang membentuk persepsi masyarakat Indonesia terhadap Jepang sebagai penjajah yang melakukan tindakan yang tidak manusiawi.
Pelajaran yang Tetap Relevan Hingga Kini
Sejarah
Jugun Ianfu memberikan pelajaran penting tentang perlunya perlindungan terhadap
perempuan dalam situasi apa pun. Kisah para penyintas menunjukkan bahwa
kekerasan seksual meninggalkan luka panjang yang tidak bisa disembuhkan hanya
dengan waktu. Diperlukan pemahaman masyarakat bahwa korban perlu didukung,
bukan disalahkan.
Selain
itu, penting bagi negara dan masyarakat memastikan bahwa perempuan mendapatkan
hak untuk hidup dengan aman. Perlindungan hukum dan pendidikan tentang
kesetaraan menjadi bagian penting agar tragedi serupa tidak terulang. Mengingat
kembali sejarah ini bukan untuk membuka luka, tetapi untuk memastikan bahwa
penderitaan para perempuan pada masa itu tidak dilupakan.
Oleh: Iffah Al Insyiroh
Daftar Pustaka:
Cook, H. T., & Cook, T. F. (1992). Japan at
war: An oral history. The New Press.
Hartono, A. B., & Yuliantoro, D. (1997). Derita
paksa perempuan: Kisah Jugun Ianfu pada masa pendudukan Jepang 1942–1945.
Pustaka Sinar Harapan.
Hicks, G. (1997). The comfort women: Japan's brutal
regime of enforced prostitution in the Second World War. W. W. Norton &
Company.
Hindra, E., & Kimura, K. (2007). Momoye mereka
memanggilku: Biografi sejarah Jugun Ianfu Indonesia. Gramedia.
McGregor, K. E. (2012). The Indonesian Jugun Ianfu:
Sexual slavery and prostitution during World War II (Doctoral dissertation,
University of Melbourne).
Nurpratiwi, H. (2015). Kiprah Mardiyem dalam
memperjuangkan hak hak mantan Jugun Ianfu di Yogyakarta 1993–2007
(Undergraduate thesis, Universitas Negeri Yogyakarta).
Savitri, D. (2010). Kejahatan perang oleh Jepang
(Studi kasus terhadap Jugun Ianfu sebagai hegemoni kebudayaan di Indonesia
periode 1942–1945). Jurnal Kriminologi Indonesia, 6(3), 284–295.
Soh, C. S. (2008). The comfort women: Sexual
violence and postcolonial memory in Korea and Japan. University of Chicago
Press.
Tanaka, Y. (2002). Japan's comfort women: Sexual slavery and prostitution during World War II and the US occupation. Routledge.
Toer, P. A. (2002). Perawan remaja dalam cengkeraman militer. Kepustakaan Populer Gramedia.
Social Footer