Foto di Warung Lontong Campur Ibu Ekowati, Glenmore 30 Mei 2025 (Sumber: Dok. Pribadi)


BANYUWANGI – Di tengah hiruk pikuk Pasar Sepanjang di Kecamatan Glenmore, lontong campur menjadi sajian yang popular dan menjadi identitas kearifan lokal Glenmore sejak pertama kali diperkenalkan oleh para perantau sekitar tahun 1950. Kuliner ini dibawa oleh tiga perintis asal Madura, yaitu Mbah Suweni, Mbah Samsuni, dan Mbah Mad. Mereka merantau ke Glenmore pada pertengahan abad ke-20. Lontong campur yang dibuat, berbeda dengan versi Madura yang berkuah bening, melainkan lontong campur Glenmore hadir dengan kuah merah yang diracik dari rempah seperti kayu manis dan cengkeh.


Dari tangan ketiga perintis itu, kuliner lontong campur tidak hanya bertahan, namun berkembang menjadi identitas Glenmore. Mbah Suweni mewariskan usahanya putrinya, Ibu Satun, kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Ibu Satimah, yang masih berjualan di tengah pasar hingga kini. Harga seporsi lontong campur yang dahulu hanya Rp 1,- kini menjadi Rp 10.000,- mengikuti perkembangan zaman.


Kisah serupa juga dialami oleh Mbah Samsuni, usahanya sempat dikelola oleh Ibu Kiptiyah sebelum akhirnya diteruskan oleh putrinya, Ibu Ekowati, pemilik Warung Lontong Campur Bu Eko. Warung lontong campur yang dahulunya hanya berupa tenda kecil di pinggir jalan, sekarang menjadi ruang makan permanen yang dapat dikunjungi oleh pembeli dari berbagai daerah.


Keluarga Mbah Mad pun setelah berjualan di tahun 1950, usahanya diwariskan kepada Ibu Sulasih dan kemudian beralih ke generasi berikutnya, Ibu Titik. Ciri khas lontong campur Mbah Mad, tetap mempertahankan racikan keluarga, termasuk sambal petis yang digunakan merupakan hasil buatan sendiril. Hasil racikan keluarga yang tetap dipertahankan, membuahkan hasil terutama saat liburan telah tiba. Warung lontong campur Mbah Mad, dapat menghabiskan hingga tujuh kilogram lontong per hari, menunjukkan tingginya minat pengunjung terhadap kuliner tradisional ini. 


Para penerus menyadari bahwa konsistensi adalah kunci bertahannya lontong campur. Meski semakin banyak pedagang baru yang menjajakan menu serupa, mereka tetap mempertahankan resep keluarga yang telah diwariskan turun-temurun. “Resep keluarga tidak pernah diubah. Yang membuat lain biasanya rasanya juga berbeda,” ujar Ibu Ekowati.


Masyarakat Glenmore disebut memegang peranan penting dalam melestarikan kuliner ini. Menurut Ibu Titik, banyak warga memperkenalkan lontong campur kepada tamu dari luar kota sehingga kuliner ini menyebar ke berbagai daerah. Ia menyebut sekitar sembilan puluh persen pembeli menyukai cita rasa lontong campur Glenmore.


Bertahannya kuliner ini selama lebih dari tujuh puluh tahun menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya hidup di dapur, tetapi juga di ruang sosial masyarakat. Warisan yang dibangun para perintis dari Madura kini menjadi simbol kebanggaan lokal Glenmore, sekaligus bukti bahwa cita rasa dapat menjembatani budaya dan waktu tanpa kehilangan keaslian. 


Oleh: Dwi Meylinda Palupi 


Daftar Pustaka

Choeriyah, L., & Nusantara, T. (2020). Studi etnomatematika pada makanan tradisional Cilacap. AKSIOMA: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika11(2), 210-218.

Ekowati. Wawancara oleh Dwi Meylinda Palupi, 30 Mei 2025.

Firmansyah, A., & Fardian, I. (2019). Glenmore: Sepetak Eropa di Tanah Jawa. Historica Glenmore.