Foto Rumah Makan Gudeg Lumintu, Jember, 03 Juni 2025 (Sumber: Dok. Pribadi)


JEMBER – Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner dan arus digitalisasi, Rumah Makan Gudeg Lumintu di Jember menjadi salah satu ikon kuliner yang selalu diminati sejak pertama kali berdiri pada tahun 1980. Berlokasi di Jl. Kertanegara, No. 33, Jember, rumah makan ini mempertahankan cipta rasa tradisional yang telah diwariskan oleh pendiri almarhumah Ibu Laksono.


Berbeda dengan gudeg yang berasal dari Yogyakarta yang cenderung manis, melainkan Gudeg Lumintu hadir dengan cipta rasa gurih yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Jawa Timur, terutama Bondowoso dan Jember. Proses memasaknya pun masih menggunakan kayu bakar demi menghadirkan aroma khas serta cipta rasa yang tradisional.


Tahun demi tahun, popularitas Rumah Makan Gudeg Lumintu ini semakin menguat di era digital. Pada tahun 2024, Rumah Makan Gudeg Lumintu memiliki lebih dari 3.700 ulasan di Google dengan rati 4.6 dari Bintang 5. Meskipun tanpa mengadakan promosi dan juga tanpa membuka cabang, Rumah Makan Gudeg Lumintu justru mampu untuk menghadirkan loyalitas terhadap pelanggannya, sehingga banyak yang memberikan penilaian positif dari para pengunjung.


Bermula dari Bazar di Bondowoso

Sejarah berdirinya Rumah Makan Gudeg Lumintu dimulai pada tahun 1960-an, yakni ketika Ibu Laksono yang menemani sang suami sedang bertugas di Bondowoso, mengikuti bazar kuliner tingkat kabupaten. Gudeg yang dikreasikan oleh Ibu Laksono dengan rasa yang lebih gurih dibandingkan gudeg dengan rasa manis khas Yogyakarta, ternyata disukai oleh warga setempat. Bahkan, Bupati Bondowoso kala itu mendorongnya untuk membuka usaha kuliner.


Nama “Lumintu” diberikan langsung oleh Bupati Bondowoso, merujuk pada kata lumintu yang berarti “istiqomah” atau “mengalir secara terus-menerus”. Filosofi ini mencerminkan usaha Ibu Laksono yang dijalankan dengan penuh ketekunan dan konsistensi rasa yang diciptakan.


Usaha kecil tersebut berkembang di Bondowoso sejak tahun 1968, sebelum akhirnya pindah ke Jember pada 1975 karena alasan kesehatan dan pertimbangan perekonomian. Memasuki tahun 1980, Lokasi usaha berpindah ke Jl. Kertanegara No. 33, Jember, akibat adanya pelebaran jalan dan bertahan di tempat yang sama hingga sekarang. 


Bertahan di Tengah Dinamika Perkembangan Zaman

Sebagai kuliner yang sudah ada sejak tahun 1980, bahkan tahun 1960an, rumah makan legendaris Gudeg Lumintu tentunya menghadapi berbagai tantangan zaman. Pandemi Covid-19 yang terjadi di tahun 2020, menjadi masa yang paling berat karena membatasi jam layanan sehingga jumlah pembeli pun ikut menurun. Selain itu, di tahun 2025, jumlah pesanan katering dari instansi pemerintah juga menurun akibat kebijakan efisiensi anggaran.


Kenaikan harga bahan baku turut memberikan tekanan pada kelancaran manajemen, sehingga harga per porsi gudeg harus dinaikkan dari Rp 30.000 menjadi Rp 32.000. Beban pajak bulanan sebesar Rp 3.000.000 hingga Rp 4.000.000, serta pajak tahunan sekitar Rp 25.000.000 menjadi tantangan tersendiri bagi usaha kuliner yang hanya buka selama tujuh jam setiap harinya, yakni dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB.


Kritik dari pelanggan juga memberikan warna bagi perjalanan rumah makan ini, seperti rempeyek yang kurang renyah ataupun kikil yang kurang fresh. Namun, setiap kritik dijadikan bahan evaluasi oleh pengelola. Sehingga, tidak sedikit pelanggan yang suka akan kinerja dari Rumah Makan Gudeg Lumintu. Bahkan, tidak sedikit pula pelanggan yang memberi saran untuk memperluas tempat makan. Namun, Pak Rohan sebagai anak ke 11 Ibu Laksono yang menjadi penerus usaha tersebut, masih mempertimbangkan secara matang saran yang diberikan, mengingat konsekuensi tenaga kerja dan juga operasionalnya yang kian besar.

 

Strategi Ketenaran Rumah Makan Gudeg Lumintu

Strategi utama Gudeg Lumintu sangat sederhana, yakni menjaga kualitas rasa dan pelayanan secara konsisten. Resep asli Ibu Laksono tidak pernah diubah sejak pertama kali diperkenalkan. Kualitas ini mampu menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Banyak tokoh dan selebritas tercatat pernah berkunjung, seperti Ivan Gunawan, Dodit Mulyanto, Putri Indonesia Lingkungan 2024, hingga para pemeran film Yo Wis Ben. Foto-foto mereka terpajang di dinding ruang makan sebagai bukti bahwa rumah makan ini menjadi rujukan kuliner para pesohor saat berada di Jember.


                   Food on a leaf

AI-generated content may be incorrect.

     Foto Lapisan Dalam Kemasan         Foto Lapisan Luar Kemasan    

Ikon lain Gudeg Lumintu terletak pada kemasannya. Di tengah maraknya penggunaan kotak makan modern, rumah makan ini tetap mempertahankan kemasan daun pisang dan kertas minyak. Identitas klasik ini bukan hanya memberi aroma khas, tetapi juga menjadi ciri yang tidak dimiliki gudeg lain di Jember. 


Oleh: Nur Istifadah


Daftar Pustaka

Adellia, A. A., & Aco, F. 2020. Problematika Mahasiswa Indonesia Timur Dalam Menyesuaikan Budaya di DIY. Jurnal Enersia Publika: Energi, Sosial, dan Administrasi Publik4(2), 320-329.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. 2018.  Gudeg. https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/gudeg. [Diakses pada 29 Mei 2025].

Sukarno, H., Wulandari, D., Prasetiyaningtiyas, S., Khusna, K., & Fauziyyah, S. 2022. Model distribusi menuju pasar internasional industri kreatif kuliner kabupaten jember. Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis19(1), 66–75.

Sumiya Rohana, diwawancarai oleh Nur Istifadah, 03 Juni 2025, Rumah Makan Gudeg Lumintu.

Yuliani, D., Suharyatik, S., Aisyah, S., Tjahjono, T., & Qomariah, N. 2024. Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Pelanggan Gudeg Lumintu Jember. Jurnal Mahasiswa Entrepreneurship (JME)1(12), 2376–2394.