Foto Slametan di Desa Sanganom (Sumber: Dok. Pribadi)

Desa Sanganom berada di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Desa Sanganom terdiri dari 6 Desa, 15 Rt dan 6 Rw, Tepatnya ujung selatan kecamatan Nguling, jadi dari jalan raya melewati 3 desa baru bisa sampai di desa Sanganom. Desa ini berada jauh dari jalan raya akan tetapi, banyak sejarah-sejarah yang belum terungkap didesa Sanganom ini. Penduduk yang tinggal di Desa Sanganom ini diperkirakan sekitar 1.864 jiwa dan terletak pada Koordinat 7°46′25″S 113°2′45″E.


Salah satu tradisi yang ada di desa ini yaitu Selametan Desa. Slametan adalah suatu tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh seseorang yang memiliki kepercayaan masing-masing dan diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya. Slametan ini biasanya dilakukan 2 tahun sekali, supaya tidak memberatkan warga sekitar yang tinggal di Desa tersebut. Slametan Desa dijadikan tradisi di Desa Sanganom yang dilakukan oleh semua warga yang ada didesa tersebut. Tujuan diadakannya selametan desan ini, agar terhindar dari bala musibah seperti kesurupan (hal-hal mistis) dan agar hasil panen di Desa Sanganom itu bisa bagus dan baik dan masyarakat menjadi Makmur. Jika selametan desa ini tidak dilaksanakan maka akan banyak tragedi kesurupan dan hasil panen yang gagal.


Pada suatu saat Slametan Desa ini tidak dilakukan banyak warga Desa Sanganom kesurupan massal, dan hasil panen warga banyak yang gagal. Semua itu sudah menjadi kepercayaan Warga Desa Sanganom untuk melakukan Slametan Desa dan diwariskan secara turun temurun. Slametan Desa Sanganom 1980-2025 banyak mendapatkan dukungan dari semua warga Desa Sanganom dan sekitarnya, karena Slametan Desa ini merupakan acara yang bisa dibilang acara yang harus dilakukan oleh warga Desa Sanganom.


Selametan desa ini biasanya membuat “Legin” atau suatu tempat dari bambu berbentuk kotak yang di isi dengan hasil panen warga Desa Sanganom seperti buah-buahan, padi, jagung, lauk pauk, makanan ringan, dan lain-lain. Legin ini dibuat untuk bentuk rasa syukur karena telah diberikan panen yang baik dan bagus, kemudian Legin ini dibuat untuk makan bersama Warga Desa Sanganom. Biasanya Selametan desa ini identik dengan kesenian Tayub yang dilaksanakan di Rumah Kepala Desa Sanganom.


Slametan Desa Sanganom ini termasuk sejarah sosial lokal dikarenakan terdapat nilai-nilai masyarakat didalamnya dan terdapat tradisi yang turun temurun serta bisa memperkuat ikatan sosial antar masyarakat didesa tersebut. Sejarah lokal secara sederhana dapat dimaknai sebagai historiografi sejarah yang data sejarah lokal menekankan studi kompratif antara data regional dan nasional yang telah didapatkan dalam berbagai bukti dokumenter.


Slametan Desa di Desa Sanganom ini tidak pernah dilakukan oleh orang lain. Maka dari itu, Slametan Desa Sanganom ini sangatlah menarik untuk di teliti dan dibahas. Banyak kejadian-kejadian yang menarik juga didalam Slametan Desa Sanganom ini yang belum banyak diketahui oleh orang lain. Maka dari itu dengan penelitian ini semoga orang-orang bisa banyak mengetahui tentang Slametan Desa Sanganom, Kecamatan Nguling, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Desa yang dibilang paling ujung akan tetapi mengandung banyak- banyak sejarah yang terkandung didalamnya. Tradisi Selametan Desa ini haruslah dilestarikan dan dikembangakan karena merupakan tradisi desa yang turun temurun supaya anak-anak penerus didesa itu bisa meneruskan juga tradisi selametan desa ini. Mungkin di desa-desa lain juga melaksanakan selametan seperti ini, akan tetapi setiap desa pastinya memiliki ciri khas yang berbeda-beda.


Slametan Desa Sanganom dari tahun 1980-2025 dibilang cukup berkembang, yang awalnya Slametan dilakukan secara tradisional sekarang dilakukan secara modern, akan tetapi tidak menghilangkan tata cara tradisional yang sudah dilakukan secara turun temurun seperti adanya kesenian tayub/campur sari, pembuatan Legin, berkunjung atau ziarah ke makam Kepala Desa pertama Desa Sanganom, dan lain sebagainya. Slametan Desa Sanganom terus di lakukan 2 tahun sekali oleh setiap penerus-penerus kepala Desa Sanganom yang menjabat pada masa itu.


Slametan Desa Sanganom diadakan oleh kepala Desa Sanganom dirumahnya sendiri dan dihadiri atau didukung oleh semua warga Desa Sanganom. Kepala Desa Sanganom memfasilitasi semua kebutuhan yang diperlukan pada Slametan ini dan dibantu oleh semua warga Desa Sanganom. Antusias warga Desa Sanganom dalam tradisi Slametan Desa ini sangatlah tinggi, karena merupakan salah satu bentuk rasa Syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah dilimpahkan rezeki, keselamatan, dan ketentraman hidup bermasyarakat.


Selain itu, diadakannya Slametan desa ini juga memperat solidaritas sosial antar warga dan rasa gotong royong antar sesama. Slametan Desa melibatkan banyak pihak seperti dihadiri oleh tokoh agama (Kyai/Ustadz) yang biasanya berperan sebagai orang yang memimpin do’a dan memberikan ceramah tentang moral, akhlak, budi pekerti, nilai kehidupan dan lain sebagainya serta memimpin do’a bersama agar semua warga Desa Sanganom senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan serta mempunyai panen yang bagus dan berhasil. Biasanya dihadiri oleh tamu undangan dari luar, seperti kepala Desa atau perangkat desa yang berasal dari Desa tetangga sendiri serta warga Desa Sanganom baik muda maupun tua ikut andil dalam acara tersebut. Dengan hadirnya warga desa Sanganom dalam acara ini merupakan bentuk rasa menghargai atau menghormati para leluhur dan antar sesama.


Banyak perubahan juga yang terdapat pada Slametan Desa Sanganom ini, yang dulunya acara ini disampaikan secara lisan sekarang disebarkan menggunakan sosial media karena perkembangan zaman. Meskipun banyak perubahan, tidak merubah rasa gotong royong dan kebersamaan antar warga Desa Sanganom yang tetap terjaga dengan baik. Akan tetapi, terdapat beberapa tantangan juga yang harus dihadapi seperti kurang minatnya pada generasi muda untuk tertarik pada acara seperti ini karena dibilang kuno, maka dari itu perlu adanya pendidikan lokal yang harus diajarkan disekolah-sekolah. Sehingga perlunya pemahaman terkait sejarah lokal kepada semua pemuda baik dikalangan desa maupun kota, supaya bisa mengetahui sejarah-sejarah yang ada ditempatnya masing-masing. Dari adanya itu tradisi- tradisi seperti ini akan terus berkembang dan berlanjut sampai turun temurun.


Dampak sosial yang ditimbulkan oleh slametan desa terhadap komunitas desa sangat signifikan dan menguntungkan. Kebiasaan ini berfungsi sebagai alat untuk menguatkan ikatan sosial di antara penduduk, karena semua anggota masyarakat, terlepas dari status sosial mereka, berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Dengan saling membantu dalam menyiapkan hidangan, tempat, dan acara, warga menciptakan rasa persatuan dan solidaritas yang kuat.


Jadi, Slametan Desa ini memawa dampak yang sangat positif bagi kemajuan Desa Sanganom, dikarenakan slametan desa ini mampu untuk menjadi sarana supaya memperkuat jati diri budaya setempat sehingga slametan desa ini juga bisa diketahui banyak orang, serta bisa membangkitkan kecintaan terhadap warisan nenek moyang sudah turun temurun.


Slametan desa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam sektor pertanian, perekonomian, dan hubungan sosial di masyarakat. Dalam sektor pertanian, kebiasaan ini merupakan bentuk ungkapan terima kasih atas hasil panen serta harapan untuk keberhasilan yang lebih pada musim tanam mendatang. Dalam pertemuan masyarakat saat slametan, para petani bisa saling berbagi informasi mengenai metode bertani, pengendalian hama, dan pengelolaan air serta pupuk, sehingga pengetahuan lokal mereka dapat semakin maju.


Di samping itu, doa yang dilakukan bersama-sama meningkatkan keyakinan dan motivasi untuk bekerja keras dalam mengurus lahan pertanian. Dari segi ekonomi, acara slametan mendorong sirkulasi uang di desa karena penduduk mengeluarkan uang untuk membeli bahan makanan, perlengkapan acara, dan hasil pertanian dari pedagang serta petani setempat. Ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan penghasilan masyarakat dan menstabilkan ekonomi desa.


Jadi, secara sosial slametan Desa Sanganom memperkuat kerjasama dan semangat saling bantu di antara anggota masyarakat. Aktivitas gotong royong yang muncul menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis, sehingga berdampak positif terhadap meningkatnya stabilitas sosial dan produktivitas warga. Oleh karena itu, slametan desa tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan atau budaya, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama bagi seluruh penduduk desa.



Oleh: Novita Anggraini Ema Agustin


Daftar Pustaka

Nuraseh S.(2023). Selamatan Bersih Desa sebagai Wujud Ucapan Syukur dalam Kontradiksi Budaya Jawa: Jaman Dahulu dan Sekarang.JurnalPendidikan BahasaJawa, 7(1). 

Jumardi. (2022).Sejarah Lokal dan Public history (Sejarah Bagi Masyarakat). 3(3).