Gambar 1. Pacuan Kuda Pulomas 1974 (Online Public Access Catalog Perpusnas)

Perilisan gim Uma Musume: Pretty Derby untuk audiens global pada pertengahan 2025 silam agakya membuka peminat baru dalam dunia pacuan kuda Indonesia. Uma Musume yang merupakan game dengan genre Gacha menyajikan kisah kuda balap Jepang menjadi karakter yang bisa dimainkan dan dilatih. Hal ini secara tidak langsung memaparkan para pemain dengan sejarah pacuan kuda terutama ras Thoroughbred di negeri Sakura tersebut melalui setiap karakter yang memiliki sejarah atau kisahnya masing masing melalui Story di dalam game dan serial anime dari IP yang sama. 

Kisah seperti Oguri Cap, seekor kuda lokal Kasamatsu yang berhasil mengubah peraturan badan penyelenggara balapan kuda nasional Jepang (JRA) mengenai prasyarat partisipasi balapan the Classics yang merupakan tiga balapan utama untuk meraih Tripple Crown, penghargaan tertinggi yang bisa didapatkan seekor kuda balap yang adaptasi menjadi anime dengan judul Uma Musume: Cinderella Gray memperkenalkan lebih lanjut sejarah pacuan kuda Jepang di kancah internasional.





"UMA" LOKAL

keberadaan berbagai ras kuda yang mayoritas adalah Poni di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perdagangan maritim yang membawa beberapa jenis kuda. salah satu contoh dari hal tersebut adalah kedatangan kavaleri Mongol yang dipercaya sebagai nenek moyang poni lokal. salah satu ras kuda balap yang terkenal yang merupakan hasil perkawinan silang adalah kuda Priangan Jawa Barat yang merupakan persilangan poni lokal dengan kuda Arab. kedatangan bangsa barat kemudian memperkenalkan ras Eropa serta membawa banyak kuda dari timur tengah.

Tercatat hingga tahun 1920 terdapat beberapa jenis kuda yang berasal dari Indonesia lainnya salah satunya adalah adalah kuda Makasar yang memiliki postur kaki kuat dan tegap serta kerap digunakan sebagai tunggangan unuk militer, selain itu juga terdapat kuda Sumba yang merupakan keturunan kuda Australia dimana kualitas peternakan lokal kuda ini menurun sejak abad ke 19 karena ekspor yang masif ke pulau pulau lain dikarenakan kualitasnya yang dianggap baik oleh pemerintah kolonial.



PACUAN KUDA MODERN

Pacuan kuda modern di Indonesia dibawa oleh Belanda ke tanah koloninya dan mulai populer pada abad ke 19 dimana pada masa tersebut terbentuklah beberapa klub-klub balap kuda seperti Batavia-Buitenzorg Wedloop Sociëteit dan Preanger Wedloop Sociëteit. Perlombaan juga digelar oleh organisasi organisasi tersebut, seperti Java Derby  yang diinisiasikan oleh Batavia-Buitenzorg Wedloop Sociëteit pada desember 1887 dengan batas usia kuda dengan umur maksimal 5 tahun. Pergelaran ini menawarkan hadiah sebesar 1000 Gulden dan diharapkan untuk memantik kegiatan pembiakan kuda.



Gambar 2. Swallow sebagai pemenang Java Derby 1935 ditunggangi oleh Marshall (Bredasche Courant 07-05-1935, Delpher.nl)



Pergelaran pacuan kuda oleh klub-klub masa kolonial kembali muncul paska perang dunia kedua seperti pada 1956 dimana Preanger Wedloop Sociëteit menggelar Java Derby di lintasan pacu Tegallega dengan harga tiket 5 Rupiah. Kuda milik R.M. Sumartono memenangkan di kedua hari balapan dengan kudanya, Tridjata II dengan jarak 1000 dan 1400 meter. Selain Java Derby, perlombaan lain juga digelar bersamaan seperti pacuan kuda poni, kuda asing, dan kuda jantan.

Pada 1971, gubernur Jakarta yakni Ali Sadikin menggelar kembali balapan kuda di kota tersebut sejak 1958. Ribuan warga secara antusias berkumpul di tribun untuk menyaksikan pergelaran tersebut. Ali sadikin bekerja sama dengan pemerintah Australia untuk menghidupkan kembali pacuan kuda di satu-satunya ibu kota di Asia Tenggara pada masa tersebut yang tidak memiliki lintasan pacu kuda. 



POPULARITAS

Sejak perilisannya, Komunitas lokal gim Uma Musume di Indonesia terus berkembang di berbagai platform seperti facebook dengan grup-grup seperti Uma Musume: Pretty Derby Indonesia dan Ini Grup Umamusume tapi Isinya Uma Lokal Semua (IGUTIULS) yang tak jarang juga mengulik sejarah pacuan kuda Jepang maupun lokal. Popularitas game tersebut di Indonesia secara tidak langsung membawa generasi baru ke tribun lintasan kuda pacu dan juga pemerhati sejarah dari salah satu cabang olahraga yang dahulu kurang dikenal ini.

Salah satu momen yang menandai naiknya popularitas pacuan kuda nasional terjadi pada Indonesia Derby pada 27 Agustus 2025 dimana komunitas lokal Uma Musume memadati baik melalui siaran langsung atau tribun lintasan pacu pergelaran yang menentukan pemenang Tripple Crown pertama dalam beberapa tahun terakhir. pada kanal Youtube Indonesia's Horse Racing sebagai penyelenggara, Siaran langsung tersebut menjadi siaran dengan penonton terbayak di kanal tersebut dengan lebih dari 300.000 penonton per 22 Februari 2025.

Pada komunitas Ini Grup Umamusume tapi Isinya Uma Lokal Semua (IGUTIULS) unggahan mengenai industri dan sejarah pacuan kuda lokal memperkenalkan penggemar baru yang dibawa oleh popularitas game Uma Musume dengan pegiat pacuan kuda lokal. arsip pribadi pacuan kuda dan potongan koran mengenai pergelaran di masa lampau juga turut dibagikan oleh sesama anggota grup, menambah wawasan mengenai pacuan kuda Indonesia baik tradisional ataupun modern dengan selingan meme dan juga illustrasi kuda lokal sebagai karakter dengan gaya anime dari Uma Musume.



Oleh: Fahrizi Fatahillah



Daftar Pustaka:

Bataviaasch nieuwsblad. (1887, Desember 27). No. 22.

Hendricks, B. L. (1995). International encyclopedia of horse breeds. University of Oklahoma Press.

Scott, B. (1987). The world of horse racing. Gallery Books.

Something nobody talks about. (1971, Juni 12). The Bulletin.

Tweede dag. (1956, Juli 16). Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode.

Wedrennen te Batavia. (1935, Mei 7). Bredasche Courant.