Gambar 1. Kepala Surat Kabar Sin Po



Perkembangan Masyarakat hindia belanda pada awal ke abad-20 ditandai oleh perubahan yang cukup cepat dalam aspek sosial, politik, dan ekonomi. Yang pertama adalah proses modernisasi dengan mencakup Pendidikan barat, pengembangan infrastruktur komunikasi dan munculnya kelas menengah baru, dan menjadikan media cetak sebagai kekuatan utama dalam membentuk pandangan publik. 

Dalam hal ini, pers yang di kelola oleh komunitas tiongkok salah satunya ada Sin Po memainkan peranan yang sangat penting karena tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi saja tetapi juga dalam penyebaran ide-ide modern, kritik terhadap nasionalisme dan dukungan terhadap gerakan kebangsaan. Kosasih (2013) menjelaskan bahwa pers tionghoa ini berperan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan gagasan, kritik, dan pendapat mampu membuka pikiran masyarakat serta mendukung dinamika pergerakan masyarakat di Hindia Belanda.

Salah satu media yang sangat berpengaruh disini adalah Sin Po yang sudah mulai terbit pada tahun 1910 dan media ini mendapatkan respon positif dari komunitas tionghoa peranakan serta para pembaca dari berbagai latar belakang atau etnis yang berbeda. Surat kabar ini berbeda dengan banyaknya surat kabar kolonial Belanda yang biasanya mendukung pemerintah, Karena Sin Po menunjukkan keberanian dengan mengkritik ketidakasilan yang terjadi dalam sistem kolonial. Membahas isu-isu sosial ekonomi serta memberikan komentar tajam mengenai situasi politik lokal. 

Hal ini terlihat jelas juga dalam edisi sinpo tanggal 17 maret 1923, yang menyoroti mengenai kondisi ekonomi dan perpajakan sebagai beban bagi rakyat “oewang kaloet sekali” dan pajak yang “terlaloe berat” bagi masyarakat (Sin Po, 17 Maret 1923). Kritik secara terbuka semacam ini menggambarkan fungsi Sin Po sebagai media yang membangkitkan kesadaran serta mendorong modernisasi, karena membimbing para pembaca untuk memahami situasi politik.


Modernisasi Sosial dan Intelektual melalui Surat Kabar Sin Po (1910-1928)

Modernisasi yang dilakukan oleh Sin Po antara tahun 1910 hingga 1928 bukan hanya sekedar menyampaikan berita saja, tetapi juga merupakan suatu upaya yang direncanakan untuk membangun pola pikir baru di kalangan masyarakat tionghoa-peranakan di Hindia Belanda. Sebelum periode tersebut, banyak keluarga tionghoa masih mempertahankan cara berfikir tradisional yang berlandaskan pada hierarki keluarga, kepercayaan kuno, serta penolakan terhadap adanya pendidikan barat. Sin Po juga hadir menjadi pelopor perubahan yang membawa para pembacanya memasuki apa yang disebut dengan redaksi sebagai era baru, yaitu Dimana masa ketika ilmu pengetahuan, rasionalitas, dan kesadaran sosial menjadi dasar kehidupan modern (Aprianto 2022, 3).

Salah satu cara modernisasi yang terlihat dalam Sin Po adalah munculnya pemahaman baru tentang pendidikan sebagai faktor penentu masa depan keluarga. Ini bisa disaksikan dalam kisah keluarga Oeij Keng Seng, yang khawatir akan nasib kedua putrinya. Di dalam teks yang ada, Oeij Keng Seng menyampaikan bahwa jika anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang baik, mereka akan “djadi bodo” seperti ibunya yang dianggap “koeno” atau kurang berpendidikan (SinPo, 17 Maret 1923, lembar 2, rubrik Penghidoepan). 

Narasi ini mencerminkan perubahan nilai dalam keluarga Tionghoa-peranakan yang mulai memandang pendidikan Barat sebagai simbol kemajuan dan status modern. Penekanan pada pendidikan juga menunjukkan bahwa Sin Po proaktif memajukan ide mobilitas sosial, sejalan dengan analisis Nafisah dan Suwirta (2021, 77) yang menempatkan pers Tionghoa sebagai bagian penting dalam dinamika intelektual pada awal abad ke-20.

Modernisasi juga dapat dilihat dari cara Sin Po menyajikan topik-topik yang jarang muncul dalam media lokal sebelumnya, seperti filsafat, objektivitas ilmiah, dan kritik sosial. Artikel FUCHÜ dalam edisi 6 April 1923 menunjukkan upaya untuk memperluas wawasan pembaca dengan mengungkapkan bahwa “kaadilan dan kabeneran adalah relative,” menekankan bahwa kebenaran tidak bersifat absolut dan dapat berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu (SinPo, 6 April 1923, lembar 3, rubrik Filsafat). 

Pembicaraan filosofis semacam ini menunjukkan bahwa Sin Po tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga mengedukasi pembaca dengan pemikiran modern dan rasional, yang merupakan aspek penting dari modernisasi intelektual. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Aprianto dan Fibiona dkk. (2022, 12) yang menyebutkan bahwa para editor Sin Po, khususnya Tjoe Bou San dan Kwee Kek Beng, menjadikan surat kabar ini sebagai platform yang mendorong pembacanya untuk berpikir kritis tentang realitas sosial.

Kontribusi Sin Po dalam Membangun Kesadaran Nasionalisme di Hindia Belanda (1910–1928)

Sin Po tidak hanya berperan dalam memajukan modernisasi, tetapi juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kesadaran nasionalisme awal di Hindia Belanda. Melalui kritik terhadap praktik kolonial, penanganan masalah politik, dan pemakaian istilah yang mengarah pada identitas kebangsaan yang baru, Sin Po menjadi salah satu sarana yang membentuk ide kebangsaan yang melintas batas etnis. 

Menurut Nafisah dan Suwirta (2021, 90), Sin Po merupakan surat kabar Tionghoa yang paling berani untuk memperkenalkan konsep identitas “Indonesia” sebelum tahun 1928, sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan sejarah nasionalisme modern.

Salah satu metode yang digunakan Sin Po untuk membangun kesadaran nasionalisme adalah dengan mengangkat isu ketidakadilan dalam pemerintahan kolonial. Dalam terbitan 17 Maret 1923, Sin Po mengecam kebijakan perpajakan pemerintah yang memberatkan masyarakat dengan menyatakan bahwa pajak tersebut “terlaloe berat,” terutama bagi komunitas Tionghoa di Jawa Tengah (Sin Po, 17 Maret 1923, lembar 1, rubrik Politiek). Kosasih (2013, 2) menyebut bahwa kritik dari pers Tionghoa kepada pemerintah kolonial berkontribusi pada kesadaran kolektif bahwa warga Hindia berada dalam keadaan tertekan dan memerlukan persatuan.

Kesadaran nasionalisme juga dikembangkan melalui berita mengenai dinamika politik dikalangan pribumi. Sin Po melaporkan konflik antara Sarekat Islam (SI), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Boedi Oetomo (BO). Dalam salah satu laporannya, Sin Po menjelaskan bahwa SI dan PKI “sesungguhnja berlawanan” karena SI berlandaskan agama, sementara kaum komunis “tida perdoeliken agama” (Sin Po, 17 Maret 1923, lembar 1, rubrik Politiek). 

Berita ini membantu pembaca menangkap kompleksitas pergerakan nasional dan pentingnya persatuan di dalamnya. Analisis ini sesuai dengan pendapat Aprianto dan Fibiona dkk. (2022, 19) yang menunjukkan bahwa Sin Po menempatkan diri sebagai media dengan tujuan untuk menyatukan berbagai segmen masyarakat melalui peliputan yang objektif mengenai perkembangan politik.

Sumber primer lainnya dari edisi 9 Juni 1923 juga menunjukkan kontribusi Sin Po dalam meningkatkan kesadaran nasional melalui kritik terhadap hubungan antara Hindia Belanda dan Belanda. Artikel berjudul “Hindia and Holland” mengungkapkan bahwa Hindia seharusnya diperlakukan setara dalam konteks kebijakan ekonomi dan perdagangan, terutama terkait dengan boikot terhadap Jepang. 

Dalam teks tersebut, Sin Po menyebut bahwa “bangsa Tionghoa sebenernja tiada boleh memboycot barang-barang Jepang hanja oleh perentah Hindia...” (SinPo, 9 Juni 1923, lembar 1, rubrik Ekonomi dan Politik). Kritik ini menegaskan penolakan Sin Po terhadap posisi subordinasi Hindia di bawah kepentingan Belanda sekaligus membangun gagasan bahwa Hindia memiliki kepentingan kolektif yang perlu diperjuangkan.

Lebih jauh lagi, Sin Po merupakan salah satu media awal yang memperkenalkan istilah “Indonesia. ” Nafisah dan Suwirta (2021, 92) mencatat bahwa pada pertengahan 1920-an, Sin Po mulai memakai istilah “Indonesia” dan “bangsa Indonesia,” khususnya dalam bahasan politik. Disisi lain, tulisan Sin Po tentang hubungan antara media Belanda dan Hindia, seperti perselisihan antara Java-Bode dan De Indische Courant, juga memberikan pemahaman mendalam mengenai bentrokan ideologi kolonial. Dalam terbitan 17 Maret 1923, Sin Po mengutip klaim yang menyebut De Indische Courant sebagai “roode courant,” namun segera membantahnya dengan menyatakan bahwa mereka sebenarnya mendukung demokrasi (Sin Po, 17 Maret 1923, 3, kolom Pers danPolitik).


Penulis: Marza Al Zahra

Sumber:

Artikel Jurnal:

Aprianto, Iwan Dwi., Indra Fibiona, dkk. (2022). Tjoe Bou San, Nasionalis Tionghoa dan Redaktur Sin Po. 

Kosasih, Ahmad. (2013). Peran Pers Tionghoa dalam Pergerakan Nasional di Indonesia.

Nafisah, N., & Suwirta, A. (2021). “Kwee Kek Beng dan Nasionalisme Tionghoa-Peranakan.” Patrawidya: Jurnal Kajian Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Vol. 22 No. 2.


Surat Kabar atau Majalah:

Sin Po. 17 Maret 1923.

Sin Po. 9 Juni 1923.