Batavia maupun Soerabaja tidak Pernah Mengembalikannya.


Di bawah langit senja Soerabaja yang temaram, angin membawa harum tembakau dan melati dari halaman landhuis tua milik seorang controleur Belanda. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu, memantulkan cahaya keemasan pada tegel dingin dan gaun putih noni-noni yang berayun perlahan. Di beranda itu, ia berdiri dengan Beskap Langenharjan warna gading dan mata yang menyimpan ribuan woorden yang tak pernah selesai diucapkan. Lelaki itu mendekat pelan, membungkukkan sedikit tubuhnya seperti seorang jongheer yang diajarkan tata krama Eropa namun hatinya telah lama jatuh pada tanah Hindia dan perempuan di hadapannya. “Non… mag ik?” bisiknya lirih, nyaris tenggelam oleh suara trem yang melintas jauh di pusat kota.

Jemarinya menyentuh dagu sang gadis dengan hati-hati, seolah ia adalah porselen Delft yang bisa retak hanya karena rindu. Dan ketika bibir mereka akhirnya bertaut dalam sunyi, dunia seperti berhenti bergerak—hanya ada desir angin, bunyi gamelan samar dari kejauhan, dan cinta yang lahir di negeri jajahan; cinta yang barangkali tak akan direstui zaman, namun tetap hidup seperti aroma hujan di tanah Batavia lama.

Ciuman itu tinggal beberapa detik, namun terasa seperti berpuluh tahun kehidupan yang akhirnya menemukan rumahnya. Sang gadis perlahan membuka mata, menatap lelaki di hadapannya dengan dada yang masih naik turun oleh gugup dan rindu yang tak pernah benar-benar selesai.

Dari balik jendela rumah besar itu terdengar denting jam tua berdetak pelan—tik, tok, tik, tok— seolah waktu sedang mengingatkan bahwa malam tidak akan selamanya berpihak pada dua manusia yang saling mencintai diam-diam.

Lelaki itu tersenyum tipis. Ada sendu yang tinggal di sudut matanya.

“Kau gemetar, Non.”

“Karena Tuan selalu datang membawa badai,” jawabnya lirih, nyaris seperti bisikan doa.

Angin malam saut - menyaut meniup ujung gorden putih. Di taman belakang, bunga sedap malam bermekaran di bawah cahaya rembulan Soerabaja yang pucat. Trem terakhir telah lama berlalu, menyisakan kota yang perlahan sunyi bersama desir pohon kenari dan suara langkah babu-babu yang mulai menutup jendela rumah.

Lelaki itu mengusap pelan punggung tangan sang gadis dengan ibu jarinya. Hangat. Hati-hati. Seolah ia tahu dunia terlalu kasar untuk perempuan selembut dirinya.

“Aku sering berpikir,” katanya perlahan, “andai kita lahir bukan di zaman seperti ini… mungkin aku bisa mencintaimu tanpa takut.”

Perempuan itu tersenyum kecil, meski matanya mulai basah.

“Cinta memang selalu datang di waktu yang salah, Tuan.”

“Tidak,” jawab lelaki itu cepat, menatapnya dalam-dalam. “Zamannya yang salah. Bukan kau.”

Kalimat itu jatuh begitu saja ke malam, membuat udara terasa semakin berat oleh perasaan yang tak mampu ditampung kata-kata.

Sang gadis dengan rupa cantik tiada tanding berkebangsaan eropa — indo pun menunduk pelan, jemarinya meremas ujung gaun putih bersih nan anggun yang ia kenakan. Untuk sesaat ia terlihat rapuh sekali, seperti lukisan tua yang mulai pudar dimakan usia.

“Papahku tidak akan pernah merestui ini,” bisiknya lirih, matanya jatuh pada lantai tegel yang dingin. “Meski Tuan seorang bangsawan… seorang Raden Mas, putra bupati yang bersekolah di HBS dan berhasil meluluhkan hati anak perempuannya, bagi Papa kita tetap berasal dari dunia yang berbeda. Mama memang merestui hubungan ini… namun di rumah ini, restu seorang ibu tak pernah benar-benar berarti apabila Papa tidak berkehendak.”

Lelaki itu mendekat lagi. Sangat dekat hingga aroma hujan, tanah basah, dan tembakau kretek yang samar dari tubuhnya bercampur dengan harum melati di rambut sang gadis. Jemarinya yang hangat—jemari seorang bumiputra yang lebih akrab dengan tinta, buku-buku HBS, dan tanah Hindia daripada wangi cologne Eropa—perlahan menyentuh pipi perempuan itu dengan hati-hati, seolah ia takut dunia kolonial yang kejam akan merenggutnya sewaktu-waktu.

“Dan bagiku,” katanya pelan sambil menyentuh pipi perempuan itu, “kau adalah satu-satunya tempat di Hindia Belanda yang membuatku ingin pulang.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Di kejauhan, gamelan terdengar samar dari perkampungan pribumi di balik sungai. Langit Soerabaja makin gelap, namun lampu-lampu minyak di rumah tua itu tetap menyala hangat, memantulkan bayangan dua insan yang sedang saling mencintai dengan cara paling menyakitkan diam-diam.

Lalu lelaki itu mengecup keningnya lama sekali.

Bukan seperti seorang tuan tanah mencium perempuan simpanannya. Bukan pula seperti pemuda Belanda yang sedang mempermainkan hati noni Hindia.

Melainkan seperti seseorang yang tahu bahwa mungkin setelah malam ini, ia tidak akan pernah lagi diberi kesempatan untuk mencintai perempuan itu sedekat ini.

“Jika esok aku harus pergi ke Batavia,” bisiknya serak, “akankah kau masih mengingatku?”

Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya membentuk senyum kecil yang begitu sendu.

“Bagaimana mungkin aku lupa,” katanya lirih, “sedangkan sebagian jiwaku sudah Tuan bawa sejak ciuman pertama itu?”

Namun Hindia tidak pernah benar-benar baik kepada cinta yang tumbuh di tempat yang salah.

Beberapa bulan setelah malam itu, kota Soerabaia berubah muram. Lelaki yang sedang berada di batavia ini pun gelisah mendengar Desas-desus tentang keluarga-keluarga Eropa yang akan dipulangkan ke Nederland terdengar di mana-mana. Orang-orang mulai berbicara pelan di ruang makan besar dan societeit, sementara surat kabar kolonial dipenuhi kabar politik yang membuat udara Hindia terasa semakin sesak.

Di sisi lain kota, setelah pepulangannya dari batavia dan kembali ke tempat ia tinggal, lelaki itu menjalani hari-harinya seperti bayang-bayang. Jas putih HBS yang biasa ia kenakan kini terasa terlalu berat di pundaknya. Gelar bangsawan dan nama besar keluarganya perlahan berubah menjadi rantai yang mengekang lehernya sendiri.

Suatu malam, ayahnya memanggilnya ke pendopo kabupaten.

Lampu sentir menyala redup. Bau kopi pahit memenuhi ruangan.

“Ayah sudah memilihkan calon istri untukmu,” ujar sang Bupati tanpa banyak basa-basi. “Putri seorang raden adipati dari Madiun. Darahnya baik. Keluarganya terpandang.”

Lelaki itu diam.

“Tapi Ayah—”

“Cukup.” Suara itu memotong tajam. “Kau terlalu lama bergaul dengan orang-orang Eropa sampai lupa siapa dirimu sebenarnya. Perempuan Indo itu tidak akan pernah menjadi bagian keluarga kita.”

Malam itu ia pulang dengan dada hancur.

Dan untuk pertama kalinya, seorang Raden Mas yang selama ini dipandang paling terpelajar di Soerabaia merasa dirinya hanyalah anak kecil yang tak mampu melawan kehendak zaman.

Sementara itu, di rumah besar bercat putih dekat pusat kota, sang gadis menerima kabar yang sama menyakitkannya.

Papa-nya berdiri di depan jendela sambil menggenggam cerutu.

“Kita akan kembali ke Den Haag bulan depan.”

Perempuan itu membeku.

“Aku tidak mau pergi.”

“Kau tidak punya pilihan, meisje.” Lelaki tua itu menghembuskan asap perlahan. “Hindia Belanda bukan tempat untuk masa depanmu. Terlebih… setelah kedekatanmu dengan pemuda bumiputra itu.”

“Dia bukan sekadar bumiputra,” bisik sang gadis dengan suara bergetar. “Aku mencintainya.”

Namun papah-nya hanya tersenyum tipis—senyum dingin khas lelaki Eropa yang terlalu lama percaya bahwa dunia dapat diatur oleh status dan darah keturunan.

“Cinta,” katanya pelan, “tidak pernah cukup untuk menyatukan dua dunia.”

Beberapa hari sebelum keberangkatannya, perempuan itu menulis surat terakhir dengan tangan gemetar.

“Liefste…
Aku pernah percaya bahwa kita bisa melawan seluruh dunia selama kita saling mencintai. Namun ternyata Hindia terlalu sempit bagi dua hati yang lahir dari bangsa berbeda.
Mereka akan membawaku pulang ke Belanda sebelum musim hujan berakhir. Dan kau… akan tetap tinggal di tanah yang begitu kau cintai ini.
Jangan mencariku. Sebab bila aku melihatmu sekali lagi, aku takut tidak akan sanggup pergi. Terima kasih telah membuat seorang perempuan Indo seperti aku merasa dicintai bukan karena darah Eropaku, melainkan karena diriku sendiri.
Tot ziens, liefste.”

Surat kala itu sampai tepat sehari sebelum lelaki itu dijodohkan secara resmi.

Ia membacanya sendirian di kamar, ditemani suara hujan yang menghantam genting pendopo. Untuk pertama kalinya sejak dewasa, lelaki itu menangis.

Bukan karena perempuan itu pergi.

Melainkan karena ia sadar—mereka saling mencintai dengan begitu besar, namun tetap kalah oleh dunia tempat mereka dilahirkan.

Keesokan paginya, kapal besar menuju Rotterdamn berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak.

Di antara kerumunan orang-orang Eropa yang melambaikan tangan dengan sapu tangan putih, seorang perempuan berkebaya gading berdiri diam di dek kapal. Matanya mencari satu wajah terakhir di tengah hujan Soerabaia.

Dan jauh di balik keramaian pelabuhan, seorang lelaki bumiputra berdiri tanpa berani mendekat.

Mereka saling memandang untuk terakhir kalinya.

Tanpa pelukan.

Tanpa ciuman.

Tanpa kata perpisahan.

Hanya dua manusia yang sama-sama tahu bahwa setelah kapal itu bergerak menjauh, sebagian hidup mereka akan ikut hilang bersama laut.

Tahun-tahun berlalu. Hindia Belanda runtuh. Jepang datang. Kemerdekaan lahir dari darah dan luka.

Lelaki itu akhirnya menjadi seorang bupati seperti ayahnya dulu. Dihormati rakyat, memiliki keluarga, dan hidup sebagaimana yang diharapkan semua orang.

Namun setiap musim hujan tiba, ia masih sering duduk sendiri di beranda pendopo sambil membaca surat tua dengan tinta yang mulai pudar.

Surat dari seorang perempuan Indo yang pernah mengajarinya bagaimana rasanya dicintai tanpa memandang bangsa.

Sementara di Den Haag, seorang perempuan tua menyimpan foto usang seorang pemuda bumiputra berseragam HBS di laci meja kayunya.

Dan setiap kali hujan turun di negeri asing itu, ia selalu teringat aroma tanah basah Soerabaia… serta lelaki yang pernah menjadi rumah paling hangat dalam hidupnya.

"Pada akhirnya, mereka tidak dipisahkan oleh kurangnya cinta.
Melainkan oleh dunia yang sejak awal tidak pernah membiarkan mereka bersama."



Penulis: Iffah al Insyiroh