Pada masa itu, berbagai aliran kepercayaan dan kelompok kebatinan berkembang secara diam-diam di beberapa wilayah Jember. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai “sekte tersembunyi”, meskipun sebenarnya kelompok tersebut lebih tepat disebut aliran kebatinan atau penghayat kepercayaan.
Awal Munculnya Aliran Kepercayaan di Jember
Tahun 1960-an merupakan masa penuh gejolak di Indonesia. Situasi politik yang tidak stabil membuat banyak masyarakat mencari ketenangan melalui jalur spiritual. Di wilayah Jawa, termasuk Jember, tradisi mistik dan kebatinan memang sudah hidup sejak lama.
Masyarakat desa saat itu masih sangat percaya terhadap:
- tirakat,
- semedi,
- ritual leluhur,
- puasa batin,
- dan kekuatan spiritual alam.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi kelompok-kelompok spiritual kecil yang biasanya dipimpin tokoh tertentu.
Di Jember sendiri, kelompok seperti ini banyak ditemukan di daerah pedesaan dan kawasan pinggiran hutan. Aktivitas mereka dilakukan tertutup sehingga menimbulkan kesan misterius di tengah masyarakat.
Sapta Darma dan Kebatinan Jawa
Salah satu aliran yang diketahui berkembang di Jawa Timur saat itu adalah Sapta Darma. Aliran ini lahir pada tahun 1952 dan menyebar ke berbagai daerah, termasuk Jember.
Ajarannya berfokus pada pengembangan batin manusia melalui meditasi dan penyucian diri. Para pengikut biasanya melakukan ritual yang disebut sujud penghayatan sebagai bentuk pendekatan spiritual kepada Tuhan.
Selain Sapta Darma, praktik Kejawen juga berkembang cukup kuat di Jember. Kejawen sendiri bukan agama resmi, melainkan tradisi spiritual Jawa yang memadukan unsur budaya, filosofi hidup, dan mistisisme lokal.
Beberapa praktik yang sering dilakukan antara lain:
- meditasi malam hari,
- puasa mutih,
- tirakat di tempat sunyi,
- hingga ritual di sumber mata air atau makam tertentu.
Karena dilakukan secara tertutup, masyarakat luar sering menganggap kelompok tersebut sebagai sekte misterius.
Situasi Setelah Peristiwa 1965
Keadaan berubah drastis setelah tragedi politik 1965. Banyak kelompok spiritual dan organisasi masyarakat mulai diawasi pemerintah. Sebagian aliran kepercayaan bahkan dicurigai memiliki hubungan dengan kelompok politik tertentu.
Akibatnya, banyak penghayat kepercayaan di Jember memilih menyembunyikan aktivitas mereka. Beberapa sanggar kebatinan berhenti beroperasi, sementara pengikutnya bergabung dengan agama formal agar lebih aman secara sosial.
Meski begitu, praktik spiritual tersebut tidak benar-benar hilang. Sebagian masih diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk tradisi keluarga dan budaya lokal.
Jejaknya Masih Ada Hingga Sekarang
Walaupun era kelompok kebatinan tertutup sudah lama berlalu, pengaruhnya masih bisa ditemukan di Jember hingga sekarang. Beberapa tradisi yang masih bertahan antara lain:
- ritual bersih desa,
- selamatan,
- tirakat malam satu suro,
- penghormatan terhadap leluhur,
- dan kepercayaan terhadap tempat-tempat keramat.
Di beberapa desa, masyarakat juga masih mempercayai keberadaan petilasan, makam tokoh spiritual, hingga sumber air yang dianggap memiliki nilai mistis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sejarah Jember tidak hanya tentang perkebunan dan kolonialisme, tetapi juga tentang perjalanan spiritual masyarakatnya.
Jejak aliran kepercayaan di Jember era 1960-an menjadi bagian menarik dari sejarah lokal yang jarang dibahas. Di tengah tekanan politik dan perubahan sosial saat itu, masyarakat tetap mempertahankan tradisi spiritual mereka meski harus dilakukan secara tersembunyi.
Kini, sebagian jejak tersebut masih hidup dalam budaya dan tradisi masyarakat Jember. Hal itu menjadi bukti bahwa sejarah lokal tidak selalu tercatat dalam buku besar, tetapi juga hidup dalam cerita masyarakat dan warisan budaya sehari-hari.
Penulis: M Akmal Taufiqul H

Social Footer