Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Atlantic_convoy_underway_c1942.jpg

1. Kondisi Laut awal perang

Perang Atlantik tidak dapat disamakan dengan peperangan konvensional yang biasanya dibahas pada perang dunia kedua, dimana perang atlantik berjalan sepanjang perang dunia kedua yaitu selama 6 tahun. Dan objektif peperangan ini memiliki perubahan dari tahun ke tahun, selain itu naratif utama dari perang ini tidak berfokus pada pertempuran. Perkembangan dan hambatan yang dialami oleh sekutu selama konflik ini juga tidak banyak dipengaruhi dari aksi musuh. Namun dari kebijakan yang ada.

Ketergantungan akan komoditas dinegara negara sekutu Eropa seperti Inggris dan Perancis pada tahun tahun sebelum perang akan barang dari Koloni-koloninya memberi Jerman target untuk diserang yang akan secara tidak langsung akan melemahkan kekuatan sekutu secara fatal. Kalahnya Perancis dan Keterlibatan Amerika pada perang di Eropa menambah pentingnya penguasaan Atlantik bagi Jerman. Tentara Nazi yang telah menguasai dataran benua Eropa pula meraup sumber daya yang ada didalamnya tanpa menggunakan jalur lautl epas sebagai sarana transportasi perpindahan komoditas seperti bahan baku pabrik ataupun pasukan. 

Hal ini berbedadengan sekutu yang sangat bergantung kepada kekuatan maritim untuk mengamankan jalur logistik, mengakibatkan perbedaan peran dari Atlantik di mata kedua kubu dan strategi yang digunakan di daerah tersebut. Sekutu memiliki armada kapal permukaan yang besar dan bantuan udara digunakan untuk menjaga dan mengamankan jalur logistik. Sehingga pertempuran dengan Jerman di front Atlantik pada 1940 hingga 1941 bisa saja menentukan hasil perang. Peperangan Jerman di Atlantik dipelopori oleh Kriegsmarine dan partisipasi kecil dari Luftwaffe. 

Namun tahun tahun awal perang dunia kedua menghadapkan Kriegsmarine dengan ketidaksiapan dari segi armada kapal perang dan Luftwaffe yang tidak siap untuk serangan laut. Setidaknya butuh 5 tahun untuk Kriegsmarine untuk menjalankan rencana perluasan armada laut. Laksamana Erich Raeder menilai bahwa perang terlalu awal pecah dan seluruh armada terancam hancur dan diperkirakan hanya akan hancur dengan gagah. 

Selama masa kurangnya aksi dari sekutu pada awal perang dunia kedua (Phony war) setelah serangan Jerman pada Polandia antara 1939 dan 1940, angkatan laut Jerman menggunakan startegi yangdigunakan untuk mengganggu jalur perdagangan sekutu dengan kapal permukaan, ditandai dengan pengerahan kapal yang dikategorikan sebagai Oceanic Commerce Raiders, kapal kargo yang dialihfungsikan sebagai kapal perang.

Kapal kapal ini didukung oleh kapal kargo lainnya untuk pengisian bahan bakar dan suplai yang dilakukan di area terpencil. Pada masa ini pula kapal penjelajah tempur Scharnhost dan Gneisenau menyebrang menuju laut Atlantik utara, menenggelamkan kapal patroli Inggris dengan tipe Armed Merchant Cruiser Rawalpindi. Geografi dari Jerman sendiri tidak memberi keuntungan dalam segi perang laut dimana selat Inggris dan laut Atlantik utara dijaga oleh kapal kapal sekutu. 

Rencana maritim sekutu pada masa itu adalah menjaga kekuatan jerman tetap berada di laut utara, mengamankan Atlantik dari serangan dan melanjutkan jalannya suplai dari koloni atau Amerika ke Eropa. Saat perang pecah, Jerman hanya memiliki dua kapal perang dan 14 U-Boat. Namun padaakhir 1939 U-Boat tersebut akan menenggelamkan 222 kapal kargo, satu unit kapal induk, dan kapal tempur Inggris. 

Sistem konvoi juga dilakukan untuk kapal kapal kargo untuk perlindungan dari serangan. Selain itu, kapal pendamping juga berguna untuk menghalau serangan dari udara. Namun pada tahun tahun pertama perang, banyak konvoi yang tidak ditemani dengan kapal pendamping, sistem konvoi dengan pengawalan kapal perang untuk perjalanan trans Atlantik baru diterapkan pada 1941 sehingga pada awal perang dunia kedua, konvoi kapal rentan diserang oleh kapal penjelajah, kapal penghancur atau bahkan kapal kargo Raider musuh. Hal ini diperparah dengan keberadaan kapal jelajah Deutchland dan Graf spee. Memancing Inggris untuk mengerahkan kapal perang dari Teater lain menuju Atlantik untuk membentuk grup pemburu.

2. Perkembangan logistik maritim

Produksi kapal pada awal perang di Amerika Serikat tidak dapat memenuhi permintaan kapal dimana pada 1939 hanya 28 kapal yang dibangun cocok untuk perjalanan di laut lepas dan pada tahun berikutnya produksi hanya mencapai 53 kapal. Perusahaan Inggris menandatangani kontrak dengan Todd-Kaiser untuk pembangunan 60 kapal kargo darurat, namun kapal kapal tersebut baru dapat diproduksi hingga akhir tahun 1941.Pemerintah Inggris juga mengakuisisi kapal kapal yang sebelumnya netral untuk membawa kargo menuju Inggris, dimana armada Amerika setuju untuk mengerahkan 10 juta tonnase total kapal untuk misi ini, namun hanya 3,7 jutatonnase kapal yang mampu berlayar di laut lepas dan 4/5 dari armada tersebut merupakan kapal era perang dunia pertama yang dinilai terlalu lambat. 

Pada tahun tahun awal perang, pengamat militer Amerika Serikat melihat upaya inggris untuk mempertahankan front yang ada dan juga tren impor Inggris yang terus bertambah, adanya permintaan penerjunan pasukan dan pengiriman kargo yang mencapai titik tertinggi pada 1940 memaksa angkatan darat dan angkatan laut Amerika untuk melakukan kerja sama dalam akuisisi kapal kargo dimana seluruh kapal kargo militer harus diberikan kepada angkatan laut. 

Kekurangan armada ini akan cepat diisi dengan produksi domestik Amerika Serikat antara 1940 dan 1941 dimana Inggris pada saat itu telah menerima 100 kapal bekas dari Amerika. Kapal kapal bekas ini juga harus diperbaiki dan dimodifikasi sebelum dapat digunakan. Usaha Amerika dan Inggris dalam suplai dapat terlihat ketika kapal tanker yang berlalu lalang mengisi kebutuhan Inggris akan minyak bumi. Kapal kapal milik Poros yang bersandar di Amerika juga dikerahkan dalam mengantar kargo menuju Eropa, kapal kapal milik negara lain juga disewa oleh pemerintah Inggris. 

Pada desember 1940 lebih lanjut Winston Churchill menghubungi presiden Amerika Serikat dengan harapan kapasitas produksi galangan kapal Amerika dapat diperbesar menjadi 1.250.000 Ton kotor per tahunnya untuk menggantikan kehilangan kapal akibat serangan U-Boat di Atlantik. Inggris memperkirakan kebutuhan produksi tonnase kapal menjadi 8,2 Juta ton kotor per tahunnya. Ekspansi galangan kapal Amerika dipercepat setelah pesanan kapal kargo darurat yang telah berjumlah 200 unit diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Lebih lanjut setelah disahkannya Lend-Lease Act menambahkan total kapal kargo darurat menjadi 300 unit yang terdiri dari 112 kapal tipe barang dan 72 kapal tipe tanker.

Pada akhir tahun 1941 perkiraan 1200 unit kapal dengan total 13 juta ton kotor direncanakan selesai sebelum akhir tahun. Namun konstruksi awal pada akhir 1941 mengalami keterlambatan dimana hanya 100 unit kapal dengan berat 1,1 juta ton selesai dengan rincian 7 unit kapal baru berjenis Liberty dan 53 kapal tipe barang. Pada 1942 produksi yang berkaitan dengan militer memiliki nilai total 58 juta dollar Amerika. Dibandingkan pada tahun sebelumnya, produksi kapal seperti tipe Liberty mengalami keterlambatan karena laju produksi yang cepat tidak sejalan dengan ketersediaan baja yang digunakan untuk produksi. Kekurangan bahan dan material di Amerika Serikat akan diatasi dengan pembentukan Controlled Materials Plan yang mengalokasikan material penting kepada tempat yang membutuhkan. 

3. Sistem Konvoi

Kapal pertama yang tenggelam pada perang dunia kedua terjadi oleh kapal Athenia, hanya sore hari setelah perang dunia dimulai. Kejadian ini memicu para laksamana sekutu untuk menerapkan sistem Konvoi. Terdapat beberapa persyaratan untuk sebuah kapal untuk dapat ikut atau disertakan dalam sebuah konvoi, yakni kapal yang memiliki kecepatan 9 hingga 12 knot. Sedangkan kapal dengan kecepatan lebih cepat atau lebih lambat dapat berlayar secara mandiri. Terdapat pengecualian pada beberapa rute seperti Gibraltar dan Skandinavia dimana kapal kapal yang lebih lambat juga dapat diperbolehkan ikut dalam konvoi. 

Pada awal masuknya Amerika dalam perang dunia kedua, terdapat beberapa sistem konvoi yang terdiri atas Pantai timur, Laut lepas, dan juga Skandinavia yang pada akhirnya dihentikan setelah invasi Jerman menuju Norwegia. Lebih lanjut setelah jatuhnya Perancis ke tangan Jerman, sistem pantai selatan dan Skotlandia dibuka. Konvoi pertama yang diterapkan adalah sistem pantai timur yang dimulai dengan adanya kekahwatiran bahwa adanya serangan udara yang dapat terjadi di jalur yang akan dilewati. 

Kapal pendamping yang memiliki persenjataan militer diharapkan dapat menghalau serangan dari udara atau kapal selam. Pada awalnya konvoi ini hanya dibatasi 35 kapal per perjalanan namun sering kali jumlah ini bertambah hingga 60. Konvoi laut lepas terdiri dari kapal dengan kecepatan 9 hingga 14 knot, berawal dari pelabuhan Halifax dan Nova Scotia, konvoi ini diberi kode HX dan dikawal dengan kapal pendamping anti Raider untuk melewati Atlantik. Saat rombongan konvoi sampai di 12 derajat barat hingga 15 derajat barat, kapal anti permukaan dan kapal selam (Anti Surface/Submarine Warfare Ship) dari Liverpool atau Plymouth akan mengawal hingga konvoi bersandar dikedua kota tersebut. 

Konvoi yang bertolak dari Southend dan Liverpool diberi kode OA dan OB dan dikawal dengan kapal anti permukaan dan kapal selam antara 15 derajat bujur barat hingga 12 derajat bujur barat dan setelahnya akan berlayar tanpa kawalan selama 24 jam sebelum kembali ke pelabuhan masing masing di Amerika Serikat. Pesawat amfibi anti kapal selam dari Coastal Command juga terkadang memberikan perlindungan selama 12 jam matahari terbit hingga terbenam kepada konvoi yang masuk dan keluar namun terbatas hingga 8 derajat bujur barat sebelum kembali. 

Prosedur yang mirip dilakukan juga di sistem konvoi lainnya sampai dengan masuknya Amerika Serikat ke dalam perang dunia kedua dengan bantuan kapal pendamping. Pada April 1943 konvoi SC/ONS (Slow Convoy/Outbound North Slow) yang berlayar dari Sydney, Nova Scotia menuju Inggris dan sebaliknya dihentikan menyusul adanya rencana invasi Eropa yang membutuhkan kapal perang dan berarti mengurangi jumlah kapal pendamping. Selain itu permintaan volume kapal dalam sebuah konvoi juga meningkat. Pembentukan konvoi HXF (Halifax Fast), HXM (Halifax Medium),dan HXS (Halifax Slow) digunakan untuk mempercepat siklus dari satu konvoi HX per 7 hingga 8 hari dan satu konvoi SC per 14 hingga 15 hari menjadi 3 konvoi per 22 hari.

konvoi HXS 300 mencetak rekor dengan kapal terbanyak dalam satu kawanan yaitu 167 kapal. Setelah invasi Eropa (D-Day) dimulai, sistem konvoi SC/ONS kembali dilaksanakan dengan waktu tempuh 5 hari dengan tujuan Irlandia dari pantai timur Amerika Serikat dan sebaliknya. Pada Februari 1945, kapal pendamping konvoi tersedia kembali dan waktu tempuh dari konvoi SC/ONS diperlambat hingga 10hari dengan jumlah kapal dalam kawanan yang dikurangi.

Sumber:

Bartrop, P. R. (2022). THE ROUTLEDGE HISTORY OF THE SECOND WORLD WAR. Routledge.www.routledge.com/Routledge-Histories/book-series/RHISTS

Geyer, M., & Tooze, A. (2015). the Cambridge History of the Second World War: Vol. III. Cambridge University Press.

Leighton, R. M., & Coakley, R. W. (1995). The War Department Global Logistics and Strategy 1940-1943. Center of Millitary History United States Army.

Naval Staff History. (1997). Defeat of Enemy Attack on Shipping (E. Grove, Ed.). Navy Record Society.

Piehler, G., & Grant, J. (Eds.). (2023). The Oxford Handbook of World War II. Oxford University Press.